
"Boleh Kakak tahu, siapa namanya?"
Qia tidak langsung menjawab. Ia menatap sekilas wajah suaminya. Ia baru tersadar suaminya baru saja menginterogasinya. Namun, karena tidak merasa melakukan kesalahan, maka ia memilih untuk jujur, seperti saran Ustazah Kamila. Toh ini tidak ada hubungannya dengan kasus Kak Pras, begitulah pemikirannya.
"Namanya Andrea," jawab Qia akhirnya.
Mendengar itu, serta-merta Satrio menatap lekat istrinya. Sebuah seringai tipis tiba-tiba muncul di sudut bibir pria itu.
Qia melihatnya. Hatinya berdesir seketika. Tiba-tiba ia merasa bergidik.
***
"Duh .... Istri Kakak ini kenapa polos sekali? Jadi gemes!" Satrio mencubit pipi istrinya, kiri dan kanan.
"Aduh ... Kak, sakit tahu," protes Qia sambil memukul ringan lengan Satrio.
Satrio terkekeh.
"Biar istriku yang cantik ini tidak mudah dibodohi orang," jawab Satrio singkat.
Kontan hal itu membuat wajah Qia memerah. Ada dua hal yang menyebabkannya. Pertama, kata cantik yang ditujukan padanya.
Seingat Qia, ini adalah pertama kalinya lelaki itu mengatakan secara langsung kalau dirinya cantik.
Kedua, kalimat 'biar tidak mudah dibodohi orang'. Bukankah ini sama saja dengan mengatakan kalau Qia tidak pintar?
"Jahat banget," pikir Qia.
Karena itu, Qia langsung memonyongkan bibirnya satu senti.
"Jangan godain Kakak kayak gitu, tar cubitnya gak sekadar pakai tangan loh, tapi pakai yang lainnya," goda Satrio.
Qia buru-buru menetralkan raut wajahnya.
"Kenapa, sih, suka sekali mengancam?" gerutu Qia kesal. Bagaimana tidak? Kalau cubitannya pakai gigi, bagaimana? Qia jadi bergidik.
"Ish ... Kenapa pikiranku jadi mesum kayak gini?" gerutu Qia dalam hati.
Melihat itu, Satrio terkekeh.
"Kakak ini jahat banget, ya, ngatain Qia bodoh?" tanyanya kesal.
"Jadi ... Kamu belum sadar juga, kalau sedang dikerjai orang?" tanya Satrio.
Qia menggeleng.
"Kayaknya Kakak begitu yakin?" tanya Qia ragu.
"Tantu saja. Kakak ini laki-laki, jadi tahu seperti apa culasnya laki-laki itu. Kakak tahu, seperti apa trik yang biasa digunakan laki-laki."
"Apa Kakak juga sering menggunakan trik yang sama?" tanya Qia polos.
Satrio tertawa keras.
"Tentu saja tidak. Apa kamu lupa, suamimu ini sangat tampan dan pintar. Tanpa menggunakan trik murahan seperti itu pun, gadis-gadis sudah pada nempel sama Kakak."
"Iiish ... Selalu saja begitu. Dasar narsis!" gerutu Qia kesal.
"Qi ... Kakak serius. Sebaiknya kamu tidak berhubungan lagi sama dia. Blokir saja nomornya!" Kali ini Satrio mengatakan itu dengan wajah datar.
"Tapi, Kak ...."
"Apa kau sama sekali tidak curiga? Sudah lama dia deketin kamu karena dia naksir sama kamu," potong Satrio cepat.
"What? Yang benar aja? Jeruk makan jeruk, dong!" teriak Qia terkejut sambil melempar ponselnya di atas sofa, seolah merasa jijik. Ia masih belum paham dengan pernyataan Satrio tentang siasat laki-Laki.
Satrio jadi terkekeh. Menurutnya, sikap Qia itu sangat menggemaskan.
"Kakak cuma nakutin Qia aja, kan?" tudingnya sambil buru-buru mengambil ponselnya lagi, takut kalau suaminya mengambilnya.
"Jeruk makan jeruk bagaimana? Orang sudah jelas kalau dia cuma berpura-pura jadi wanita," dengkus Satrio kesal. Giginya bergemelatuk ketika seraut wajah muncul di benaknya.
Qia menatap suaminya lama, seolah ingin memastikan kebenaran ucapannya.
"Maksud Kakak apa?" tanyanya bingung.
"Maksudnya ... Dia lagi ngincar kamu, Qi. Coba kamu ingat-ingat, siapa lelaki yang sudah lama menyukaimu."
Qia menatap suaminya, mencoba merenungi kata-kata lelaki itu. Sebenarnya, kata-kata itu masuk akal. Kalau dipikir-pikir, apa yang dilakukan oleh Andrea itu sangat tidak wajar. Terlihat sekali kalau dia memang mencari perhatian.
