Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
72. Awas Kena Gampar



Qia masih mondar-mandir di depan pintu, tak peduli seberapa lelah dirinya, seberapa sakit dan berdenyut-denyut kepalanya, yang ia pikirkan cuma satu, keselamatan Satrio. Suaminya memang sudah ditangani, tetapi ia tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang.


"Bertahanlah, Kak, kau orang yang sangat kuat," batin Qia. Tak henti-hentinya gadis itu berdoa untuk kesembuhan suaminya.


Kalau ingat begitu banyak darah yang keluar dari kening Satrio, Qia jadi meremang. Ia sangat menyesal kenapa tidak mengetahui kondisi suaminya itu lebih awal. Lelaki itu pasti menahan kesakitan yang amat sangat. Qia sendiri tidak tahu, yang mengenai suaminya itu pecahan kaca ataukah peluru yang nyasar. Membayangkan saja Qia sudah bergidik ngeri.


"Ya Allah, selamatkanlah suamiku," pinta Qia tulus.


Tigapuluh menit telah berlalu, dokter belum juga keluar. Gadis itu tidak tahu harus berbuat apa. Ia sendirian, bagai anak ayam kehilangan induknya. Di tempat itu memang banyak orang yang berseliweran, tapi tak satu pun yang ia kenal, tak ada satu pun yang bisa ia tanya.


Sempat terlintas di benaknya untuk menghubungi kedua orang tuanya, juga Umi Silmi dan Abi Kun. Namun, ia takut kalau mereka cemas. Akhirnya, ia memutuskan untuk menunggu dokter yang menangani Satrio keluar.


Qia melirik jam besar yang ada di dinding. Sudah pukul enam lebih.


"Astaghfirullah, aku hampir melewatkan salat Magrib," pikirannya.


Ia merasa dilema. Kalau pergi ke Musala, ia khawatir kalau dokter mencarinya, karena ia adalah satu-satunya keluarga pasien. Namun, Akhirnya ia memutuskan untuk salat dulu. Ia berpikir, justru inilah saatnya ia bermunajat, memohon pertolongan pada Sang Penggenggam kehidupan.


Qia segera melangkah, menanyakan pada suster jaga di mana letak musala, kemudian bergegas menuju ke sana. Ia tidak ingin membuang waktu karena khawatir kalau dokter mencarinya. Tigapuluh menit kemudian, ia sudah kembali.


Saat melintasi koridor, Qia melihat dokter yang menangani Satrio tadi juga keluar dari musala melalui koridor yang berbeda.


"Bukannya tadi ada di ruang Kak Satrio? Kapan keluarnya?" pikir Qia.


Segera, ia berlari kecil untuk menemui dokter itu.


"Permisi, Dokter, maaf sedikit mengganggu. Bagaimana keadaan suami saya?" tanyanya cemas. Qia sempat membaca tanda pengenalnya, Dokter Iman Wicaksono.


Dokter itu mengernyit, mengamati Qia sejenak. Ia mencoba mengingat-ingat apakah mengenal orang yang ada di depannya.


Qia yang tanggap dengan situasi tersebut kemudian memperjelas pertanyaannya.


"Namanya Pak Satrio, pasien yang Anda tangani tadi adalah suami saya. Bagaimana keadaannya?"


Dokter Iman tampak sedikit terkejut. Tentu saja ia mengenal Satrio. Bahkan, hubungan mereka sangat dekat. Sudah puluhan kali pemuda itu terluka saat menjalankan misi, dan selalu dirinya yang menangani. Ia juga sempat mendengar kalau orang nomor dua di kesatuan itu sudah menikah, tetapi baru kali ini mengetahui seperti apa istrinya. Dulu ia tidak sempat datang ke pernikahan karena suatu alasan.


"Sungguh di luar dugaan," pikirannya.


"Dokter, suami saya baik-baik saja, kan?" tanya Qia lagi membuyarkan lamunan sang dokter.


"Jangan khawatir, Pak Satrio sudah melewati masa kritis, tetapi beliau masih belum sadar," jelas dokter mencoba untuk bersikap sopan. sebenarnya ia merasa geli dengan sebutan Pak, mengingat kedekatan mereka


"Terima kasih, Dokter," ucap Qia tulus. Ia kemudian bergegas melangkah.


"Tunggu dulu." Dokter Iman menghentikan langkah Qia.


"Iya, Dokter?"


