
Sejurus, Qia menatap mata yang berubah kelam itu. Ia mencoba untuk mencari kejujuran di sana, dan sepertinya memang ada.
Namun, Satrio betul-betul ingin memastikan sendiri. Karena itu, ia mulai mengangkat gaun itu dan mendekatkan ke arahnya, tapi masih dalam keadaan terlipat.
Melihat itu, mata Qia sedikit melebar, tetapi ia berusaha untuk bersikap tenang, meski sesungguhnya sangat khawatir kalau Satrio akan menemukan benda itu.
Satrio adalah orang yang sangat profesional. Tadinya ia tidak begitu tertarik dengan gaun pengantin itu. Namun, begitu melihat perubahan di wajah Qia saat ia menyentuh gaun itu, maka ia jadi penasaran. Infoman yang ia sebar sempat mengatakan kalau kakaknya mengetahui satu hal dan menyimpannya ke dalam sebuah flashdisk.
Serta Merta, suami Qia itu mulai membuka lipatan dan membentangkan baju itu di depannya.
Qia menahan napas. Sudah pasti flashdisk itu akan terjatuh karena waktu itu ia hanya menyelipkan di balik lipatan saja. Ia sudah pasrah. Mungkin sudah waktunya untuk berterus-terang. Apa pun resikonya, akan ia terima. Jujur, ia belum pernah setakut ini. Itu karena Qia belum sepenuhnya percaya pada suaminya.
Beberapa detik, beberapa menit telah berlalu. Namun, Qia belum mendengar suara suara benda jatuh.
Tentu saja Qia sangat terkejut. Antara lega, khawatir, bingung, dan takut bercampur menjadi satu. Ia merasa lega karena Satrio tidak menemukan benda itu.
Namun, Qia juga heran karena benda itu tidak ada. Sempat terpikir olehnya, apakah ada orang lain yang masuk ke rumai dan menemukannya. Qia jadi takut, kalau benda itu sampai jatuh ke tangan orang jahat bagaimana?
Sementara itu, Satrio agak kecewa karena dugaannya salah. Flashdisk itu ternyata tidak ada di lipatan baju itu.
"Apa gaun Ini juga akan dibawa?" tanya Satrio sambil melipat baju itu asal, kemudian mencari-cari benda yang ia cari di antara baju-baju lainnya.
"Iya, Kak. Biar Qia pilah dulu, nanti Kakak bantu mengemasnya."
Qia berusaha untuk bersikap sangat normal. Agar suaminya tidak curiga, ia mengeluarkan gaun itu dari kotak kardus, kemudian menumpuknya bersama dengan pakaian lain. Ibu jarinya sempat meraba untuk memastikan keberadaan flashdisk itu.
Tidak banyak barang yang dibawa Qia, hanya beberapa baju dan buku yang diperlukan. Tak ketinggalan laptop kesayangan.
***
Di markas
[Apa sudah kau temukan] Suara bos besar memecah kesunyian.
[Kalau ketemu pasti langsung kuserahkan padamu, Bos] Satrio menjawab kesal.
[Yakin?] tanya Bos asal
[Apa maksudmu yakin] Satrio semakin kesal.
[Kali aja kau bermaksud menghianatiku] sekali lagi Si Bos berkata ringan, seolah tanpa beban.
[Kau baru saja memberiku ide yang bagus, Bos] lelaki itu masih terlihat kesal.
[Jangan coba-coba]
[Aku betul-betul akan mencobanya kalau kau berpikiran macam-macam, Bos]
[Brengsek! Coba saja kalau berani]
[Tentu saja aku berani. Aku akan mencari peluang]
[Kau ....] Kali ini si Bos besar yang marah. Ia tahu, seberapa seriusnya Satrio saat bekerja. Ia tidak bisa membayangkan seandainya Satrio betul-betul membelot.
[Sebenarnya apa yang membuatmu yakin kalau istriku mengetahui sesuatu, Bos?] Satrio bertanya untuk yang ke sekian kalinya karena bosnya ini tidak pernah berterus-terang.
[Istri? Wah, rupanya kau sudah mengganti panggilamu dengan panggilan mesra. Sebenarnya ini kemajuan atau kemunduran?] Bos besar menyindir
Prok prok prok [Hebat ... Jangan bilang kalau kau sudah terlena dan mulai melupakan tugasmu?]
