
Sedang berbincang tentang hubungan antara Rena, Aluna, dan Kemilau Senja, tiba-tiba saja Rena nyeletuk.
"Apa habis ini kau ada acara lagi, Kak?" tanya Rena pada Adrian.
Lelaki yang paling tua di antara mereka itu menoleh seketika, menghentikan sendok yang hampir menyentuh mulutnya.
"Kenapa tanya gitu? Tentu saja aku tidak ke mana-mana. Ini adalah acaraku, mengapa aku harus bikin janji untuk menghadiri acara lain, sementara aku mengundang kalian?" jawab Adrian yakin.
"Kali aja," sahut Rena rada tidak percaya. Dengan cuek, ia lalu kembali fokus pada makanannya.
"Kenapa?" tanya dokter Iman pada Rena.
"Bukan apa-apa, sih. Cuma, agak heran saja, dari tadi Kak Adri liatin jam Mulu. Kayaknya gelisah banget gitu, loh," ujar Rena tanpa sungkan.
Semua mata akhirnya tertuju pada Bos Besar itu.
"Lo mau keluar, Dri?" tanya dokter Iman memastikan.
"Gaklah. Gak usah dipikirkan. Itu hanya perasaan Rena saja," jawab Adrian tenang, kemudian kembali meneruskan makannya.
"Cuma perasaan bagaimana? Orang dari tadi Kakak memang liatin jam terus, kok," balas Rena sewot.
"Lo gak sedang nunggu seseorang kan, Kak?" todong Satrio.
Adrian yang sibuk memotong steak, menghentikan aktivitasnya, kemudian menatap suami Qia itu dengan tatapan penuh makna. Karena semua orang kini menatap dan menunggu jawaban darinya, akhirnya ia mengaku juga.
"Sebenarnya iya. Cuma ..
gue gak terlalu yakin," jawab Adrian tawar.
"Lo ngundang Anita?" tebak Satrio.
Semua mata langsung tertuju pada Satrio, kemudian beralih ke Adrian. Sementara, yang ditatap tidak memberikan respon apa-apa.
Wajah lelaki itu masih terlihat datar.
"Jadi, lo sudah nembak dia, Kak? Wah, lo kalah cepat, Hen," seloroh Satrio. Kali ini pandangannya beralih ke Hendra.
Hendra yang sedang menelan nasi langsung tersedak. Ia langsung melotot ke Satrio. Bagaimanapun, pemuda itu belum siap untuk dipecat oleh Bos Besar. Gak mungkinlah ia berani bersaing dengan lelaki es batu itu untuk mendapatkan Anita, meski sebenarnya dirinya memang memiliki ketertarikan pada gadis itu.
"Hati-hati," kata Rena sambil menyodorkan segelas air. Kebetulan tempat duduk berada di antara Suaminya dan Hendra. Jadi, posisinya lebih dekat dibandingkan dengan yang lain.
Sementara itu, Adrian masih bergeming. Sikapnya yang datar dan tanpa komentar itu semakin membuat Satrio yakin akan tebakannya.
"Pantesan masih ada satu kursi yang tersisa. Ternyata sudah ada pemiliknya, toh. Wah, kita harus rayakan ini. Tapi, kasihan Hendra juga, belum apa-apa sudah patah hati," goda Satrio.
"Eih, belum tentu juga. Kalian gak lihat, kursinya masih kosong. Itu berarti, Anita belum kasih jawaban dan Hendra masih punya peluang," kata dokter Iman.
Adrian masih belum berkomentar, tetapi wajahnya kini terlihat kelam. Sampai-sampai Hendra menjadi ketakutan.
Begitu juga dengan Qia. Ia sangat terkejut dengan pengakuan Hendra. Pernyataan adik angkat Satrio itu menunjukkan kalau mereka memang betul-betul membaca tulisan Kemilau Senja.
