Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
82. Qia Takut, Kak!



Hallo Readers, Author nongol lagi, nih. Semoga episode yang ini tidak bikin kamu boring.


Tetap dukung Author dengan like dan komen, ya, biar tambah semangat 🤩


Selamat membaca ❤️❤️❤️😘😘😘


***



Qia Takut, Kak!



Satrio langsung meluncur ke tempat kejadian perkara. Tak tanggung-tanggung, kali ini ia ditemani Adrian. Arka yang tadi dihubungi Aretha ternyata datang ke tempat itu juga.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Kamu sungguh mengecewakan," dengkus Satrio kesal.


Aretha hanya menunduk. Ia memang bersalah karena lalai dalam tugas. Namun, ini di luar kuasanya. Kejadian itu berlangsung sangat cepat.


"Coba ceritakan kronologinya dengan jelas." Kali ini Adrian yang berbicara.


Aretha menatap sekilas Bos Besar itu, kemudian menceritakan tanpa ditambah atau dikurangi.


"Awalnya semua lancar, Bos, tanpa ada kendala sedikit pun. Bahkan, kami sudah mau pulang," jelas Aretha.


"Trus?" tanya Adrian lagi.


"Masalahnya, istri Bos Satrio terlalu baik."


"Apa hubungannya dengan kasus ini?" tanya Satrio ketus..


"Saya sudah membuka pintu mobil dan Bu Qia ada di sebelah saya. Tanpa saya duga, beliau tiba-tiba berlari menuju nenek tua bongkok yang kesulitan menyeberang. Tanpa kami duga juga, di sana juga ada wanita yang dari belakang sama persis dengan Bu Qia. Mereka berdua sama-sama berdiri di dekat si nenek.


Yang mengejutkan, si nenek tiba-tiba mendorong salah satu dari mereka. Kebetulan di sana banyak orang yang lalu-lalang sehingga kami kesulitan membedakan, siapa yang didorong oleh nenek bongkok itu ke dalam minibus dan siapa yang didorong oleh seorang pria ke seberang jalan.


Menurut informasi yang kami terima, di seberang jalan, dekat orang yang berkerumun juga ada mobil yang sudah menunggu dengan arah yang berlawanan. Kami kehilangan jejak mereka setelah terdengar suara tembakan," jelas Aretha panjang lebar.


"Tembakan? Apa ada yang terluka?" tanya Satrio cemas.


"Mereka sudah mempersiapkan sedemikian rupa. Kurasa, sejak dari rumah kalian sudah diincar. Itu sebabnya, mereka bisa tahu persis pakaian apa yang dikenakan Qia dan mempersiapkan wanita serupa untuk kamuflase," kata Adrian.


"Kupikir juga seperti itu," ujar Satrio.


"Bagaimana dengan pemeriksaan di tempat ini?" tanya Adrian.


"Masih diusahakan, Bos. Semua tempat sedang ditelusuri. Semoga ada titik terang. Masalahnya, Bu Qia tidak membawa ponsel. HP beliau terlacak di rumah Bos Satrio," jelas Aretha.


"Apa ada kemungkinan Bu Qia dibawa ke salah satu mobil?" tanya salah seorang anak buah Satrio.


"Menurutku, si nenek, wanita, dan minibus itu hanya kamuflase. Kalau Qia memang tidak ada di sekitar tempat ini, kemungkinan besar ia dimasukkan ke dalam Panther dan dibawa pergi ke arah yang berlawanan," ujar Satrio.


"Tim kita sedang mengejar mereka, Bos," kata Aretha.


"Hubungi mereka, sampai di mana perkembangannya," perintah Satrio.


Semua tim akhirnya kembali ke pos masing-masing sesuai dengan arahan Aretha.


Sementara itu, di mall yang masih berada di area itu, Qia mencoba melarikan diri setelah menyerahkan bocah kecil yang ia gendong pada ibunya. Dengan cepat ia menyelinap di antara baju-baju wanita, kemudian secepat kilat masuk ke ruang ganti.


Di dalam ruang ganti, Qia segera membuka paper bag yang tadi masih ia bawa kemudian menukar kerudung coklat tua yang ia kenakan dengan kerudung instan berwarna salmon yang tadi ia beli. Ia juga memakai blazer putih yang rencananya akan dipakai untuk ujian skripsi.


Kerudung yang tidak dipakai ia masukkan ke dalam tas, sedangkan paper bag yang kosong ia lipat dan sembunyikan di bawah tumpukan baju.


"Alhamdulillah, beres. Tapi ... sepertinya ada yang kurang," pikir Qia setelah melihat pantulan dirinya di depan cermin.


Ia lalu merogoh tasnya, barangkali ada masker yang pernah ia pakai sebentar kemudian ia masukkan ke dalam tas.