[Jangan mengalihkan pembicaraan. Jawab pertanyaanku, Bos. Jangan-jangan dugaanku benar, sebenarnya kau hanya terobsesi pada istriku.
[Kau gila, ya? Kalau aku terobsesi, kenapa aku menyuruhmu menikahinya? Kenapa bukan aku sendiri?]
[Nah, itu? Aku juga pingin tahu jawabannya] jawab Satrio santai.
[Kau tahu sendiri, orang terakhir yang ditemui sepupumu adalah tunangannya yang sekarang jadi istrimu.]
[Trus, apa hubungannya dengan flashdisk? Mereka sudah berkali-kali menanyakan hal itu padanya, jawabannya tetap sama. Detektor kebohongan juga tidak menemukan adanya kebohongan]
[Informan mengatakan kalau sehari sebelumnya, rekan kerja sepupumu melihat kalau sepupumu itu memegang flashdisk. Cukup lama ia menimang-nimang kemudian dimasukkan ke dalam tasnya]
Di mata hukum, Satrio memang tercatat sebagai sepupu bukan kakak adik.
Satrio menggebrak meja. [Astaga, kau menyembunyikan informasi sepenting ini dariku? Dasar brengsek. Untung kau atasanku, kalau tidak ....] Satrio pura-pura marah. Sebenarnya ia sudah tahu tentang flashdisk itu dari orang-orang suruhannya
Sudut mulut si Bos langsung berkedut. Saat itu ia tidak bisa membedakan apakah Satrio benar-benar marah atau sedang bercanda.
[Sekarang kau sudah tahu, jangan terlalu lama mencarinya]
[Sial!!!] Satrio mendengkus kesal. Ia lalu meninggalkan tempat itu tanpa pamitan.
Bagaimana bisa Bos gila itu memberikan misi ini pada dirinya tanpa memberi petunjuk sedikit pun. Untung anak buahnya sangat sigap hingga ia tidak seperti mencai jarum di tumpukan jerami. Betul-betul menyebalkan
***
Qia menata baju-bajunya di lemari, termasuk gaun pengantin pemberian Pras. Namun, sebelum dimasukkan, Qia membentangkan gaun itu di atas kasur. Ia ingin memastikan sekali lagi keberadaan flashdisk itu selagi Satrio tidak ada.
Beberapa saat, jemari lentik Qia mulai meraba semua permukaan gaun itu dengan teliti. Sampai di renda-renda bagian pinggang, jemari itu terhenti. Jemari lentik itu merasakan ada benda tersangkut di antara renda-renda itu.
Qia membalik gaun itu, dan seketika matanya bersinar cerah.
"Syukurlah, flashdisknya masih ada," bisik Qia lega.
Qia tidak mengambil flashdisk itu, tetapi membiarkannya di tempatnya tersangkut. Namun, karena tidak ingin benda itu jatuh atau ditemukan orang, maka ia berusaha membungkusnya dengan renda yang ada di baju itu, kemudian ia jahit samar.
"Alhamdulillah," bisiknya sambil meletakkan baju itu di antara tumpukan baju yang lainnya.
***
Sementara itu, Satrio baru saja keluar dari ruangan bos besar. Bersama dengan kuda besinya, Satrio membelah jalanan ibu kota. Ia tidak sedang terburu-buru. Karena itu, ia memacu motornya dengan kecepatan sedang.
Meski tadi keluar dari ruangan dalam keadaan marah, tetapi Satrio tadi hanya berputar-putar. Tentu saja pemuda tadi hanya berpura-pura
Tiba di jalan yang agak sepi, spionnya menangkap beberapa motor dan mobil yang tidak berjalan tidak wajar. Kelihatan sekali kalau beberapa kendaraan itu dengan sengaja mengikutinya.
"Sial ... berani sekali mereka. Siapa sebenarnya mereka? Apa bocah tengik preman kampus itu?" batin Satrio kesal.
Suami Qia itu masih tetap bersikap tenang. Ia pura-pura tidak menyadari kalau sedang dibuntuti.
"Oke ... mari kita lihat, apa mau cecunguk-cecunguk itu?"
Satrio menambah kecepatan motornya. Orang-orang yang membuntutinya itu juga menambah kecepatan.