
Ketika ranting kering itu sudah patah, bisakah tersambung lagi seperti semula? Semua sudah berbeda, semua tidak lagi sama.
Segala sesuatu yang telah diperjuangkan dengan susah payah, kemudian disia-siakan ketika sudah mendapatkannya, kelak penyesalannya pun akan terasa lebih berat saat kau tidak lagi memiliknya.
Itulah yang terjadi pada Areta, putri tunggal seorang pengusaha kaya. Ia cantik, berpendidikan, dan tenar. Tidak sedikit pemuda yang saat itu berjuang untuk mendapatkan cintanya, termasuk Wijaya Kusuma.
Perjuangan Wijaya Kusuma untuk mendapatkan Areta tidak mudah. Banyak rintangan dan hambatan yang harus ia taklukkan. Namun sayang, ia kemudian menyia-nyiapkan hasil perjuangan itu setelah mendapatkannya.
***
[Halo? Iya, Bos?]
[Apa semuanya sudah terkumpul?]
[Sudah, Bos.]
[Aku ingin, tengah malam nanti sudah tersebar. Lakukan secara bertahap, jangan dipaparkan secara langsung semuanya.]
[Siap, Bos.]
[Oh ya, lakukan dengan rapi, jangan sampai meninggalkan jejak.]
[Mengerti.]
[Mulai dari si wanita, kemudian baru target yang sesungguhnya]
Wanita itu menutup ponselnya. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum, tetapi lebih mirip seringai.
"Maaf, jangan salahkan aku. Kamu yang menginginkan semua terjadi." Wanita itu tampak memggumam dengan suara yang tidak begitu jelas.
Setelah itu, ia beranjak keluar setelah menyambar kunci mobil di atas nakas. Kamar itu sekarang terasa panas, tidak menyenangkan seperti dulu. Itulah sebabnya ia tidak merasa betah. Ada banyak kenangan yang sangat menyakitkan yang tak mungkin bisa dua hapus.
Begitu keluar dari kamar, seorang pemuda tampan sempat mengerenyitkan dahi begitu berpapasan dengannya.
"Ma, Mama mau keluar lagi?" tanya pemuda yang lain adalah Andre.
"Mama betul-betul suntuk, Ndre. Hawa di kamar itu betul-betul tidak nyaman. Mau mau cari udara segar."
Andre yang mengerti kondisi mamanya terdiam sejenak. Sebenarnya ia sangat khawatir kalau-kalau wanita cantik itu bertindak bodoh.
"Baiklah. Ayo, biar Andre antar," ujar Andre kemudian.
"Loh, kamu gak ke yayasan?" tanya Areta.
"Itu bisa diatur. Sekarang kita bersenang-senang dulu. Kan sudah lama mama tidak mengajak Andre kalau bepergian," ujar Andre akhirnya.
"Baiklah, hayuk!" jawab Areta. Jujur, ia merasa sangat senang.
***
Di tempat terpisah, Satrio sedang berbincang serius dengan dua pemuda tampan dengan penampilan rapi tanpa celah. Pembawaannya penuh wibawa dan sangat tenang, memang sangat cocok dengan kedudukannya saat ini.
"Sekarang gimana, Kak? Apa kau punya cara lain. Menurut adikmu yang jenius ini, plan D adalah pilihan logis untuk kita saat ini, gak ada pilihan lain," tutur Satrio pada salah seorang darinya.
Pemuda yang dipanggil kakak itu menghela napas.
"Tapi ini ilegal, Sat. Aku kurang setuju."
"Bagaimana menurutmu, Man?" tanya Adrian pada dokter Iman.
"Dia benar. Sebagai seorang dokter, tentu aku lebih memilih yang aman. Dalam artian, tidak ada korban secara fisik. Itu lebih manusiawi daripada saling baku hantam dan belum tentu kalian yang menang. Aku paham, kalian adalah pasukan terbaik. Namun, lawan yang kita hadapi ini bukan kaleng-kaleng. Ia sangat licik dan berkuasa. Bayangan, sudah susah payah kalian memenangkan dengan mengorbankan anak buah yang begitu banyak, hasilnya malah tidak signifikan. Aku yakin, dengan kemampuan dan kekuasaan yang dimiliki, ia pasti akan memutar balikkan fakta. Itu karena dia milik rakyat. Banyak orang yang sudah percaya dan merasa dekat dengannya. Dia juga pengusaha media secara legal." dokter Iman berbicara panjang lebar. Pada intinya, ia setuju dengan apa yang diusulkan oleh Satrio.
