
"Tidak. Kalau mau selamat ya, jangan keluar dulu sebelum kasus ini selesai. Kecuali ...." Satrio sengaja menggantung ucapannya membuat orang-orang penasaran.
"Kecuali, apa?" tanya Qia penasaran. Sungguh, ia tidak bisa membayangkan kalau tidak boleh keluar rumah. Sampai kapan? Sementara, kasus Pras semakin tidak jelas juntrungannya, seolah tidak pernah ada titik terang.
"Kecuali ... Besok pagi kamu ikut Kakak ke KUA dan kita menikah," jawab Satrio santai sambil menghadap ke arah Qia.
"Apa? Jangan main-main, dong Kak. Kita semua lagi serius, nih," protes Qia kesal.
"Betul Sat, jangan main-main. Apa lagi tentang pernikahan."
"Tidak, Mi. Saya tidak main-main. Saya serius," jawab Satrio.
"Qia tidak setuju."
Enak saja, sembarangan. Memangnya menikah bisa semudah membalikkan telapak tangan?
***
"Memangnya kenapa? Kita menikah besok atau sebulan kemudian, itu tidak ada bedanya, kan?" jawab Satrio, masih dengan gaya santai.
"Maksudmu apa, Sat? Pernikahan itu bukan main-main. Ini ibadah loh, seumur hidup, lagi. Kita butuh persiapan. Seenggak-enggaknya, butuh beberapa harilah, bukan mendadak kayak gini? Nanti pandangan orang bagaimana? Nanti dikira kalian telah melakukan yang enggak-enggak. Kasihan Qia," kata Abi Kun, mencoba menjernihkan suasana.
Mendengar itu, wajah Satrio dan Qia mendadak memerah.
"Tau, tuh. Situasinya kayak gini, malah mikir nikah. Lagian, apa hubungannya antara penyerangan sama menikah? Apa mereka akan berhenti mengganggu Qia kalau besok kita menikah? Dasar mesum!" cibir Qia pelan, tapi semua orang bisa mendengar. Untuk menerima lamaran Satrio beberapa hari yang lalu saja, ia butuh berpikir panjang dan melelahkan, apalagi untuk menikah besok pagi.
Bu Mirna, Umi Silmi, dan Pak Zul yang mendengar, tidak bisa menahan tawa. Namun, akhirnya mereka ikut mempertanyakan ide absurd Satrio.
Diserang beramai-ramai seperti itu tentu saja membuat Satrio jadi dongkol. "Mesum? Mesum apaan?" pikirannya kesal.
Ia lalu kembali menghadap ke arah Qia.
"Dengerin Kakak. Seperti yang Kakak bilang tadi, masalah ini tidak main-main. Diakui atau tidak, saat ini kamu punya banyak musuh. Mereka sedang mengincarmu, Qi, karena ada yang mereka inginkan darimu. Itu artinya kamu sedang dalam bahaya. Mereka akan terus menguntitmu sampai mendapatkan apa yang mereka inginkan," jelas Satrio mencoba untuk bersabar.
"Apa itu tidak terlalu berlebihan? Kakak cuma ingin menakuti Qia, kan? Lagian, Qia tidak memiliki apa yang mereka inginkan," tolak Qia ketus.
"Kau yakin?" selidik Satrio.
"Apaan?" Qia balik bertanya.
"Kau yakin Kak Pras tidak pernah mengatakan sesuatu yang sangat penting? Atau memberikan sesuatu, gitu?" tanya Satrio lagi.
Qia menggelengkan kepala. Ini adalah pertanyaan yang sama dengan yang ditanyakan polisi saat ia menjalani pemeriksaan.
"Kenapa? Apa kamu mengingat sesuatu?" tanya Satrio ketika melihat keraguan di mata Qia.
Sekali lagi, Qia menggeleng.
Satrio menghela napas panjang. Ia memang belum terlalu memahami konsep ta'aruf dan khitbah yang dijalani oleh kakaknya dan Qia. Namun, ia tahu kalau kedua orang itu sangat menjaga interaksi mereka.
"Apa masalahnya seserius itu, Sat?" tanya Abi Kun.
Satrio menghela napas, kemudian memperbaiki duduknya. Kali ini ia menghadap ke arah Abi.
"Iya, Bi. Saya rasa, Kak Pras mengetahui suatu rahasia. Kalau dilihat dari selongsong peluru itu, tentu yang diketahui oleh kak Pras itu bukan perkara kecil. Itu sebabnya, mereka ingin melenyapkan Kak Pras karena diduga memiliki barang bukti. Karena barang bukti belum ditemukan, bahkan setelah Kak Pras meninggal, maka mereka mengincar Qia. Itu analisa saya, Bi," jelas Satrio.
Semua mengerenyitkan dahi, tidak menduga kalau persoalannya bakal serumit ini. Pantas saja kasus ini tidak kunjung selesai.
"Tapi Qia gak memiliki apa yang mereka inginkan, Kak?" kata Qia akhirnya.
