
“Satrio … mbok ya jangan begitu! Kita semua memang mengkhwatirkan Qia,” ujar Umi Silmi.
“Satrio? Jadi, laki-laki ini namanya Satrio? Umi Silmi mengenalnya?” batin Qia.
“Iya … iya. Tapi tidak usah terlalu berlebihan begitu. Ia hanya dimintai keterangan, bukan disidang.” kata lelaki itu sambil melirik jam di pergelangan tangannya. “Oh ya, apa kita akan di sini selamanya?“
Semua saling pandang. Abi Kun dan Pak Zul ikut melirik jam di pergelangan tangan masing-masing. Mereka baru sadar, kalau sebentar lagi adzan Dhuhur akan berkumandang. Apalagi dari jauh sudah mulai terdengar bacaan Al-Quran dikumandangkan.
“Ya sudah, kita pulang sekarang saja, Qia pasti sudah sangat lelah!” kata Umi Silmi.
“Gak sekalian ke Masjid sebelah itu dulu, Mi, sebentar lagi sudah Dhuhur?” tanya Abi Kun.
“Rumahnya Mas Zul kan tidak terlalu jauh, Bi. Umi rasa, masih nutut Dhuhuran di Masjid dekat sana,” jawab Umi Silmi.
“Betul, Mas Kun. Saya rasa masih nutut. Rumah saya kan tidak terlalu jauh,” kata Pak Zul menimpali.
Saat Qia berada di ruang pemeriksaan tadi, para orang tua tersebut sepakat untuk pulang bersama. Daripada naik taksi online, toh mobil Abi Kun masih cukup untuk mereka berenam.
“Kita ke Johor dulu, Sat,” kata Umi Silmi pada pemuda gondrong sebelum mereka berjalan.
“Mau apa?” tanya Satrio.
“Kita mengantar Qia dulu.”
Pemuda itu tidak berkata apa-apa. Ia lalu berjalan cepat menuju tempat parkir, sementara yang lain menunggu di tempat yang agak lapang. Kemudian mereka masuk setelah mobil sudah mendekat.
Abi Kun duduk di kursi depan, bersebelahan dengan Satrio. Umi Silmi duduk di tengah bersama dengan Taqiya. Sementara di belakang, ada Bu Mirna dan Pak Zul. Sepanjang jalan, Umi Silmi mencoba mengajak Qia bicara. Beberapa pertanyaan diajukan seputar pemeriksaan tadi. Sebenarnya Qia merasa tidak nyaman, terlebih ada pemuda gondrong bernama Satrio itu. Namun, demi menjaga sopan santun, terpaksa ia jawab juga.
“Sebenarnya Umi sudah mengikhlaskan kepergian Pras. Umi ingin semuanya berakhir. Biarlah Pras tenang di alam sana,” ujar Umi Silmi pelan. Wanita itu terlihat sangat lelah.
“Abi juga setuju,” kata Abi Kun.
“Tidak bisa begitu, Abi, Umi… Pembunuh Kak Pras harus ditemukan. Ia harus menerima hukuman setimpal,” sahut Satrio. Suara pemuda itu berbalut dengan kemarahan.
“Tapi, Sat…” bantah Umi
“Tidak, Mi. Justru Kak Pras tidak akan tenang kalau pembunuhnya belum ditemukan. Kita tahu, pekerjaan Kak ras itu penuh resiko. Pasti ada alasan kuat kenapa peristiwa pembunuhan itu terjadi,” potong Satrio cepat.
Dada pemuda itu semakin bergemuruh. Amarahnya memuncak. Untungnya, ia bisa mengendalikan diri. Karena itu, mobil yang ia kemudikan bisa melaju dengan stabil. Andai peristiwa itu terjadi tujuh tahun yang lalu, mungkin ceritanya lain lagi.
Mendengar perkataan Satrio, Umi Silmi dan Abi Kun diam. Begitu juga dengan yang lain. Qia bertanya dalam hati, siapa sebenarnya Satrio? Apa hubungan lelaki menyebalkan itu dengan keluarga Pras. Mungkinkah ia adiknya Pras? Selama taaruf sampai acara lamaran, mereka tidak pernah menyinggung tentang lelaki ini. Ptasetyo tidak pernah cerita kalau ia memiliki seorang adik, gondrong lagi.
Ah, kenapa Qia jadi memikirkan lelaki itu? Siapa pun dia, tidak ada hubungannya dengan Qia sama sekali. Karena itu, ia lebih memilih diam. Untungnya, rumah Qia sudah dekat. Gang sempit dengan gapura bertuliskan RT 2 itu sudah mulai terlihat dari kejauhan.
