
Satrio turun dari motor, kemudian berjalan menuju ke garasi rumah. Beberapa saat kemudian terdengar suara mesin dari garasi. Sebuah Porsche 911 Carrera keluar dari dalamnya kemudian berhenti tepat di depan Qia, membuat gadis itu membelalakkan mata.
Qia memang belum pernah melihat barang mewah itu di dunia nyata. Namun, sebagai seorang penulis fiksi, tentu dia sering melakukan riset berbagai jenis mobil untuk keperluan ceritanya. Jadi, ia tahu betul, mobil yang dinaiki Satrio itu jenisnya apa.
Asli, bukannya kagum atau kesenangan, justru hal itu membuat Qia semakin curiga, siapa sebenarnya suaminya. Beberapa saat, ia nampak berhenti, tanpa mengeluarkan sepatah kata.
"Ayo cepet, Qi, tunggu apa lagi? Katanya sudah hampir telat?" Satrio berusaha mengingatkan.
Qia masih tetap bergeming. Dia hanya melihat suaminya dengan tatapan yang tidak biasa.
"Kenapa melihat Kakak seperti itu? Apa kamu mulai sadar kalau suamimu ini ganteng banget?" seloroh Satrio sambil tersenyum nakal.
Mendengar itu, Qia langsung melengos.
"Dasar narsis."
Satrio tidak marah. Ia malah tertawa lepas.
"Ayo, cepet masuk!" ajak Satrio lagi.
Akhirnya, Qia masuk ke dalam mobil.
"Ini mobil siapa, Kak?" tanya Qia akhirnya. Ia tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Satrio melirik istrinya sekilas, kemudian tersenyum.
"Oh, ini mobil atasan Kakak," jawab Satrio santai.
Qia menoleh ke arah laki-laki yang sedang memegang setir itu. Ia menatap lekat-lekat wajah ganteng itu untuk mencari tahu, apakah ada kebohongan di sana.
Namun, beberapa menit menatap, Qia melihat raut muka itu biasa-biasa saja, tak tampak jejak kebohongan sedikit pun di sana.
Qia mencoba menganalisa dan menemukan dua kemungkinan. Yang pertama, mungkin suaminya berkata benar bahwa mobil itu adalah milik bosnya. Namun, kalau mobil itu milik bosnya, kenapa ada di garasi rumah Satrio? Terlebih, mobil itu sangat mewah untuk ukuran orang Indonesia.
Kemungkinan kedua, bisa saja itu adalah mobil milik Satrio sendiri. Namun, kalau mobil itu milik Satrio, alangkah pandainya lelaki itu berbohong? Atau mungkin, itu sudah menjadi kebiasaannya? Karena jelas, tadi ia mengatakan bahwa mobil itu milik bosnya, dan Qia tidak bisa menemukan jejak kebohongan di sana.
Pertanyaan lain, dari mana suaminya mendapat uang sebanyak itu, sementara ia hanyalah seorang programmer? Memikirkan hal itu, kepala Qia mendadak pusing.
Dipandangi seperti itu, entah mengapa Satrio menjadi agak grogi. Padahal, biasanya ia tidak pernah seperti itu.
"Kau punya banyak waktu untuk mengagumi ketampanan Kakak saat di rumah, bukan di sini, Qi, Kakak lagi nyetir. Kalau Kakak jadi gak konsentrasi trus mobilnya oleng bagaimana? Bisa bahaya kita," kata Satrio sok polos.
Sesungguhnya ia sedang menghilangkan kegugupan yang entah dari mana datangnya.
Demi mendengar itu, Qia langsung memukul ringan lengan Satrio.
"Aww ... sakit Qi." Satrio berteriak, pura-pura kesakitan.
"Sakit ... sakit, sakit apa? Jangan lebay. Jangan mengalihkan pembicaraan juga."
Kali ini Qia mencubit lengan itu keras-keras.
"Qi ... Ini beneran sakit, loh. Kamu gak sadar ya, baru saja melakukan KDRT?" kata Satrio sambil pura-pura meringis kesakitan.
Tentu saja cubitan itu tidak terasa sakit. Hanya saja, Satrio merasakan sensasi yang luar biasa saat tangan mungil itu menyentuh kulitnya.
Sementara itu, Qia yang dibilang melakukan KDRT langsung melotot.
