Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
142



Jagad maya gempar. Sebuah akun anonim memposting sebuah video yang betul-betul spektakuler dini hari tadi.


Dalam video itu tampak tiga orang pria sedang berbincang serius di arena pacuan kuda. Tiga orang itu terlibat baku tembak tidak lama setelah dua orang asing datang ke tempat itu dan duduk bersama mereka hingga salah satu dari mereka roboh tak bernyawa.


Hanya beberapa menit setelah video itu diunggah, follower dari akun anonim tersebut langsung melejit, dari ratusan, ribuan, dan kini ratusan ribu.


[Astaga bukankah yang menembak itu adalah Wijaya Kusuma? Rasanya tidak mungkin, bukankah dia orang baik?]


[Betul, kurasa video itu hanya rekayasa untuk menjatuhkan Wijaya?]


[Betul, kurasa juga begitu]


[Dan yang kena tembak itu, bukankah Prayoga Iskandar? Astaga, bukankah ia dikabarkan meninggal karena serangan jantung?]


[Betul, itu adalah Pak Prayoga. Ternyata dia ditembak. Mengapa dulu dikabarkan meninggal karena serangan jantung?]


[Kurang karena jantungnya yang tertembak dan tidak tertolong lagi]


[Betul, kurasa begitu]


[Dan yang membunuh adalah Wijaya. Padahal aku ngefans berat, loh, sama beliau.]


[Iya, betul. Masak sih, ia sejahat itu?]


[Dan yang seorang lagi, siapa orangnya?]


[Entahlah, dia membelakangi kamera. Orang dengan ciri itu sangat banyak]


Para netizen saling menebak, ada yang membela mati-matian, tak sedikit juga yang menghujat


Netizen semakin heboh ketika ada akun anonim lain yang bisa membuktikan bahwa video yang melibatkan Wijaya Kusuma itu bukan rekayasa.


Sama seperti akun sebelumnya, akun anonim yang ini juga dibanjiri follower. Begitu terus, bermunculan akun anonim yang memperkuat akun sebelumnya.


***


Sementara itu, Wijaya Kusuma baru saja keluar dari kamar mandi dan sekarang sedang mengenakan pakaian. Sebenarnya ia masih sangat lelah setelah bermain-main dengan Wandira semalam. Hanya saja, pagi itu ia harus bertemu dengan kliennya di kantor. Mau tidak mau, ia harus merelakan kesenangannya untuk sementara.


Lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan itu melirik sekilas ke belakang. Terlihat jelas ketidakrelaannya karena harus meninggalkan wanita cantik itu di sana. Wanita yang tampak kelelahan itu masih bergelung di balik selimut, tampak polos dan imut membuat lelaki itu tersenyum lembut.


Tangan Wijaya terulur, ingin mengusap kepala wanita itu. Namun, belum sampai tangan besar itu menyentuh kepala sang gadis, tiba-tiba ponsel Wijaya berbunyi. Nama Robert tertera di layar ponsel.


[Ada apa?] tanya Wijaya Kusuma ketus. Ia tidak suka ketika kesenangannya diganggu.


[Gawat, Bos.] Suara Robert terdengar ngos-ngosan.


[To the points] kata Wijaya singkat.


[Sekarang Bos Wijaya sedang trending topik]


[Baguslah, bukankah semakin terkenal semakin bagus? Itu berarti semakin banyak pendukung]


[Iya juga, sih. Tapi, Bos, ini sangat di luar dugaan. Seseorang tanpa nama telah mengunggah video rekaman saat Bos menembak Prayoga Iskandar] Suara Robert terdengar khawatir. Sebagai sopir pribadi, tentu ia tahu banyak tentang aktivitas bosnya.


[Apa? Kamu gak salah lihat?] Wijaya menggebrak meja, hampir tak percaya. Mukanya terlihat merah padam.


[Itu benar, Bos, dan sekarang sedang trending]


[Kurang ajar! Ini pasti ulah anak itu. Cepat hapus semua. Telusuri akun anonim itu dan jangan kasih ampun]


[Tapi, Bos]


[Tidak ada tapi-tapi]


[Bos, tim IT Kita sudah berusaha, tetapi hingga detik ini belum ada yang berhasil. Selain itu, akun-akun anonim yang lain terus saja bermunculan tak habis-habis. Followersnya juga sangat banyak]


Wijaya Kusuma menghela napas. Untuk pertama kalinya lelaki yang tampak berwibawa itu merasa panik. Susah payah ia berusaha mendapatkan flashdisk itu. Sudah banyak uang dan tenaga yang ia habiskan untuk merebut benda itu, kini malah tersebar tanpa kendali.


