
Suasana ruang makan sudah sunyi sejak Adrian melangkah keluar tadi. Siapa pun yang menyaksikan pasti mengatakan kalau mereka sedang makan dengan hikmat. Tentu saja tidak ada yang tahu isi kepala masing-masing. Yang jelas, merek pasti bertanya-tanya, benarkah Anita yang datang? Apa yang akan ia lakukan terutama ketika melihat Satrio dan Qia di tempat itu?
Pada dasarnya Anita itu sangat baik. Namun, ia menjadi sangat keterlaluan jika itu sudah menyangkut Satrio. Beberapa waktu yang lalu, ia sempat ingin menjadi pelakor, tetapi sungguh dirinya merasa tidak berbakat. Apalagi yang dihadapi adalah Qia yang ternyata kalau bicara sepedes cabe Jawa.
Begitu Anita muncul di hadapan Rena dan yang lainnya, wajah-wajah itu langsung mendongak.
"Hai, Nit, lama tak jumpa, apa kabar?" sapa Rena yang dasarnya memang Blater.
Wanita itu memang bertolak belakang dengan dokter Iman yang rada pendiam dan datar.
Tak ingin berbasa-basi, Anita menyapukan pandangannya ke semua orang. Ia tampak tak peduli dengan pendapat orang orang lain.
"Hai, Ren, Qi," jawabnya sambil duduk di kursi yang kosong.
Qia yang tak menyangka bakal disapa, langsung mengangguk dan tersenyum sumbang. Mendadak suasana menjadi canggung sejak kedatangan Anita.
"Kita lanjutkan makan," ujar Adrian memecah suasana.
Mereka pun akhirnya makan tanpa bersuara. Pun ketika mereka selesai makan.
"Bisakah kita bicara sebentar?" Anita tiba-tiba bersuara, memecah keheningan yang sedari tadi tercipta. Matanya yang sendu menatap penuh harap ke Qia.
"Tidak." Satrio menjawab cepat. Bahkan saat Anita belum selesai bicara pun ia sudah tahu, pertanyaan itu ditujukan pada siapa.
Namun, bukan Anita kalau menyerah begitu saja. Mendengar penolakan dari Satrio, ia menoleh cepat ke arah pemuda yang mampu membuatnya mabuk kepayang itu. Meski sudah menyangka akan mendapat penolakan seperti itu, tak urung hatinya terasa nyeri juga. Bagaimanapun, membunuh rasa cinta itu tidak mudah. Ia sudah beberapa tahun memendam rasa pada lelaki itu. Apalagi, selama ini suami Qia itu juga seolah memberi perhatian lebih padanya.
"Hanya beberapa menit saja, tidak akan lama," pinta Anita datar. Tidak ada nada memohon di dalamnya.
"Kalau mau bicara, di sini saja," kata Satrio lagi. Tegas dan lugas, tak terbantahkan.
"Tidak apa-apa, Kak. Qia akan bicara dengan Mbak Nita."
"Tapi ...." Satrio ingin protes, tapi Qia langsung mengenggam tangan kokoh itu untuk meyakinkannya.
Akhirnya, mau tidak mau Satrio melepaskan dan membiarkan wanitanya meninggalkan ruangan itu dengan was-was.
"Biarkan saja, Sat, tidak apa-apa. Qia dan Anita hanya berbicara di ruang depan, bukan untuk berperang," kata Rena saat Anita dan Qia sudah tidak ada di ruangan itu.
Satrio tidak bersuara.
"Biarkan mereka menuntaskan semua masalah, biar di kemudian hari sudah tidak ada syak atau prasangka." Kali ini Adrian yang berbicara.
"Tapi ...."
Suara Satrio terjeda. Tampak kekhawatiran di matanya.
"Qia pasti akan baik-baik saja. Anita tidak akan menyakitinya. Di sini ada kalian bertiga yang merupakan atasannya. Anita tidak akan begitu gila sampai menyerang Qia di kandang singa," kata Rena membuat
Satrio diam. Dalam hati ia membenarkan. Bertahun-tahun ia satu tim dengan Anita. Ia tahu, pada dasarnya gadis itu sangat baik. Ia berbuat tidak menyenangkan pada Qia mungkin karena merasa miliknya telah terancam.
