Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
119



Semua langsung panik. Abi Kun lalu meminta anak buah Satrio untuk memanggil dokter. Setelah beberapa saat dokter belum datang dan Qia belum sadar juga, akhirnya mereka sepakat untuk membawa Qia ke rumah sakit, tentunya dengan pengawalan yang sangat ketat.


Sementara itu, Satrio yang mendapat informasi kalau Qia dilarikan ke rumah sakit menjadi semakin cemas.


[Kenapa tidak memanggil Kak Iman saja? Membawa Qia keluar dari markas sama saja dengan menggali lubang sendiri] protes Satrio pada Adrian melalui jam pintarnya.


[Ini di luar pantauanku. Rupanya Abi terlalu khawatir hingga memutuskan untuk membawa Qia ke rumah sakit. Tentu anak buahmu tidak bisa berbuat apa-apa. Bukankah kau sudah memerintahkan mereka untuk tunduk patuh pada Abi] Adrian mencoba menjelaskan semua.


Tampak Satrio menghela napasĀ  frustasi. Ia tahu, betapa bahayanya membawa Qia keluar dari markas, apalagi tanpa ada dirinya. Namun, ia juga paham, apa yang disampaikan oleh Adrian karena ia memang berpesan pada anak buahnya untuk menuruti semua perintah Abi.


Abi juga tidak bisa disalahkan. Di samping tidak paham dengan situasi yang ada, Abi pasti juga sangat mengkhawatirkan keadaan Qia. Apalagi, lelaki tua itu sudah dipasrahi untuk menjaga menjaga mereka semua.


[Jangan khawatir. Aku akan memperketat penjagaan di rumah sakit. Lagipula, Iman akan segera ke sana]


Pesan yang terakhir itu sedikit mengurangi kegelisahan Satrio. Namun, baru beberapa saat ia merasa lega, pintu ruang lembab itu dibuka dengan amat keras.


'BRAK'


Satrio mendongak. Di depannya tampak beberapa orang pria berwajah garang yang sudah sangat dikenalnya. Dialah Danang, anak buah Wijaya sejati yang kemarin sempat menendang dan memukulnya.


Sama seperti sebelumnya, saat itu Danang juga menatap Satrio dengan tatapan nyalang.


"Tundukkan wajahmu, brengsek!" bentak Danang keras. Tak lupa lelaki berwajah bengis itu menghadiahi Satrio dengan dua tamparan yang sangat keras di bagian muka.


Danang sama sekali tidak suka dengan pandangan mata Satrio yang dingin dan datar. Jujur ia agak bergidik. Itu sebabnya, ia menutupi ketakutan itu dengan berpura-pura galak.


Darah mengucur dari sudut bibir Satrio. Lelaki itu tidak bisa menyekanya karena tangannya masih terikat di atas sedang kakinya juga masih dirantai.


Diperlakukan seperti itu, Satrio menjadi sangat marah. Sekarang dia yang menatap Danang dengan nyalang. Andai tidak sedang membawa misi rahasia, ia pasti sudah menghajar lelaki ini.


"Zuh!"


Bukannya menunduk, Satrio malah meludahi muka Danang membuat lelaki berwajah bengis itu semakin marah.


"Kurang ajar, berani sekali kau meludahiku!" teriak Danang.


Tangan lelaki itu bersiap memberikan pukulan sekali lagi, tetapi urung begitu mendengar suara tawa Satrio yang menggema.


"Bukannya kau memang pantas untuk diludahi? Setiap hari kau sudah menjilati ludah si begundal Wijaya Kusuma. Harusnya kau berterima kasih karena kuberikan sedikit ludahku yang berharga ini padamu."


Mendengar itu, Danang semakin marah. Secara brutal, lelaki kejam itu memukuli Satrio berkali-kali, sampai ia sendiri merasa kelelahan.


"Jangan main-main denganku, aku bisa saja membunuhmu!" Danang berteriak keras sambil mencengkeram kerah baju Satrio.


"Ha ha ha! Kenapa tidak kau lakukan? Aku tahu, kau tidak akan pernah membunuhku karena begundal itu masih membutuhkan nyawaku. Betul, kan?" tantang Satrio.


"Tentu saja, kau benar sekali. Sekarang beri tahu aku, di mana kau simpan flashdisk itu!" bentak Danang.


Ia memang mendapat perintah khusus dari Wijaya Kusuma untuk mendapatkan flashdisk itu. Itu sebabnya, hari itu Andika sengaja ditarik ke pusat agar tidak menghalangi tugasnya.


Sejak mendapat laporan dari Danang tentang sikap lembek Andika terhadap Satrio, Wijaya Kusuma mengurangi keterlibatan pemuda itu dengan kasus Satrio. Namun, pengusaha kaya sekaligus pejabat publik itu tidak mau melepas Andika karena masih berguna untuk membersihkan misinya. Paling tidak, Wijaya sudah punya gambaran, siapa yang akan menjadi kambing hitam selanjutnya.


"Ha ha ha. Kamu pikir aku seb*d*h dirimu yang mau-maunya jadi peliharaan Wijaya. Aku pastikan, bajingan itu pasti akan menerima ganjarannya." Satrio tertawa keras membuat Andika semakin marah.


Sekali lagi, lelaki berwajah bengis itu memukuli Satrio secara brutal dan membabi buta. Salah satu tendangan memutarnya mengenai kepala Satrio bagian belakang membuat pemuda itu tidak sadarkan diri untuk beberapa lama.