Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
105. Framing



Bu Mirna baru saja meletakkan cucian kering yang akan diseterika di atas karpet ruang tengah. Kalau dulu Qia selalu membantunya. Namun, sekarang ia harus melakukannya sendiri karena Qia sudah tidak tinggal bersama.


Dulu Qia sempat menyarankan agar pakaian kotor diserahkan ke laundry saja, atau memanggil rewang untuk membantu pekerjaan Bu Mirna di rumah, tetapi wanita yang melahirkan Qia itu tidak mau. Ia lebih suka mengerjakan semua sendiri, termasuk mencuci dan menyetrika baju.


Toh sudah ada mesin cuci yang membantu. Apalagi, mereka hanya berdua. Sudah pada tua, lagi. Tidak banyak baju yang harus dibersihkan.


Seperti biasa, wanita paruh baya itu mau menyeterika sambil menyaksikan televisi. Namun, wanita itu sangat terkejut begitu TV dinyalakan. Hampir semua channel menampilkan berita yang sama membuat wanita itu panik kemudian langsung berteriak memanggil suaminya.


"Pak ... Pak ...."


Bu Mirna berteriak sambil terus mencari keberadaan suaminya.


"Pak!"


Bu Mirna langsung menarik lengan Pak Zul begitu menemukan lelaki berusia senja itu memberi makan kucing di samping rumah.


"Astaghfirullah, Ibu, ada apa? Sabar dikit, kenapa? Bapak hampir jatuh, ini!" kata Pak Zul heran melihat sikap istrinya.


"Sudah tidak ada waktu, Pak."


"Ada apa?"


Pak Zul ikut-ikutan panik melihat kecemasan yang ada di wajah Bu Mirna. Pasalnya, wanita yang bertahun-tahun hidup bersama dengannya itu tidak pernah bersikap seperti itu. Wanita itu biasanya selalu bersikap tenang dan bijaksana.


"Rumah Qia, Pak. Rumah anak kita!" ujar Bu Mirna setengah berteriak.


"Qia? Astaghfirullah!"


Lelaki itu terlihat semakin panik. Masalahnya, ia tahu kalau anaknya sedang diincar banyak penjahat. Ia tahu kalau kasus yang menimpa anaknya itu masih menyimpan bara, meski di luar tampak tenang karena sudah dibekukan. Namun, ia paham bahwasanya bara itu sewaktu-waktu bisa meledak.


Lelaki itu lalu mengikuti istrinya yang sekarang membeku di depan kamera televisi.


Sama seperti tadi, chanel itu masih menampakkan kondisi rumah Qia yang hancur, porak-poranda, bahkan sisi kanan bangunan terlihat masih mengepulkan asap karena karena habis terbakar. Beberapa petugas tampak berjaga di sekitar tempat itu. Ada juga tanda polisi di tempat itu.


"Apa yang terjadi, Pak? Bagaimana dengan Qia? Apa Satrio tidak ada di rumah? Sepertinya mereka baru saja diserang," kata Bu Mirna cemas sambil menarik-narik tangan suaminya.


Pak Zul tidak menjawab. Ia mengganti dari chanel satu ke chanel yang lain. Semua menyiarkan berita yang sama. Namun, meski peristiwa itu terjadi di siang hari, tetapi tidak ada satu pun dari media itu yang bisa merekam kejadian sesungguhnya.


Mereka hanya bisa menampilkan sisa-sisa peristiwa itu dengan informasi yang simpang siur. Maklum, Sampai berita itu disiarkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak mana pun, termasuk dari instansi yang berwenang.


Salah satu chanel bahkan berani menyampaikan bahwa penghuni rumah berhasil kabur. Beberapa ada yang menduga bahwa rumah mereka diserang segerombolan penjahat penjahat yang sebenarnya adalah teman pemilik rumah.


Entah dari mana sumbernya, akhirnya informasi itulah yang berkembang. Opini-opini di media-media itu mulai seragam. Memang tidak ada sumber jelas. Juga tidak ada yang bertanggung jawab terhadap berita itu. Namun, masyarakat sudah teropinikan bahwa peristiwa itu terjadi karena perseteruan antar anggota gengster.


