
Melihat pemandangan agak jauh di depan, emosi Andre langsung memuncak. Sejak siang tadi ia sudah marah, mulai dari pertemuannya dengan Satrio, saat menemukan Qia yang kondisinya sangat mengenaskan, sampai persoalan pelik yang dihadapi mamanya. Kini ditambah dengan kenyataan menyakitkan yang terpampang di depan mata.
Seorang wanita muda dan cantik berjalan menuju tempat penjemputan penumpang. Matanya sedikit menyapu untuk mencari seseorang. Mata itu berbinar bak bintang kejora begitu menemukan sosok yang ia kenal.
Seorang pria paruh baya yang masih terlihat muda dan tampan menyambut sendiri wanita muda yang lebih pantas dijadikan anak bungsunya itu.
Wanita yang tidak lain adalah Wandira, artis terkenal yang sedang naik daun itu langsung menghambur ke pelukan sang Pria.
Andre mengepalkan tangannya. Spontan, pemuda itu maju ke depan untuk menghampiri mereka. Namun, dengan cepat, tangan sang Mama mencegah.
"Tidak sekarang, Ndre," larang sang Mama.
"Tapi, Ma ...."
"Lihatlah Mama. Mama juga sangat marah dan kecewa. Dalam hal ini, tidak ada yang lebih tersakiti lebih dari Mama. Tapi, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membongkarnya."
"Ma ...."
"Kita akan membongkarnya, tapi tidak di sini. Lagipula, apa yang akan kamu lakukan? Memberi bogem mentah ke papa? Itu akan merusak reputasi dirimu sendiri. Mama tidak ingin hal itu terjadi. Lihatlah, reputasi papamu sudah hancur, tetapi Mama tidak ingin namamu juga ikut hancur. Kita pulang saja sekarang," kata Mama Andre.
"Trus, ngapain juga kita tadi ke sini?" tanya Andre tidak mengerti jalan pikiran mamanya.
"Sebenarnya Mama sudah mengirim banyak mata-mata untuk mengabadikan perbuatan mereka, juga banyak dari kebusukan papa yang lain. Hanya saja, hari ini Mama ingin melihatnya secara langsung, bukan dari laporan atau foto-foto yang selama ini dikirim ke Mama. Selain itu, Mama juga ingin memastikan, bagaimana perasaan Mama yang sesungguhnya ketika mengetahui hal itu secara langsung. Ini penting, agar Mama bisa memutuskan dengan jernih, langkah apa yang akan Mama ambil selanjutnya," jelas Mama Andre.
Andre tidak menjawab. Ia hanya mengikuti langkah sang Mama yang beranjak menjauh dari tempat itu dengan menahan amarah.
Sungguh, Andre tidak habis pikir, apa sesungguhnya yang ada di otak papanya. Ia adalah pejabat publik yang sangat dikenal oleh masyarakat dengan nama baiknya. Demikian juga dengan wanita itu. Meski hanya pendatang baru, tetapi keberadaannya kini sedang naik daun. Namun begitu, dua orang tak tahu malu itu tidak segan-segan menampakkan kemesraan di hadapan publik. Harusnya mereka sudah tahu, konsekuensi apa yang akan mereka dapatkan.
Sebenarnya, bagi Wijaya Kusuma, apa yang mereka lakukan sekarang adalah yang pertama karena selama ini ia sangat berhati-hati untuk melindungi reputasinya. Ia sering bermain dengan wanita, tetapi secara diam-diam, tidak terang-terangan seperti saat ini. Berkali-kali orang kepercayaannya sudah memperingatkan tentang hal ini, tetapi tidak dia dengarkan. Menurutnya, saat ini ia merasakan sensasi yang luar biasa, sensasi puber kedua. Bahkan, ia sudah mengira kalau dirinya sudah mulai jatuh cinta.
***
Di dalam mobil.
"Sebenarnya Mama sudah lelah, Ndre. Tiga puluh tahu Mama berusaha untuk sabar dan tegar menghadapi papamu. Mama sudah cukup menahan beribu duka nestapa, bahkan luka dan lara itu sudah menjadi biasa. Lihatlah, tadi Mama sudah tidak merasakan apa-apa. Mama seperti sudah mati rasa," jelas sang Mama.
"Apa Mama akan menuntut pisah dari Papa?" tanya Andre. Ia tak pernah menyangka, keluarga yang tampak harmonis ini sebenarnya sudah di ujung tanduk.
"Kita lihat saja nanti. Sekarang Mama ingin istirahat dulu di rumah."
Andre semakin berdenyut-denyut kepalanya. Sekali lagi ia berpikir, inikah keluarga bahagia yang selama ini ia banggakan? Bahkan, di mata orang, keluarga Wijaya Kusuma adalah yang paling sempurna.
Papanya sangat kaya, ganteng, dan berkuasa. Mamanya juga sangat cantik, anggun, dan berwibawa. Dirinya sendiri tak dimungkiri, telah menjadi incaran para wanita sejak lama. Ia menyadari itu, meski yang nyantol dan membuatnya gila hanya satu, Taqiya El Diina binti Zulkifli.
Ingat Qia, tiba-tiba Andre mengingat percakapan gadis itu dengan Ningrum dulu.
"Kenapa kamu tidak ingin menerima Pak Andre, Qi?" Tanya Ningrum heran.
"Karena dia terlalu kaya dan tampan, Rum. Aku tidak akan sempat berbenah karena terlalu sibuk menjaga dan mengawasinya," jawab Qia tenang, tanpa kepura-puraan.
Dulu Andre tidak mengerti apa maksudnya. Ia hanya merasa bahwa jawaban Qia itu mengada-ada, hanya sebagai alasan untuk menolak cintanya.
Namun, setelah mendengar cerita sang Mama tentang penderitaan yang dialami sejak menikah, ia mulai mengerti, apa maksud dari pernyataan Qia waktu itu.
Namun, dalam hal ini ia sedikit tidak terima. Bukankah ia berbeda dengan papanya? Meski darah Wijaya Kusuma mengalir kental di tubuhnya, tetapi mereka adalah dua pribadi yang berbeda.
"Aaaah!" Andre menyugar rambutnya frustasi.
Untuk kedua kalinya ia merasa malu memiliki darah yang sama dengan Wijaya Kusuma.
"Qi, kalau berita tentang papa ini menyebar, apa kau semakin membenciku?" bisik hati Andre.
Rupanya pemuda itu tidak tahu, lebih dari itu, Qia bahkan menyimpan rahasia besar yang justru akan membuat kisah Wijaya Kusuma lebih menggemparkan.