Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
91. Jalan yang Kupilih 3



...Saat tirtha terbakar sang surya...


...Pernahkah dia bertanya...


...Kelak akan menjadi apa?...


...Embun ataukah varsha,...


...Dia akan terima...


...Apa adanya...


...Namun,...


...Ia akan marah...


...Ketika dipaksa menyalahi kodratnya...


...Pun diriku...


...Kodratku adalah seorang hamba...


...yang tunduk patuh pada-Nya...


...Sami'na wa atho'na...


...Biarkan aku menebar makna...


...Menjadi lentera...


...yang selalu berpijar...


...di kala hari sudah senja...


..."""...


...Kemilau Senja...


***


"Bagaimana, Ka?" tanya Satrio, masih di tempat rapat tertutup.


"Ternyata semua akun medsos Kamilau Senja memang terafiliasi dengan nomor yang dipakai Bu Qia kemarin, Bos," jawab Arka.


"Ini tidak mungkin kebetulan, kan?" gumam Satrio pada dirinya sendiri.


"Bisa saja," celetuk Iman.


"Kebetulan yang sangat dipaksakan," ujar Satrio lagi.


"Bener-bener, ya? Istrimu ini memang sesuatu," kata Adrian.


"Lantas, identitasnya bagaimana?" tanya Satrio.


Kalau disuruh memilih, sejujurnya ia lebih suka kalau Qia dan Kemilau Senja bukan orang yang sama. Ada perasaan tidak nyaman, seolah-olah sedang bersekongkol dengan orang lain untuk menghianati istrinya. Namun, apa daya, ini demi keselamatannya.


"Nama pemiliknya bukan Taqiya Eldiina," jawab Arka.


"Lantas siapa?" tanya Hendra penasaran. Ia cukup kecewa karena dugaannya selama ini ternyata salah.


Padahal, tadinya ia sudah cukup bangga karena analisanya tadi sangat meyakinkan.


"Kalau Kemilau Senja itu bukan Kakak ipar, berarti boleh dong, aku jatuh cinta," celetuk Hendra lagi.


'Plak' satu lagi gulungan koran mendarat di kepala Hendra.


"Sudah kubilang, jaga sikap dan jangan menghayal yang tidak-tidak," kata Adrian.


"Siap, Bos."


"Bacakan, Ka!" perintah Adrian lagi.


"Namanya Aluna Fransisca Jordan, kelahiran Sydney, 1 Januari 2000, domisili Rangkah Utara Kota Metropop ...." Data yang dibacakan Arka cukup panjang dan tidak ada satu pun yang mengarah pada Qia.


"Segera kirim orang untuk mendatangi alamat yang tertera dan konfirmasi semua data. Dan sekarang juga, hubungi nomor itu untuk melacak keberadaannya!" perintah Adrian.


"Pakai nomor yang tidak dikenal saja. Coba pakai nomor kamu, Ka!" kata Satrio.


Mereka bergerak cepat. Detik itu juga, ada tim yang ditugaskan untuk mendatangi alamat yang tertera di berkas.


"Bagaimana, Ka? Apa diangkat ponselnya?" tanya Satrio.


"Ponselnya tidak aktif, Bos. Jadi, belum bisa dilacak sekarang. Terakhir digunakan sehari lalu, saat dipakai Bu Qia," jawab Arka.


"Berarti kita menemui jalan buntu lagi," kata Iman.


Sejenak, suasana menjadi hening, tak satu pun dari mereka yang berbicara.


"Berikan rekaman hasil interogasimu semalam!" ujar Adrian akhirnya.


"Bukannya tadi sudah kusampaikan semuanya?"


"Satrio Adi Kuncoro!" Kata-kata Adrian keras dan lugas.


"Kak ...."


"Ini perintah!" tegas Adrian.


Kalau sudah begini, Satrio bisa apa? Mau tidak mau, ia harus menyerahkan rekaman itu.


***


Sementara itu, Qia baru saja menelan suapan pertama makan siangnya. Entah mengapa ia merasa sangat kesepian dan selalu teringat pada suaminya.


"Kenapa hari ini ingatanku selalu tertuju padamu, Kak? Mungkinkah kau sedang membicarakanku?" batin Qia.


ia lalu mempercepat makannya, meski makanan itu seolah maju mundur untuk masuk ke dalam mulutnya..