Mereka tidak puas dengan kinerja pemimpin mereka yang bernama Satrio Adi Kuncoro. Itu sebabnya, mereka memberontak dan berusaha untuk melenyapkan sang ketua. Pada akhirnya, polisi menetapkan lelaki itu sebagai tersangka karena menimbulkan kekacauan dan meresahkan masyarakat.


"Pak, bagaimana ini?"


"Tenanglah. Kita tahu, kejadiannya tidak seperti itu," kata Pak Zul berusaha menenangkan Bu Mirna.


"Ibu tahu, Pak, Satrio bukan orang seperti itu. Ini semua fitnah. Tapi sekarang di mana mereka? Bagaimana dengan Qia? Apa mereka baik-baik saja?" Bu Mirna mulai sesenggukan.


"Bu, tenanglah. Dengan menangis, kita tidak akan menemukan jawaban. Sebaiknya Sekang kita coba menelpon Qia," ujar Pak Zul.


Karena tidak menemukan ponselnya di ruang tengah, akhirnya Bu Mirna beranjak menuju kamar. Ia menemukan benda ajaib itu tergeletak di atas meja. Dengan cepat, wanita itu menyambar dan mencoba menelepon Qia.


Beberapa kali ia memencet tombol warna hijau itu, tatapi tidak tersambung, membuat wanita itu semakin cemas.


"Ponsel Qia tidak aktif, Pak. Begitu juga dengan nomor Satrio," kata Bu Mirna begitu kembali di ruang tengah.


Pak Zul tampak menghela napas panjang.


"Coba hubungi Mas Kun atau Mbak Silmi," ujar Pak Zul kemudian.


Bu Mirna menurut. Wanita itu langsung menghubungi dua nomor itu, tetapi tidak ada sambungan. Mereka betul-betul tidak tahu harus bertanya pada siapa.


"Bagaimana kalau kita lihat ke sana, Pak?" tanya Bu Mirna.


"Ke mana? Ke rumah Qia?" Pak Zul balik bertanya.


Bu Mirna menjawab dengan anggukan.


"Jangan konyol, Bu. Tempat itu sangat berbahaya. Pasti polisi tidak akan mengizinkan kita," kata Pak Zul.


"Ibu tidak peduli, Pak. Ibu hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ibu ingin memastikan keadaan Qia, Pak."


Wanita itu kembali menangis. Kali ini dengan suara yang memilukan. Pak Zul sampai merasa tidak tega. Ia sendiri sebenarnya merasa sangat khawatir, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.


"Dia itu anakku, Pak. Dia anakku," isaknya lagi.


"Bapak tahu, Bu. Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa," kata Pak Zul lagi.


"Kita hanya melihat dari jauh, Pak, ya?" Bu Mirna kembali merengek.


Pak Zul menghela napas. Dengan terpaksa, akhirnya ia mengangguk, menyetujui usulan istrinya untuk melihat kondisi rumah Qia secara langsung meski dari kejauhan. Meski ia tahu, di sana mereka tidak akan mendapatkan apa-apa.


"Cepatlah," kata Pak Zul sambil memakai jaket dan meraih kunci motor matik yang ada di atas meja.


Bu Mirna bergegas mengganti baju, memakai kerudung dan mengambil tas cangklongnya.


"Kita berangkat sekarang, Pak."


Mereka beranjak. Namun, baru sampai di ruang tamu, mereka dikejutkan oleh beberapa orang berbadan kekar dengan pakaian serba hitam. Wajah mereka di tutup masker yang juga berwarna hitam. Beberapa di antara mereka ada yang membawa senjata api.


"Silahkan ikut bersama kami tanpa perlawanan!" kata salah seorang dari mereka.


"Kalian siapa?" tanya Pak Zul.


"Bapak dan Ibu tidak perlu tahu siapa kami. Silahkan ikut baik-baik biar kami tidak perlu melakukan kekerasan," kata orang itu lagi.


"Pak, bagaimana ini?" tanya Bu Mirna ketakutan sambil memegang erat tangan suaminya.


Pak Zul berusaha menenangkan. Ia mengangguk dan berkedip ke Bu Mirna sebagai isyarat agar wanita itu menuruti apa yang diminta oleh orang-orang berpakaian serba hitam itu.