"Apa? KDRT ya? KDRT ya?" seru Qia kesal sambil mencubit lagi. Kali ini tangan dan pinggang Satrio membuat pemuda itu merasa geli.
"Qi ... Kakak sedang nyetir, nih, nanti kalau nabrak bagaimana?" Satrio mengingatkan. Kali ini dengan raut muka serius.
"Eh ... iya, Kak, maaf," kata Qia terbata.
Tiba-tiba ia merasa sangat malu. Meski satu rumah, biasanya ia tidak sedekat ini dengan suaminya, apalagi pakai colak-colek segala. Untuk saja mereka sudah menikah.
"Gak tahu apa kalau tindakannya itu bisa berbahaya?' pikir Satrio.
Untuk beberapa saat, akhirnya keduanya diam. Namun, Qia teringat lagi dengan rasa penasarannya tentang mobil yang mereka tumpangi sekarang.
"Bos Kakak baik banget, ya, mobil sebagus ini boleh dibawa-bawa. Dipakai, lagi ..."
ujar Qia memecah suasana.
"Memangnya kenapa? Bos Kakak memang baik banget orangnya." Satrio masih menjawab dengan santai.
"Oh, ya?" Qia mencibir sambil mengerucutkan bibirnya.
Satrio menelan ludah.
"Anak ini .... Apa dia sengaja?" gerutunya kesal.
Bibir tipis itu tampak seperti ceri, meski tanpa polesan sama sekali. Jujur, Satrio sangat tergoda. Apalagi, ketika dia ingat kalau sesungguhnya tidak ada batasan bagi mereka.
"Semalam Kakak habis mengantar Bos sampai larut malam, jadi mobilnya Kakak bawa pulang sekalian. Tenang saja, Kakak sudah minta izin untuk memakainya hari ini." Akhirnya itu yang keluar dari mulutnya. Kali ini suaranya terdengar serak.
Mendengar jawaban itu, Qia kembali mencibir sambil mengerucutkan bibir. Ia tidak menyadari kalau perbuatan sederhana yang ia lakukan itu bisa membuat jantung Satrio berlompatan.
Betul saja, Satrio jadi semakin gemas dibuatnya.
"Jangan begitu, nanti Kakak jadi salah paham?" kata Satrio.
Qia yang tadi melengos langsung menatap Satrio lagi.
"Salah paham? Maksudnya apa?" tanya Qia, masih dalam mode polos.
"Kalau kamu begitu lagi, Kakak akan mengira kalau kamu sedang menggoda Kakak," jelas Satrio. Kali ini pandangannya lurus ke depan.
"What????" Mata Qia langsung melotot.
"Biasa aja, kale ...."
Satrio yang tadi rada gugup berusaha menetralkan suasana. Tangan kirinya menutup mata Qia yang sedang melotot, sementara tangan kanannya memang setir.
"Aduuh."
"Udah ... jangan kebanyakan mikir "
Qia terdiam. Kata-kata Satrio bahwasanya ia sedang menggoda suaminya terus terngiang di telinga. Sekali lagi ia menatap suaminya dengan penuh tanya?
"Apa Kakak tambah ganteng? Sampai segitunya liatin Kakak. Tenang saja, gak akan habis, kok."
Wajah Qia kembali memerah. Ia heran, kok bisa-bisanya ada orang narsis seperti ini. Tanpa ba bi bu, ia mencubit beberapa kali pinggang Satrio.
"Qi ... Kakak kegelian, nih."
"Biar tahu rasa."
"Nanti kalau nabrak bagaimana?"
"Kakak aja yang lebay," jawab Qia kesal.
"Lebay apa? Kamu gak kerasa apa, kalau saat ini sedang menggoda Kakak?"
"????? Bukanya Kakak yang dari tadi godain Qia? Jangan suka memutar balikkan fakta!" gerutu Qia. Kali ini dengan nada galak.
Melihat Qia menatapnya dengan pandangan seolah mau menelannya, Satrio jadi ingin tertawa. Entah mengapa ada ada perasaan suka saat ia sedang menggoda istrinya. Sejak menikah, pikirannya terlalu fokus pada misinya. Baru kali ini ia merasa rileks. Ia jadi pingin terus menggoda Qia. Kalau dipikir-pikir, sikap dan kelakuannya saat ini mirip orang yang sedang pacaran saja.
"Mungkin ini yang dinamakan pacaran setelah menikah," pikir Satrio