Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
52. Misi Baru



"Jangan pernah berpikir kalau kau akan terbebas dari misi." Si Bos berkata dengan ketus.


"Apa aku terlihat seperti itu?" gerutu Satrio kesal.


"Ha ha ha, siapa tahu ...." Big Bos berkata santai, kemudian melirik ke Anita.


Saat itu, Anita juga sedang meliriknya dengan perasaan tidak suka. Begitu melihat bosnya memandang ke arahnya, gadis itu langsung melengos.


Setelah itu, ia melirik Satrio.


***


"Kapan kita mulai rapatnya? Sudah jam segini. Kasihan bini gue," kata Satrio cuek.


"Duuh, si Bos, masih jam delapan juga," cibir Loly, salah satu anak buah Satrio.


Mendengar itu, Anita langsung melengos. Sementara, Satrio tetap cuek dengan wajah datar.


"Kakak ipar itu wanita rumahan, gak kayak kalian yang tiap hari kelayapan." Kali Hendra yang pasang badan.


"Jangan asal nyablak lo Hen. Kita kelayapan  juga buat menjalankan misi." Fina ikut merasa tersinggung.


"Eeeh ... Kenapa jadi nyolot. Maksud gue, kalian wanita-wanita perkasa gak butuh perlindungan, gak kayak istri Bos Satrio." Hendra buru-buru membela diri


Mendengar itu, semua tim wanita pada melengos.


"Ayo, Bos. Kalau gak jadi, gue langsung cabut," desak Satrio cuek.


"Baiklah, kalau begitu kita mulai sekarang," kata Bos Besar akhirnya.


Semua akhirnya memasang wajah serius, termasuk Satrio. Mereka memang tidak pernah main-main, apa pun jenis misi mereka. Apalagi misi kali ini sangat berbahaya.


"Kasus yang satu ini memang tidak biasa. Itu sebabnya kita semua berkumpul di sini," kata Bos Besar.


"Apa tentang permata itu, Bos?" tanya Loly.


"Ya. Rupanya desas-desus itu sudah tersebar. Itu sebabnya, kasus ini tidak mudah karena yang diperebutkan itu bukan permata biasa. Ada cip yang ditanam di dalamnya dan tugas kita adalah mengamankannya agar tidak jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab," jelas sang Bos.


"Kita cukup bersepuluh nanti. Dua orang berperan sebagai sepasang suami istri kaya raya, dua orang sebagai pengawal pribadi mereka, dan yang lain sebagai pasukan bayangan. Sekarang, kalian boleh usul, siapa-siapa yang pantas untuk mengemban misi ini," kata Bos Besar menjelaskan.


"Seperti biasa, saya rasa yang paling cocok untuk pemeran utama kali ini adalah Bos Satrio dan Anita."


Kali ini Loly yang bersuara. Ia tahu bagaimana kemampuan mereka berdua. Apalagi, dua orang itu sudah menjadi pasangan serasi selama ini.


Mendengar itu, sesaat wajah Anita nampak sumringah. Namun, mulutnya kembali ditekuk manakala Bos Besar menyangga ucapan Loly.


"Kali ini Satrio tidak bisa pergi."


"Loh, kenapa, Bos?" Fina juga ikut penasaran.


"Satrio sedang menjalankan misi, meski untuk menjaga istrinya sendiri. Ini tidak kalah pentingnya. Kalian harus ingat, Nona Qia itu saksi kunci. Itu sebabnya, semua pihak yang berkepentingan berusaha keras untuk mendapatkannya. Tugas kita adalah mengamankannya. Sama halnya dengan cip yang ada di dalam permata itu, kesaksian Nona Qia juga berkaitan dengan keamanan negara."


"Lantas, siapa?" tanya Hendra.


"Kamu, Hen. Kali ini Anita akan berpasangan dengan kamu, bagaimana menurutmu, Sat? Kau setuju, kan?" tanya Bos Besar membuat


Anita tampak tidak senang. Selama ini dirinya memang selalu dipasangkan dengan Satrio. Itu sebabnya, mereka menjadi dekat. Dan sekarang, ia harus berpasangan dengan Hendra? Memang kemampuannya cukup baik, tetapi Anita tidak yakin dirinya mampu bekerja sama dengannya.


"Tidak,' jawab Satrio singkat, membuat Anita berdebar.


Jujur, ia masih berharap kali ini Satrio memaksa untuk menjalankan misi baru ini dan berpasangan dengan dirinya.


"Heh, memangnya kenapa dengan karakterku?" sungut Anita kesal.


"Kau sangat keras kepala. Hendra tidak akan bisa mengendalikanmu. Dan itu bisa membahayakan dirimu, juga misi ini." Satrio berkata jujur, membuat semua orang tidak bisa berkata-kata, terutama Anita.


