
"Kenapa harus pindah, Kak? Tidak bisakah kita tinggal di sini saja?" rengek Qia.
"Kita sudah menikah, jadi harus bisa hidup mandiri. Masak mau bergantung sama Ayah dan Ibu terus?" jawab Satrio sambil membantu Qia mengemasi barang.
"Kita tidak bergantung, Kak. Kita hanya menumpang tinggal aja. Qia yakin, Ayah dan Ibubu tidak akan keberatan," bantah Qia.
"Pletak?" Satrio menyentil kening istrinya. "Sama saja, itu namanya bergantung."
"Au! Sakit, Kak!" protes Qia kesal.
"Biar otakmu lebih encer," jawab Satrio santai.
Qia mendengkus kesal.
"Ini namanya KDRT," gerutu Qia cemberut.
Satrio pura-pura tidak mendengar.
"Selama masih tinggal bareng orang tua, kita tidak akan pernah bisa mandiri. Seminggu Kakak tinggal di rumah ini. Kakak lihat, hampir semua kerjaan rumah dilakukan ibu. Apa selamanya kamu akan merepotkan ibu?" sindir Satrio.
Kontan pernyataan yang terakhir itu membuat Qia malu. Apalagi yang mengatakan itu adalah suaminya. Jujur, selama ini yang mengerjakan pekerjaan di rumah yang paling banyak adalah ibunya. Qia memang membantu, tetapi seperlunya saja.
"Jadi, selama ini diam-diam dia mengamatiku?" Qia membatin. Wajahnya sekarang seperti kepiting rebus karena ketahuan.
"Baiklah. Trus, kita mau tinggal di mana?" tanya Qia akhirnya. Ia tampak pasrah.
"Kita akan tinggal di rumah Kakak," jawab Satrio singkat.
"Di rumah Umi? Sama saja, dong? Gak ngerepoti Ibu, tapi ngerepoti Umi ...."
"Kakak bilang kita tinggal di rumah Kakak, bukan rumah Umi. Dan mulai sekarang rumah itu akan jadi rumahmu juga."
"Ternyata dia punya rumah sendiri?" batin Qia tambah malu. Melihat sikapnya yang suka begajulan itu, ia mengira kalau suaminya belum bisa mandiri, tetapi masih bergantung pada orang tua. Ternyata dugaannya itu salah.
Kalau sudah begini, Qia tidak bisa protes lagi. Mau tidak mau, ia harus bersedia untuk pindah. Itu sebabnya, mulut mungil Qia tidak bisa membantah, tetapi hanya bisa mengerucut saja.
Melihat itu, Satrio menghentikan aktivitasnya, kemudian mendekati istrinya. Ia menghadapkan tubuh mungil itu pada dirinya.
"Kenapa? Kelihatannya kamu tidak suka?" tanya Satrio. Kali ini dengan kata-kata yang lebih lembut.
"Bukan begitu, Kak. Qia hanya belum terbiasa saja. Selama ini, Qia belum pernah jauh dari Ibu dan Ayah. Apalagi, pernikahan kita ini mendadak sekali, loh"
Gadis itu tertunduk lesu. Bukannya ia tidak paham konsekuensi berumah tangga. Hanya saja, kalau secepat ini rasanya ia belum siap.
"Mulai sekarang, kamu harus membiasakan diri, Qi. Dan ... satu lagi yang harus kamu mengerti. Kalau kamu masih berada di rumah ini, keselamatan ayah dan ibu juga terancam. Kamu tidak ingin mereka dalam bahaya, kan?" jelas Satrio.
Kontan Qia membelalakkan mata. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu.
"Astaghfirullah, masih semenakutkan itu, ya, Kak? Tentu saja Qia tidak ingin membuat mereka dalam bahaya, Kak." Wajah cantik itu kini tampak memucat. Ia sangat khawatir.
"Lagian ya, Kak, yang mereka cari itu kan Qia, kenapa ayah dan ibu ikut dibawa-bawa?" protes Qia heran.
"Sebenarnya bukan kamu yang mereka cari, Qi, tetapi sesuatu yang mereka kira ada padamu. Bisa saja mereka akan datang sewaktu-waktu untuk menggeledah tempat ini. Nah, kalau sudah begitu, bukan hanya kamu yang jadi sasaran, tapi siapa pun yang tinggal di rumah ini, termasuk Ayah dan Ibu," jelas Satrio.
Qia kembali terdiam. Kalau dipikir-pikir, betul juga apa yang dikatakan suaminya.
"Baiklah, kita harus cepat kalau begitu," pasrah Qia sekali lagi.
Eh, ngomong-ngomong tentang menggeledah, Qia bahkan pernah memergoki suaminya menggeledah semua laci yang ada di kamarnya, juga lemarinya. Sepertinya lelaki itu sedang mencari sesuatu. Tepatnya dua hari yang lalu. Waktu itu, ia mau bangun untuk salat malam.