Hanya saja, Qia tidak pernah berpikir sejauh itu. Ia tidak pernah berprasangka buruk pada gadis itu.
Qia mencoba mengingat, awal mula Andrea muncul dan berinteraksi dengan dirinya. Sepertinya tak lama sebelum ia mengenal ....
"Astaghfirullah al aziim," serunya kaget.
Tiba-tiba seraut wajah muncul di benaknya.
"Tidak mungkin," ujarnya pelan sambil mengedikkan bahu.
"Apanya yang tidak mungkin? Humm?" tanya Satrio gemas sambil mencubit hidung Qia.
Gadis itu cemberut lagi, pura-pura marah.
"Apa menurut Kakak, Andrea itu Pak Andre?" tanya Qia meyakinkan diri.
Masalahnya, ia masih belum percaya. Pantas saja lelaki itu tahu berapa hal tentang dirinya, padahal ia belum pernah cerita pada siapa pun. Hanya terkadang menjadi goresan atas nama Kemilau Senja.
Selain itu, pantas saja Andrea terkadang juga tahu tentang persoalannya di dunia nyata, padahal Qia belum pernah menyinggung di grup atau di media sosial mana pun.
"Hiii!" Kalau teringat itu, Qia jadi bergidik.
"Dari sini, kamu bisa melihat, lelaki seperti apa dia. Kalau kamu masih sendiri, mungkin masih bisa ditoleransi, meski tindakannya itu sama sekali tidak jantan. Namun, sekarang kamu sudah berkeluarga, dan ia tahu itu.
Coba kamu lihat, ternyata ia masih berusaha untuk masuk dan mencoba berinteraksi dengan kamu secata tidak wajar. Bukankah itu sudah tidak bisa diterima? Bukankah itu sudah mengindikasikan, lelaki seperti apa dia?" kata Satrio panjang lebar. Kali ini mukanya sangat serius.
Qia terdiam. Ia pandangi lekat-lekat wajah tampan itu. Ia membetulkan semua perkataan suaminya. Hanya saja, ia masih syok dan betul-betul tidak menduga sama sekali.
"Apa masih belum yakin? Kakak bisa membuktikan kalau ini bukan sekadar prasangka atau dugaan. Nomor Andrea pasti terdaftar atas nama Andre. Kalau kamu mau, Kakak bisa membuktikan itu. Coba kamu kirim nomor ponselnya ke nomer Kakak," kata Satrio lagi.
"Tidak ... tidak ... tidak." Buru-buru Qia menjawab karena tidak ingin Satrio tahu nomor Kemilau Senja.
"Qia percaya, Kak. Trus sekarang Qia harus bagaimana?"
"Seperti yang Kakak bilang tadi. Laki-laki itu jelas punya itikad yang tidak baik. Jadi, sebaiknya kamu tidak lagi berhubungan dengannya. Blokir saja nomernya,' kata Satrio.
Kali ini Qia setuju. Orang seperti itu memang tidak bisa ditoleransi. Jujur ia sangat kesal. Bayangkan saja, selama ini ia sudah berusaha menjaga interaksi antara laki-laki dan perempuan. Eh ... ternyata tanpa sengaja ia justru terjebak dalam hubungan yang rumit.
"Baiklah, Kakak benar, Qia akan blokir nomernya, baik Andre ataupun Andrea," jawab Qia patuh.
"Sebaiknya kamu tidak usah mengajar lagi.'
"Dweng!" Kalimat itu sebenarnya sudah sudah diduga, tetapi Qia tetap terkejut juga.
Qia terdiam sesaat. Untuk yang satu ini, bukannya ia tidak patuh. Ia tahu, bagi perempuan tidak ada kewajiban untuk mencari nafkah. Hukum bekerja itu boleh-boleh saja, asalkan suami mengizinkan dan ia tidak melalaikan kewajiban yang lain. Hanya saja, Qia masih memiliki beberapa tanggungan.
"Kenapa? Kakak tidak melarang kamu mengembangkan kemampuan dan keahlian dengan cara bekerja, tapi ... tidak di sana," jelas Satrio lagi.
"Baiklah, Qia mengerti. Tapi ... Qia masih punya proyek nulis bersama anak-anak. Qia selesaikan dulu ya, tinggal nunggu ISBN, trus cetak. Habis itu Qia akan resign. Bagaimana?"
"Baiklah, sampai tanggungan kamu selesai," gumam Satrio.
Sebenarnya Satrio tidak tahu Qia mengajar apa di sekolah. Dulu katanya mengajar ekstrakurikuler. Sekarang ia yakin kalau itu hanya akal-akalan Andre untuk dekat dengan istrinya.
Tangan Satrio mendadak mengepal. "Lihat saja, gue pasti kasih lo pelajaran!" batin Satrio penuh amarah.