
Hallo Readers, maaf baru bisa nongol, soalnya jadwal Author kemarin padet banget.
Semoga kali ini tidak mengecewakan. Selamat membaca dan jangan bosan untuk kasih dukungan like dan komen ya😘😘😘
***
Matanya Itu
Tidak seperti biasa, kali ini food court di mall tersebut tidak terlalu ramai, meski keadaan sudah aman terkendali karena anak buah Satrio sudah membereskan semua kekacauan.
Qia masih tampak tegang dan agak trauma. Karena itu, Satrio mencoba menenangkannya dengan mengajaknya duduk di salah satu counter. Sementara, anak buahnya yang berpakaian preman tersebar di berbagai tempat di wilayah tersebut.
"Sayang, kamu belum makan siang, kan? kita sudah berada di tempat ini, kenapa tidak makan sekalian?" tanya Satrio lembut. Saat itu mereka sedang duduk berhadapan dengan kedua tangan saling bertaut.
Qia tidak menjawab. Ia menatap suaminya dengan penuh makna. Entah bagaimana warna mukanya saat itu, yang jelas wajah cantik itu terasa panas.
"Kenapa lihatlnya segitu amat?" tanya Satrio serius. Ia khawatir Qia merasakan sesuatu, tetapi ditahan karena tidak ingin membuat dirinya cemas.
"Tidak ada." Qia menjawab singkat.
"Beneran? Kamu tidak terluka, kan?" Satrio semakin cemas.
Qia menggeleng.
"Yakin? Kalau tidak ada apa-apa, kenapa lihat Kakak seperti itu?"
"Memangnya kenapa? Qia sedang menikmati wajah tampan suami sendiri, apa perlu sebuah alasan?" jawab Qia ringan.
Jujur jantung Satrio terasa berdebar-debar. Pemuda tampan itu sampai heran, bagaimana bisa? Ia adalah seorang pemuda matang yang memiliki pengendalian diri sangat baik. Namun, seorang gadis muda belia yang kini resmi menjadi istrinya mampu membuat hatinya terasa jungkir balik. Kadang Qia membuatnya cemas, kadang membuatnya terasa nyaman dan bahagia. Yang jelas, Satrio tidak bisa marah apa pun yang dilakukan istrinya.
Dan lihatlah, sekarang kelinci kecil itu baru saja menggodanya tanpa merasa bersalah. Padahal, ia baru saja terlepas dari bahaya. Jujur saat ini Satrio terasa berbunga-bunga. Wajahnya juga agak memerah. Namun, untuk menutupi kekonyolannya, akhirnya ia tertawa.
"Ha ha ha. Sudah berani menggoda Kakak, ya?" kata Satrio gemas sambil mencubit ringan hidup Qia.
"Coba Kakak lihat. Di tempat ini, banyak sekali wanita dewasa dan para gadis yang diam-diam menikmati wajah tampan suamiku, kenapa Qia tidak boleh?" kata Qia tenang. Wajah cantik itu terus menatap suaminya.
Sekali lagi Satrio agak salah tingkah. Namun, tentu saja ia tidak mau menunjukkan.
"Tentu saja boleh, tidak ada yang melarang," jawab Satrio sambil tertawa.
Sementara itu, Qia masih terus menatap suaminya membuat pria muda itu bertanya-tanya.
"Sayang, kamu sudah mengalami banyak hal pagi ini, maaf Kakak tidak bisa menjagamu dengan baik. Sekarang Kakak ada di sini untukmu. Katakan, apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Satrio lembut membuat Qia semakin terlena.
"Katakan sekali lagi, Qia ingin mendengarnya," jawab Qia.
"Apanya?"
"Panggil aku, Kak, sekali lagi," pinta Qia.
"Astaga, Sayang, kirain apa. Kau membuat Kakak khawatir," jawab Satrio sambil tertawa. Ia mulai mengerti arah pembicaraan istrinya.
"Kenapa hanya satu kali? Kakak bahkan tidak keberatan memanggilmu seperti itu ribuan, bahkan jutaan kali."
"Gombal."
"Eh, bener. Sayang Sayang Sayang Sayang," kata Satrio sambil mencium punggung tangan Qia yang sedang ia genggam.
"Kak ... Jangan begini, ah, malu," kata Qia.
"Memangnya kenapa? Kamu istrinya Kakak, bukankah tidak dosa bersikap mesra?"
"Tapi, tidak harus mengumbar kemesraan juga. Ini adalah tanah umum, mereka berhak untuk tidak tercemari oleh kita. Lagipula, ya, Kak. Qia malu dilihat sama Mbak Thia dan Mbak Eka," ujar Qia serius. Satrio mengeryitkan dahi.
