Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
53. Jangan Pura-Pura



Pukul sebelas malam, Satrio baru tiba di rumah. Senyap, itulah yang ia rasakan, meski ia tahu kalau beberapa anak buahnya sedang berjaga di luar.


Kalau dulu rumah itu cukup ramai karena anak buahnya sering bergadang dan menginap di sana. Namun, sejak ia menikah, semua jadi segan, tidak ada satu pun yang berani menginap di sana. Tentu saja mereka menghargai privasi Qia yang sudah mereka anggap sebagai Kakak ipar. Apalagi, Qia adalah gadis berkerudung. Akan sangat tidak nyaman kalau anak buah Satrio yang kebanyakan laki-laki itu berseliweran di sekitar Qia.


Ini adalah hari ketiga Satrio tinggal berdua dengan Qia. Dua hari pertama, mereka tidur di tempat terpisah karena Satrio sengaja tidur di ruang kerjanya. Namun, hari ini ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya yang sekarang menjadi kamar Qia juga. Ada sesuatu yang harus ia tuntaskan malam itu juga dan ia tidak ingin menunda-nunda.


Sementara itu, Qia baru saja membaringkan tubuhnya. Tadi, sambil nunggu suaminya datang, ia menyempatkan diri untuk menulis. Selama beberapa jam duduk di depan laptop membuat punggungnya serasa mau patah. Rasanya ingin diluruskan sejenak.


Namun, begitu mendengar pintu kamarnya dibuka, akhirnya ia pura-pura memejamkan mata. Qia agak menyesal kenapa tadi harus lupa mengunci pintu. Kebiasaan di rumahnya dulu memang tidak pernah mengunci pintu. Lagipula, ia tadi tidak mendengar suara mobil atau motor di luar.


Sekarang terdengar pintu ditutup. Qia merasa lega. Ia sangat yakin kalau suaminya hanya sekadar melongok untuk mengetahui keadaannya. Ia yakin lelaki itu akan tidur lagi di tempat kerjanya seperti kemarin.


Kalau di rumah orang tuanya kan mereka tidak berani seperti itu, khawatir para tetua berpikiran macam-macam. Namun, sekarang mereka hanya berdua. Mereka berdua bebas untuk melakukan atau tidak melakukan apa pun semau mereka.


"Glek." Qia menelan ludah ketika tiba-tiba ranjangnya sedikit berguncang.


"Loh loh loh, mau apa dia? Kenapa Kak Satrio naik ke kasur?" batin Qia cemas. Ia takut malam ini suaminya akan meminta haknya, meski ia tahu kalau hal itu tidak salah. Justru dirinyalah yang bersalah kalau sampai menolak. Namun, jujur untuk malam ini ia betul-betul tidak siap.


Bagaimanapun, ia hanyalah seorang gadis yang masih polos. Meski saat berada di rumahnya Satrio berjanji untuk tidak menyentuhnya saat ini, bukan berarti lelaki itu tidak bisa berubah pikiran.


Karena itu, sambil terus berpura-pura memejamkan mata, Qia terus merapal doa agar malam ini suaminya tidak meminta haknya. Kalau ingat tentang hal itu, dadanya jadi berdebar-debar.


Beberapa saat kemudian, ia merasa seseorang telah berbaring di sebelahnya. Meski tidak membuka mata, ia tahu kalau posisi Satrio saat ini amat dekat dengan dirinya.


"Kenapa dia malah tidur di sini?" pikir Qia cemas.


Sementara itu, Satrio sekarang sedang berbaring miring dengan posisi menghadap ke arah Qia. Mata elangnya yang tajam itu tak pernah lepas menatap istrinya.


"Dia cantik sekali," batin Satrio sambil menelan ludah. Apalagi, saat itu Qia sudah melepas kerudung dan gamisnya.


"Astaga ... Kenapa pikiranku sekarang jadi ngeres seperti ini?" rutuk Satrio dalam hati.


Sementara itu, Qia yang merasa sedang diperhatikan mulai merasa tidak nyaman. Hatinya menjadi sangat gelisah.


Sudut bibir Satrio sedikit terangkat mana kala melihat sepasang mata terpejam yang ada di depannya itu sedikit bergerak. Ia hampir tertawa ngakak melihat napas tidak teratur kelinci kecil itu bertambah tidak teratur.


"Sudah, tidak usah berpura-pura lagi. Kakak tahu kalau kamu belum tidur." Satrio akhirnya bersuara.


Qia yang mendengar itu jadi semakin berdebar. Ia sangat malu karena ketahuan. Itu sebabnya, ia bersikukuh untuk terus memejamkan mata. Ia masih berharap kalau Satrio percaya dirinya sudah tertidur lelap.


"Yakin, tidak mau membuka mata? Atau ... Kakak yang bantu buka dengan cara Kakak?" kata Satrio lagi.


Suaranya tidak keras, tetapi mengandung aura berbahaya. Apalagi, suara itu terdengar sangat dekat di telinganya.


"Kakak hitung sampai tiga kali. Kalau kamu belum juga membuka mata, Kakak akan lakukan dengan cara Kakak."


Satrio mulai berhitung. Qia yang semakin ketakutan, mau tidak mau akhirnya membuka mata.


"Astaghfirullah al aziim!"


Qia memekik tertahan begitu menyadari kalau wajah tampan Satrio berada begitu dekat di sampingnya. Seketika wajah putihnya berubah menjadi merah muda.


"Kenapa bisa sedekat ini," batin Qia hampir tak percaya.


"Kak ..." Akhirnya ia memberanikan diri untuk menyapa.


"Apa Kakak menginginkan sesuatu? Qia bikinkan teh, ya?" tanya Qia basa-basi, biar tidak terlihat gugup.


