
Jujur Satrio sempat tergetar. Dia seorang lelaki. Meski tidak ada perasaan khusus yang ada di relung hatinya, tetapi rasa penasaran dan keinginan yang sangat kuat untuk menjahili gadis itu menghentak-hentak relung hatinya. Entah mengapa ia merasa gemas sekali. Terlebih, setelah melihat kelinci kecil itu bergayutan dengan manja memeluk uminya sedemikian rupa.
Di mata Satrio, sikap itu sangat natural dan tidak terkesan dibuat-buat. Mungkin itu juga yang membuat jiwa lelakinya berontak.
"Saya rasa, sudah cukup basa-basinya. Mas Zul dan Mbak Mirna juga sudah tahu maksud kedatangan kami. Nah, biar semua lebih jelas dan tidak ada syak prasangka, maka biar Satrio sendiri yang mengatakannya. Ayo, Sat. Kamu utarakan sendiri keinginanmu pada Pak Zul, biar segera mendapatkan solusi," kata Abi Kun.
Mendengar itu, Satrio menghela napas sejenak, kemudian menatap Pak Zul dan Bu Mirna bergantian. Setelah itu, ia melirik sekilas ke arah Qia. Kebetulan saat itu Qia juga sedang meliriknya. Melihat ekor mata Satrio yang sedang diarahkan padanya, Qia jadi sebal. Secara otomatis, mata kelinci itu melotot tajam ke arah Satrio, membuat pemuda itu tambah gemas.
"Awas saja, kalau sudah jadi istri gue. Kita lihat, seberapa berani lo sama gue," batin Satrio gemas. Ia lalu membenahi posisi duduk, kemudian mengangkat sedikit sudut bibirnya.
"Baiklah, saya tidak pandai merangkai kata. Intinya, saya ingin melamar Qia untuk menjadi istri saya. Mungkin maksud saya ini bisa jadi menimbulkan tanda tanya, mengingat saya dan Qia belum mengenal satu sama lain. Namun, izinkan saya menunaikan amanah yang belum sempat dilaksanakan oleh kakak saya, Prasetyo."
Satrio mengucapkan kalimat itu dengan jelas dan lancar, tanpa keraguan sedikit pun, seolah kalimat-kalimat itu sudah dipersiapkan sebelumnya. Ia sengaja menekankan kalimat 'menunaikan amanah dari Pras' agar terdengar jelas. Pemuda itu berhenti sejenak, kemudian menatap Abi Kun, Umi Silmi, Pak Zul, Bu Mirna, juga Qia. Ia ingin mengetahui bagaimana reaksi mereka semua.
Kedua orang tuanya tentu saja tampak bersuka cita, begitu juga dengan Pak Zul dan Bu Silmi. Hanya Qia yang tidak terbaca raut mukanya karena gadis itu memasang wajah datar-datar saja. Sejak Satrio mulai berbicara tadi, wajah cantik itu hanya menunduk. .
Melihat itu, timbul keinginan Satrio untuk menjahili dengan sengaja bertanya pada Qia.
"Bagaimana, Qia, apakah kamu menerima lamaran saya? Maukah kamu menjadi istri saya?" tanyanya.
Kini, semua tatapan mata tertuju pada Qia. Namun, gadis itu hanya menundukkan kepala tanpa mengeluarkan suara. Bagaimanapun, ia hanyalah seorang gadis. Meski dulu sudah pernah dilamar oleh Pras, tetap saja rasa grogi itu masih ada. Dalam kondisi seperti itu, ia sangat berharap ayahnya akan membantu. Namun, dari tadi lelaki paruh baya itu masih diam. Beliau malah menunggu jawaban dari Qia.
"Qi ...." Bu Mirna merangkul lembut pundak Qia
Gadis itu mendongak, menatap sekilas wajah ibunya, kemudian ia tatap satu-persatu wajah ayahnya, Abi Kun, dan Umi Silmi. Sungguh, wajah-wajah itu memancarkan kebahagiaan. Sorot mata mereka mengandung harapan besar. Rasa-rasanya, Qia tidak sanggup menghancurkan harapan itu. Qia tidak ingin membuat mereka kecewa. Karena itu, dengan berat hati, akhirnya ia menerima lamaran Satrio.
"Baiklah, saya bersedia menjadi istri Kak Satrio," ucapnya terbata-bata, dengan sedikit bergetar.
"Alhamdulillah ..." Bukan Satrio yang mengucapkan, tetapi empat orang tua itu yang serempak mengucap syukur.
Ini di luar dugaan. Sontak saja Qia mengangkat kepala dan sekali lagi menyapukan pandangan. Wajah-wajah bahagia dan penuh harap yang ia lihat tadi kini semakin bercahaya, terutama Umi Silmi dan ibunya.
"Ya Allah, Qi ... Umi seneng banget," pekik Umi Silmi tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. "Tadinya Umi khawatir Qia tidak mau jadi menantu Umi lagi. Sungguh, Qi, Umi tidak ingin Qia menjadi menantu orang lain. Membayangkannya saja rasanya tidak sanggup. Namun, kini Umi sudah lega. Sungguh, betapa Umi inginĀ mengatakan itu dari tadi, Qi. Namun Umi takut kata-kata Umi ini akan membuat Qia merasa tidak enak dan dengan terpaksa menerima lamaran ini," lanjut Umi panjang lebar. Ketulusan betul-betul terpantul dari matanya membuat siapa pun merasa terharu ketika mendengarnya. Bahkan, mata Qia sampai berkaca-kaca. Hatinya tersentuh. Dari lubuk hati yang paling dalam, ia berjanji untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusan untuk menerima Satrio adalah tepat. Selebihnya, ia serahkan sepenuhnya pada Allah.
