
Dengan berdebar-debar, Ninis berjalan menuju ruang Kepala Sekolah sekaligus pemilik yayasan. Hati gadis itu berbunga-bunga. Sudah lama ia menantikan kesempatan seperti ini. Menghadap Andre berarti sama dengan berdekatan dengan lelaki itu. Meski mereka hanya membicarakan masalah sekolah, bagi Ninis itu sudah cukup.
Ini merupakan kemajuan yang luar biasa. Selama ini, tatapan Andre tidak pernah beralih sedikit pun ke arahnya. Lelaki itu lebih suka berlama-lama menatap Qia dengan tatapan penuh makna. Padahal menurut Ninis, sebelum ada Taqiya, pemilik yayasan itu sering sekali mencuri pandang ke arahnya. Karena itu, ia sangat sebal terhadap Qia. Ia benci setengah mati.
Berita tentang rencana pernikahan Qia membuat guru muda itu merasa sedikit lega. Ia merasa memiliki peluang lebih besar dibanding dengan guru-guru yang lain untuk mendapatkan perhatian Andre. Secara, dari sisi wajah, ia merasa lebih unggul. Namun, kematian Prasetyo membuat impian gadis itu kembali menguap. Ia khawatir, jangan-jangan lelaki idamannya itu kembali berpaling darinya.
“Silakan, Ustadzah! Tolong tunggu sebentar!” Kata Andre sambil menatap Ninis sekilas. Kemudian pandangan lelaki itu beralih ke kertas-kertas yang ia tanda-tangani.
Ninis duduk dengan hati-hati. Dadanya semakin berdebar. Spontan, ia menaruh berkas-berkas yang tersususun rapi di dalam map itu ke atas meja. Di tempat itu, mereka tidak berdua. Ada beberapa pengurus yayasan yang lain di meja berbeda. Tempatnya agak terpisah, tapi masih satu ruangan.
Cukup lama guru muda itu menunggu. Namun, belum ada tanda-tanda Andre mengalihkan perhatian dari kertas-kertas yang ditandatangi. Hati Ninis semakin tak menentu. Dikacangi seperti itu memang tidak nyaman. Andai itu bukan Andre, lelaki yang ia idamkan sekaligus orang penting di tempat itu, pasti lah sudah ia damprat sedari tadi.
Ninis semakin gelisah. Untunglah, beberapa saat kemudian, coretan terakhir Andre selesai. Lelaki itu mendongakkan wajah dan menatap Ninis sekilas. Hati Ninis berbunga-bunga. Akhirnya, penantian panjang itu berakhir sudah. Kini lah saatnya.
Ini bukan kali pertama Ninis berhubungan dengan pria. Dulu, ia sempat memiliki pacar beberapa kali. Semua kandas karena tidak ada kecocokan. Tapi Andre berbeda. Berhadapan secara langsung dan berada sedekat itu dengannya membuat Ninis tak berdaya.
“Maaf, lama menunggu, Ustazah!” kataAndre sambil meraih map yang tadi dibawa Ninis. Hampir saja gadis itu melonjak karena gembira.
“Iya, tidak apa-apa, Pak."
Sementara, Andre mulai membolak-balik kertas-kertas itu, Ninis menunggu dengan perasaan tak menentu.
“Apa Ustazah Ninis kenal dekat dengan Ustadzah Qia?” tanya Andre tiba-tiba.
Ditanya seperti itu, Nnis jadi gelagapan. Sebenarnya ia agak kecewa. Mengapa jadi membicarakan Qia? Sungguh ia merasa tidak suka. Tapi mau bagaimana lagi? Masak ia harus cuek dengan pertanyaan atasannya.
“Rumah kami berdekatan, Pak Andre,” jawab Ninis. Hanya itu satu-satunya jawaban yang terlintas. Sebenarnya ia bingung harus jawab apa. Tidak mungkin ia menjawab benci dan tidak suka pada Qia.
“Ohhhh, gitu,” respon Andre singkat.
“Iya, Pak.”
“Apa ada permusuhan antara kalian berdua?” todong Andre langsung. Tatapan tajam lelaki itu menghujam tepat ke manik mata Nisa. Sesaat, gadis itu menjadi gelagapan.
“Ti … tidak, Pak Andre,” jawab Ninis terbata.
“Saya hanya agak heran saja, mengapa Ustazah berkata seperti tadi di saat semua orang sedang prihatin terhadap kondisi Ustazah Qia. Apalagi dihadapan banyak orang,” kata Andre pelan tapi mengandung penekanan pada setiap kata yang meluncur dari bibirnya.
