Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
10. Aku Belum Pantas untuknya (2)



"Kamu gak jadi menikah, ya, Qi? Saya turut berduka. Semoga kamu mendapat ganti yang lebih baik,Qi!"  kata Bu Elke suatu pagi dengan wajah bersimpati.


Kebiasaan ibu-ibu tiap pagi memang berkerumun di depan rumah Qia. Halamannya yang luas membuat tukang sayur keliling lebih suka berhenti di sana. Secara otomatis, ibu-ibu yang tinggal di gang itu juga berbondong-bondong ke sana untuk berbelanja.


"Sial banget calon suamimu, Qi. Jangan-jangan kalian habis melakukan dosa besar, ya? Semoga kamu tidak tekdung duluan, Qi!" sambung Bu Kris dengan nada sinis.


Qia mengeryitkan dahi. "Apa maksudnya? Kok bawa-bawa tekdung segala? Astaghfirullah, orang ini ngawurnya gak ketulungan," batin Qia. Ia tidak menjawab. Meski agak jengkel, ia sengaja tidak menampakkannya karena akan membuat wanita di depannya itu senang.


"Astahfirullah, Bu Kris ... kok ngomongnya gitu? Jangan membuat framing yang bukan-bukan,  ah! Kasihan Qia, tuh. Dia sudah sangat sedih, malah dituduh yang bukan-bukan," bantah Bu Elke sewot. Wanita itu berjalan mendekati Qia dan menepuk ringan pundaknya untuk menunjukkan simpatinya.


"Lah, biasanya kan begitu, Bu Elke. Tetangga saya di tempat yang lama juga begitu. Pernikahan tinggal hitungan hari, calonnya mengalami kecelakaan dan meninggal. Eh, ternyata yang perempuan ketahuan hamil duluan. Tuhan menghukum mereka dengan mengambil calon suaminya. Itu karena mereka telah melakukan perbuatan terlarang. Padahal kerudungnya itu gede banget, loh, " jelas Bu Kris panjang lebar. Tatapan matanya tajam, ditujukan ke Qia.


"Ya, jangan samakan Qia dengan mereka toh, Bu. Tidak semua kejadian bisa digebyah uyah. Kita tahu kan, selama ini Qia sangat baik dan tidak suka berbuat yang aneh-aneh. Ia juga sangat sopan dan mudah bergaul. Bahkan, kita tidak pernah mendengar Qia melakukan pelanggaran, baik secara norma atau pun hukum negara."


"Ah, Bu Elke ini bagaimana. Yang gaul, dong. Masak Bu Elke tidak dengar? Justru yang good looking macam Qia itu yang berbahaya. Kita jangan mudah percaya dengan penampilan luar! Kita harus waspada dengan orang-orang yang berpenampilan seperti itu. Mereka itu muna ...."


"Stop, Bu Kris, tidak usah diteruskan. Itu sudah menjurus pada fitnah yang sangat berbahaya. Sebaiknya kita bubar! Toh, tukang sayurnya sudah pergi dari tadi," kata Bu Elke sambil menarik lengan ibu-ibu yang lain.


Bu Kris melotot dengan mimik tidak suka. Dengan sinis, ia menatap tajam ke arah Qia. Wanita itu merasa cukup puas dengan mengatai Qia seperti itu di hadapan orang banyak.


Salahnya sendiri, berani benar ia membuat Ninis, anak gadisnya patah hati. Gara-gara sikap genit Qia, Pak Andre, pemilik yayasan di tempat Ninis mengajar tidak jadi naksir Ninis. Setidaknya,  itu adalah pengakuan Ninis padanya.


"Dasar, kamu memang pembawa sial, Qi!" hardik Bu Kris sambil ngeloyor pergi.


Qia tertegun.  Ia tidak menyangka, tetangganya bakal bicara seperti itu. Meski ia paham, sedang berhadapan dengan siapa. Bu Kris memang terkenal bermulut ember dan suka nyinyir. Qia tidak terkejut kalau hari ini ia kejatuhan sampurnya, untuk kesekian kalinya.


Ibunya sering mengatakan kalau orang macam Bu Kris memang tidak perlu diladeni. Qia sepakat dengan hal itu. Apalagi, bukan kali ini saja wanita itu bersikap sirik padanya. Sebelum Pras meninggal pun, ia juga sering bersikap demikian.


