
"Baiklah, saya juga sangat penasaran, bagaimana reaksi dan tanggapan Kak Pras," tantang Qia tenang.
Qia yakin seratus persen kalau wanita di depannya ini tidak akan berani bilang apa-apa pada Satrio. Ia juga yakin, kehadiran wanita itu untuk menemuinya karena ia tidak berhasil mendapatkan perhatian dari suaminya. Kalau mereka memang memiliki hubungan spesial, pasti mereka akan melakukan secara diam-diam.
***
Anita merasa sangat marah, betul-betul tidak menyangka kalau istri Satrio yang kelihatan cupu itu ternyata pintar bersilat lidah. Tadinya ia ingin mengganggu gadis itu. Tak tahunya, justru dialah yang dipermalukan.
Akhirnya, ia kembali ke markas dengan perasaan dongkol.
***
"Kamu kenapa?" tanya Indri heran melihat Anita yang tiba-tiba datang dengan muka ditekuk.
"Gak ada."
"Trus ... Kenapa manyun kayak gitu?" tanya Indri lagi. Ia paling tidak suka kalau Anita sedang marah atau kesal. Karena ujung-ujungnya, dirinyalah yang sering jadi sasaran.
"Gue lagi kesel." Anita menjawab singkat
"Dari muka lo sudah keliatan kalo lo memang lagi kesel banget. Tapi kenapa?" Lagi-lagi Indri bertanya.
"Gue barusan nyamperin istrinya Bos Satrio."
"Serius?"
Anita mengangguk sambil menatap Indri untuk meyakinkan.
"Trus?"
"Tadinya gue pingin bikin ia kesel. Tak tahunya, tuh cewe punya nyali juga. Makanya gue jadi kesel banger."
"Oh ya?"
"Masak dia bilang mau bantu gue minta tolong ke Bos Satrio buat nyariin gue laki," jawab Anita kesal.
"Ha ha ha ... Serius, ia bilang kayak gitu?"
Anita lalu menceritakan kejadian itu mulai dari awal sampai akhir, tanpa dikurangi atau ditambah. Tak pelak, Indri semakin keras tertawanya.
"Lo nekat juga, sih. Kalau sampai Bos Satrio tahu, mampus Lo."
"Kenapa lo jadi nyumpahi gue kayak gitu?" Anita bertambah kesal.
"Anita ... Anita. Gue heran ya, sama lo. Lo itu salah satu anggota tim terbaik. Gue selama ini kagum banget sama lo yang smart baik dalam strategi ataupun pengendalian diri. Bahkan, sering kali gue ngerasa iri, kenapa gue gak bisa kayak lo.
Tapi, kenapa lali ini lo bego banget?"
Pletak
Anita melempar asal bolpoint yang ada di mejanya ke arah indri.
"Sialan lo, beraninya ngatain gue bego!"
Untungnya Indri menangkis lemparan itu dan mengenai tembok di belakangnya.
"Ha ha ha. Faktanya lo memang bego banget. Lo pikir, kalau lo mengadu ke Bos bahwa istrinya sudah menyinggung lo, Lo pikir si Bos bakalan tambah simpati? Mikir, dong. Gue yakin, yang ada malah si Bos bakalan marah.
Pertama, lo sudah diingetin untuk tidak ikut campur dalam kasus itu.
Kedua, lo juga sudah diingetin untuk tidak mengganggu istri Bos.
Ketiga, ..."
"Gue cuma ngingetin lo. Selama ini Bos sudah baik benget sama lo, jangan rusak reputasi lo hanya karena cinta tak berbalas," nasihat Indri.
"Apa maksud lo dengan cinta tak berbalas. Lo sendiri tahu, seberapa dekat hubungan gue sama Bos. Itu bukan main-main, loh. Dan itu bukan sebentar. Gue yakin, Bos tidak akan pernah berpaling dari gue. Gue yakin si Bos Melaku itu semata-mata karena misi."
Suara Anita berapi-api membuat Indri geleng-geleng kepala tak mengerti.
"Kalau lo begitu yakin dengan perasaan Bos Satrio, harusnya lo sabar. Harusnya lo bisa mengendalikan diri, bukannya bertindak bodoh dengan nyamperin istrinya Bos.
Gue kasih tahu ya, dari sudut pandang mana pun, apa yang lo lakuin itu sangat menjijikkan. Siapa pun yang melihat kejadian itu, pasti bakal menempatkan lo sebagai pelakor. Dan lo tahu apa artinya itu? Lo sudah mengikrarkan diri sebagai musuh bersama."
