Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
110. Kehilangan Jejak



Akhirnya Qia pasrah. Ia percaya sepenuhnya kalau sang suami pasti akan menemukan jalan keluar untuk mereka. Lagipula, ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa.


Terlebih, lawannya ternyata bukan orang sembarangan. Kalau rekannya saja bisa dikhianati, apa lagi dirinya dan keluarganya yang bukan siapa-siapa.


Qia yakin, saat WK ngotot ingin menjadikannya sebagai menantu, tentu orang itu ingin Qia menyerahkan flashdisk itu dengan suka rela, tanpa harus mengotori lagi tangannya. Tentu saja karena jika itu dilakukan, bisa saja membahayakan posisi WK sendiri. Paling tidak, citra yang selama ini dibangun dengan susah payah bisa tercemar.


"Astaghfirullah al aziim," seru Qia sedikit terlonjak.


Tiba-tiba saja ia teringat kedua orang tuanya, juga Umi Silmi dan Abi Kun. Bagaimana kalau Wijaya Kusuma menargetkan mereka karena ingin membuat Qia menyerah dan memberikan flashdisk itu,"


"Kenapa? Ada apa?" tanya Satrio cepat. Lelaki tampan itu ikut cemas begitu melihat wajah panik Qia yang terlihat memucat.


Hendra yang menyaksikan itu pun ikut panik meskipun tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Qia mengkhawatirkan ibu dan ayah, Kak? Bagaimana kondisi mereka sekarang?" tanya Qia masih dalam mode panik.


"Tenanglah, soal ayah dan ibu, anak buah Kakak akan terus memantau dan menjaga mereka," jawab Satrio.


"Tapi, mereka pasti mencemaskan kita, Kak. Mereka pasti sudah melihat tayangan di televisi. Umi dan Abi juga, bagaimana kabar mereka?" kata Qia lagi.


"Percayalah sama Kakak. Insyaallah mereka semua baik-baik saja." Satrio mencoba untuk menenangkan Qia.


"Tentu saja Qia sangat percaya sama Kakak. Namun, bagaimana kalau Wijaya Kusuma menargetkan mereka? Qia betul-betul khawatir, Kak. Coba lihat diri kita, berapa banyak orang yang menjaga kita di rumah, toh mereka masih bisa menyerang kita dengan begitu banyak pasukan?" ujar Qia lagi.


"Tunggulah beberapa saat. Kita tunggu informasi dari anak buah Kakak," ujar Satrio sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


Sebenarnya ia juga khawatir. Beberapa orang yang ia tugaskan untuk mengawal mereka sampai saat ini belum ada kabarnya. Padahal, kejadian penyerangan itu sudah berlalu lebih dari lima jam yang lalu.


"Coba kau hubungi merek lagi, Hen!" perintah Satrio.


"Siap!" seru Hendra cepat.


Pemuda itu segera keluar ruangan, kemudian langsung berkoodinasi dengan timnya.


Sementara, Satrio mengajak Qia kembali ke kamar, mengingat sebentar lagi Maghrib segera tiba.


***


Malam itu, Qia terlihat sangat gelisah. Saat makan malam tadi, ia sama sekali tidak berselera. Jujur ia sangat mencemaskan mertua dan kedua orang tuanya. Sudah hampir pukul delapan malam, belum ada kabar sama sekali tentang mereka.


Wanita cantik itu semakin cemas manakala melihat raut muka sang suami yang tidak biasa. Meski tidak terucap, ia tahu kalau belahan jiwanya itu sedang cemas memikirkan orang tua mereka.


Hanya saja, lelaki itu sengaja tidak menampakkan karena tidak ingin membuat Qia cemas.


"Istirahatlah dulu, kamu pasti sangat lelah," ujar Satrio.


"Kakak mau ke mana?" tanya Qia cemas.


"Ada yang harus Kakak kerjakan sama Hendra," jawab Satrio.


"Kakak mau keluar? Bukankah situasinya masih sangat berbahaya?" tanya Qia lagi.


Dengan terpaksa, Qia membiarkan suaminya pergi. Karena percuma saja kalau ia menahan lelaki itu di kamar, toh tidak ada yang bisa dia lakukan.


Mungkin dengan berkoordinasi dengan Hendra, suaminya akan menemukan jalan keluar, juga informasi tentang keempat orang tua mereka.


