
Hallo Readers, maaf nih kalau author rada telat-telat dikit. Jadwal suthor betul-betul padat merayap 🙏🙏🙏.
Selamat membaca, dan jangan lupa dukung author dengan like dan komen, ya, biar author tetap bersemangat ❤️❤️❤️
***
Memang Susah Kalau yang Berbicara adalah Cinta
Keesokan harinya, Qia bangun terlebih dahulu. Buru-buru ia ingin ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian menjalankan kewajiban lima waktunya.
Ia bangkit perlahan agar bisa melarikan diri terlebih dahulu sebelum suaminya bangun. Kalau bisa, ia tidak ingin bertemu dengan lelaki itu pagi ini. Kalau teringat apa yang mereka lakukan semalam, muka Qia langsung merah saking malunya.
Namun, baru saja menjejakkan kaki di lantai, sebuah suara serak khas orang baru bangun mengejutkannya.
"Mau Kakak bantu?"
Qia menoleh, kemudian buru-buru berpaling dan menunduk..
"Ti tidak usah, Kak. Qia bi ...."
Belum selesai ia bicara, Qia sudah hampir terjatuh. Untung ia segera berpegangan pada sisi tempat tidur.
"Ya Allah, ternyata sakit sekali," batin Qia. Meski semalam Satrio melakukannya dengan sangat lembut, tetap saja ia kesakitan.
Qia sedikit meringis sambil menahan rasa sakit. Matanya terpejam Sementara tangan mungilnya masih berpegangan. Tiba-tiba saja tubuhnya serasa melayang. Saat membuka mata, ia melihat tangan kokoh itu mengangkat tubuhnya.
"Kak?" sekali lagi muka Qia memerah.
"Sakit sekali, hum,,?" tanya Satrio lembut.
Qia hanya mengangguk sambil menatap suaminya.
"Pegangan," bisik Satrio.
Qia lalu mengalungkan kedua tangannya ke lehar Satrio. Sementara, wajahnya ia sembunyikan di dada kokoh yang ada di depannya karena malu membuat si pemilik dada itu terkekeh.
***
"Hari ini kamu tidak ada acara ke luar, kan?" tanya Satrio saat mereka sarapan.
Qia menatap suaminya ragu-ragu.
"Kenapa?" tanya Satrio. lembut.
"Ujian Qia tinggal tiga hari lagi," kata Qia
"Lantas?" gumam Satrio kemudian menatap istrinya. "Kamu sudah siap, kan?"
Qia mengangguk mantap.
"Syukurlah. Kakak yakin, kamu pasti bisa," jawab Satrio setelah menelan suapan terakhirnya.
"Tapi ...." Kembali Qia merasa ragu-ragu.
"Kenapa?"
"Qia belum punya baju atasan warna putih. Boleh tidak, Qia ke mall hari ini?"
Ujian skripsi memang harus memakai baju putih dan bawahan hitam, sementara Qia tidak punya baju potongan. Kalau keluar rumah ia selalu memakai gamis. Jadi, rencananya nanti ia akan memakai gamis hitam kemudian dilapisi blazer putih. Masalahnya, ia tidak memiliki blazer.
Satrio menatap Qia sesaat.
"Kalau ke mall-nya besok saja bagaimana?" tanya Satrio.
"Gak bisa, Kak," jawab Qia singkat.
"Kenapa?"
"Biasanya, baju di mall jarang ada yang pas sama Qia. Ukuran S yang dewasa pun sering kali kegedean. Jadi, Qia harus permak dikit. Kalau belinya besok, tar gak keburu," jelas Qia.
Satrio tampak berpikir. Sebenarnya yang dikatakan Qia itu sangat masuk akal. Karena faktanya, istrinya itu memang sangat mungil, sementara pakaian yang ada di mall atau butik memakai ukuran atau standar umum. Hanya saja, hari ini ia sangat sibuk.
"Hari ini Kakak harus ke Kantor, Qi. Ada rapat penting yang tidak bisa Kakak tinggal," sesal Satrio.
Qia jadi merasa tidak enak. Sebenarnya ia tidak ingin menyusahkan atau merepotkan suaminya. Namun, ia betul-betul membutuhkan atasan berwarna putih.
Satrio jadi tidak tega. Namun, untuk melepas Qia sendiri, itu malah lebih tidak mungkin. Baru saja mereka lepas dari bahaya kemarin. Ia tidak ingin mengambil resiko meski ada pengawal yang akan mengikuti Qia.
"Kalau kita pesan online saja, bagaimana?" tanya Satrio.
Sekali lagi Qia hanya menggeleng. Ia berpikir, mencari di toko sendiri saja sulit untuk mengepaskan ukuran, apalagi ini online.
"Atau ... biar Hendra atau yang lainnya saja, Hem?"
