
Hai hai hai, Author muncul lagi untuk memenuhi panggilanmu.
Jangan lupa tetap kasih dukungan ya, dengan like dan komen, biar Author tetap semangat nulisnya 🤩🤩🤩.
selamat membaca ❤️❤️❤️😘😘😘
***
Ditodong Lagi
"Tolong kamu lacak nomor ponsel Bu Qia, istri bos Satrio. Aku baru saja kehilangan dia. Rupanya ada yang mau main-main sama kita," kata Aretha.
"Oke, lo kirim ke gue nomernya."
"Oke."
Sebenarnya Aretha sudah menelpon nomor itu berkali-kali, tetapi tidak diangkat. Makanya, ia langsung minta tolong sama Arka.
"Gimana, Ka?" tanya Aretha kemudian.
"Ponsel kakak ipar terdeteksi ada di rumah Bos Satrio," jawab Arka.
"Oke, thanks."
Aretha menutup telpon. Ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal karena frustasi.
"Rupanya ia tidak membawa ponsel," batin Aretha.
***
Sementara itu, di tempat Qia berdiri.
"Jangan menoleh, tetap berjalan ke depan dan jangan membuat gerakan yang mencurigakan."
Terdengar suara seorang pria berbisik di telinga Qia. Istri Satrio itu merasakan ada benda keras menyentuh rusuknya. Sepertinya sebuah pistol.
Qia bergidik. Ia teringat kejadian penodongan yang ia alami beberapa bulan yang lalu. Bedanya, sekarang ia sudah resmi menjadi istri Satrio.
"Kak Satrio pasti cemas kalau mengetahui diriku sedang ditodong seperti ini," batin Qia.
Sementara, pria penodong itu mendorong Qia berjalan ke seberang, Mereka menuju kerumunan orang yang entah sedang melakukan apa. Ternyata, tak jauh dari kerumunan itu ada sebuah Panther hitam yang sudah menunggu mereka. Qia yang sadar dirinya sedang diarahkan ke dalam mobil segera berbalik kemudian berteriak.
"Polisi!"
Orang yang mendorong Qia tersebut terkejut kemudian menoleh ke arah yang ditunjuk Qia.
Kesempatan itu digunakan oleh Qia untuk mendorong pistol itu dengan paper bag yang dia bawa. Qia tidak pernah berpikir betapa tindakan yang ia lakukan itu betul-betul sangat berbahaya karena secara reflek orang itu melepaskan sebuah tembakan. Beruntung saat itu moncong pistol sudah tidak mengarah ke tubuh Qia karena sudah teralihkan oleh paper bag.
Mendengar suara tembakan, orang-orang menjadi panik kemudian berhamburan ke sana ke mari. Kesempatan itu digunakan oleh Qia untuk lari sekuat-kuatnya di antara orang-orang yang berlarian, kemudian menyelinap ke pusat pertokoan yang berada tak jauh dari tempat itu.
Beberapa saat, Qia bersembunyi di antara pakaian-pakaian untuk menghindari orang-orang yang sepertinya sedang mencarinya. Ia tidak bisa membedakan mana anak buah suaminya atau mana yang musuh karena kenampakan mereka hampir sama, yaitu berpakaian serba hitam.
Dalam kondisi ketakutan seperti itu, sebenarnya Qia berharap bisa bertemu dengan Aretha. Namun, anak buah suaminya itu tidak kelihatan batang hidungnya.
Sama seperti orang-orang yang berada di lokasi kejadian, Aretha dan anak buahnya juga berlari menuju suara tembakan. Namun, saat itu Qia sudah lari dan menyembunyikan diri hingga gadis itu tidak menemukannya.
Sementara itu, Qia yang sedang ketakutan kemudian mengeluarkan ponsel dari tasnya sambil terus bersembunyi di balik pakaian di lantai dua. Ia bermaksud menelpon suaminya. Namun, beberapa kali ia menelpon, tetapi tidak diangkat.
Sementara itu, di seberang, Satrio yang sedang rapat sebenarnya mengetahui kalau ada panggilan masuk berulang kali. Ia memang men-silent ponselnya, tetapi tetap ada nada getar. Jujur ia merasa cukup jengkel mendapatkan panggilan itu, terlebih dari nomor tidak dikenal.
Rupanya, dalam kondisi panik, Qia tidak sempat memeriksa sehingga ia tidak menduga kalau tadi mengambil ponsel yang salah. Rupanya ia menghubungi Satrio dengan nomor Kemilau Senja.
Di tempat bersembunyi, Qia mencoba untuk menelpon Satrio lagi. Sekali lagi ia tidak sempat memeriksa karena matanya sibuk berjaga-jaga barangkali orang-orang jahat itu menemukannya. Apalagi, bentuk dan warna kedua ponsel miliknya sama. Itu sebabnya, ia sendiri tidak merasa curiga. Namun, sama seperti sebelumnya, telpon itu tidak diangkat.
Qia semakin cemas. Ia menyesal mengapa tidak meminta nomor ponsel Aretha dan menyimpannya. Memang ya, tidak ada yang bisa menduga nasib seseorang. Ia tadi dikawal sangat ketat seperti itu, tentu tidak menduga sama sekali kalau bakal dijahati orang.