Mata Ninis yang belok akibat bantuan eyeshadow dan maskara itu semakin membulat. Jadi ini, toh, persoalannya. Ia baru ngeh. Ternyata Pak Andre memanggilnya karena kata-kata yang ia ucapkan pada Qia tadi, bukan karena lelaki itu mulai perhatian pada dirinya.
Sekali lagi, Andre menatap Nnis sekilas.
“Menurut saya, ucapan Ustazah tadi tidak pada tempatnya, kurang pantas diucapkan oleh seorang pendidik seperti, Anda. Kata-kata itu sama saja dengan harapan agar Ustazah Qia masuk penjara. Padahal kita tahu, beliau tidak bersalah. Beliau hanya seorang yang sedang berduka. Mestinya kita prihatin dan empati padanya!” kata Andre pelan, tapi tegas.
“Sekali lagi, saya minta maaf, Pak. Tadi itu hanya bercanda,” kata Ninis lagi.
“Bercanda itu lihat-lihat kodisi, Ust! Coba saja, seandainya Ustazah berada di posisi Ustadzah Qia, pasti Ustazah juga akan sedih sekali diperlakukan seperti itu. Jadi tolong … Ustazah seorang pendidik, bersikaplah yang baik di hadapan semua orang, terlebih para siswa, karena kita adalah teladan bagi mereka!” tutur Andre tegas.
“Iya, Pak. Akan saya camkan,” jawab Ninis sambil menundukkan wajah.
“Oh ya, berkas-berkasnya akan saya pelajari lagi nanti. Terima kasih atas kerjasamanya, Ustazah. Nanti akan saya kabari lagi kalau ada yang perlu diperbaiki,” kata Andre.
Ninis hanya mengangguk. Gadis itu lalu pamit keluar. Dadanya bergemuruh. Darah mudanya bergolak. Sudah bisa ditebak, apa yang dituturkan Andre tadi tidak membuatnya sadar dan mengakui kesalahan. Justru, ia semakin membenci Qia. Kebencian itu bahkan merasuk ke sumsum tulang dan memantikkan api dendam di sana. Sejalan dengan hatinya, pikiran gadis itu akhirnya disibukkan dengan rencana-rencana.
***
Qia memeriksa satu-persatu akun media sosialnya. Tidak ada yang berubah. Memang tidak ada sesuatu yang terjadi pada Kemilau Senja. Ia masih tetap seorang penulis yang digemari pembacanya. Sesaat, gadis itu merasa bebas berkelana. Di dunia maya, ia bisa berubah menjadi siapa saja yang ia kehendaki sesuai dengan lakon para tokohnya.
Komentar dari teman-teman di dunia maya membuatnya tersenyum dan tertawa. Kadang ia berpikir, kok bisa ya, dirinya sekonyol itu saat bercerita?
“Lanjut, Thor!”
“Makin penasaran, nih!”
“Kok dikit amat, tahu-tahu dah bersambung. Lanjuut!”
“Jangan digantung, Thor! Penasaran….”
“Semangat, Thor!”
Di mata penggemar, Kemilau Senja adalah sosok yang sempurna, teguh, kuat dan berilyant. Tidak ada yang tahu seperti apa badai yang tengah menerjang Taqiya Eldiina. Karena memang hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui hubungan antara Taqiya dan Kemilau Senja, itu pun tidak banyak. Mereka bukan penggemar Kemilau senja. Mereka hanya orang terdekat Taqiya Eldiina, seperti kedua orang tua, Ustadzah Kamila, Ningrum dan Alm. Prasetyo.
Namun, satu hal yang membuat gadis itu bertanya-tanya, bagaimana Andrea bisa mengetahui apa yang sedang menimpanya? Kemarin gadis itu mengucapkan bela sungkawa padanya. Siapa dia sesungguhnya? Mungkinkah ia orang yang berada di dekatnya? Entahlah. Mungkin suatu saat, kalau situasinya sudah memungkinkan, Qia akan mencari tahu tentang penggemar rahasianya itu. Tidak sekarang, saat ini banyak hal yang harus ia kerjakan.
Apalagi, besok pagi ia harus menghadiri panggilan di kepolisian. Ia akan dimintai keterangan terkait hubungannya dengan Pras. Awalnya, gadis itu agak syok. Untungnya, Untazah Kamila membesarkan hatinya. Begitu pula dengan ayah ibu dan kedua orang tua Pras. Mereka semua memberikan dukungan pada Qia. Insyaallah mereka akan menemani Qia juga. Ia tidak bersalah, mengapa harus takut? Itulah kalimat yang membesarkan hatinya.
-Bersambung-