
"Baiklah, kalau tidak apa-apa, saya permisi dulu. Maaf, saya sedang terburu-buru!" Tiba-tiba pemuda gondrong itu bersuara.
Beberapa saat, mata lelaki itu bersirobok dengan mata Andre. Entah mengapa, ada perasaan tidak nyaman melingkupi Andre. Tiba-tiba saja hati pengagum rahasia Taqiya itu bergelenyar tak keruan.
Sementara, pemuda gondrong yang super cuek itu berpaling, kemudian berjalan ke arah motor gedenya. Setelah menutup kepala dengan helm teropong, pemuda itu memacu kuda besinya tanpa menoleh lagi ke belakang.
.................................................
Taqiya mulai mengayuh sepeda pelan-pelan. Sementara orang-orang sudah bubar dari kerumunan. Andre juga sudah masuk ke dalam mobil. Namun, ia belum juga menyalakan mesin. Pemuda itu hanya mengawasi Taqiya dari kejauhan. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi gadis itu.
"Subhanallah, ternyata lumayan sakit," batin Qia sambil terus mengayuh sepeda berwarna biru itu.
Saat baru terjatuh tadi, ngilu itu belum terasa, tapi sekarang sudah mulai senut-senut, terlebih setelah dipakai untuk mengayuh. Qia berharap segera sampai di rumah agar bisa memboreh kakinya dengan minyak. Namun, tiap kayuhan malah menambah rasa sakit.
Taqiya tidak bisa berhenti, walau hanya sejenak. Bukan hanya karena luka-lukanya, tapi ia ingin tahu bagaimana kondisi Prasetyo. Ia berharap, calom imamnya itu bisa segera melewati masa kritis. Pernikahan tinggal satu bulan, tetapi bukan itu yang membuat Qia cemas.
"Yaa Allah, selamatkanlah Kak Pras!" doa gadis itu tulus sambil terus mengayuh.
Namun, semakin lama rasa sakit itu semakin menggila. Karena tidak tahan, akhirnya Qia berhenti di tempat yang agak sejuk. Wajah cantik itu terlihat meringis.
Tiba-tiba sebuah Pajero Sport berwarna putih berhenti di belakangnya. Qia sangat terkejut. Ia tidak tahu kalau sedari tadi Andre mengikuti dari kejauhan. Serta-merta, ia mengubah wajahya yang meringis menahan rasa sakit tadi menjadi datar.
"Pak Andre? Kok masih di sini?" tanya Qia begitu lelaki itu keluar dari mobil dan muncul di depannya. Terus-terang, ia mulai merasa tidak nyaman.
Sungguh, ia tidak ingin Andre mengetahui kalau dirinya sedang kesakitan. Sedapat mungkin gadis itu menghilangkan peluang bagi Andre untuk menawari tumpangan.
"Ustazah tidak apa-apa? Apa kaki Ustazah mulai terasa sakit?" tanya Andre cemas.
"Saya tidak apa-apa, Pak Andre. Saya cuma berhenti sebentar untuk minum," jawab Qia sopan sambil mengambil air mineral yang tadi diberi pemuda gondrong melalui Husna.
Qia berharap, Allah tidak murka karena dirinya telah berbohong. Toh, ia melakukan itu demi menjaga kehormatannya. Ia tidak ingin berdua-duaan dengan lelaki yang bukan mahram di dalam mobil.
"Beneran, Ustazah tidak apa-apa?" tanya Andre lagi. Lelaki itu menyangsikan jawaban Qia. Namun, sekali lagi ia tidak bisa memaksa gadis itu untuk ikut dengannya.
"Iya, Pak, saya baik-baik saja. Lagipula, rumah saya sudah dekat. Mari, saya duluan. Assalamualaikum!" jawab Qia.
Ia lalu mengayuh lagi sepeda itu sambil menahan rasa sakit. Ia ingin menunjukkan pada Andre bahwa dirinya memang tidak apa-apa.
Sementara itu, Andre hanya memperhatikan gadis yang ia kagumi itu dari kejauhan.
.........
Qia menaruh sepedanya di teras rumah. Sambil sedikit berjingkat, pemilik nama pena Kemilau Senja itu masuk setelah mengucap salam.
"Kenapa, Qi?" tanya Bu Mirna heran sekaligus cemas melihat putri semata wayangnya terpincang-pincang.
"Tadi habis jatuh, Bu, diserempet motor," jawab Qia sambil meringis. Ia lalu duduk di sofa.
"Innalillaahi, subhanallah, Qi, coba Ibu lihat!" kata Bu Mirna cemas.
Sebenarnya luka luarnya tidak banyak, hanya terlihat lecet dan sedikit berdarah. Tulang kering di kakinya juga tampak tergores panjang. Namun, karena benturan itu cukup keras, memar di lutut Qia cukup parah, terutama yang sebelah kiri.
"Kok bisa, sih, Qi? Kamu kurang berhati-hati ya, di jalan?" kata Pak Zul begitu melihat luka Qia. Lelaki itu masuk lagi ke dalam dan keluar sambil membawa minyak boreh.
Bu Mirna mengambil minyak itu dan mengoleskan ke lutut Qia yang mulai mampak kebiruan. Tangan cekatan itu mulai mengurut dan memijit ringan.
"Pelan-pelan, Bu! Sakit sekali," kata Qia sambil meringis.
"Kalau tidak diurut sekarang, nanti akan semakin bengkak," jawab Bu Mirna.