Di saat Qia sibuk celingukan sambil mencoba menghubungi suaminya, tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan mencekal pundaknya.
"Jangan macam-macam, peluru di pistolku ini tak segan-segan merobek jantungmu," bisik seseorang di belakang Qia.
Qia tentu saja terkejut. Ternyata ia ketahuan. Tak ayal, keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Mau tidak mau, ia harus diam dan menuruti perintah orang di belakangnya. Dari suaranya, ia tahu kalau orang itu sama dengan orang yang menodong sebelumnya. Jelas sekali terdengar kalau orang itu merasa kesal karena sempat dipermainkan oleh Qia.
"Cepat berjalan dengan wajar. Ikuti orang berjaket kulit berwarna hitam yang ada di depan dan jangan berulah lagi,' bisik orang itu sambil terus menodongkan pistolnya.
Qia menurut. Ia segera berjalan beriringan dengan si penodong mengikuti orang berjaket hitam sesuai dengan arahannya menuju lantai bawah. Namun, beberapa saat ia berjalan, dari jarak beberapa meter terlihat si Jaket Hitam menghentikan langkah, kemudian berbelok menuju pakaian pria.
"Sial!" seru orang di samping Qia marah. Tangannya masih terus menodongkan pistol.
Kerudung Qia sangat besar, sampai melebihi batas pinggangnya. Jadi, orang-orang tidak tahu kalau di balik kerudung itu ada pistol yang siap meledak. Dari kejauhan, mereka seperti pasangan yang sedang berjalan beriringan dengan posisi lelaki memeluk pinggang si perempuan.
"Belok lagi ke dalam dan naik ke lantai atas. Jangan bertingkah macam-macam!" perintah orang itu.
Qia sempat heran. Sebelum berbalik, ia mencoba melihat-lihat jauh ke depan, ada apa gerangan?
"Sepertinya di depan ada pemeriksaan," pikir Qia karena ia sempat melihat banyak orang berseragam memeriksa setiap pengunjung yang keluar.
"Pantas si Jaket Hitam berbelok arah, ternyata ia takut ketahuan," batin Qia lagi.
Meski rasa takut itu masih terus membayang, tetapi Qia masih memiliki harapan. Kalau masih di area mall itu, ia masih berharap bisa ditemukan oleh orang-orang suaminya. Beda lagi kalau dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa entah ke mana.
Akhirnya, dengan patuh Qia menuruti orang itu untuk berjalan menuju lantai atas. Sebenarnya ia sudah sangat lelah berjalan mengelilingi mall. Apalagi pangkal pahanya masih terasa ngilu karena perbuatan Satrio semalam. Namun, ia harus menguatkan diri kalau ingin selamat.
Kini, mereka berputar-putar di lantai dua, di tempat pakaian wanita. Saat mereka berkeliling tak tentu arah, terlihat dua bocah sedang berlarian, saling kejar di antara baju-baju itu. Seorang ibu terlihat berteriak memanggil mereka agar tidak berlarian, sementara sang ibu masih sibuk memilih pakaian.
Tiba-tiba salah seorang bocah itu tanpa sengaja menabrak Qia dengan cukup keras. Qia yang merasa bahwa ini adalah kesempatan yang diberikan oleh Allah untuknya segera bertindak.
Sebenarnya, sekuat-kuatnya tenaga seorang anak tidaklah mungkin bisa menjatuhkannya. Namun, sekarang ini ia harus berakting. Karena itu, dengan sengaja ia menjatuhkan diri sambil memeluk anak itu hingga pemilik pipi gembul itu juga ikut terjatuh.
Karena ketakutan anak itu menangis keras-keras hingga mengalihkan perhatian orang-orang ke arah mereka.
"Oh, Sayang. Kamu baik-baik saja? Sini Kakak bantu," kata Qia sambil mengangkat anak itu kemudian menggendongnya.
Orang-orang pada mendekat karena si anak menangis dengan heboh. Ia sangat ketakutan karena tidak mengenal orang yang menggendongnya. Sementara, Qia berjalan mendekati ibu di anak yang juga berjalan ke arahnya.
Posisi itu sangat tidak menguntungkan bagi si penodong. Karena itu, ia segera memasukkan pistol itu ke balik jaketnya karena takut ketahuan. Ia tidak mau mengambil resiko karena di bawah banyak petugas yang sewaktu-waktu bisa naik ke lantai atas.
Sementara itu, Satrio yang baru selesai rapat langsung marah-marah begitu mendapat kabar dari Aretha kalau istrinya diculik.
"Sudah satu jam yang lalu, kenapa baru telpon sekarang?" hardik Satrio.
"Maaf, Bos. Tadi kami masih berusaha untuk mencarinya," jawab Aretha.
Satrio betul-betul marah. Ia membayangkan, betapa takutnya kelinci kecil itu menghadapi bahaya sendirian. Apalagi, yang dihadapi kali ini tidak main-main. Mereka tidak segan-segan menghilangkan nyawa.
Itu sebabnya, dengan izin dari Adrian, ia segera mengerahkan banyak petugas untuk melakukan pemeriksaan di sekitar tempat Qia diculik. Setiap gang, mall, dan semua area itu dipenuhi orang berseragam untuk mencari keberadaan Qia.