Jadilah sekarang wanita cantik itu termenung sendiri di kamar tanpa tahu apa yang harus ia lakukan.


Dalam kondisi kacau seperti ini, selain berdoa, biasanya ia melampiaskannya dalam bentuk tulisan. Hanya saja, ia tidak berani membuka ponselnya karena takut keberadaan mereka terlacak oleh musuh.


Tadi sempat kepikiran untuk meminjam laptop di suaminya, tetapi entah mengapa hari itu ia malas untuk beranjak. Akhirnya, ia hanya bisa bengong sambil menunggu dengan pasrah.


***


Sementara, di ruang kerja


"Bagaimana, Hen? Apa sudah ada informasi tentang mereka?" tanya Satrio. Ia tidak bisa menyembunyikan kecemasan do wajah tampannya.


"Belum, Kak. Kita kehilangan kontak dengan mereka. Apa mereka diserang, ya?" jawab Hendra ikut merasa cemas.


"Kau sudah menyuruh Arka untuk melacak?" tanya Satrio lagi.


"Anak buahnya sudah tersebar di banyak tempat, tapi mereka juga kehilangan jejak."


"Sial, sudah selarut ini, ada apa dengan mereka?" gumam Satrio, tetapi masih terdengar oleh Hendral.


"Di mana posisi terakhir mereka terlacak?" tanya Satrio lagi.


"Simpang tiga, Kak. Anak buah Arka sudah memeriksa secara langsung ke sana, tetapi tidak ada peristiwa yang mencurigakan. Semua terlihat normal, kecuali CCTV nya," jawab Hendra cepat.


Pemuda itu juga tak kalah cemas. Pasalnya, orang tua Satrio sudah seperti orang tuanya sendiri, meski mereka belum lama kenal. Apalagi dulu Satrio memang sangat misterius.


Sementara itu, Satrio mulai mengotak-atik jam tangan ajaibnya. Berbeda dengan ketika bersama Qia, saat itu wajah lelaki tampan itu terlihat sangat menakutkan, dingin tak tersentuh. Sampai-sampai Hendra merasa takut untuk mengganggunya.


Hendra mengarahkan alatnya ke daerah simpang tiga. Daerah itu memang rawan kecelakaan. Itu sebabnya, daerah itu dimanfaatkan oleh para mafia atau siapa pun yang memiliki niat jahat untuk mengeksekusi korbannya di sana. Alasannya, itu adalah tempat yang paling aman untuk menciptakan alibi. Kebanyakan, kejahatan yang terjadi di tempat itu diputuskan sebagai kecelakaan.


Begitu rawannya hingga ada beberapa CCTV yang dipasang di sekitar tempat itu. Namun, seolah hanya untuk pencitraan saja, setiap kali ada kejadian, CCTV selalu dinyatakan rusak.


Seperti yang terjadi tadi siang, CCTV di tempat itu juga dinyatakan rusak. Arka sudah berusaha untuk memulihkannya, tetapi sampai saat ini belum bisa. Sepertinya lawan kali ini betul-betul luar biasa. Bahkan, mereka bisa tahu, saat Satrio dan Qia sedang membuka flashdisk dari Prasetyo tadi siang. Itulah sebabnya, rumah mereka diserbu oleh sekompi pasukan di siang hari bolong. Mereka juga tahu, kapan Qia keluar rumah, dan apa saja yang dilakukan oleh Satrio dan Qia di rumah.


Wajar kalau Satrio betul-betul marah. Akhirnya ia turun tangan sendiri karena sampai detik itu, anak buahnya belum ada yang berhasil melacak keempat orang tuanya.


Setelah mengutak-atik beberapa saat, akhirnya Satrio berhasil memulihkan CCTV tersebut.


Saat itu, ia melihat mobil anak buahnya berbelok ke kanan, setelah itu, merea putar balik, kemudian belok lagi ke tempat semula trus ambil jalur kiri.


"Wijaya Kusuma, tunggulah, semuanya pasti ada akhirnya," desis Satrio marah.


Gara-gara ulah orang serakah itu, ia kehilangan Kakak yang amat dia cintai. Ia juga hampir kehilangan istrinya, dan sekarang mertua dan kedua orang tuanya menjadi sasaran.


"Tidak akan kubiarkan," batin Satrio sambil mengepalkan tangan.