
Flashback on
Karena aduan dari Danang, akhirnya Andika dipanggil menghadap ke Wijaya Kusuma. Namun, sebelum itu, ia lebih dulu bertemu dengan Adrian.
Kemunculan Andika di ruang penyekapan Satrio, membawa angin segar bagi Adrian. Sang Bos tentu mengetahui bagaimana kualitas dan sepak terjang Andika selama ini. Ia juga tahu kalau selama ini Andika sangat mengidolakan Satrio. Itulah sebabnya, ia tidak ragu-ragu untuk menarik perwira itu ke pihaknya.
Seperti dugaan Adrian, Andika yang dasarnya memang orang baik akhirnya setuju dengan tawaran Adrian.
"Tetaplah menemui Wijaya dan korek informasi sebanyak-banyaknya, terutama tentang kedatangannya ke markas itu!" perintah tegas Adrian.
"Siap, laksanakan."
Setelah itu, Andika langsung menemui Wijaya Kusuma di kediamannya.
Flashback off
***
Satrio dan Andika menunggu subuh sambil memulihkan tenaga. Setelah menjalankan kewajiban Subuh, barulah mereka bergerak untuk melumpuhkan orang-orang yang ada di markas itu. Andika memakai topeng kain elastis untuk menyembunyikan identitasnya. Hanya matanya saja yang terlihat. Ia juga memakai lensa biru untuk menyamarkan matanya.
Sementara Satrio, wajahnya tetap tetap terbuka, tanpa penutup. Menurutnya, percuma saja ia menutup muka. Saat mereka melihat ruang penyekapan Satrio kosong, pasti sudah bisa ditebak kalau pemuda itu sudah berhasil melepaskan diri.
"Hati-hati, jangan sampai mereka terbangun!" bisik Satrio.
"Siap!"
Satrio dan Andika langsung bergerak dengan lincah. Keduanya memang betul-betul bisa diandaikan. Mereka yang sudah lumpuh langsung diborgol.
Namun, jumlah pasukan yang ada di markas itu tidaklah sedikit. Meski masih pagi buta, suara ribut-ribut itu ternyata mampu membangunkan mereka karena memang sudah terlatih.
"Cepat bangun, kita diserang!" teriak salah seorang dari anak buah Wijaya.
Mereka yang sudah terbangun langsung gelagapan dan spontan memberikan perlawanan. Danang yang tidur di lantai atas langsung terbangun ketika dihubungi bawahannya. Dengan tergopoh-gopoh, ia langsung turun untuk mengendalikan kekacauan yang ada di lantai bawah.
"Tangkap mereka, jangan sampai lolos!" teriak Danang dengan suara menggelegar.
"Kita berpencar, nanti bertemu di pintu gerbang!" Satrio memberi perintah.
"Siap!"
Tanpa banyak pikir, mereka langsung berpencar. Baku tembak pun terus berlangsung, tak bisa dihindarkan.
Di luar dugaan, markas itu dilengkapi dengan sistem dan peralatan yang canggih membuat dua pemuda hebat itu agak kewalahan. Ini di luar perkiraan mereka karena faktanya dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa menyelesaikannya.
***
Di tempat terpisah, Qia berusaha untuk tidur setelah dipaksa sarapan. Kepalanya sangat pening karena semalam ia tidak bisa tidur sama sekali. Ia memang sering bergadang untuk menyelesaikan tulisannya, tetapi bukan berarti tidak tidur sama sekali.
"Saya tidak bisa tidur sama sekali, Dok. Sekarang kepala saya terasa sangat berat dan sakit sekali, " kata Qia saat dokter Fitri melakukan kunjungan.
Saat itu, dokter fitri menanyakan tentang keluhan yang dirasakan Qia. Untungnya Dokter Fitri sangat sabar dan telaten dalam menjelaskan
"Meski ada beberapa jenis obat tidur yang aman untuk wanita hamil, tetapi saya tidak merekomendasikan. Bagaimanapun, ada efek samping yang cukup berbahaya bagi janin," jelas dokter Fitri.
"Iya, Dok," jawab Qia singkat. Ia sendiri sebenarnya juga tidak begitu suka dengan obat-obatan kimia.
"Sebaiknya minum susu hangat saja, biar bisa tidur. Kalau bisa, lakukan relaksasi untuk menghilangkan ketegangan," saran dokter Fitri.
"Baik, Dok, terima kasih."
**
Sekembali dokter Fitri, Qia berusaha untuk merilekskan tubuh sejenak. Bu Mirna memijit pundaknya agar ia lebih rileks
Sekitar pukul delapan, barulah Qia tertidur. Ia tahu, tidur pagi tidak baik bagi kesehatan. Ia selalu pusing kepalanya jika tidur di jam-jam seperti itu. Namun, karena semalam tidak tidur sama sekali, maka ia mencoba mengistirahatkan seluruh anggota tubuhnya dan akhirnya berhasil.
Saat itulah, dua orang pria berpakaian dokter dan perawat masuk dengan membawa brankar. Salah seorang dari mereka menyuntikkan sesuatu di selang infus, kemudian yang lain memindahkan tubuh mungil Qia ke atas brankar, kemudian membawanya keluar.