Qia sendiri tidak tahu, apa kesalahannya. Yang jelas, ia tidak merasa berbuat salah pada wanita itu. Ah, sudahlah. Yang penting, ia tidak melakukan perbuatan seperti yang dituduhkan orang.


Namun begitu, hati Qia masih diliputi kesedihan yang dangat mendalam. Karena itu, selama beberapa hari, ia hanya mengurung diri di kamar. 


Untungnya, ucapan dari Ustazah Kamila saat bertandang semalam cukup meringankan beban di hatinya.


"Cobalah untuk bersikap bijak, Dek! Jangan hanya melihat musibah ini dari sisi anti saja. Yang merasa kehilangan Akhi Prasetyo itu bukan hanya anti. Pikirkan Bu Silmi dan Pak Kuncoro. Mereka pasti sangat sedih kehilangan anak lelaki  yang sangat dibanggakan.


Begitu juga dengan ayah dan ibu anti. Ditinggal calon menantu itu juga bukan main, loh, rasanya. Jadi jangan terlalu didramatisir, seolah-olah anti yang paling menderita. Dengan sikap anti yang tidak dewasa seperti ini, mereka semua akan semakin bersedih," jelas Ustalzah.


Kata-kata itu terdengar sangat lembut, tetapi cukup membuat Qia tersentak dan menyadari kesalahannya.


"Bersyukurlah, Dek, anti belum terlalu jauh mengenalnya. Andai ia pergi saat kalian sudah menikah dan saling dekat satu sama lain, tentu akan lebih sulit bagi anti untuk melupakannya. Allah tahu, sebatas apa kemampuan kita.  Karena itu, Allah tidak menguji anti dengan sesuatu yang melebihi kapasitas anti,"


Qia menghela napas. Ia memang harus bangkit. Tak layak rasanya terus-menerus meratapi nasib. Padahal, bisa jadi itu memang yang terbaik untuknya.


Ustazah benar. Selama ini ia sudah egois, merasa dirinya yang paling menderita. Padahal, bisa jadi ada yang lebih menderita dari dirinya. Bahkan, kalau dipikir-pikir, selama ini ia lebih fokus dan cenderung mengasihani dirinya sendiri dibanding rasa kehilangan dan kepedulian pada Pras. Harusnya ia lebih memperbanyak doa untuk Pras agar semua amal ibadahnya diterima Allah dan dosa-dosanya diampuni.


"Astaghfirullah, maafkan Qia, Kak! Ampuni Qia,  ya,  Allah!" batin Qia. Sebutir embun mulai menetes dari mata kelincinya.


Qia masih terus mencoba merenung. Ia ingin bangkit dan segera berbenah. Masih banyak hal yang harus ia kerjakan, termasuk membuat ayah dan ibumya bahagia.


"Bismillah, mudahkan aku, ya, Allah!"


bisik Qia dalam hati.


***


"Qi, boleh ibu masuk?" terdengar suara dari luar.


"iya, Bu."


Bu Mirna yang merasa khawatir dengan kondisi putrinya, membuka pintu dan masuk. Wanita itu lalu duduk di pinggir dipan tempat Qia berbaring.


"Kamu baik-baik saja, kan? Apa kamu masih memikirkan kata-kata Bu Kris tadi?" tanya Bu Mirna.


"Bagaimana ibu bisa tahu? Tadi kan ibu tidak berada di rumah?" Qia balik bertanya.


"Tadi Ibu bertemu Bu Elke. Beliau menceritakan semua pada Ibu. Tidak usah diambil hati,  Nak! Bu Kris memang selalu begitu," kata.Bu Mirna.


"Iya, Bu. Qia paham. insyaallah Qia baik-baik saja, meski ...."


"Meski apa, Qi?"


"Saat prosesi pemakaman Kak Pras kemarin, orang-orang juga bersikap seperti itu, dingin dan kaku. Entah itu di rumah atau di tempat pemakaman," jelas Qia.


"Apa iya? Ibu tidak merasa begitu, apalagi Bu Silmi. Tak ada benci-bencinya sedikit pun sama Qia."


"Bukan Bu Silmi, Bu. Tapi yang lainnya," kata Qia.


Bu Mirna terdiam. Ia memang tidak membenarkan apa yang diucapkan anak gadisnya. Wanita itu menyadari, kesedihan mendalam yang dirasa Qia membuat anak itu sangat sensitif, terutama dari pandangan orang-orang.


-Bersambung-