Indri berceramah panjang lebar. Anita semakin kesal dibuatnya, apalagi dikatai sebagai pelakor. Tentu saja ia tidak terima. Satrio adalah miliknya, dan gadis itu telah merebutnya, meski dengan terpaksa. Kenapa sekarang dirinya yang dikatakan pelakor?
"Lo ini teman gue atau bukan, sih? Bukannya bikin adem malah ceramah yang bukan-bukan. Bikin kesel aja," kata Anita sengit.
"Justru karena gue teman lo, makanya gue bilang kayak gitu. Sudahlah, lupakan aja, deh, Bos Satrio. Mending lo cari yang lain."
"Mana bisa begitu?"
"Sudahlah, jangan menipu diri sendiri. Lo sendiri yang bilang kalau selama ini Bos tidak pernah berkomitmen apa-apa sama lo. Bos tidak pernah mengungkapkan perasaannya sama lo."
"Tentu saja tahu. Bagi gue, tindakan lebih berarti dibandingkan dengan kata-kata. Gue yang merasakan bagaimana sikap Bos selama ini. Dan gue tahu, itu spesial banget. Lo gak akan ngerti, Ndri ..." Anita seperti putus asa.
Indri memang tidak tahu secara jelas, seperti apa hubungan antara bosnya dengan Anita. Mereka selama ini memang sering menjalankan misi bersama.
Sepertinya si Bos juga begitu perhatian sama Anita, meski sebenarnya lelaki jutek itu juga baik pada siapa saja. Itu sebabnya, banyak rumor beredar tentang kedekatan mereka.
Satu lagi yang mengukuhkan keyakinan semua orang bahwa mereka memiliki hubungan spesial, yaitu si Bos tidak pernah membantah atau mengklarifikasi rumor itu. Jadilah mereka mengira kalau Anita adalah kekasihnya.
"Tapi sekarang Bos sudah menikah, Not, meski itu demi misi. Itu artinya, Bos sudah berkomitmen, tapi dengan gadis lain. Lo sendiri juga tahu, seperti apa Bos Satrio. Dia paling teguh memegang komitmen. Sekali dia berkomitmen, ia tidak akan menjaganya sampai mati.
Dan ... pernikahan adalah sebuah komitmen. Meski ia melakukan itu karena misi, gue yakin ia tidak akan pernah melanggarnya. Kecuali ..."
Indri sengaja menggantung ucapannya. Anita langsung mendongak, menatap Indri penuh harap.
Anita tahu, semua yang dikatakan Indri itu benar. Satrio pasti tidak akan pernah mengingkari komitmen. Apalagi, komitmen itu sangat sakral, diucapkan di hadapan Tuhan.
Namun, kalimat Indri yang menggantung itu sedikit memberikan harapan. Meski sangat kecil, ia berharap ada jalan keluar.
"Kecuali apa?"
"Lupakan," jawab Indri singkat.
"Maksud lo apa? Cepat katakan!" kata Anita setengah berteriak.
"Tidak akan. Lupakan saja." Indri bangkit dari kursi dan bersiap melangkah.
"Jangan harap bisa keluar dari ruangan ini kalau lo tidak katakan."
"Sudahlah, lupakan. Lo gak akan mau, dan gue yakin istrinya Bos juga tidak akan mau," jawaban Indri santai tetapi membuat Anita sangat penasaran.
"Ndri ... Lo sudah bikin gue penasaran. Sekarang, katakan atau ...."
"Lo bisa terus bersama Bos tanpa harus mengorbankan komitmennya. Asalkan ...." Indri terdiam cukup lama, kemudian, "asalkan lo mau jadi istri kedua."
"What? Yang bener aja. Lo kasih gue solusi kayak gitu? Mau gue bikin mampus?" Anita langsung memelototkan mata.
"Memangnya kenapa? Cuma itu satu-satunya jalan. Itu pun kalau istri Bos bersedia." Indri berkata enteng, kemudian meninggalkan ruang itu tanpa beban.
Anita tercenung. Di kesatuan mereka, ada aturan tertulis bagi anggota pria untuk tidak menikah lebih dari satu. Itu artinya, kalau memang ia menjadi istri kedua, maka pernikahan itu tidak akan tercatat secara resmi, meski secara agama sah. Tentu saja dirinya tidak bersedia.
Namun, sebuah pemikiran tiba-tiba terlintas di benaknya.