Tiba-tiba Satrio merasa sangat bersalah. Jujur, dulu ia memang sempat membuka hatinya untuk Anita. Namun, itu terjadi sebelum Qia datang. Bukan sekadar demi misi. Namun, ia sudah berjanji dalam hati untuk menjaga dan menunaikan janji abangnya, Prasetyo, untuk selalu menjaga dan melindungi Qia. Lepas dari itu, ia sendiri sekarang sudah benar-benar menjadi budak cinta.
***
Di ruang tamu, dua wanita cantik itu duduk diam di sofa. Tak satu pun yang mengeluarkan suara.
Anita menghembuskan napas panjang berulang-ulang. Namun, belum ada tanda-tanda untuk membuktikan percakapan. Ia hanya memandangi wajah cantik yang ada di depannya.
"Mbak Nita," penggil Qia pelan. Namun, seperti sebelumnya, Anita masih belum mau berbicara juga.
Pada panggilan ketiga, barulah Anita bersuara setelah menghempaskan napas panjang sekali lagi.
"Kamu pasti sangat membenciku," ujar Anita pelan.
Ditodong seperti itu, Qia jadi terperangah. Ia kemudian berpikir cepat untuk mencari kata-kata yang sekiranya jujur, tapi tidak menyinggung perasaan Anita.
"Jujur dulu aku memang kesel dan jengkel sama kamu, Mbak, tapi aku tidak pernah membencimu," jawab Qia.
Anita tiba-tiba tertawa membuat Qia keheranan. Tadinya ia menduga kalau Qia akan memberikan jawaban munafik yang sudah klise, "Aku tidak pernah membencimu." Dan ... sudah pasti ia tidak akan percaya dengan jawaban itu. Wanita mana, coba, yang tidak marah atau benci kalau ada wanita lain yang berusaha merebut suaminya?
Atau malah jawaban sebaliknya yang akan membuat Anita terpancing emosinya, seperti, "Ya, aku sangat membencimu, kau adalah wanita bla bla bla ...."
Tentunya, Anita sudah mempersiapkan diri dengan jawaban seperti itu. Namun, ternyata yang dikatakan Qia berbeda. Ia tidak mengingkari, juga tidak menunjukkan kebenciannya. Menurut Anita, sikap istri Satrio itu jauh dari pura-pura.
"Kenapa Mbak Nita tertawa? Apa ada yang lucu?" tanya Qia polos.
Ha ha ha
"Kau pintar sekali bersilat lidah. Kuakui itu. Jujur aku tidak akan pernah bisa menang kalau adu mulut denganmu," ujar Anita membuat Qia semakin membulatkan mata.
"Maksud Mbak Nita apa?" tanya Qia. Ia mulai merasa tidak nyaman.
"Tidak ada. Lupakan pernyataanku barusan."
"Trus!" Qia mulai tidak sabar.
"Aku hanya mau minta maaf. Sejujurnya dulu aku sangat tidak menyukaimu. Gara-gara kamu, aku harus kehilangan seseorang yang sangat kucintai," ucap Anita tenang. Sampai-sampai dia sendiri juga merasa heran kok bisa dirinya bersikap setenang dan berbicara selancar itu.
Sementara itu, Qia hanya mendengarkan. Ia berusaha untuk memahami dan berempati pada wanita cantik yang ada di depannya itu.
"Namun, aku baru sadar, bahwa yang kurasakan itu sebenarnya bukan cinta, tapi hanya obsesi semata. Bener kata Bos Satrio, mungkin selama ini aku sudah terlanjur menyugesti diri bahwasanya hanya Satriolah yang bisa membuatku tenang dan bahagia. Itu sebabnya, aku Bety tergila-gila padanya."
Anita berhenti sejenak. Ia melihat respon wanita cantik di depannya.
"Lantas?"
"Sekarang kamu tidak perlu khawatir. Bohong kalau kukatakan bahwa perasaanku ke Satrio sudah tidak ada. Hanya saja, perasaan itu sudah tidak seperti dulu. Lagipula, saat ini aku sudah menambatkan hati pada orang lain," kata Anita. Jujur ia sudah merasa sangat lelah.
"Kak Adrian?" tebak Qia.
Anita mengangguk. Keduanya lalu diam sampai beberapa lama.
Jujur Qia juga bingung harus menanggapi seperti apa pengakuan wanita cantik yang ada di depannya. Menurutnya, Anita tidak harus mengklarifikasi tentang perasaannya pada Qia.
"Mungkin ia butuh teman untuk melepan beban perasaan dan pikirannya," pikir Qia.
Itu sebabnya ia lebih banyak mendengarkan daripada berkomentar.