"Lo sudah bosan hidup?" kata Satrio galak. Hendra jadi serba salah. Beginilah nasib menjadi yang paling muda.
"Maksud aku bukan begitu, Bos. Lagipula, apa salahnya jadi penggemar? Ini kan tidak sama dengan cinta?"
Muka Satrio semakin tidak enak dipandang. Namun, sebelum suami Qia itu meluapkan amarahnya pada Hendra, tiba-tiba terdengar suara bel fi luar.
Semua langsung saling berpandangan, begitu juga dengan Adrian. Raut mukanya memancarkan kebahagiaan. Meskipun hanya sekilas, tetapi itu bisa dibaca oleh semua orang.
"Biar aku saja, Bos, yang buka," kata Hendra sebelum Adrian beranjak keluar.
Maksudnya untuk menghindari amukan Satrio karena secara diam-diam ia sudah menjadi penggemar Kemilau Senja.
Namun, Adrian malah menangkapnya lain. Terlebih karena ia tahu kalau Hendra juga menyukai Anita.
"Biar aku saja," ujarnya singkat, datar, dan dingin.
Orang nomor satu di kesatuan itu kemudian beranjak dan Melangkah keluar.
Sementara itu, Qia memegang erat tangan suaminya agar lelaki itu tidak membuat keributan. Ini membuat Hendra bisa bernapas dengan lega.
Sementara itu, di ruang depan, Adrian membuka pintu dengan dada berdebar. Lelaki yang sudah matang itu sempat mengumpat dalam hati. Ia adalah orang nomor satu yang biasanya disegani oleh semua orang. Entah mengapa malam ini begitu grogi hanya karena berhadapan dengan Anita.
Pintu terbuka. Di depannya ada seorang gadis cantik yang berdiri sambil menundukkan kepala. Beberapa saat mereka hanya diam tanpa berkata-kata. Posisi mereka pun tampak tidak bergeser.
"Kau datang?" kata Adrian pelan. Suaranya terdengar serak, tetapi serasa keripik singkong yang baru keluar dari penggorengan, renyah banget di telinga Anita.
Gadis itu mengangkat kepala, kemudian menatap Adrian. Lelaki itu juga sedang menatapnya dengan teduh dan lembut membuat gadis yang pernah tergila-gila sama Satrio itu juga bergetar.
Ia tidak menjawab dengan suara, tetapi hanya anggukan. Itu pun ternyata membuat wajah di depannya bersinar terang.
"Apa aku boleh masuk?" tanya Anita kikuk.
Pertanyaan itu membuatnya tampak sangat konyol.
"Tentu saja," jawab Adrian singkat dan sangat lembut. "Ayo masuk."
Adrian menepi sedikit untuk memberi jalan pada Anita. Gadis itu kemudian masuk diikuti Adrian di belakangnya.
Ya, hari ini Anita sudah memantapkan diri untuk datang. Sesuai dengan kesepakatan mereka saat Adrian mengutakan perasaan, kalau ia datang berarti ia menerima bosnya itu sebagai pasangan.
Sungguh, ia sudah sangat lelah mengejar cinta Satrio. Bukan berarti ia putus asa. Hanya saja, ia teringat dengan kata-kata suami Qia itu, bahwa sesungguhnya yang ia rasakan itu bukan cinta. Itu hanya obsesi yang bermula dari kekaguman.
Selama ini ia telah menyugesti dirinya sendiri bahwa hanya Satriolah yang berhak memilikinya, hanya Satriolah yang bisa membuatnya bahagia, hanya Satriolah cinta matinya. Sekarang ia sadar bahwa semua itu hanya obsesi belaka.
Akhirnya, ia berhasil menyugesti dirinya dengan sesuatu yang lebih nyata, bahwa Adrianlah cinta sejatinya. Itulah kenapa ia sekarang ada di sini, untuk melengkapi bagian dari Adrian yang selama hilang. Ya, Anita berharap bahwa lelaki itu memang adalah belahan jiwanya