Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
62. Cemburu



Malam itu Qia tidak bisa tidur. Ia masih terbayang-bayang dengan kejadian bersama Satrio tadi. Hampir seharian ini suaminya memberi dia banyak kejutan. Mulai dari beberapa kali telepon untuk dibuatkan makanan, sampai perilaku janggal sejak dia pulang dari tempat kerja. Apalagi kejadian di ruang keluarga, saat suaminya memeluk dirinya erat, cukup lama. Bahkan, pelukan hangat lelaki itu masih ia rasakan sampai sekarang.


"Tidak bolehkah Kakak memupuk rasa sayang?"


Kalimat tanya dari sang suami itu masih terus terngiang. Setiap kali mengingatnya, jantung Qia berdegup kencang.


"Itu cuma rayuan gombal atau sungguhan?" pikir Qia ragu.


Jujur, perkataan Satrio yang itu cukup membuat hati polos Qia jadi berbunga-bunga. Bahkan, saking berbunganya sampai ia lupa untuk berbicara tentang Anita. Padahal, masalah yang satu itu cukup serius, tidak bisa dianggap remeh.


Itu sebabnya, kini hati Qia mulai bercabang. Lihat saja, gadis itu terlihat sangat gelisah. Biasanya, dalam kondisi seperti itu, ia lebih memilih menulis daripada kedap-kedip tak bisa memicingkan mata. Ia memang sudah membuka laptop, tetapi hanya coretan-coretan kosong yang bisa ia torehkan karena pikirannya sedang buntu, sampai ia kelelahan.


Untuk malam itu, Qia tertidur di kursi belajar dengan kondisi laptop masih menyala.


Satrio yang baru saja keluar dari ruang kerjanya melongok sebentar ke kamar Qia karena melihat lampu di ruangan itu masih menyala. Lelaki itu menghela napas sejenak, kemudian memindahkan tubuh lemah itu di atas kasur.


Setelah membetulkan posisi tidur gadis itu agar terasa nyaman, Satrio menuju laptop yang masih menyala. Maksudnya ingin mematikan dan menutupnya. Namun, ia mengurungkan niatnya begitu membaca goresan yang ada di layar putih itu.


// Andai sekuntum bunga tidak percaya pada tangkainya, dapatkah ia terus bertengger dengan angkuh dan berteriak dengan lantang pada dunia bahwa ia sedang berbahagia? Dapatkah ia bertahan dari terpaan angin nakal yang senantiasa berembus kencang dan berusaha menundukkannya? Dapatkah wanginya tetap semerbak di antara bunga-bunga liar yang beraneka warna dan menjelma menjadi gulma? Allahu Rabbi, tolong beri tahu, aku harus bagaimana? (Kemilau Senja) //


Satrio tercenung membaca tulisan itu.


"Apakah tulisan itu mewakili isi hatinya?" batin Satrio sambil mengernyitkan dahi.


Tulisan itu atas nama Kemilau Senja. Itu berarti, bukan tulisan Qia sendiri. Namun, tulisan itu sampai disalin di laptopnya, itu berarti sangat berarti bagi Qia.


Sejauh yang ia ketahui, Kemilau Senja adalah penulis novel idola Qia. Tentu saja Satrio tidak tahu kalau Kemilau Senja sebenarnya adalah Taqiya Eldiina, istrinya.


"Bunga tidak percaya pada tangkainya?"


Satrio merenung sejenak.


"Ternyata ia masih belum percaya sepenuhnya sama gue," batin Satrio sambil menghela napas panjang.


***


Sesuai dengan kesepakatan, hari ini adalah jadwal Qia ke rumah Ustazah Kamila. Satrio sudah berjanji untuk mengantarkan. Itu sebabnya, setelah makan siang di rumah tadi, lelaki itu tidak kembali lagi ke markas.


"Kakak tidak balik dulu?" tanya Qia heran.


"Tidak. Sekalian aja, kan nanti antar kamu ke rumah Ustazah, " jawab Satrio.


"Memangnya nanti tidak dimarahi sama Bos?" tanya Qia lagi.


"Gaklah. Kan Kakak sudah pernah bilang kalau Bos orangnya baik banget, dah kayak keluarga sama Kakak. Lagipula, berkas-berkas yang diperlukan sudah Kakak bawa semua. Jadi, bisa lanjut kerja di rumah," jelas Satrio.