Beberapa saat, Wijaya Kusuma terdiam. Ia sedang berpikir keras.


[Tetap kerahkan semua tim kita. Dalam waktu satu hari, buat semua postingan itu lenyap, ganti dengan berita yang spektakuler. Kasus artis, misalnya. Blow-up di media seluasnya] perintah Wijaya Kusuma tegas.


[Tetapi beritanya sudah terlanjur menyebar, Bos. Beberapa netizen pasti juga sudah menyimpan video itu]


[Tidak masalah. Berita itu akan cepat hilang seiring dengan berita baru yang spektakuler.oh ya, jangan lupa, sewa beberapa ahli, suruh mereka berbicara di depan publik untuk mengklaim bahwa video itu adalah rekayasa]


Wijaya memutus sambungan telponnya. Kedua tangannya mengepal, menahan amarah.


***


Sementara itu, Areta sedang duduk santai sambil memakai bedak masker di wajahnya. Semalam ia sempat bimbang, ingin memblow-up aib suaminya atau tidak. Ia sempat ragu. Baginya, aib suaminya adalah aibnya juga. Apalagi, di situ, nama baik anaknya sedang dipertaruhkan.


Itu sebabnya, semalam ia sempat memerintahkan pada anak buahnya untuk menahan. Namun, setelah berpikir ribuan kali, akhirnya ia memutuskan untuk melakukannya.


Setelah membersihkan masker di wajahnya, Areta meraih ponsel di nakas kemudian melenggang keluar menuju ruang keluarga. Ia bermaksud menghubungi orang kepercayaannya. Namun, ketika hendak menghubungi anak buahnya, ponsel wanita itu berdering.


[Bos, suami Anda sekarang sedang tranding, coba lihat di medsos] sebuah pesan tertulis masuk ke jalur pribadinya.


Tanpa pikir panjang, Areta langsung membuka media sosial. Dengan lincah, jemarinya menggulir dari akun satu ke akun yang lainnya.


"Astaghfirullah!" Areta menggumam pelan sambil memegangi dadanya.


"Ada apa, Ma?" Andre yang baru keluar dari kamar terkejut melihat sang Mama yang tampak syok.


Areta tidak menjawab untuk beberapa saat.


"Ma, Mama kenapa? Mama baik-baik saja, kan?" tanya Andre hati-hati. Ia mulai mengkhawatirkan keadaan mamanya.


"Coba lihat media sosial, papamu sedang trending," ujar Areta lirih.


Andre tidak bersuara. Ia lalu mengambil ponsel yang ada di sakunya kemudian duduk di sofa.


Tanpa berpikir dua kali, pemuda lalu membuka media sosial. Sama seperti namanya, ia juga tampak syok. Tadinya ia mengira kalau papanya sedang terjerat kasus perselingkuhannya dengan Wandira mengingat mereka telah melakukan itu secara terang-terangan di bandara. Ternyata dugaannya salah.


"Astaghfirullah, ini di luar dugaan," gumam Andre.


Pemuda itu lalu menatap mamanya.


"Mama juga tidak menyangka, papamu sudah sejauh itu," ujar Areta.


Andre tidak menjawab, tetapi ia membenarkan perkataan mamanya dalam hati.


Dua orang ibu dan anak itu lalu terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Untuk beberapa lama, ruangan yang biasanya sepi itu kini sekarang bertambah senyap.


"Sekarang bagaimana, Ma? Publik sudah melihat semua. Kita harus bagaimana?" Pemuda itu bergumam.


"Itulah yang paling Mama takutkan. Pada akhirnya, kamu juga ikut terseret," Areta.


"Masak iya, papa sampai segitunya," ujar Andre sambil menatap sang mama. Ia tampak seperti setengah protes.


"Mungkin memang sudah waktunya," ujar Areta tanpa beban.


"Maksud mama?"


"Semua kejahatan pasti akan terungkap, Ndre."


"Andre paham itu. Tapu tidak harus diumbar di khalayak ramai begini, kan? Kenapa tidak langsung diserahkan saja ke pengadilan, biar ditangani. Bukankah itu lebih masuk akal," bantah Andre.


"Entahlah, Mama sendiri juga tidak tahu."


Andre terdiam. Ia lalu membuka kembali media sosialnya. Rupanya berita tentang papanya semakin memanas. Ia sendiri sampai bingung harus berbuat apa. Bagaimanapun, Wijaya Kusuma sangat terkenal. Publik pun tahu kalau ia adalah anaknya. Dengan pemberitaan yang seperti itu, orang pasti akan menilai buruk tentangnya. Tiba-tiba pemuda itu merasa sangat tertekan.


"Mungkin seperti inilah yang dirasakan Ustazah Qia dulu," pikir Andre.