
Pukul 10 pagi, Satrio belum menampakkan batang hidungnya. Umi Silmi dan Abi Kun sangat gelisah. Akad nikah akan dilangsungkan pukul sebelas di rumah Qia. Meski perjalanan dari rumah mereka menuju rumah Qia hanya sekitar empatpuluh lima menit, tetapi Satrio kan butuh persiapan juga. Berkali-kali Umi Silmi menelpon, tetapi tidak diangkat. Umi jadi khawatir kalau-kalau anak itu tidak datang, meski dia sendiri yang ngotot untuk segera menikah.
"Sudah ditelpon lagi, Mi?" tanya Abi Kun.
"Sudah, Bi, tapi tidak diangkat. Umi khawatir ia hanya mempermainkan kita," jawab Umi cemas.
"Abi yakin, Satrio tidak seperti itu. Dia memang terkadang slengekan, tetapi ia sangat bertanggung jawab. Pasti ada alasan yang masuk akal kenapa ia belum datang," kata Abi Kun, mencoba menghibur istrinya.
"Semoga saja begitu," jawab Umi pasrah.
***
Sementara itu, di markas
"Kau betul-betul akan menikahinya hari ini?" Seorang gadis cantik berdiri di depan jendela. Wajahnya terlihat murung. Mata tajamnya menerawang jauh di luar jendela.
"Kau sudah tahu jawabannya." Suara itu terdengar bergetar.
"Lantas, bagaimana denganku?" Wajah cantik itu berpaling ke arah lelaki tampan yang ada di depannya. Mata tajam milik wanita itu kini agak meredup dan tampak berkaca-kaca. Ada ketidakberdayaan tergambar di sana.
Tak seperti biasa, pria muda yang selalu tampil santai dan seenaknya itu kini memakai kemeja putih. Sebuah jas yang senada dengan celananya melengkapi penampilannya, membuat ia tampak berbeda. Rambutnya yang agak panjang diikat rapi ke belakang. Ia terlihat sangat tampan.
Anita menelan ludah. Sudah lama ia menantikan saat-saat seperti ini, melihat pria yang dicintainya berpakaian seperti itu, untuk bersanding dengannya. Namun, saat itu terjadi, bukan dirinya yang akan menggandeng tangan pemuda itu. Bukan dia yang akan duduk di sampingnya. Bukan dirinya yang akan senantiasa menemaninya. Mengingat hal itu, matanya semakin berkaca-kaca.
Satrio, pemuda itu tak sanggup lagi menatapnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat Anita yang biasanya tegar terlihat rapuh. Jujur ia merasa tidak tega. Ingin sekali ia merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya, tetapi ia tidak bisa melakukannya.
Memang, selama ini tidak ada komitmen di antara mereka berdua. Namun, sikap dan tindakan mereka berdua yang saling memberi perhatian menunjukkan bahwa hubungan mereka tidak biasa. Anita juga tidak menuntut pernyataan dan komitmen itu dari mulut Satrio. Ia tahu, pemuda dingin itu memang tidak terbiasa mengungkapkan perasaannya. Ia percaya, suatu saat Satrio akan mewujudkan impiannya.
Satrio masih menatap lekat wajah Anita yang kini dipenuhi air mata. Bagaimanapun, ia adalah manusia biasa. Sedingin-dinginnya dirinya, hatinya tetap tergetar juga. Melihat gadis yang selama ini menemaninya dalam kondisi suka ataupun bahaya kini terlihat sangat sedih, membuat dirinya tidak berdaya. Karena tidak tahan lagi, lelaki itu memalingkan muka.
"Maaf."
Hanya itu kata-kata yang terucap. Tidak ada pelukan, tidak ada usapkan air mata, juga tidak ada kalimat bujukan untuk sekadar menenangkannya. Satrio berpaling kemudian bergegas melangkah, meninggalkan tempat itu.
"Tunggu." Terdengar suara Anita menghentikan Satrio.
Pemuda itu berhenti, tapi tetap menghadap ke depan. Ia tidak bergerak sama sekali.
Anita berjalan mendekat. Tanpa bersuara, gadis cantik itu membalikkan tubuh Satrio menghadap ke arahnya. Kemudian, dengan penuh perasaan, ia merapikan kemeja, jas, dan dasi yang dikenakan Satrio. Air mata gadis itu terus bercucuran, persis kelakuan seorang istri yang akan melepas suaminya pergi ke Medan perang.