Qia menghela napas. Yang kayak gini, nih, yang bikin Qia tidak begitu percaya sama suaminya. Sebaik-baik seorang Bos, apa benar sampai segitunya? Kecuali Bos itu betul-betul memiliki hubungan kekerabatan dengan dirinya? Atau jangan-jangan, dia sendiri yang menjadi bosnya? Kalau yang ini lebih tidak mungkin lagi. Aaah .... sudahlah.


Akhirnya Qia tidak berkomentar apa-apa.


***


Seperti yang sudah-sudah, kali ini Satrio juga mengendarai mobil milik bosnya, Porche 911 Carrera.


Biasanya Qia selalu bertanya tentang keberadaan mobil ini. Namun, karena tidak pernah mendapat jawaban memuaskan, akhirnya sekarang ia tidak banyak berkomentar.


Satrio mengendarai mobil dengan tenang. Tadi Qia sudah memberikan alamat lengkap padanya. Jadi, sekarang ia tinggal meluncur dengan santai. Di wilayah ini, hampir setiap sudut sudah dikuasai. Itu sebabnya, suami Qia itu tidak mengalami sedikit pun kesulitan.


Kira-kira satu jam kemudian, mereka sudah sampai. Namun, Satrio serta-merta mengernyitkan keningnya begitu melihat Pajero Sport terparkir di depan rumah Ustazah Kamila.


"Kenapa dia ada di sini? Kamu tidak sedang janjian sama dia kan?" tanya Satrio tanpa teding aling-aling. Wajah tampan suami Qia itu kini terlihat masam.


Mendengar itu, Qia langsung melebarkan matanya. Jelas sekali ia sangat tersinggung dan marah.


"Maksud Kakak apa? Kenapa Qia harus janjian sama dia?" dengkus Qia kesal. Wajahnya tak kalah masam.


"Tapi kenapa ia ada di sini? Pas bersaman dengan kedatangan Qia."


"Mana Qia tahu. Dia itu pria dewasa. Mau ke mana pun itu, bukan urusan Qia. Orang Qia bukan baby sisternya. Lagian ya, Kak, kalau Qia punya niat ketemuan sama dia, kenapa harus di sini, saat ada Kakak? Asal Kakak tahu, Qia punya banyak kesempatan untuk ketemuan sama dia di sekolah tanpa ketahuan sama Kakak." Kali ini kata-kata Qia rada ketus.


Satrio tidak menjawab. Ia menepikan mobil tanpa mengucapkan sepatah kata. Setelah keduanya keluar, Satrio menggandeng tangan Qia seolah ingin menunjukkan pada Andre dan Ustaz Hanif yang sedang duduk di teras bahwa gadis ini adalah miliknya.


Sementara itu, Andre yang mengenali Porsche hitam itu menepi di depan Pajeronya tiba-tiba berdebar-debar hatinya. Terlebih, gadis itu berjalan semakin mendekat dengan tangan kokoh seorang pria menggenggam erat lengannya.


Taqiya Eldiina, gadis yang mampu membuat getar-getar halus di dadanya. Dari dulu hingga sekarang, Andre tetap menjadi pecinta gila, bahkan, saat gadis itu sudah menikah.


Sungguh, hingga detik ini, Andre tak mampu berpaling darinya.


Satrio dan Qia semakin dekat.


"Assalamu'alaikum," ucap Satrio, sementara Qia hanya diam sambil menundukkan wajah.


"Waalaikum salam," jawab Ustaz Hanif dan Andre bersamaan.


"Silakan, Ukhti, Ustazah Kamila ada di dalam," tambah Ustaz Hanif.


Qia mengangguk. Ia menoleh sekilas ke Satrio. Lelaki itu mengangguk. Setelah itu, Qia langsung masuk ke dalam tanpa basa-basi.


"Permisi," ucap Qia.


"Silakan duduk, Mas Satrio," undang Ustaz Hanif.


Suami Qia itu mengangguk, kemudian ikut nimbrung bersama dengan Ustaz Hanif dan Andre.


Bagi Satrio, ini adalah kesempatan emas. Bagaimanapun, Ustaz Hanif adalah guru dari Prasetyo. Kabarnya, hubungan mereka sangat dekat. Satrio berharap ia bisa mengorek beberapa keterangan dari Ustaz Hanif terkait kedekatannya dengan Prasetyo.