“Sampai di depan gang saja, Mas Kun,” kata Pak Zul.
“Tidak apa-apa, lawong jalan dikit aja, kok. Lagipula, gangnya agak sempit.”
“Gak pa pa. Kalau cuma Xenia, masih bisa kok. Terus aja, Sat, sekalian masuk gang! Kasihan, Qia sudah pucat sekali, loh,” kata Abi Kun.
Pemuda bernama Satrio itu tidak bersuara. Ia hanya menuruti saja aba-aba dari Abi Kun. Sesekali tangan yang memegang setir itu membetulkan rambut sebahu yang menutupi pandangan karena saat itu sedang tidak dikuncir.
“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga,” seru Umi Silmi. “Yang dekat rumah berpagar hijau itu, Sat, yang halamannya luas.”
Lagi-lagi Satrio tidak menjawab. Pemuda itu lalu membelokkan mobil ke halaman. “Rumah yang sangat menyenangkan,” pikir pemuda itu. Lumayan rindang dan cukup nyaman untuk mencari angin di siang yang terik seperti ini. Pohon jambu air dan mangga yang cukup besar berhasil membuat teduh tempat itu.
“Ayo, kita masuk dulu!” ajak Bu Mirna mempersilakan tamunya.
Namun, karena adzan Dhuhur sudah terdengar, maka para lelaki memutuskan untuk ke Masjid yang tidak jauh dari tempat itu. Hanya Bu Mirna, Qia dan Umi Silmi saja yang masuk.
“Alhamdulillah,” seru mereka hampir bersamaan.
****
Seperti biasa, setelah makan malam, keluarga Prasetyo berbincang-bincang di ruang keluarga. Sebuah berita di media sedang membicarakan kasus Pras. Tentu saja hasil pemeriksaan terhadap Qia tadi pagi menjadi salah satu bahan gorengan utama.
Memang tidak mudah menjelaskan pada orang awam tentangan hubungan seperti yang dijalani oleh Pras dan Qia. Nikah tanpa pacaran memang belum begitu umum di masyarakat. Karena itu, banyak yang tidak percaya kalau dua muda-mudi itu hampir tidak pernah bertemu.
“Kasihan Qia, sekarang ia menjadi bulan-bulanan media,” Kata Umi Silmi.
“Iya, betul. Tapi kita tidak bisa mencegahnya. Kita sendiri sudah mengklarifikasi berita itu di media. Namun, masyarakat sudah terlanjur berpikiran buruk tentang dia,” sahut Abi Kun.
“Iya, Bi. Kasus ini semakin berlarut-larut. Sampai saat ini belum ada titik terang tentang pelaku pembunuhan anak kita. Belum lagi pandangan masyarakat yang mengatakan kalau Qia adalah gadis pembawa sial. Umi heran, bagaimana asal-muasalnya hingga berkembang cerita mistik seperti itu?” kata Umi Silmi pelan.
“Mistik bagaimana?” tanya Abi Kun tak mengerti.
“Ya …itu, Bi. Orang-orang mulai kasak-kusuk. Ada isu yang mengatakan kalau setipa pemuda yang akan menikahi Qia, akan mengalami nasib tragis seperti Pras.”
“Astaghfirullah, bagimana hal seperti itu bisa terjadi?” sahut Abi Kun dengan nada bertanya.
“Iya, Bi. Tega benar orang yang menyulut cerita seperti itu. Umi semakin kasihan sama Qia. Padahal Umi sayang banget, loh, sama dia. Kalau sudah seperti itu, mana ada lelaki yang mau memperistri dia?” sesal Umi Silmi pelan. Mata wanita itu terlihat menerawang. Ia sudah sangat bersedih dengan kehilangan Pras. Kini kesedihan itu semakin bertambah karena kepergian putranya itu ternyata membawa kesulitan juga pada orang lain, yaitu calon istrinya.
“Iya, Abi juga jadi kepikiran. Abi rasa, kalau melihat kebiasaan sebagian masyarakat yang mudah termakan gossip, gak akan ada pemuda yang mau berdekatan dengannya. Gak akan ada yang berani menikahinya,” balas Abi Kun. Suami istri itu terdiam sesaat. Wajah-wajah letih itu diliputi kesedihan.
“Saya yang akan menikahinya!”
Sebuah suara berat tiba-tiba memecah keheningan itu, mantap. Umi Silmi dan Abi Kun saling pandang, kemudian menatap tajam ke pemilik suara itu.