"Pergilah ...," ucapnya pelan. Kali ini terdengar isakan halus dari Anita, membuat Satrio semakin tidak berdaya.
Tanpa bisa dikendalikan, mata elang itu tampak berkaca-kaca. Tak ingin air matanya tumpah, pemuda itu langsung berbalik tanpa berkata apa-apa. Satrio berjalan tegap tanpa keraguan, tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.
"Aku sudah kehilangan dia," batinnya dengan penuh kesedihan. Sungguh ia tidak berdaya di hadapan kalimat sakti yang harus mereka patuhi, "Ini adalah perintah."
Melalui jendela, Anita bisa melihat Satrio memasuki Rubicon yang dikemudikan oleh Arga. Di dalamnya ada beberapa orang yang juga menemaninya. Tadinya ia ingin ikut, tetapi ia merasa tidak sanggup menyaksikan pujaan hatinya mengucapkan janji suci pada wanita lain, di hadapan Sang Pencipta.
"Jangan bertindak bodoh. Kau harus ingat posisimu. Kau juga harus ingat, keselamatan orang banyak lebih penting daripada romantisme gak jelas yang sedang kalian perankan."
Sebuah suara berat mengagetkan Anita. Gadis itu terhenyak. Ia baru tersadar kalau tadi mereka sedang berada di markas.
"Kau sangat kejam, Bos. Itu sebabnya sampai sekarang kau belum mendapatkan jodoh. Ingat, suatu saat kau pasti akan kena karmanya. Selamanya kau akan menjadi perjaka tua," jawab Anita kesal. Tanpa sungkan, gadis itu segera mengusap air matanya.
Ya, selain si brengsek Satrio, hanya Anita yang berani berkata kasar padanya. Anehnya, lelaki yang di hadapan orang lain penuh wibawa itu, tidak bisa marah pada mereka berdua
"Percayalah, hal itu tidak akan pernah terjadi padaku. Kau tahu kenapa, karena aku melakukan semua ini demi keselamatan orang banyak. Dan saat jodoh itu tiba, kaulah orang pertama yang akan mengetahuinya," jawab si Bos sambil sedikit menyeringai.
"Karena kaulah yang akan menjadi jodohku," tambahnya, tentu dalam hati.
Anita melengos, kemudian langsung meninggalkan tempat itu.
Si Bos menghela napas panjang. Ia mengedikkan bahu, kemudian melangkah keluar.
***
Satrio tiba di rumah pukul 10.30. Sebuah Rubicon dengan beberapa orang berpakaian serba hitam yang mengantarkannya.
"Kamu dari mana saja, Sat? Umi cemas sekali," songsong Umi begitu melihat Satrio muncul di depan pintu.
"Maaf, Mi, tadi ada urusan yang harus Satrio selesaikan," jawab Satrio.
"Ya sudah. Syukur kamu sudah berpakaian rapi. Tadinya Umi sudah siapkan. Kalau begitu, kita berangkat sekarang saja, takutnya kena macet di jalan," kata Umi lagi.
"Baiklah, Mi. Tapi Umi tenang saja, hari ini tidak akan ada kemacetan di jalan. Insyaallah kita akan tiba di rumah Qia tepat pada waktunya," jelas Satrio mantap. Mengucap nama Qia, tiba-tiba bayangan Anita terlintas. Namun, segera ia tepiskan kuat-kuat.
"Kau ini, jangan takabur. Kau bukan Tuhan, segala hal bisa terjadi, kan?" kata Umi mengingatkan.
"Iya ... Iya, Mi." Satrio menjawab sopan. Ia tidak membantah. Meski, ia sudah memerintahkan anak buahnya untuk mengamankan sepanjang jalan, tetapi sesuatu bisa saja terjadi, mengingat pentingnya Qia bagi beberapa orang.
Satrio, Umi, dan Abi Kun segera naik mobil yang sudah disiapkan. Anak buah Satrio yang bernama Hendra menjadi supir. Sementara, Raka, si penembak jitu duduk di kursi depan, di sebelah Hendra. Satrio duduk sendiri di belakang, sementara Abi Kun dan Umi Silmi ada di tengah. Satrio tidak mengizinkan mereka duduk di belakang dengan alasan keselamatan.
Sementara itu, Rubicon yang tadi mengantar Satrio berjalan lebih dulu di depan. Disusul dengan mobil Satrio dan dua mobil lain di belakang. Iring-iringan itu berjalan secara pasti, demi suatu tujuan.