Qia hanya diam. Satrio tahu kalau istrinya itu tidak setuju karena khawatir model atau ukurannya tidak pas.
"Bagaimana kalau Kakak antar Qia dulu sebentar, habis itu Kakak tinggal," tawar Qia.
Mendengar itu, Satrio langsung mendelik.
"Tidak bisa. Ini terlalui berbahaya," potong Satrio cepat.
"Kakak kan bisa kirim orang untuk mengawal Qia. Boleh ya, Kak?" rengek Qia penuh harap.
"Tapi ini bahaya sekali, Qi. Kakak sangat khawatir. Kemarin sama Kakak saja mereka berani menyerang, apalagi kalau sendirian, meski ada pengawal yang akan jagain kamu," kata Satrio keberatan.
"Trus, Qia ujian pakai apa, Kak? Boleh ya, Kak?" rengek Qia lagi.
Kalau sudah seperti ini, mana tahan? Ini adalah pertama kalinya Qia meminta sesuatu secara langsung pada dirinya. Apa iya, mau ditolak?
"Baiklah. Nanti Kakak antar, trus Kakak tinggal. Nanti ada teman Kakak yang akan nemani kamu. Kita ke butik teman Kakak saja, biar lebih aman," kata Satrio akhirnya.
Mata kelinci itu seketika menjadi cerah ceria.
"Makasih ya, Kak. Ada banyak persoalan yang tiba-tiba menghampiri kita, jadinya gak kepikiran buat cari baju dari kemarin-kemarin." Qia mencoba menjelaskan.
"Tidak apa-apa. Kakak ngerti, kok. Maaf, Kakak juga kurang perhatian. Oh ya, ngomong-ngomong, kamu sudah gak sakit buat jalan-jalan nanti?" tanya Satrio.
Diingatkan tentang hal ini, tentu saja Qia menjadi tersipu malu.
"Qia baik-baik saja, Kak," jawab Qia cepat.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang saja biar Qia nanti tidak terlambat.
Qia mengangguk, kemudian masuk kamar dan mengganti baju rumahnya dengan gamis yang pantas.
Sementara itu, Satrio sedang menghubungi beberapa anak buahnya untuk mengawal Qia. Beberapa personil laki-laki berpakaian preman sudah ia siapkan untuk mengawasi Qia dari kejauhan agar sang istri merasa nyaman. Juga seorang wanita bernama Aretha untuk membersamai Qia dari dekat.
***
Setelah mengantar Qia, Satrio langsung pergi ke markas. Ia tadi sudah izin pada Adrian untuk datang agak terlambat.
"Apa mereka sudah datang?" tanya Satrio .
"Belum. Mereka masih di jalan. Kira-kira tigapuluh menit lagi baru tiba," jawab Andrian.
Saat itu mereka sedang berada di ruang kerja sang Bos, menunggu kedatangan tamu penting dari ibu kota.
"Gue udah terlambat kayak gini, mereka malah lebih parah lagi. Gue masih punya alasan, sedangkan mereka?" gerutu Satrio kesal.
Satrio adalah orang yang sangat disiplin. Belum pernah ia terlambat datang kecuali ada alasan yang mendesak dan masuk akal, seperti hari ini. Bukan semata-mata karena Qia adalah istrinya, tetapi karena Qia adalah saksi kunci dari kasus besar yang tak kasat mata. Ia memang harus dijaga dan dilindungi. Karena itu, memastikan keselamatannya adalah hal yang paling utama.
Sedangkan orang-orang yang katanya penting ini ...?
"Huuh!" Satrio mendengkus kesal.
"Lo yakin ia akan baik-baik saja?" tanya Adrian.
"Semoga."
"Kalau tidak begitu yakin, kenapa tadi melepaskannya?' tanya Adrian lagi.
"Jujur gue juga gak tega. Tapi, sudah gue atur semuanya, Kak. Areta juga membersamainya dari dekat. Cuma ...."
"Cuma apa?" tanya Adrian sambil menyesap kopi pahitnya.
"Entahlah, gue belum pernah merasa kayak gini, Kak. Entah ini karena firasat atau karena gue aja yang tidak tega melepasnya karena dia istri gue," ujar Satrio jujur hingga membuat sang kakak bergetar. Pasalnya, ini adalah untuk pertama kalinya Satrio yang dingin itu mau curhat tentang perasaannya.
"Susah memang kalau yang berbicara adalah cinta. Lo tambah saja personilnya, perketat penjagaannya. Gue juga khawatir adek ipar gue bakal kenapa-kenapa," kata Adrian.
Ia tahu saat ini Satrio sedang bucin-bucinnya. Namun, ia juga percaya pada firasat pemuda itu yang selama ini tidak pernah meleset.
Perkataan si Bos bukannya menenangkan pemuda itu malah membuatnya semakin khawatir.