"Pak Satrio sudah dipindahkan dari IGD. Silakan bertanya pada suster jaga yang ada di depan, di mana beliau ditempatkan," kata dokter Iman ramah.


"Terima kasih, Dokter. Saya akan segera ke sana. Permisi.


***


Satrio ditempatkan di kamar khusus. Sebagai orang penting, tentu saja kamar itu sangat istimewa dengan fasilitas yang istimewa pula.


Setelah bertanya pada suster jaga, Qia langsung ke sana. Namun, seperti sebelumnya, belum ada yang boleh masuk ke ruangan itu, termasuk dirinya.


"Separah itukah kondisinya?" pikir Qia tambah cemas.


Untunglah, tak lama dokter yang ia temui di musala tadi segera datang.


"Maaf, Dokter, apakah saya boleh ikut masuk ke dalam?" tanya Qia penuh harap ketika ia melihat dokter itu mau masuk.


Dokter itu berhenti sejenak. Ia merasa tidak tega sebenarnya. Namun, ini adalah prosedur. Ia harus ekstra hati-hati demi kebaikan pasien.


"Baiklah, Dokter, terima kasih."


Qia lalu duduk di bangku yang ada di depan kamar. Sementara, dokter Iman masuk ke dalam.


Saat itulah kerongkongan Qia terasa kering. Ketika hendak membeli minuman, ia baru sadar kalau tas dan semua barangnya tertinggal di dalam mobil. Akhirnya, ia hanya bisa pasrah.


***


Dokter Iman masuk ke dalam ruangan. Ternyata di tempat itu sudah ada Adrian, sang Bos Besar, orang nomor satu di kesatuan.


"Dia belum sadar?" tanyanya santai, meski yang ada di hadapannya adalah atasannya.


"Lo dokternya, kenapa tanya gue?" jawab sang Bos ketus.


"Lo yang jagain dia dari tadi," bantah dokter Iman.


"Sekarang lo bisa lihat, gimana kondisinya."


Tiga orang itu sudah bersahabat cukup lama, Adrian, dokter Iman, dan Satrio. Itu sebabnya, saat tidak ada orang lain, mereka tidak pernah bersikap formal.


Di antara mereka bertiga, Satriolah yang usianya paling muda. Namun, suami Qia itu yang paling kurang ajar.


"Apa kali ini lukanya sangat serius?" tanya Adrian tak dapat menyembunyikan kecemasannya.


"Sebenarnya tidak terlalu."


"Kenapa belum sadar juga?"


"Ia kehilangan banyak darah. Meski begitu, harusnya ia sudah sadar." Dokter Iman menghela napas panjang.


"Kurasa ia telah bertahan habis-habisan, demi melindungi istrinya. Ia memaksakan diri untuk terus bertahan meski sesungguhnya sudah tidak tahan."


"Ya, lo benar. Sekarang istrinya ada di luar," kata dokter Iman. Tiba-tiba ia punya ide cemerlang.


"Lo sudah melihatnya?" tanya Bos Adrian.


"Ya. Kasihan dia. Gue jadi pingin memeluknya," kata dokter Iman, sekali lagi dengan santai. Namun, kali ini dengan suara yang cukup keras.


"Hati-hati mulut lo, jangan asal bicara. Pingin tempat ini hancur, apa?" kata Bos Besar mengingatkan.


"Gue gak peduli. Istrinya sangat menyedihkan di luar, dia malah enak-enakan tidur di ranjang empuk kayak gini. Kalau dia gak bangun-bangun, gue betul-betul akan melakukan," jawab dokter Iman dengan suara yang cukup keras.


"Melakukan apa?"


"Memeluk istrinya erat-erat dan membawanya pulang."


Dokter Iman mengatakan itu dengan suara keras, sambil memperhatikan reaksi Satrio. Ia tahu, di alam bawah sadarnya, pemuda itu pasti bisa mendengar. Itu sebabnya, ia sengaja menstimulan emosinya agar segera sadar.


Seperti dugaannya, tak lama kemudian ujung jari Satrio mulai bergerak.


"Dia bergerak!" seru Adrian senang.


Dokter Iman mendekat untuk memeriksa keadaan Satrio.


"Hati-hati bogem mentah!" Adrian mengingatkan.


"Itu tugas lo ngelindungi gue. Tugas gue memastikan dia baik-baik saja," jawab sang dokter santai.


"Hmm."


Adrian menghirup udara banyak-banyak, kemudian mengembuskannya secara perlahan.