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga."


Qia lalu pergi ke kamar kemudian mengambil ponselnya. Sebelum membawa keluar, ia betul-betul memastikan kalau ponsel itu benar-benar atas nama Taqiya, bukan Kemilau Senja.


Selama beberapa hari, ponsel Kemilau Senja memang sengaja tidak diaktifkan. Ia merasa yakin kalau suaminya pasti akan meretas dan mencari tahu keberadaan Kemilau Senja.


Pada detik itu juga, tanpa ia ketahui, Arka sedang menelpon Kemilau Senja. Tentu saja ia tidak berhasil karena Qia sudah mematikannya.


Sementara, Qia yang sedang gunda memutuskan untuk menghubungi suaminya sekadar untuk menghilangkan keresahannya.


[Assalamu'alaikum, Kak] kirim


Satrio yang sedang sibuk membicarakan Qia tentu saja sangat terkejut.


"Siapa?" tanya Adrian melihat perubahan wajah Satrio yang sedemikian rupa.


"Qia."


"Wah, panjang umur nih, Kakak Ipar," celetuk Hendra.


"Tidak ada yang gawat kan?" tanya Adrian khawatir.


"Semoga tidak," jawab Satrio ringan.


Ia tidak menjawab pesan WA Qia, tetapi agak menjauh dari keempat rekannya kemudian langsung menelpon istrinya.


[Sayang, kamu baik-baik saja, kan?] tanya Satrio setelah mereka berbalas salam. Nadanya nampak khawatir.


Empat orang yang saat itu berada tidak jauh darinya langsung mengerutkan kening begitu endengar sapaan itu. Mereka saling berpandangan.


[Iya, Kak. Qia baik-baik saja.]


[Syukurlah]


["Kakak masih rapatkah]


[He em, apa kamu perlu sesuatu?']


[Tidak, Kak. Qia cuma ... cuma ....]


[Apa?] tanya Satrio tidak sabar.


[Tidak ada. Kakak cepatlah pulang, Qia tidak mau sendirian.]


[Kakak usahakan cepat selesai, ya. Sekarang Kakak akan meminta Aretha ke sana, biar kamu nggak kesepian] jawab Satrio menenangkan.


Selama tiga menit mereka hanya berbincang ringan, setelah itu telpon ditutup.


Sementara itu, empat orang yang ada di ruangan itu hanya hanya menatap Satrio dengan raut muka yang berbeda-beda. Adrian dengan muka datar dan dinginnya merasa kesal karena mendapat gangguan saat mereka sedang rapat penting. Andai itu bukan Satrio, tentu sudah ia lempar keluar.


Lagipula, kalau bukan Satrio, mana ada yang berani mengangkat telpon atau menelpon saat ada pertemuan seperti ini.


Sementara, tiga yang lain lebih ke perasaan heran dan terkejut dengan perubahan sikap Satrio dari dingin tak tersentuh menjadi lembut seperti itu.


***


"Sekarang mari kita analisa rekaman, itu," kata Adrian kejam.


Mendengar itu, mau tidak mau Satrio langsung menyerahkan rekaman interogasinya pada Qia semalam.


"Tapi tunggu dulu. Kuberikan ini karena kau ahli menganalisa suara. Hanya kamu, Kak. Aku tidak ingin yang lain ikut mendengarnya," kata Satrio tegas.


"Kenapa begitu, Bos? Kita sudah siap mendengarkan, loh," protes Hendra penasaran.


Satrio tidak mendengarkan sama sekali. Tentu saja ia sangat keberatan, karena ini berkaitan dengan kehormatan istrinya dan juga rumah tangganya.


"Baiklah," kata Adrian mengerti. Ia lalu mendengarkan rekaman itu dengan menggunakan headset.


Tak lama kemudian, pria jomlo itu menutup perangkatnya, kemudian berkata, "Istrimu memang tidak biasa. Sepertinya semua jawaban yang dia berikan memang sudah dipersiapkan. Saya sepakat dengan pendapat Hendra, Adik ipar memang sudah menyadari kalau dirinya sedang kita awasi."


Semu langsung terdiam. Untuk saat ini memang kasus, belum berkembang. Untuk sementara, mereka masih dengan rencana awal, memastikan identitas pemilik ponsel yang dipakai Qia