
Karena tidak banyak aktivitas di rumah, Qia mulai menulis lagi untuk dikirim di beberapa media dengan nama Kemilau Senja karena tidak harus menggunakan akun yang lama untuk mengirimnya.
Ini berbeda dengan cerbung. Ia masih agak ragu untuk meneruskannya karena harus memakai akun Kemilau Senja, padahal untuk sementara akun itu ia bekukan. Sebenarnya beberapa episode sudah berhasil ia buat. Namun, sengaja ia pending sambil menunggu kondisi aman, meski penggemarnya pada teriak meminta untukĀ terus update.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Satrio melihat istrinya mondar-mandir seperti seterika. Ia baru saja pulang dari kantor.
"Kak, udah dari tadi?" Qia balik bertanya. Wajah cantik itu memancarkan keterkejutan. Ia lalu mendekat kemudian mencium punggung tangan suaminya.
"He hem," gumam Satrio sambil mencium kening Qia.
"Tumben, masih sore udah pulang," tanya Qia.
"Kenapa? Tidak suka, ya, Kakak pulang cepat." Satrio balik bertanya sambil menggoda Qia.
"Suka, dong. Apalagi Qia sangat kesepian. Gak ada yang dikerjakan juga," jawab Qia manja.
"Trus, tadi ngapain mondar-mandir kayak gitu, hem? Kayak orang kebingungan aja?" tanya Satrio lagi.
"Qia tidak bingung, Kak. Qia hanya merasa bosan. Setelah urusan rumah kelar, tidak ada lagi yang bisa Qia kerjakan," jawab Qia.
"Itu artinya kamu disuruh istirahat untuk sementara. Dinikmati aja. Bersyukurlah karena punya kesempatan untuk istirahat dan bersantai. Di luar sana bahkan banyak orang yang tidak bisa istirahat karena harus berjuang untuk menyambung hidup," kata Satrio.
"Hehehehe. Iya juga, sih," jawab Qia malu-malu. Mukanya mendadak memerah. Kalau dipikir-pikir, betul juga kata suaminya. Ia sudah diberi banyak kenikmatan dan kemudahan. Dan setelah, ada banyak waktu luang, kenapa tidak ia manfaatkan sebaik-baiknya sebagai wujud rasa syukurnya?
"Kakak benar. Sepertinya Qia memang kurang bersyukur. Akan Qia pikirkan, deh, cara efektif membunuh rasa bosan.
"Mau gak, Kakak carikan kegiatan baru yang menyenangkan. Dijamin tidak akan membosankan," kata Satrio. Senyum licik tiba-tiba terlukis di sudut bibirnya.
Qia jadi curiga.
"Apaan?" tanyanya.
"Kalau ada Satrio junior kamu pasti tidak akan kesepian lagi saat Kakak tidak ada di rumah. Dijamin kamu tidak akan menganggur, Sayang. Karena itu, yuk kita program sekarang," ucap Satrio serius.
Meski sudah menduga arah pembicaraannya, tak urung wajah Qia tetap memerah.
"Dasar laki-laki, yang dipikirkan selalu saja seperti itu!" balas Qia sewot.
Ia mencubit pinggang suaminya kemudian berlalu dari kamar.
"Qi, Kakak sungguhan, loh," kata Satrio sambil membuntut di belakang Qia. Namun, wanita cantik itu terus saja berjalan tanpa menghiraukan panggilan suaminya.
"Dasar mesum. Kayak gak pernah dikasih jatah aja," ucapnya pelan, tapi Satrio masih bisa mendengar. Ia jadi terkekeh.
"Loh, apa Kakak salah? Kalau kita punya anak, rumah ini tidak akan sepi," bujuk Satrio.
Qia pura-pura tidak mendengar. Ia terus berjalan ke belakang.
"Sayang ...."
"Qia mau bikin makan malam," kata Qia sambil terus berjalan.
Sebenarnya ia bukannya tidak mau melakukan hal itu. Hanya saja untuk dibicarakan secara vulgar, ia masih merasa sangat malu.
Untuk masalah anak, tentu saja ia juga tidak akan menolak kalau memang betul-betul diberi amanah untuk itu. Namun, untuk program khusus kehamilan, ia merasa belum perlu. Usia pernikahan mereka baru beberapa bulan. Kalau dikasih rezeki itu, ia akan terima dengan lapang hati. Namun, tidak perlu ngoyo sampai harus mengikuti program khusus.
***
Beberapa hari ia dan suaminya mengalami kejadian tidak mengenakkan sehingga tidak kepikiran untuk mengecek persediaan makanan. Karena kejadian itu pula, ia jadi tidak diperbolehkan keluar rumah, meski sekadar ke mini market terdekat untuk membeli bahan makanan.
Sementara, Satrio juga sangat sibuk sehingga lupa juga untuk mengecek persediaan makanan.
Akhirnya, di sana Qia hanya diam saja, tak berbuat apa-apa.
Untungnya masih ada beberapa bahan yang bisa dimasak.
"Kenapa?" tanya Satrio yang sudah tiba di dapur.
"Gak ada bahan makanan di kulkas. Persediaan makanan kita ternyata sudah habis," jawab Qia.
"Maafkan Kakak, tidak sempat memeriksanya. Insyaallah besok kita belanja bareng, ya. Besok Kakak kan libur," jawab Satrio sambil merangkul pundak istrinya. Ini memang salahnya.
"Trus, sekarang kita masak apa?" tanya Qia.
"Tidak usah masak."
"Pesan?"
"Tar malam kita diundang makan malam di rumah Kak Adri," jawab Satrio.
"Oh ya? Dalam rangka apa, nih?" tanya Qia menyembunyikan kewaspadaannya.
"Syukuran aja. Hari ini ulang tahun Kak Adri," jawab Satrio.
"Waduh!' seru Qia.
"Kenapa?"
"Gak pa pa, sih. Qia hanya merasa kurang nyaman saja kalau berada di tengah banyak orang," jawab Qia jujur.
"He he he. Tenang saja. Kak Adri tidak merayakan besar-besaran. Ini hanya tasyakuran kecil saja cuma beberapa orang yang diundang," jelas Satrio. Ia metasa gemas dengan reaksi kelinci kecil di hadapannya.
"Benarkah?"
"Iya. Paling cuma kita berdua, Hendra, Kak Iman dan istrinya," jawab Satrio.
"Istri Kak Iman ikut juga? Orangnya reseh, gak?" tanya Qia cemas.
"Gaklah. Kamu tenang saja. Orangnya baik banget, kok. Sama kayak Kak Iman, ia juga seorang dokter. Ia yang punya Rumah Sakit Keluarga Bahagia," jelas Satrio.
"Keluarga Bahagia?" tanya Qia. Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi sendu. Tiba-tiba ia teringat Aluna.
"Iya, kenapa?" tanya Satrio penasaran.
"Gak pa pa. Teman Qia dulu pernah dirawat di sana," jawab Qia pelan.
Bagi Qia, tempat itu penuh dengan kenangan. Di tempat itu pula ia bertemu dan berpisah dengan sahabat pena yang bertahun-tahun berteman dengannya tanpa tatap muka. Bahkan, di tempat itu pula ia berteman dengan seorang dokter baik hati yang dulu merawat sahabatnya.
"Aluna, semoga kau tenang di alam sana," doa tulus Qia.
Satrio sama sekali tidak curiga. Siapa pun pernah dirawat di rumah sakit. Itu tidak ada yang istimewa. Apalagi, rumah sakit bukanlah tempat yang menyenangkan.