
Alhamdulillah, akhirnya bab ini bisa muncul juga meski rada telat. Semoga tidak mengecewakan.
Kalau ada kata-kata yang menyinggung, mohon dimaafkan, ya. Sama sekali tidak ada maksud dari Author untuk menyinggung siapa pun. Ini semata-mata untuk mendapatkan feel dari cerita ini.
Selamat membaca ❤️❤️😘😘
***
Maaf Qia, Kak!
...Jika aku adalah matahari, maka mereka adalah bintang. Saat badai datang menerpa, bisa saja aku berlindung di balik pekatnya malam. Namun, bagaimana dengan bintang-bintang? Tak mungkin kubiarkan mereka menjadi sasaran, bukan? Karena hakekatnya, matahari adalah bintang....
***
Satrio membawa Qia keluar. Sebenarnya ia ingin berkonfrontasi secara langsung dengan Jack, karena ada banyak hal yang harus mereka selesaikan, termasuk penyerangan membabi buta yang akhir-akhir ini dilakukan oleh lelaki yang bernama asli Jaelani itu.
Sampai dengan hari ini, terhitung sudah empat kali ia melakukan penyerangan. Yang pertama, saat ia membuntuti dan menodongkan pistol pada Qia. Saat itu Satrio dan Qia belum menikah. Kedua, penyerangan rombongan pengantin saat Satrio menikah dengan Qia, kemudian penembakan saat Satrio berada di mobil dengan Qia dua hari yang lalu. Saat itu dirinya bahkan sampai tidak sadarkan diri, dan yang keempat adalah percobaan penculikan hari ini. Bukan tidak mungkin kalau si Jack akan melakukan lagi di kemudian.
Meski ada di antara kejadian itu yang masih belum jelas siapa pelakunya, tetapi Satrio yakin kalau antara satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Itu sebabnya, Satrio ingin sekali bertemu secara langsung dengan Jack. Namun, tidak sekarang karena kondisi Qia tidak memungkinkan.
Karena itu, Satrio mewanti-wanti anak buahnya agar betul-betul menjaga si Jack agar tidak kabur ataupun terbunuh.
***
"Masih kuat berjalan, kan?" bisik Satrio sebelum mereka beranjak.
"Tentu saja, Qia kan tidak terluka, Kak," jawab Qia sambil melirik suaminya sambil sedikit mencibir.
"Syukurlah, kirain bekas olahraga semalam masih terasa sakit," bisik Satrio lagi. Kali ini sangat pelan dan sangat dekat di telinga, bahkan mulut lelaki itu sudah menempel di telinga Qia.
"Astaghfirullah, kenapa perkataannya jadi menjurus ke sana?" batin Qia.
Kali ini wanita muda yang baru saja lepas dari bahaya itu menunduk, tidak berani menatap wajah tampan suaminya. Ia terus saja menunduk dengan muka memerah.
"Mau Kakak gendong?" tawar Satrio lagi.
Mendengar itu, Qia langsung melengos sambil mencebik. Buru -buru ia menjawab sebelum tangan terampil Satrio lebih dulu mengangkat tubuhnya.
"Tidak tidak tidak. Qia bisa berjalan sendiri," potong Qia cepat.
Satrio langsung terkekeh. Pemuda tampan itu lalu membawa Qia bangkit kemudian mereka melangkah bersama.
"Bersikaplah seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tenanglah," bisik Satrio lagi. Kali ini dengan nada serius.
Qia mengangguk sambil terus berpegangan pada lengan kokoh suaminya.
Bersamaan dengan itu, anak buah Satrio langsung bergerak menghampiri Jack.
***
Qia menghempaskan napas lega begitu sampai di lantai bawah. Di pintu masuk, masih ada beberapa petugas yang memeriksa pengunjung, baik yang akan keluar atau yang baru mau masuk.
Mengingat itu, Qia jadi ingat satu hal, kenapa suaminya beberapa kali ia panggil tidak diangkat, tetapi selalu direjec.
"Apa rapatnya tadi betul-betul sudah selesai?" tanya Qia sambil lalu. Saat itu mereka sudah berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh Hendra.
"Kenapa, hem?" Satrio balik bertanya sambil terus menggenggam tangan Qia.
"Bukan apa-apa, sih. Kelihatannya penting sekali, ya?"
"He em. Tadi pagi Kakak kan sudah bilang, kalau hari ini Kakak tidak bisa menemani kamu," jawab Satrio tanpa bermaksud menyalahkan.
"Maafkan Qia, Kak. Kalau tadi Qia tidak ngotot untuk beli blazer, tentu kejadian ini tidak akan terjadi," sesal Qia.