Mungkin Satrio belum tahu kebiasaan Qia. Setiap hari gadis itu bangun di seperti tiga malam terakhir. Itu sebabnya, Satrio tidak menyadari kalau sesungguhnya sang istri diam-diam merperhatikannya karena mengira gadis bermata kelinci itu tidur.
"Apa yang dicari?" pikir Qia waktu itu. "Apakah dia merupakan bagian dari para penjahat itu? Ia ada di kubu mana? Apakah dia adalah salah satu bagian dari mereka?"
Qia membatin. Itu sebabnya sampai sekarang ia belum begitu percaya sama suaminya.
Memang, sudah seminggu Satrio tinggal di rumah Qia sejak pernikahan mereka. Selama itu pula, Satrio menggeledah seluruh isi kamar Qia, tetapi tidak menemukan apa yang ia cari. Satrio bahkan sudah meretas isi laptop dan ponsel milik gadis itu. Ia juga tidak bisa mengoreknya secara langsung dari mulut sang istri.
Yang belum dicari oleh Satrio adalah tumpukan baju di lemari. Ia sengaja menundanya karena pekerjaan yang satu itu paling tidak disukai karena mengacak-acak pakaian berarti harus merapikan lagi.
Saat ini mereka sedang berkemas, inilah kesempatannya.
"Qi, apa baju-baju ini akan kamu bawa semua?" tanya Satrio. Tangannya sibuk mengeluarkan isi lemari.
"Tidak, Kak, secukupnya saj ..."
Mata Qia melotot.
"Kenapa dikeluarkan semua?" tanya Qia sedikit kesal. "Nanti kalau suatu saat kita datang dan menginap di sini, kita mau pakai apa?"
Lemarinya memang tidak terlalu besar, tapi tidak harus dikosongkan seperti itu juga, kan? Bahkan semua pernak-pernik dan kotak kardus yang ada di dalamnya juga dikeluarkan. Jadilah sekarang lemarinya kosong melompong.
"Biar lebih mudah memilihnya," jawab Satrio polos. "Jangan khawatir, nanti Kakak bantu merapikan lagi."
Qia menatap Satrio beberapa saat. Ia mencoba membaca pikiran lelaki itu melalui goresan wajahnya. Namun, sepertinya tidak ada gelagat mencurigakan.
Terus terang, sejak diam-diamĀ memergoki suaminya menggeledah semua laci di kamar itu, Qia jadi lebih waspada. Namun, ia berusaha untuk bersikap wajar karena tidak ingin Satrio curiga.
"Kamu pilah dulu, mana yang akan dibawa, biar Kakak yang mengemas," kata Satrio lagi.
Tangan pemuda itu mulai membuka kotak-kotak kardus yang tadinya tersusun rapi di dalam lemari bagian bawah.
"Apa ini akan dibawa juga?" Lagi-lagi Satrio bersikap sok polos.
Qia agak khawatir. Masalahnya, kotak berisi gaun pengantin yang ada flashdisk dari Prasetyo juga ada di sana. Qia tidak ingin Satrio curiga. Itu sebabnya, ia berusaha bersikap sewajarnya.
"Itu kado dari teman-teman, Kak. Beberapa ada yang belum Qia buka," kata Qia.
Jantung gadis itu berdebar-debar saat tangan Satrio membuka kotak berisi gaun pengantin.
"Ini apa, Qi?" tanya Satrio masih dengan tampang polosnya. Tanpa menunggu jawaban dari Qia, tangannya mulai membuka kotak itu.
"Eh ... I ... tu gaun pengantin, Kak," jawab Qia gugup.
Qia semakin khawatir. Antara takut ketahuan, sedih, dan kecewa bercampur jadi satu. Ia takut Satrio membuka gaun itu dan menemukan flashdisk di dalamnya. Ia juga sedih karena gaun itu mengingatkannya pada Prasetyo, dan merasa kecewa karena tidak bisa mengenakannya.
"Ini cantik sekali? Kenapa tidak dipakai kemarin?" Satrio mengeluarkan gaun itu. Perubahan wajah Qia membuat lelaki itu agak curiga.
"Maaf, Kak. Gaun itu sebenarnya mau Qia pakai untuk pernikahan dengan Kak Pras. Tadinya mau Qia pakai untuk akad nikah kita. Tapi, setiap melihatnya, Qia jadi merasa sedih karena teringat sama Kak Pras," jawab Qia hati-hati.
Sungguh, Qia takut Satrio tersinggung karena dirinya masih memikirkan lelaki lain. Di satu sisi, ia juga takut ketahuan.
Sejurus, Satrio menatap mata yang berubah kelam itu. Ia mencoba untuk mencari kejujuran di sana, dan sepertinya memang ada. Namun, Satrio betul-betul ingin memastikan sendiri. Karena itu, Satrio mulai mengangkat gaun itu dan mendekatkan ke arahnya.