Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
26. Diterima atau Ditolak?



"Jadi ini yang namanya Ustazah Taqiya?" tanya Pak Wijaya sambil terus menatap Qia tanpa berkedip.


Taqiya mengangguk sopan.


"Benar, ini anak saya, Taqiya," jawab Pak Zul.


Entah mengapa Pak Zul merasa tidak senang dengan tatapan mata Pak Wijaya. Dia seorang lelaki, tentu saja tahu apa yang ada di dalam benak pria kaya yang ada di depannya.


"Cantik sekali calon menantu saya. Pantas, Andre tergila-gila," kata Pak Wijaya lagi. Hingga detik itu, tatapan matanya tak lepas dari wajah Qia.


Seperti halnya Pak Zul, Qia juga tidak merasa nyaman dengan tatapan itu. Entah apa artinya, yang jelas Qia agak bergidik. Tunggu, dulu ... Senyuman itu ... sepertinya Qia melihat ada seringai, tipis sekali.


Sebagai penulis fiksi ataupun nonfiksi, Qia diam-diam suka mengamati pola tingkah banyak orang, termasuk gesture tubuh dan mimik wajah. Sempat terlintas di benak Qia, apakah Pak Wijaya ini suka dengan daun muda? Atau apa, ya? Entahlah, mungkin ada sedikit kelicikan di sana. Ih ... Qia jadi tambah bergidik.


Bagaimana kalau dugaannya itu benar? Ia tidak bisa membayangkan seandainya memiliki mertua seperti itu. Beruntung Qia sudah menerima lamaran Satrio. Dengan begitu, ia punya alasan kuat untuk menolak lamaran Andre. Untuk pertama kalinya, Qia mengakui bahwa keberadaan Satrio cukup berguna.


"Bagaimana Pak Zul? Ustazah?" tanya Andre kemudian.


Semua mata kini beralih pada Andre.


"Saya sangat berharap mendapat jawaban yang memuaskan, Pak Zul." Kali ini yang berbicara adalah Pak Wijaya. Menurut Qia, kalimat itu lebih menyerupai peringatan halus, atau ... ancaman?


"Saya lihat, mereka berdua sangat cocok. Yang perempuan sangat cantik dan anggun, sementara yang laki-laki juga tampan. Ini bukan pujian karena dia anak saya. Ini adalah realita. Satu lagi yang tidak bisa dimungkiri, Andre ini sudah sangat mapan. Saya yakin, ia akan membuat Ustazah Qia bahagia," lanjut Pak Wijaya.


Pak Zul mulai agak gelisah, tetapi ia mencoba bersikap tenang. Bagaimanapun, ia adalah kepala keluarga, pelindung dan penanggung jawab keluarga. Ada dua wanita yang membutuhkan perlindungan darinya. sementara, yang duduk di hadapannya ini adalah pria yang tidak bisa disinggung. Namun, ia tidak mau mengorbankan masa depan Qia. Saat itu, ia memiliki firasat kalau orang itu memiliki niat kurang baik dan Andre tidak akan bisa menjaga Qia. 


"Saya sangat menghargai niat baik Pak Wijaya dan Nak Andre. Hanya saja ...."


"Apa maksudnya hanya saja?" potong Pak Wijaya capat. "Apa Pak Zul bermaksud menolak lamaran kami? Apa yang kurang dari anak saya? Apa karena seserahan kami kurang banyak? Kami tadi memang terburu-buru, makanya tidak sempat menyiapkan semuanya. Jangan khawatir kami akan ..."


"Pa ...." Andre mulai merasa tidak enak. Ia khawatir kalau-kalau Qia jadi tidak suka karena papanya mulai membawa-bawa harta.


"Diamlah, Ndre ...."


"Tapi, Pa ..."


"Ndre ...."


"Biarkan Pak Zul menyelesaikan kalimatnya dulu, Pa," lanjut Andre menenangkan papanya. Mati-matian ia menjaga sikap di hadapan Qia selama ini. Ia tak ingin image yang sudah terbentuk itu hancur dalam sekejap karena sikap tidak sabar papanya Namun, ia mencoba bersikap sangat sabar menghadapi papanya. "Monggo, silakan dilanjutkan Pak Zul. Maaf kalau papa saya terlalu bersemangat," kata Andre lagi.


"Baiklah, Nak Andre. Maaf kalau kami terpaksa mengecewakan. Ini bukan karena Nak Andre kurang sempurna. Bagi kami, Andre adalah sosok yang sempurna. Nak Andre punya segala-galanya yang dibutuhkan oleh seorang wanita ...."