Adrian menghela napas panjang. Sebagai pemimpin yang jujur dan amanah ia merasa sangat berat.
Namun, ia paham dengan apa yang disampaikan oleh dua adiknya itu. Wijaya Kusuma memang sangat licik dan kuat. Ia betul-betul pintar memanfaatkan keadaan dan psikologis orang.
Adrian memahami, masyarakat di negeri ini memang sangat unik, mudah sekali percaya dengan suatu fakta, baik fakta yang belum tentu kebenarannya, ataupun yang sudah terbukti benar.
Asalkan mereka melihat sendiri fakta itu, mereka akan percaya dan memberikan dukungan, entah itu fajtya yang yang betul-betul terjadi ataupun fakta yang sengaja dibuat karena di situ ada konspirasi.
"Baiklah, kita akan melakukan plan D. Tetapi lakukan dengan rapi, jangan sampai ada jejak," jawab Adrian akhirnya.
"Kita akan melakukan tengah malam nanti secara bertahap saja," ujar Satrio.
"Kenapa tidak langsung sekalian saja, biar tidak buang-buang tenaga," yang Iman penasaran.
Di antara mereka bertiga, hanya ia yang tidak begitu paham dengan strategi seperti itu. Ia memang sangat jenius, tetapi tentu saja si bidang kedokteran.
"Kita sedang meminjam kekuatan rakyat, Kak," jawab Satrio.
"Lah, itu dia. Justru karena kita meminjam kekuatan rakyat, kita harus memaparkan bukti sebanyak-banyaknya biar mereka semakin percaya dan terus memberikan dukungan," kata Iman.
"Yang Kakak bilang itu betul. Dengan memblow-up informasi sebanyak-banyaknya, masyarakat akan percaya dan memberikan dukungan pada kita. Namun, apa Kakak lupa, betapa uniknya masyarakat kita."
"Unik bagaimana?"
"Masyarakat kita ini memang mudah percaya. Namun di satu sisi, mereka juga mudah sekali melupakan. Mereka mudah dialihkan dengan memberi fakta lain yang lebih menarik. Dalam kasus ini, kalau kita memblow-up informasi semua, masyarakat juga akan cepat percaya, tetapi juga cepat melupakan. Ini tidak menguntungkan bagi kita. Kalau Wijaya melakukan serangan balasan dengan metode yang sama, maka keadaan akan berbalik menyerang kita. Hasilnya, bukan kepercayaan publik yang kita dapatkan, tetapi kita akan menjadi musuh bersama, dan ini sangat berbahaya," jelas Satrio panjang lebar.
"Baiklah, aku percaya sama kalian. Aku harap kali ini kalian lebih berhati-hati," jawab Iman.
"Oke kita lakukan tengah malam," titah Adrian.
"Siap!" Iman dan Satrio menjawab serentak.
"Baiklah, aku akan kembali ke markas pusat," kata Adrian.
"Aku juga akan kembali ke rumah sakit." Kali ini Iman yang berbicara.
Dua orang itu sengaja mendatangi markas Satrio karena hanya cara itu yang memungkinkan pertemuan mereka dengan aman, mengingat status dan posisi Satrio saat ini yang masih buron.
***
Sepeninggal dua kakaknya, Satrio langsung berkoordinasi kembali dengan timnya. Hampir tiga jam mereka berdiskusi sampai-sampai melupakan makan siang. Rencana D ini memang sudah disusun sejak lama dan berulang kali disempurnakan. Namun, karena malam nanti adalah eksekusi, maka mereka perlu menyempurnakan.
TOK TOK TOK
Semua yang ada di ruang kerja itu terdiam dan saling pandang. Tadi mereka sangat serius, itu sebabnya wajah-wajah itu masih melukiskan keterkejutan.
"Kak, makan siang sudah mulai dingin, loh, turunlah dulu."
Satrio terkejut dan mendadak cemas mendengar suara lembut itu. Bukan karena ajakan makan siang, tetapi karena kondisi sang istri yang sangat lemah, terutama kandungannya. Ia belum boleh turun dari kasur, tetapi kenapa sekarang sudah berada di lantai atas.