"Siapa mereka?" tanya Satrio keheranan
"Penggemar Kakak," jawab Qia ringan.
"Apa mereka ada di sekitar sini?" tanya Satrio.
"Tentu saja."
Satrio, "...."
"Mungkin ia blasteran," pikir Qia.
Apalagi, wajahnya cukup cantik meski tidak ada kesan feminim.
Wanita itu tampak kesulitan duduk karena perutnya sangat besar. Sepertinya ia sedang hamil tua.
Tanpa sadar, Qia meraba perutnya sendiri sambil tersenyum menyadari kekonyolannya.
"Tidak mungkin. Baru tadi malam dibuahi, masak iya langsung jadi," batin Qia malu sendiri. Apalagi, ia sadar saat ini sang suami sedang memperhatikan dirinya lekat-lekat.
"Kenapa? Hem?"
"Tidak ada." Qia semakin malu. Wanita cantik itu sekali mengedarkan pandangan sekali lagi.
Untuk yang ke sekian kalinya ia melihat ke arah wanita hamil itu. Tanpa sengaja, mata kelinci Qia bersirobok dengan mata orang itu.
"Astaghfirullah al aziim!" Seru Qia terkejut. Wajahnya mendadak pucat.
"Kenapa?" tanya Satrio cemas. "Sayang, kamu baik-baik saja, kan? Apa ada yang sakit?"
Qia mendadak gugup. Ia menatap suaminya sambil menggenggam erat tangan kokoh itu.
"Kak ...."
"Hem?"
"Kak ... jangan menoleh ke belakang. Tetap lihat Qia saja," ujar Qia dengan suara agak bergetar.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Satrio mulai waspada. Nalurinya mengatakan bahwa ada bahaya yang mengancam. Apalagi istrinya terlihat sangat ketakutan. Pasti kelinci kecil ini mengetahui sesuatu.
"Kak ... di di belakang Kakak ...."
"Kenapa? Sayang, Qia tenang, ya. Kakak ada di sini dan tidak akan terjadi sesuatu padamu," bisik Satrio sambil menggenggam erat tangan Qia dan menatap bola matanya untuk memberikan keterangan.
"Kak, di belakang Kakak, arah pukul dua, ada seorang wanita cantik dengan perut yang sangat besar. Posturnya sangat tinggi, melebihi wanita Asia pada umumnya."
"Apa wanita itu juga penggemar Kakak?" tanya Satrio, mencoba untuk bercanda.
"Tidak," sahut Qia cepat.
"Lantas???"
"Matanya itu ... Matanya ... Matanya seperti ..."
"Seperti apa?" Satrio mulai mengerti arah pembicaraan istrinya karena sudah pernah mendengar pernyataan seperti ini. Waktu itu ia sangat tidak terima.
"Matanya seperti mata Kakak saat melihat Qia, waktu pertama kali kita bertemu dulu," ucap Qia terbata.
"Jack?"
"Qia sangat yakin, itu dia. Dari tadi ia melihat ke sini terus. Qia jadi takut, Kak."
"Oke, baiklah, Qia tenang, ya. Dia tidak akan berani berbuat macam-macam. Dia tahu kalau sedang terkepung, karena itu ia menyamar.
Kamu tidak perlu takut. Kakak ada di sini, Qia akan baik-baik saja. Lagipula, teman-teman Kakak masih berada di tempat ini dan mereka akan membereskannya." Satrio berusaha menenangkan.
Qia hanya mengangguk sambil menggenggam erat tangan suaminya. Jujur ia masih agak trauma. Kemarin lusa, mereka baru lolos dari kematian, dan baru beberapa menit yang lalu dirinya terbebas dari penculikan. Dan sekarang? Sepertinya akan ada drama lagi.
Sementara itu, Satrio segera menghubungi anak buahnya melalui jam tangan multifungsinya. Dengan tombol hijau, semua anak buahnya yang tergabung dalam tim khusus langsung terhubung dengannya.
[Siap melaksanakan perintah] terdengar suara kompak dari jam tangan itu. Sangat pelan, namun Qia masih bisa mendengar karena posisinya yang sangat dekat.
[Arah pukul dua dari hadapan Qia. Wanita cantik, hamil besar, berbaju ....] Satrio menggantung ucapannya sambil menatap Qia.
[Salmon] jawab Qia.
[Tinggi di atas rata-rata] lanjut Satrio.
Dua menit kemudian.
[Dapat, target terkunci] jawab salah seorang anak buah Satrio.
[Itu adalah Jack. Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan. Saya akan mengamankan istri saya sekarang]
[Siap]