
Di kediaman Satrio
Sejak kepergian Anita beberapa menit yang lalu, Qia tercenung sejenak, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Seumur-umur, ia tidak pernah punya maksud mencelakai orang lain, apalagi merebut sesuatu milik orang lain.
Dan sekarang? Apa ini tadi? Seorang wanita cantik datang seolah-olah ingin memberi tahu bahwa suaminya memiliki hubungan istimewa dengan wanita itu? Seolah-olah ingin mengatakan bahwa sesungguhnya dirinya adalah pelakor.
Qia sadar, tidak ada asap kalau tidak ada api. Tidak mungkin Anita seberani itu jika memang tidak ada hubungan sama sekali dengan Satrio. Namun, sebatas apa hubungan itu, tentu saja Qia tidak tahu.
Saat ini yang ia takutkan cuma satu. Sungguh, Qia sangat takut kalau dirinya tanpa sengaja telah membuat Anita dan Satrio berpisah. Itu berarti, tanpa ia sadari, dirinya telah membuat Anita terluka.
Saat menerima lamaran Umi Silmi, Qia memang sama sekali tidak mengenal Satrio. Satu-satunya jaminan yang bisa ia pegang adalah kedua orang tua Satrio, yaitu Umi Silmi dan Abi Kun. Qia sangat percaya sama mereka karena mengetahui dengan mata kepala sendiri bagaimana sepak terjang mereka bersama dengan Kak Pras.
Tapi Satrio? Lelaki itu muncul begitu saja dalam kehidupan Qia. Memang, sejauh ini yang ia rasakan tentang Satrio, bahwasanya lelaki itu sangat baik. Ia memperlakukan Qia dengan sangat baik. Tidak hanya melindungi dan memenuhi semua kebutuhan Qia, Satrio juga sangat menghormatinya.
Namun begitu, satu hal yang membuat Qia masih ragu, apa sesungguhnya motif dari suaminya melakukan ini semua? Dan kini ... keraguan itu semakin besar sejak kedatangan Anita.
Belum terjawab satu pertanyaan Qia tentang jati diri Satrio, Kini datang lagi persoalan baru dari seorang wanita.
Sekarang Qia menjadi bertanya-tanya, apakah wanita itu memang memiliki hubungan istimewa dengan suaminya. Apa hubungan itu masih berlanjut atau sudah bubar? Apakah Anita datang sesungguhnya untuk mengambil kembali haknya?
Karena terkadang seseorang bisa saja berbuat nekat, bahkan mempertaruhkan harga diri dan kehormatan, hanya demi mempertahankan apa yang dia yakini sebagai miliknya.
"Eh ... Jangan-jangan yang menjadi pelakor di sini sebenarnya adalah aku, bukan Anita? Tapi ... Aku adalah istri sahnya, baik di mata hukum ataupun" batin Qia.
***
Qia baru selesai memasak untuk makan malam. Tadi sore Satrio sempat menelepon dan mengatakan kalau ia akan makan malam di rumah. Ia juga minta dimasakkan gurame asam manis. Untungnya Qia sering memasaknya bersama dengan ibu, jadi ia sama sekali tidak mengalami kesulitan.
Namun begitu, kali ini ikan guramenya spesial. Biasanya Qia tidak pernah menggunakan potongan nanas untuk menambah cita rasa, tetapi kali ini ia ingin mencoba. Temannya bilang, kalau pakai potongan nanas terasa lebih seger dan rasanya lebih istimewa. Dan setelah mencoba, ternyata ia juga sangat menyukainya.
"Rasanya memang beda, aroma buah nanas yang segar dan harum membuat cita rasa masakan itu sangat spesial. Semoga Kak Satrio suka," bisik hati Qia.
Namun, hingga ia selesai menunaikan salat Isya, lelaki itu belum menampakkan batang hidungnya. Qia merasa sedikit kecewa, apalagi perutnya juga sudah mulai kerocongan.
"Kamu lama banget, sih, Kak?" Batin Qia kesal.
Beberapa saat kemudian, ketika ia sudah berada di dekat ruang makan, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Dengan agak lesu, Qia mengambil ponsel itu dan melirik sekilas.
"Kak Satrio?" Bisiknya pelan.
Tanpa ragu lagi, akhirnya ia mengambil ponsel itu kemudian mengangkatnya.
"Iya, Kak, ada apa," tanya Qia setelah mereka berbalas salam.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Satrio dari seberang.
"Belum, Kak. Kan lagi nunggu Kakak?"