"Alhamdulillah, ternyata ada."


Qia mematut diri di depan cermin dan merasa puas dengan penampilannya yang sekarang. Setelah itu, ia mencoba untuk melenggang ke luar. Ia pura-pura tidak melihat ketika berpapasan dengan orang yang menodongnya tadi. Namun, ia tetap berhati-hati karena mengetahui betapa bahayanya orang itu.


"Cepat berpencar, jangan sampai lolos," kata orang itu memberi instruksi pada beberapa orang.


Diam-diam Qia mengingat-ingat siapa saja orang-orang yang saling berkomunikasi itu sambil pura-pura memilih baju.


"Tapi di luar banyak petugas, Bang," jawab salah seorang dari mereka.


"Ambil seperangkat pakaian orang tua lengkap dengan aksesorisnya. Kalau wanita tertangkap, paksa dia untuk memakainya. Ingat, jangan sampai terluka karena dia aset kita yang sangat berharga," kata si penodong.


Mendengar itu, Qia bergidik. Meski sudah berganti kostum dan mengenakan masker, ia tetap takut ketahuan. Karena itu, sedapat mungkin ia berusaha menghindari orang-orang itu.


Tiba-tiba ia ingat suaminya.


"Sudah hampir dua jam, mungkin Kak Satrio sudah selesai rapat," batin Qia.


Qia memutuskan untuk masuk lagi ke kamar ganti di sudut yang lain. Sebelumnya, ia mengambil asal pakaian wanita yang ada di depannya untuk ia bawa ke kamar ganti. Setelah dirasa aman, ia segera masuk, kemudian mengeluarkan ponselnya.


Di tempat lain, Satrio masih berkoordinasi dengan anak buahnya untuk mencari Qia. Wajahnya semakin terlihat cemas.


"Gimana?" tanya Adrian. Beberapa anak buahnya juga masih terlihat di sana, termasuk Aretha dan Arka. Namun, tempat mereka agak jauh dari Satrio dan Adrian.


"Dua mobil itu sudah ditemukan, tapi semuanya kosong. Gue rasa, Qia sudah dipindahkan," jawab Satrio. "Jujur gue cemas banget, Kak. Lo tahu sendiri, ia tidak memiliki kemampuan bela diri sama sekali."


"Kita akan berusaha semaksimal mungkin. Satu hal yang perlu Lo ingat. Istri lo itu saksi kunci. Ia memiliki sesuatu yang sedang mereka cari. Yakinlah, selama masih memegang rahasia itu, insyaaallah ia tidak akan kenapa-kenapa," kata Adrian.


Sebenarnya Satrio juga paham akan hal itu. Namun, kata-kata yang keluar dari mulut bos besarnya itu cukup membuatnya tenang.


Di tengah ketidakpastian itu, tiba-tiba ponsel Satrio berdering. Seratus persen Satrio yakin kalau itu bukan Qia karena ponsel sang istri ia tinggal di rumah.


Satrio mengeryitkan dahi begitu melihat siapa yang baru saja menelpon.


"Siapa?" tanya Adrian penasaran dengan sikap adik angkatnya.


Satrio mengedikkan bahu.


"Entah, nomor tak dikenal. Sejak rapat tadi dia nelpon terus," jawab Satrio.


"Angkatlah, siapa tahu ada keperluan," kata Adrian.


"Iya, Bos. Siapa tahu ada petunjuk. Ehhm ... minta tebusan, misalnya."


Satrio tidak menjawab. Ia segera membukanya, kemudian menekan tombol hijau di ponselnya.


"Halo," kata Satrio datar.


"Kak .... Qia takut," kata suara di seberang dengan nada bergetar membuat Satrio membelalakkan mata.


"Sayang .... kamu di mana? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Satrio cepat, seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Suaranya sangat keras membuat Adrian dan anak buahnya saling pandang, terlebih dengan panggilan sayang yang baru diucapkan oleh lelaki jutek itu.


Jangankan mereka, Qia yang berada di seberang telepon pun hampir tak percaya mendengarnya. Namun, sekarang bukan waktunya untuk membahas masalah itu karena nyawanya sedang terancam.


"Qia ada di salah satu store yang ada di mall dekat butik teman Kakak. Qia gak sempat lihat apa nama store-nya, yang jelas sekarang Qia ada di lantai dua. Mereka masih berkeliaran di sekitar sini, Kak, Qia takut," kata Qia dengan suara perlahan.


"Oke oke, kamu tenang, ya. Kakak ada di dekat sini. Kakak akan segera ...."


Belum selesai Satrio berbicara, Qia sudah mematikan ponselnya karena ia mendengar ketukan.


Wajah cantik itu langsung terlihat pucat.