Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
133



Andre berjalan cepat, mencari di mana gudang belakang yang dimaksud oleh salah seorang penjaga tadi. Sampai di depan ruangan yang pintunya dijaga oleh dua orang, jantung Andre berpacu cepat.


Putra dari Wijaya Kusuma itu langsung menyingkirkan dua orang itu kemudian membuka pintu dengan keras.


BRAK


Pintu terbuka lebar. Andre melihat seorang wanita berkerudung dalam posisi duduk. Tangan dan kakinya terikat, dan kepalanya tampak terkulai. Andre yakin, itu adalah Qia. Melihat posisi yang seperti itu, ia menduga Qia sedang tidak sadarkan diri.


Jantung Andre berpacu semakin cepat. Ia lalu mendekat.


"Ustazah ... Kau baik-baik saja? Apa Ustazah bisa dengar perkataan saya?" bisik Andre dekat telinga Qia.


Tidak ada respon, sehingga ia semakin yakin kalau gadis itu betul-betul dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Beberapa saat, Andre memandangi Qia. Perasaannya betul-betul kacau saat itu. Serta-merta, ia membelai wajah cantik itu, kemudian sedikit mengusap luka-luka yang cukup parah itu.


"Maaf, saya terlambat membebaskanmu, Ustazah, hingga kau luka parah seperti ini," bisik Andre.


Dengan cepat, Andre membuka ikatan yang ada di tangan dan kaki Qia, kemudian menggendong tubuh mungil itu dengan gaya bridal.


Saat itu jantung Andre semakin tak keruan. Untuk pertama kalinya ia bisa menyentuh wanita pujaannya, tetapi sayang, bukan dalam momen pernikahan seperti yang pernah ia bayangkan, tetapi justru dalam kondisi yang sangat mengenaskan.


"Maafkan saya, Ustazah!" Andre berbisik lagi.


Andre lalu membawa tubuh Qia keluar ruangan, tak lupa memberi peringatan pada para penjaga.


"Tunggulah, saya tidak akan melepaskan kalian!" dengus Andre marah. Ia betul-betul akan membuat perhitungan meski mereka adalah anak buah papanya.


Hanya saja, saat ini menyelamatkan nyawa Qia jauh lebih penting. Itu sebabnya, ia memutuskan untuk menangguhkannya.


Andre tidak menghiraukan yang lain. Ia begitu terburu-buru ingin menyelamatkan Qia sampai sesosok yang begitu ia kenal menghentikan langkahnya.


"Berikan ke gue!" Suara bariton itu tidak keras, tapi sangat datar dan dingin.


Andre menghentikan langkah, menatap sejenak pemilik suara itu. Ia bermaksud untuk tidak menghiraukan, tapi aura yang terpancar dari orang itu sangat kuat.


"Biar aku saja," jawab Andre.


"Apa lo lupa, dia istri gue?" suara bariton itu terdengar lagi.


Ya, dia adalah Satrio. Sejak dia dan Hendra melepaskan Andre Beberapa waktu yang lalu, mulai mengamati gerak-gerik anak Wijaya Kusuma itu dan mengikuti ke mana pun anak itu pergi. Dan ... rencananya berhasil. Untungnya, Satrio mendapati Andre dan Qia pada saat mereka masih di depan pintu.


Mungkin akan lebih sulit lagi kalau Andre sudah membawanya ke rumah sakit. Bisa saja mantan atasan Qia itu tidak memberitahukan padanya, di mana Qia dirawat.


Melihat Andre yang hanya diam tak bergerak, Satrio merasa tidak sabar. Tanpa berkata-kata, ia merebut Qia dari gendongan Andre dan membawanya pergi.


"Oh ya, untuk selanjutnya, jangan pernah menyentuh istri gue lagi," ujar Satrio dingin, kemudian berlalu. Tentu saja ia tidak rela ada lelaki lain yang memeng-megang istrinya apalagi lelaki itu adalah orang yang sangat mencintai sang istri.


Andre mengepalkan tinjunya. Sebenarnya ia sangat marah dan ingin mempertahankan Qia dalam gendongannya. Namun, ia merasa tidak berdaya. Bagaimanapun, Satrio adalah suaminya. Ia yang lebih berhak untuk membawa istrinya.


Sementara itu, tanpa membuang waktu, Satrio masuk ke dalam mobil yang di dalamnya ada Hendra.


"Cepat, Jend!" seru Satrio cemas.


Ia sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya.


"Bagaimana keadaan kakak ipar?" tanya Hendra ikut cemas.


"Masih belum sadarkan diri. Lukanya sangat parah," jawab Satrio sambil mendekap sang istri.


"Lihat saja, aku tidak akan melepaskan mereka!" kata Satrio geram.


Dia menyesal kenapa tadi tidak membawa pasukan agar bisa memberi mereka pelajaran. Ia sendiri tidak bertindak sekarang karena lebih fokus ke penyelematan Qia.


"Ayo, Hend, lebih cepat lagi!" perintah Satrio.


Tanpa membantah, Hendra menambah kecepatan mobilnya menuju ke rumah sakit khusus perwira, tempat Satrio dirawat dulu.


Sebelumnya, Satrio sudah menghubungi Andrian untuk menyiapkan segala sesuatunya agar tidak dipersulit saat mereka tiba, mengingat status Satrio yang saat ini masih belum jelas.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap mereka dengan dingin dan tajam. Namun, jika diperhatikan secara seksama sesungguhnya ada kekhawatiran yang tercetak di sana.


Dialah Wijaya Kusuma. Ia datang terburu-buru bersama dengan supirnya setelah ditelepon oleh anak buahnya tadi.


Waktu itu, Wijaya sedang menghadiri rapat penting dengan para pejabat yang lain. Awalnya ia tidak mau mengangkat. Namun, karena notifikasi itu terus mengganggunya, akhirnya ia izin untuk ke toilet dan menerima telepon di sana. Ia jadi sedikit panik setelah mengetahui kalau anak kesayangannya sedang berusaha menemukan sanderanya, tepatnya di rumah simpanannya. Tentu saja ia tidak ingin rahasianya terbongkar.


Hanya saja, saat itu rapat masih berlangsung dan ia tidak bisa meninggalkan tempat. Karena itu, ia tidak bisa bergegas.


Saat tiba di lokasi, Wijaya sudah agak terlambat karena Satrio lebih dulu merebut Qia dari anaknya.


Karena itu, Wijaya memutuskan untuk melihat mereka dari kejauhan karena tidak ingin keberadaannya diketahui oleh Satrio.


"Kenapa tidak langsung ke sana saja, Bos?" tanya Robert, supir Wijaya.


"Bodoh! Kau tidak lihat, pemuda itu ada di sana. Aku tidak ingin meninggalkan jejak sedikit pun. Aku juga tidak ingin Andre semakin curiga. Kita lihat dulu perkembangannya," ujar Wijaya.


Tadinya ia ingin menghampiri Andre dan menjelaskan bahwa dirinya tidak bersalah dan sedang dijadikan sebagai kambing hitam. Namun, tanpa diduga, ada Satrio di sana. Akhirnya, ia memutuskan untuk bersembunyi sementara.