"Maaf, Qi, Kakak sedikit agak terlambat. Ini masih ada kerjaan yang harus Kakak selesaikan."
Mendengar itu, Qia bertambah lesu. Entah mengapa dia merasa sangat kecewa. Ia tahu, ini bukan karena ia telah bersusah-susah memasak dan sekarang masakan itu menjadi sia-sia. Namun, hatinya kini sedang berkecamuk, mungkinkah saat ini Satrio sedang berada di suatu tempat bersama Anita?
"Astaghfirullah!" bisik hati Qia.
"Qi, kamu masih dengar Kakak, kan?" Suara di seberang kembali terdengar.
"Eh ... Iya, Kak. Maksudnya ... Kakak tidak makan malam di rumah?" tanya Qia ragu.
"Kakak makan malam di rumah. Cuma, Kakak agak terlambat datang. Kakak usahakan tidak sampai pukul delapan. Tidak usah menunggu Kakak, kamu makan dulu saja."
"Gurame asam manis pedasnya jangan dihabiskan, ya."
Satrio mengucapkan salam terus menutup telpon. Qia jadi rada bengong. Jujur ia merasa cukup lega karena ternyata suaminya tidak menyia-nyiakan masakan yang ia buat. Ia hanya sedikit terlambat.
"Ya Allah, ternyata aku hanya berprasangka," bisik hati Qia.
Meski lumayan lapar, ia memutuskan untuk menunggu suaminya datang. Bagaimanapun, makan bersama lebih menyenangkan daripada sendirian.
***
"Kakak mau mandi dulu?" tanya Qia begitu Satrio sudah datang.
"Kakak sudah mandi di kantor, cuma pakaian ganti ini rasanya kurang nyaman," jawab Satrio. Tadi ia sedang terburu-buru, jadi asal comot saja menarik sah satu baju yang memang sengaja ia terus di tempat kerja.
Qia mengamati suaminya beberapa saat, mulai dari atas sampai bawah.
"Gak ada yang aneh. Baju ini cocok, kok, sangat pas. Lihat, Kakak masih terlihat tampan," kata Qia polos, tanpa bermaksud apa-apa.
Hanya saja, Satrio malah tertawa mendengar ucapan itu sampai Qia bertanya-tanya, apa ada yang salah dengan ucapannya?
"He he he. Sudah pinter merayu suami rupanya," kata Satrio sambil mencubit hidung Qia.
Wajah cantik itu jadi memerah.
"Merayu apanya?" pikir Qia tak mengerti. Bukankah ia tadi mengatakan yang sesungguhnya?
"Kamu benar, dari dulu suamimu ini memang sangat tampan. Jadi, baju apa pun pasti cocok," jawab Satrio.
Mendengar itu, Qia memutar mata. Ia baru sadar kalau ternyata tadi salah memilih kata.
"Huh ... Sekali saja tidak narsis kenapa, sih?" Gerutu Qia.
Satrio kembali tertawa.
"Bukankah dalam hidup ini kita harus jujur? Kalau memang ganteng, ya akui saja? Buat apa berpura-pura menjadi orang jelek. Lagian ya, Qi, memuji suami sendiri itu gak ada ruginya. Selain berpahala, suami jadi tambah sayang," jawab Satrio. Kali ini dengan raut muka serius membuat wajah putih Qia semakin memerah.
"Iya iya, yakin kok. Kakak memang ganteng."
"Mujinya yang ikhlas dong, Si."
"Iya, Kakak suamiku yang ganteng. Qia ikhlas, kok," jawab Qia sambil memberikan senyuman termanisnya. Satrio jadi terpana.
"Masalahnya, baju ini tidak nyaman. Tadi Kakak mengambilnya secara asal karena keburu salat Isya," ujar Satrio sambil sedikit cemberut, seolah merajuk.
"Ya sudah, Qia siapkan baju yang lain. Kakak gak keluar lagi, kan?"
Pertanyaan itu dijawab Satrio dengan anggukan.
Qia langsung menuju ke lemari pakaian. Mata kelincinya langsung tertuju pada celana panjang berbahan katun dengan potongan slim fit karena tidak ketat saat dipakai.
Untuk atasan, Qia memilih kaus polos berbahan katun berwarna putih polos agar tetap nyaman. Ia lalu menyerahkan pakaian itu pada Satrio.
"Kakak pakai dulu, Qia mau ke dapur sebentar," kata Qia sambil melangkah.
"Loh, gak bantu Kakak lepas dan pakai baju dulu?" goda Satrio sambil terkekeh.
Qia semakin bergegas keluar, dengan wajah memerah.