"Pa ...." Sekali lagi Andre memberi peringatan.


"Oke ... Oke ..." Kali ini Pak Wijaya mengalah.


"Masalahnya, Nak Andre kalah cepat. Qia sudah terlanjur menerima lamaran orang lain," jelas Pak Zul tenang. Jujur ia merasa lega setelah mengucapkan hal itu.


Andre sudah menduga. Namun, ia masih mencoba peruntungannya. Ia menduga dengan amat kuat bahwa Qia menerima lamaran itu karena terpaksa. Banyak rumor buruk yang beredar tentang gadis itu. Mungkin itu yang membuat dirinya terpaksa menerima lamaran pria yang tidak begitu dikenalnya. Itu sebabnya Andre diam saja ketika papanya melakukan negosiasi dengan Pak Zul.


"Kalau cuma itu masalahnya, Bukankah itu mudah? Mereka belum menikah, Pak Zul. Mereka hanya lamaran saja. Kalian tinggal membatalkan lamaran itu, kemudian menerima lamaran Andre. Beres, kan?'


Pak Zul menghela napas. Sungguh, ia tidak mengira kalau Pak Wijaya akan mengutarakan pernyataannya itu. Ia tidak menyangka bahwa pejabat publik yang di TV tampak baik dan bijaksana pada rakyat itu kini tampak egois dan agak arogan.


"Maafkan kami Pak Wijaya. Tapi kami tidak bisa membatalkan lamaran begitu saja karena ini terkait dua keluarga," jelas Pak Zul. Kedua telapak tangan orang itu merapat kemudian diletakkan di depan dada sebagai tanda permintaan maaf.


Seketika suasana berubah menjadi tegang. Terlihat sekali kalau Pak Wijaya belum bisa menerima penolakan.


"Apa yang kurang dari anak saya, Pak Zul? Seperti yang Pak Zul katakan tadi, Andre ini sangat sempurna untuk Putri Bapak. Dia punya segalanya. Dia satu-satunya pewaris kerajaan Bisnis Wijaya. Percayalah, bersama dengan Andre, Ustazah Qia tidak akan pernah kekurangan apa-apa," papar Pak Wijaya.


"Saya paham, Pak Wijaya, hanya saja ...."


"Mungkin Pak Zul merasa saya sangat egois dan impulsif. Itu memang benar. Tapi mau bagaimana lagi, Pak Zul. Saya hanyalah seorang ayah yang menginginkan kebahagiaan putranya. Dan saya tahu, kebahagiaan putra saya hanya ada pada putri Pak Zul. Saya yakin, Pak Zul juga akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan putri Bapak. Karena itu, saya sangat berharap, Pak Zul mempertimbangkan lagi untuk menjadi besan saya," jelas Pak Wijaya panjang lebar.


Saat mengucapkan itu, terlihat sekali kalau Pak Wijaya sangat menginginkan Qia sebagai menantunya dan ia tidak ingin ada penolakan.


Qia sempat berpikir benarkah sikap yang ditampakkan Pak Wijaya ini semata karena keinginannya yang sangat kuat untuk mencarikan jodoh anaknya?


"Ah ... Mungkin iya. Mungkin aku terlalu takut berhadapan dengan orang kaya hingga menjadi paranoid dan suka bersuuzon ria," pikir Qia


Pak Zul menghela napas. Wajah lelaki itu terlihat sedikit menegang. Ia sudah mengatakan segalanya, yang intinya mereka menolak lamaran Andre. Namun, ternyata hal itu tidak mudah. Entah mengapa Pak Wijaya membuatnya jadi sulit. Sampai detik itu, ia masih ngotot ingin menjadikan Qia sebagai menantunya. Karena itu, Pak Zul ingin mempertegas jawabannya agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.


Namun, sebelum kata-kata itu keluar dari lisan Pak Zul, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar.


Seorang pemuda dengan membawa buket mawar merah datang mendekat. Beberapa lelaki muda tampak mengiringi dengan membawa bingkisan mewah aneka warna.


"Ada apa ini?" tanya Pak Zul setelah memeriksa keadaan di luar.


"Selamat malam, Pak. Saya datang kemari untuk melamar putri  Bapak."


"Dweweeweweng." Seketika mata Pak Zul berkunang-kunang. Satu masalah belum selesai, kini timbul masalah lain. Hampir saja ia terjatuh kalau tidak segera ditopang oleh Bayu, preman kampus yang malam itu ingin melamar Qia.