"Iya, Bu. Tapi pelan-pelan, ya!" kata Qia lagi. Ia jadi teringat dengan perkataan pemuda gondrong yang menolongnya tadi. Ternyata pemuda itu benar, kakinya mulai terasa bengkak. Semoga besok tidak bertambah parah.
"Bagaimana Kak Pras, Yah?" tanya Qia cemas.
"Qia masih bisa jalan, Yah. Insyaallah tidak apa-apa. Kan sudah diurut ibu,"
kata Qia setengah memohon.
Sungguh, ia ingin mengetahui kondisi Prasetyo. Hanya menunggu kabar di rumah saja pasti akan membuatnya semakin cemas.
"Biarkan saja Qia ikut, Yah. Toh kita nanti naik mobil. Bila perlu, sekalian periksakan kaki Qia, barangkali ada tulang yang retak," kata Bu Mirna.
"Ibu, jangan berlebihan! Qia kan hanya tergores dan bengkak sedikit," seloroh Qia sambil cemberut.
"Baiklah, kita berangkat sekarang saja kalau begitu," jawan Pak Zul.
Lelaki yang sudah banyak makan asam garam itu lalu menelpon taksi online. Qia tidak bisa naik motor, begitu pula dengan Bu Mirna. Tidak mungkin mereka naik motor bertiga. Apalagi Qia sedang terluka.
Tidak butuh waktu lama, taksi online yang mereka pesan sudah tiba. Mereka pun bergegas masuk ke dalamnya.
"Rumah Sakit Sahabat Keluarga, Pak!" seru Pak Zul pada sopir Taksi.
""""""""
"Kita langsung ke IGD!" kata Pak Zul.
Qia dan Bu Mirna tidak menjawab. Mereka langsung bergegas menuju IGD.
"Jalannya pelan-pelan, Bu. Kaki Qia mulai terasa sakit," kata Qia.
"Iya ... iya. Ibu rasa, ayahmu benar. Harusnya kamu tidak usah ikut," kata Bu Mirna sambil menggandeng lengan Qia.
Sementara itu, Pak Zul yang kebih dulu tiba di IGD berbalik lagi ke arah Bu Mirna dan Qia lagi.
"Kenapa, Yah?" tanya Bu Mirna.
"Pras sudah dipindah ke ruang ICU dari tadi. Kita langsung ke sana sekarang."
Ketiganya lalu bergegas. Ruang ICU ada di lantai dua. Mereka melewati beberapa kamar. Bau khas rumah sakit semakin menusuk hidung Qia, membuat kepala gadis itu agak pening.
Mereka tidak memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang atau pun sedang duduk di bangku-bangku depan kamar. Yang mereka pikirkan hanya satu, segera tiba di ruang ICU dan mengetahui kondisi Pras.
Tiba di tikungan terakhir, jantung mereka seakan berhenti berdetak, terlebih Qia. Dua orang suster tampak mendorong kasur dorong. Seseorang ada di atas kasur itu dengan seluruh tubuh ditutup kain, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sempat terlintas pikiran buruk di benak mereka. Namun, segera mereka membuang pikiran itu jauh-jauh.
"Astaghfirullah, semoga itu bukan dia," bisik Qia.
Namun, seketika tubuh yang sudah terluka itu menjadi lemas begitu melihat orang-orang yang ada di belakang suster itu. Wajah-wajah yang ia kenal itu tampak tegang dan sedih.
Sesaat tubuh gadis itu menegang, tak tahu harus berbuat apa. Begitu juga dengan Bu Mirna dan Pak Zul. Mereka masih terpaku di tempatnya hingga rombongan itu melewati mereka.
Pak Zul tampak menghampiri Pak Kuncoro, ayah Pras. Sementara Bu Silmi, ibu Pras langsung memeluk Bu Mirna. Setelah itu tatapannya beralih ke Qia. Mata lelah itu terlihat berkaca-kaca. Berbagai perasaan bercampur jadi satu.
Dari tadi, wanita itu berusaha untuk tetap tegar dan tidak menitikkan air mata. Namun, begitu melihat Qia, ia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Air mata itu seketika tumpah. Bayangan Pras kembali berkelebat, berganti-ganti dengan wajah Qia.
"Ia sudah tidak ada. Ia telah pergi meninggalkan kita semua," isak Bu Silmi sambil memeluk Qia.
Tubuh gadis itu masih menegang. Pikirannya kosong. Ia seperti tidak bertenaga. Ia biarkan ibunya Pras memeluk tubuhnya erat-erat. Bahkan sempat terpikir oleh Qia kalau tubuhnya akan melebur, menyatu dengan tubuh Bu Silmi.
Tak ada air mata yang tumpah. Hanya saja, jiwanya terasa hampa. Ia tidak ingin mempercayai semua. Karena itu, Qia mulai memejamkan mata. Ia berharap, saat matanya terbuka, segalanya akan baik-baik saja. Ia berharap, yang terjadi itu hanya mimpi belaka. Namun, pelukan Bu Silmi terasa nyata.
Masih dalam pelukan Bu Silmi, Qia membuka mata. Tidak ada siapa-siapa. Ibunya tak terlihat. Begitu pula dengan yang lain. Ia hanya melihat seorang pemuda berambut gondrong yang sedang memperhatikannya.
Kepala Qia mendadak pusing. Pandangannya menjadi gelap. Gadis itu terkulai di pelukan Bu Silmi. Wanita itu sampai sempoyongan dan hampir jatuh karena tidak siap menahan tubuh Qia. Untunglah pemuda gondrong itu berhasil menangkap tubuh mereka.
-Bersambung-