Satrio berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Ia sudah terbiasa bergadang, bahkan sampai tidak tidur pun sering ia lakukan, terutama ketika sedang menjalankan misi. Namun, kali ini berbeda. Saat ini, hampir tidak ada satu pun aktivitas yang harus ia kerjakan, tetapi ia tidak bisa memicingkan mata.
Ia masih kepikiran dengan rencana pernikahannya dengan Qia, seolah ada beban seberat kerbau ada di pundaknya. Meski tadi siang ia begitu lantang dan lancar, seolah tanpa ada keraguan sedikit pun saat meminta Qia menjadi istrinya, tetapi semua itu hanya ada di permukaan. Nyatanya, ia tidak sesiap dan semantap itu. Bagaimanapun, tidak ada perasaan apa pun di antara mereka. Selain itu, rencana itu juga sangat mendadak. Sungguh, ini betul-betul di luar kehendaknya.
Saat melihat kepolosan Qia, Satrio sebenarnya merasa tidak tega, terlebih setelah melihat dengan mata kepala sendiri betapa antusiasnya keempat orang tua mereka. Ya, rasanya Satrio tidak sanggup memadamkan harapan dan kebahagiaan mereka. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Ini adalah perintah dari atasan dan Satrio tidak bisa menolak.
Sebenarnya, sudah berkali-kali Satrio protes, tetapi sang Big Bos tetap bergeming. Entah mengapa lelaki paruh baya itu begitu yakin kalau Satrio bisa menyelesaikan misinya, seperti yang sudah-sudah. Mungkin karena kasus ini berkaitan erat dengan keluarganya. Lagipula, Satrio adalah andalan mereka.
"Tapi misi kali ini berbeda, Bos. Lagipula, Bos kan tahu kalau saya tidak bisa berpura-pura. Satu lagi, bagaimana dengan Anita, kalau saya harus menikah dengan Qia?" protes Satrio.
"Itu urusanmu, bukan urusan saya. Lagipula, kau bisa menjadikan gadis itu istrimu hanya untuk sementara. Setelah misi ini selesai, terserah, kau mau terus sama dia atau lebih memilih Anita," jawab si Bos santai, tapi dingin.
"Ini terlalu kejam untuk mereka berdua, Bos. Saya tidak bisa terima!" teriak Satrio marah.
"Sudah saya bilang, itu adalah urusanmu. Lagipula, harusnya kamu menyadari, siapa dirimu dan bagaimana posisimu. Mestinya kamu tahu, mana yang lebih penting, menyelesaikan misi atau urusan hati? Lagipula, siapa pun yang kamu pilih, tetap menguntungkan dirimu, bukan? Bahkan, kamu juga bisa memiliki kedua-duanya."
Big Bos mengakhiri kata-katanya, kemudian langsung meninggalkan tempat tanpa mempedulikan Satrio lagi. Tentu saja pemuda itu jadi kesal dan marah.
"Brengsek!!! Dasar gila, tak punya hati," umpat Satrio kesal. Di kesatuan mereka, hanya Satrio yang berani mengumpat atasan seperti itu. Sang Bos tentu tidak bisa berbuat apa-apa mengingat Satrio adalah andalan mereka. Tinju pemuda menghujam tembok di sampingnya dengan sangat keras hingga berdarah.
"Ingat, saya masih atasan kamu. Saya masih bisa dengar umpatanmu," seru Big Bos tenang tanpa menoleh sedikit pun, kemudian meneruskan langkah dan menghilang di balik tikungan. Ya, hanya itu yang bisa ia lakukan setiap kali menghadapi kemarahan Satrio.
Satrio menghela napas. Sampai menjelang dini hari, pemuda itu masih juga belum bisa memicingkan mata. Kalau mengingat pertemuan dengan Big Bos beberapa hari yang lalu, Satrio betul-betul frustasi.
Sekali lagi, wajah polos Qia terlintas di pikirannya. Ia betul-betul tidak tega.
"Enak saja Si Bos bilang gue bisa meninggalkannya setelah misi selesai? Gimana gue akan mempertangungjawabkan pada Abi dan Umi? Lagipula, gue gak akan sanggup mengkhianati Kak Pras. Andai ia masih hidup, Kak Pras pasti akan murka karena gue telah menyia-nyiakan Qia." Satrio bermonolog. Pemuda itu lalu memejamkan mata.
Tiba-tiba Satrio teringat pada Anita. Gadis itu adalah kekasihnya. Mereka sama-sama tergabung dalam misi rahasia yang dipimpin Big Bos. Suka dan duka telah mereka lalui. Berbagai bahaya dan rintangan pun sering mereka hadapi. Sangat tidak adil kalau Satrio harus mengorbankannya. Aaah ... Satrio jadi tambah pusing.
-Bersambung-