"Itu menurut Qia. Bisa saja mereka berpandangan lain. Mereka mengira kalau bukti itu sekarang ada padamu. Itu sebabnya, sekarang mereka sedang mengincarmu. Untuk sementara, tidak ada solusi lain. Kita harus menikah secepatnya," ungkap Satrio.
"Eh ... Bukan secepatnya, tapi besok." Satrio buru-buru meralat ucapannya.
"Mengapa begitu, Sat? Lagian, bener juga kata Qia. Meski kalian sudah menikah, mereka akan tetap mengganggu Qia, selama apa yang mereka inginkan belum didapatkan," tanya Abi Kun
"Abiii ... Ini adalah salah satu ikhtiar kita. Saat ini, Satrio tidak bisa menjaga dan melindungi Qia secara maksimal. Kenapa? Karena kami belum menikah. Coba Abi tanya, apa Qia mau dianter ke mana-mana oleh Satrio? Apa mau Qia diboncengin ke sana ke mari? Trus, kalau ada apa-apa, Satrio mau pegangi dia juga ga bisa. Waktu kecelakaan dulu aja, dia gak mau diangkat tubuhnya yang penuh luka. Satrio hanya pegangi pundaknya saja, langsung kena damprat. Padahal, dia lagi sempoyongan. Lah, sekarang? Kondisinya lebih rumit dari itu, Bi. Segala hal bisa saja terjadi."
Penjelasan Satrio itu membuat semua orang terperangah, terlebih Qia.
"Jadi itu yang dia pikirkan? Ternyata dia hanya ingin menjaga kehormatanku?" batin Qia. Tapi, dia mengakui kalau yang dikatakan Satrio itu betul juga.
"Sekarang Kakak mau tanya sama Qia," lanjut Satrio. Kali ini ia menghadap ke arah Qia.
"Andai kamu tahu kalau orang yang maksa kamu untuk masuk ke dalam Rubicon tadi bukan orang jahat, tapi orang yang memang berniat untuk menolong, apa kamu mau masuk ke dalam mobil secara suka rela?" tanya Satrio lagi.
"Tidak," jawab Qia cepat.
"Nah, itu. Andai Kakak yang meminta pun, kamu belum tentu mau. Padahal, ke depan nanti, kondisinya bisa jadi lebih buruk dari itu. Kakak tidak ingin menakut-nakuti, Qi. Cuma, kita harus realistis. Bukankah berjaga-jaga itu lebih baik daripada tidak melakukan upaya sama sekali?" papar Satrio.
"Baik ... Qia bersedia menikah dengan Kakak," jawab Qia mantap. Satrio sudah menduga.
"Loh ... Loh ... Loh ... Ini apa-apaan, nih, anak-anak muda memang suka grusa-grusu? Kalian kira, nikah itu gampang? Belum ngurus surat-suratnya, belum walimahnya. Ini penting. Bagaimanapun, pernikahan harus diumumkan, biar tidak ada fitnah," protes Abi Kun.
"Tapi, yang dikatakan Satrio itu benar, Mas Kun. Kalau mereka sudah menikah, Satrio bisa menemani Qia ke mana saja. Sebagai orang tua, tentu saya ingin menjaga Qia dan menemaninya ke mana saja. Tapi, tenaga dan kemampuan saya sangat terbatas. Kalau berhadapan dengan pasukan elit dan pembunuh bayaran, tentu saya tidak ada apa-apanya. Setidaknya, kalau ada Satrio, kami bisa menghadapinya bersama," ungkap Pak Zul jujur.
Akhirnya, mereka terlibat diskusi yang serius.
"Kalau masalah walimah, tidak usah berlebihan, seadanya saja. Insyaallah, kalau kondisi sudah memungkinkan, kita bisa mengadakan walimah lagi. Untuk masalah surat-menyurat dan perizinan, tidak usah khawatir. Teman-teman Satrio akan mengurusnya. Besok, pasti semua sudah beres. Kita tinggal datang ke KUA dan melangsungkan Ijab Kabul di sana. Bila perlu, penghulunya saja yang kita datangkan ke sini," ujar Satrio mantap. Kata-kata tegas dan meyakinkan, tanpa ada keraguan sedikit pun. Tidak ada kesan main-main di sana.
Qia kembali terperangah. Apa iya, semua bisa diselesaikan dengan begitu mudah? Memangnya, siapa lelaki ini? Kalau menurut cerita-cerita di novel yang pernah ia baca, biasanya yang bisa melakukan semua ini hanya orang besar. Kalau tidak pejabat, pemilik perusahaan besar (CEO), atau mafia.
Lah Satrio, ia yang mana? Setahunya, lelaki itu bukan salah satu dari beberapa hal tadi. Ia juga tahu banyak hal, terutama tentang identifikasi selongsong peluru itu. Ia juga tahu tentang pasukan elit. Terakhir? Ia juga tahu tentang kejadian di Rubicon? Padahal, seingatnya, Qia belum cerita tentang kejadian itu. Bagaimana ia bisa tahu? Siapa sebenarnya dia? Menurut umi Silmi, Satrio hanyalah seorang programmer dari suatu perusahaan kecil yang tidak terlalu terkenal. Aaah, Qia jadi pusing.