"Tidak apa-apa. Sebenarnya, ada atau tidak ada Kakak, peristiwa ini pasti akan terjadi. Mereka memang sudah merencanakan. Lain kali, sesibuk apa pun Kakak, jangan ragu untuk menghubungi kalau terjadi sesuatu seperti tadi," jawab Satrio menenangkan. Suaranya terdengar sangat lembut membuat Hendra yang duduk di depan merinding.
"Ternyata Bos jutek bisa romantis juga," batin Hendra sambil senyum-senyum sendiri.
"Loh, kan tadi Qia sudah telpon kakak berkali-kali," ujar Qia tanpa merasa bersalah.
Mendengar itu, Satrio jadi teringat sesuatu. Serta-merta, ia menatap wajah istrinya lekat-lekat.
"Kenapa?" tanya Qia lagi, masih dalam mode tidak bersalah.
"Maaf, Kakak tidak tahu itu telpon dari kamu. Karena itu, langsung Kakak matikan," jawab Satrio sambil terus mengamati wajah istrinya. Ia ingin tahu, adakah perubahan di wajah cantik itu.
"Deg!" Jantung Qia langsung seperti mau berhenti berdetak, tetapi ia berusaha untuk bersikap normal.
Wanita cantik itu baru menyadari kalau ponsel yang ia bawa tadi ternyata tertukar dengan milik Kemilau Senja. Karena itu, ia mulai berpikir keras untuk mencari jawaban yang sekiranya masuk akal.
"Sayang, ponsel siapa yang kamu pakai buat nelpon Kakak tadi?" tanya Satrio terus terang.
Qia tidak langsung menjawab. Terlihat sekali kalau wanita cantik yang rapuh itu sedang mencari jawaban.
"Itu ponsel milik seseorang, Kak. Qia tidak kenal siapa orangnya," jawab Qia hati-hati. Ia tahu, pria tampan yang ada di depannya ini tidak mudah untuk dibodohi. Jadi, ia harus berhati-hati.
"Oh ya? Bagaimana bisa ada padamu, Sayang?" desak Satrio.
"Sebenarnya,Qia pingin cerita ke Kakak mulai dari awal sampai akhir. Tapi Qia capek dan pusing banget. Mungkin karena belum sempat makan siang kali, ya? Kakak tahu sendiri kan, Qia selalu pusing kalau telat makan," jawab Qia sengaja mengekspose kelemahannya.
Laki-laki mana, coba, yang tidak cemas jika wanitanya terlihat sangat rapuh dan menderita?
Qia tahu, suaminya paling tidak suka kalau dirinya telat makan karena migrainnya pasti kumat dan biasanya butuh waktu lama untuk menyembuhkan.
"Ya sudah, ceritanya nanti saja. Sekarang kamu istirahat saja," kata Satrio sambil menarik tubuh mungil Qia agar bersandar di bahunya. "Kakak akan pesan makanan sekarang, biar ketika sampai nanti, kita bisa langsung makan."
Qia menurut. Ia lalu bersandar dengan nyaman di lengan suaminya dengan posisi meringkuk. Tangan kirinya merangkul lengan Satrio, sementara tangan kanannya yang tersembunyi antara tubuhnya dan tubuh sang suami ia masukkan ke saku gamis.
Meski ponsel yang satu itu selalu ia silent, ia khawatir kalau-kalau keberadaannya bisa dilacak. Karena itu, Qia berusaha untuk mematikan. Ia juga berusaha mengatur posisi ponsel itu sedemikian rupa agar tidak tersenggol suaminya. Setelah itu, buru-buru ia keluarkan tangan kanannya.
"Maafkan, Qia, Kak. Bukannya Qia tidak percaya sama Kakak. Tapi sekarang Kakak sedang memburu Kemilau Senja. Qia tahu, apa pun yang terjadi, Kakak pasti akan melindungi Qia. Tapi bagaimana dengan teman-teman Qia? Apa Kakak juga akan melindungi mereka? Kalau saat ini Qia mengaku dan meminta perlindungan dari Kakak, Qia khawatir kalau teman-teman Qia dalam bahaya," batin Qia.
Ya, jika Qia adalah matahari, maka teman-temannya adalah bintang. Saat bahaya datang mengancam, bisa saja ia berlindung di balik kuasa suaminya. Namun, bagaimana dengan teman-temannya? Tak mungkin ia membiarkan mereka menjadi sasaran, bukan? Jujur ia belum mengetahui kenapa Kemilau Senja dan teman-temannya diawasi. Qia berharap, semua ini hanya salah paham karena ia yakin kalau yang mereka lakukan selama ini tidak melanggar hukum ataupun norma kepatutan. Ia dan teman-temannya sebenarnya sama. Mereka sekadar menyambung lidah masyarakat untuk menyuarakan kebenaran.
...Matahari selalu peduli pada bintang-bintang, karena pada hakekatnya, matahari adalah bintang....