"Haruskah ia mengumbar perangai aku di hadapan orang banyak?" batin Anita kesal.


"Lantas, menurutmu siapa orangnya? Aku tidak akan mengirim kau ke sana. Kau sudah tahu alasannya, kan? Kasus istrimu juga tidak kalah penting," jawab Bos Besar.


"Siapa bilang aku akan ke sana," sela Satrio santai.


"Tidak usah berbelit-belit, cepat katakan."


"Sudah saatnya kau turun gunung, Bos. Lagipula, kalau terus berada di markas, selamanya kau akan menjadi perjaka tua," ujar Satrio santai.


"Sialan, kau. Ini bukan waktunya bercanda. Jangan main-main, keselamatan negeri ini ada di tangan kita."


Big Bos merasa sangat kesal. Bagaimana mungkin, dalam situasi genting seperti ini kunyuk itu masih sempat meledeknya. Di hadapan anak buah mereka, lagi.


"Tidak usah terlalu lebay. Kau pikir aku punya banyak waktu untuk bermain-main denganmu yang pemarah itu," jawab Satrio, masih dengan mode santai.


Sementara, anak buah yang lainnya hanya bisa mengurut dada. Bahkan, mereka hampir muntah darah melihat keberanian orang nomor dua di satuan mereka.


Bagaimana tidak? Bos besar adalah orang yang terkenal garang, dingin, dan disiplin. Ia tidak akan segan-segan menghukum siapa saja yang tidak bersikap sopan padanya.


Namun, lihatlah. Dengan seenak jidat, Satrio malah meledeknya. Sudah gitu, bahasanya tidak ada sopan-sopannya. Dan ajaibnya, Bos Besar tidak pernah bisa memarahinya.


"Hanya kau yang bisa mengendalikan Anita, Bos. Lagipula, kita tidak tahu secara pasti bagaimana situasi di sana. Perubahan rencana bisa saja terjadi sewaktu-waktu. Aku yakin, kalau yang lain masih harus laporan dan menunggu keputusanmu. Beda lagi kalau kau sendiri yang berada di sana memantau situasinya, " jelas Satrio panjang lebar.


Si bos tahu, seperti apa kemampuan Satrio. Itu sebabnya, ia langsung setuju dengan pendapat Satrio.


"Baiklah, sudah diputuskan, Anita akan berpasangan denganku. Sedangkan yang lain menempati posisi seperti yang aku jelaskan tadi."


"Tapi Bos ...." Anita berusaha untuk menolak. Bagaimana bisa ia akan berpasangan dengan orang yang sangat dibencinya?


"Sudah diputuskan, dan rapat bubar."


Semua orang keluar dari ruang pertemuan kecuali Bos Besar dan Satrio.


"Bagaimana perkembangannya?" tanya Bos.


"Belum ada."


"Kau suaminya, tidak bisakah kau menginterogasinya secara langsung? Jangan bilang kalau kau sekarang sudah berubah jadi lembek ...." cibir Si Bos.


"Kau mau coba? Kurasa sekali-sekali kau memang perlu merasakan bogem mentah dari anak buahmu, Bos," sela Satrio jengkel.


"Coba saja kalau kau berani!"


"Tentu saja aku berani, Bos. Paling-paling aku akan dikeluarkan dari satuan ini. Kau tidak akan berani membunuhku, Bos. Kalau aku mati, kau juga akan mati." Satrio mencibir.


Sebenarnya si Bos tidak takut dengan ancaman Satrio. Hanya saja, ia merasa bahwa marah tidak ada gunanya. Ia tahu, Satrio tidak akan pernah bertindak di luar batas. Mulutnya saja yang setajam silet, tapi ia orang yang selalu bertanggung jawab. Lagipula, ia sangat berutang budi pada bawahannya itu.


Saat itu ia sedang berada dalam suatu misi penting dan hampir sekarat. Satriolah yang menolong dan merawatnya hingga sumbuh.


"Jangan banyak omong. Aku tidak ingin masalah ini semakin berlarut-larut. Meski sudah dibekukan, aku yakin pergerakan mereka akan semakin liar dan istrimu semakin berada dalam bahaya. Karena itu, cepat kau temukan benda itu. Aku tahu, istrimu tidak berbohong. Mungkin saja ia tidak menyadari kalau dirinya membawa benda yang sangat berharga. Aku percaya kau pasti bisa menemukannya."


Si Bos menepuk pundak Satrio kemudian bangkit.


"Kurasa istrimu sekarang sedang ketakutan," katanya lagi, kemudian melangkah keluar.