"Tidak," jawab Satrio singkat. Sementara, matanya masih tetap tajam melihat ke istrinya.


Qia menjadi semakin gugup.


"Tidak usah sepanik itu. Bukankah Kakak sudah berjanji untuk tidak meminta hak yang satu itu? Itu ... masih berlaku sampai sekarang. Setidaknya, sampai kita berdua betul-betul siap. Kakak tahu, tidak mudah bagimu untuk menghadapi semua ini."


Qia tidak menjawab. Ia hanya mengangguk tanda setuju.


Mata Satrio yang sangat tajam bisa melihat ada kelegaan di mata kelinci kecil itu.


"Tapi ...." Suara Satrio terdengar menggantung. Tidak keras, tapi cukup membuat gadis cantik itu kembali waspada. Satrio menjadi gemas. Ia merasa tingkah gadisnya itu lucu sekali.


"Gadis gue?" batin Satrio. Ia sendiri sangat terkejut dengan pengakuan dirinya yang sudah mengklaim Qia sebagai miliknya.


"Tapi apa, Kak?"


Qia memberanikan diri untuk bertanya. Ia tidak ingin berspekulasi.


"Jangan tegang seperti itu. Apa Kakak begitu menakutkan di matamu?" tanya Satrio. Kali ini dengan wajah serius.


Qia tidak menjawab.


"Qi ..."


Kali ini Qia menggeleng


"Kakak hanya ingin bicara sama kamu. Apa kamu sudah mengantuk?" Kali ini Satrio bangkit kemudian duduk.


Lagi-lagi Qia hanya menggeleng. Jujur, ia sudah tidak mengantuk lagi meski merasa sangat penat. Dengan terpaksa, akhirnya ia juga duduk, mengikuti Satrio.


"Kakak ingin bicara tentang kita," kata Satrio lagi.


Sementara itu, Qia hanya menunggu. Kini, posisi mereka sedang duduk di tepi pembaringan.


"Apa kamu percaya sama Kakak?" tanya Satrio mengawali pembicaraan.


Qia mengangguk, kemudian menunduk.


Satrio amat terkejut. Ia melihat adanya perubahan yang cukup signifikan di mata istrinya. Ia adalah yang terbaik di satuannya. Hanya untuk mengetahui seseorang jujur atau tidak adalah sangat mudah baginya.


"Tidak ... Ternyata kau tidak percaya secara penuh sama Kakak," kata Satrio lagi.


Mendengar itu, Qia langsung mendongak.


"Bagaimana mungkin?" bantah Qia.


"Hanya kamu yang tahu apa yang tersembunyi di hatimu, Qi. "


Satrio pindah posisi. Ia kini berdiri menghadap ke istrinya.


"Sekarang lihat Kakak. Pandang Kakak."


Qia terkejut. Ia menjadi gelagapan.


"Tidak," jawab Qia singkat.


"Kenapa? Kamu bilang tidak takut sama Kakak. Kamu bilang percaya sama Kakak."


Qia semakin dalam menunduk. Ia semakin gelisah.


"Apa-apaan, sih? Gak tahu, apa, kalau aku begitu grogi seperti ini?" rutuk Qia dalam hati.


"Qi ..." panggil Satrio lagi. Kali ini, tangan pemuda itu meraih wajah istrinya untuk di hadapkan pada dirinya.


Mau tidak mau, Qia akhirnya memandang wajah tampan suaminya.


Namun, karena mata elang itu begitu menghujam ke manik matanya, Qia menjadi tidak berdaya dan akhirnya menutup mata, membuat Satrio menelan ludah.


"Jangan tutup mata, please. Karena Kakak bisa menjadi khilaf." Suara Satrio kini terdengar serak.


Qia yang semakin gelisah, buru-buru membuka mata dan menatap suaminya.


"Kau yakin dengan pernikahan kita, kan? Kakak tahu, kamu belum sepenuhnya percaya sama Kakak. Namun, setidaknya kamu tidak menganggap pernikahan kita main-main atau sandiwara.


Kakak sudah bersumpah di hadapan kedua orang tua kita, di hadapan banyak orang, bahkan di hadapan Allah untuk menggenapkan agama ini bersama denganmu. Kakak tidak ingin dilaknat oleh malaikat hanya karena melanggar komitmen ini.


Qi .. Kakak tidak pernah memohon pada orang lain. Tapi kini Kakak memohon kepadamu, berikan kepercayaan pada Kakak untuk menjaga dan melindungimu. Kau harus percaya sama Kakak karena ini adalah dasar dari pernikahan kita."


Perkataan Satrio sangat lembut, penuh perasaan. Bahkan, rasanya sampai menembus ke jantung Qia.


Jujur, Qia memang belum terlalu yakin dengan pernikahan mereka. Itu sebabnya, saat mendengar kata-kata suaminya, ia merasa semakin berdosa. Matanya kini berkaca-kaca. Ia menatap lekat-lekat mata suaminya. Sungguh, ia tidak menemukan adanya kebohongan di sana.


"Kak ...."


"Kakak ini suamimu. Kau bisa menumpahkan semua keluh kesah dan unek-unekmu."


"Kak ..."


"Jadikan Kakak ini temanmu, sahabatmu, tempat curhatmu. Kau bisa bersandar di bahuku kapan pun kamu mau."


"Kak ..."


Sungguh, Qia merasa semakin bersalah. Ia ingin seratus persen percaya, tapi kenapa hati kecilnya masih tidak bisa menerima sepenuhnya. Padahal, ia sendiri tidak tahu, di mana letak kesalahannya.


Rasa bersalah itu semakin menyeruak, membuat dadanya sesak. Akhirnya membuat gadis itu terisak pelan.


"Maafkan, aku, Kak ..."


Isakan itu semakin keras membuat tubuh gadis itu terguncang.