
Hallo Readers, sebelum baca episode ini, Author pingin banget mengajak kamu melihat visual Taqiya Eldiina, nih. Tapi agak sulit juga sih nyarinya, akhirnya dapat gambar ini.
Taqiya Eldiina
Untuk Satrio, sebenarnya Asia banget, cuma rada sulit nyari gambar yang sesuai karakternya. eh, malah nemu ini.
Satrio Adi Kuncoro
Ya sudah, selamat membaca, jangan lupa like dan komennya, ya.
****
Saat Kotak Pandora Terbuka
...Saat kotak pandora terbuka ...
...Pikirmu aku bisa apa?...
...Kau tahu, aku tidak akan menyerah...
...Meski dunia harus terbelah...
............
...Kemilau Senja...
...***...
Beberapa saat, dokter Irena memeluk erat tubuh Qia sampai istri Satrio itu sulit untuk bernapas. Setelah itu, dokter cantik itu memutar tubuh Qia dan mengamati dari atas sampai ke bawah.
"Ya Allah, Lentera Senja. Lama tidak berjumpa, kamu makin cantik saja!" seru Irena hampir tak percaya.
Qia tersenyum kecut kecut ke arah Irena.
"Dokter Iren, apa kabar?" sapa Qia sopan. Matanya melirik sekilas ke Satrio, sementara yang dilirik sedang menatapnya dengan tatapan penuh makna.
Qia lalu beralih menatap Adrian, Hendra, dan dokter Iman. Tiga lelaki itu juga menatap Qia penuh makna. Tiba-tiba suasana menjadi canggung.
"Kenapa? Ada apa ini?" tanya Irena heran.
"Gak apa-apa, Sayang. Cuma gak nyangka aja, ternyata kalian saling mengenal." Kali ini dokter Iman yang berbicara. Ia menatap Irena lembut, setelah itu menatap tiga rekannya lagi setelah terlebih dahulu menyapukan pandangannya ke Qia.
"Aku juga gak nyangka bakal ketemu Qia lagi. Kenapa kalian gak bilang kalau istri Satrio itu Kemilau Senja? Berapa lama kita tidak berjumpa, sejak ...."
Rena menggantung ucapannya. Ditatapnya wanita mungil yang ada di hadapannya itu. Mata kelinci itu kini berkaca-kaca.
"Apa kau masih sering mengunjunginya?"
Qia bergeming, tidak menjawab ataupun bergerak sedikit pun. Dua wanita itu hanya saling menatap. Mereka hanya berbicara dalam kebisuan.
Sementara, keempat pria yang ada di tempat itu hanya bisa saling menebak di benak masing-masing, terutama Satrio. Ia sedang berpikir, apa sebenarnya yang sedang terjadi? Bagaimana kedua wanita itu bisa saling mengenal? Siapa yang selalu dikunjungi Qia dan membuat wanita itu begitu sedih dan merana? Semua itu tidak ada di berkas yang diberikan Arka. Namun, melihat kondisi sang istri yang begitu menyedihkan, tak urung hati lelaki itu mencelos juga.
Sementara itu, Qia menelan ludah di tenggorokan yang tiba-tiba terasa tercekat. Mati-matian ia berusaha untuk menahan air mata agar tidak tumpah.
"Aluna .... tenanglah kau di alam sana. Maafkan semua kesalahanku," bisik Qia dalam hati. Bayangan gadis itu tampak di depan mata. Tubuhnya mulai bergetar. Butiran-butiran bening itu mulai menetes satu persatu tanpa bisa dicegah lagi.
Melihat itu, Rena memeluknya sekali lagi. Ia merasa bersalah karena mengungkit sesuatu yang seharusnya mereka lupakan karena jelas akan menimbulkan lara.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Itu semua bukan kesalahanmu. Memang sudah waktunya ia pergi. Harusnya kau senang karena ia sudah tidak kesakitan lagi," bidik Rena berusaha menenangkan Qia.
Saat itu, Qia meninggalkan sebentar sahabatnya yang sedang tidur untuk menjalankan kewajiban Ashar. Saat itu, ia berdoa cukup lama, terutama untuk kesembuhan Aluna. Namun, saat ia kembali, gadis itu sudah tidak ada. Ya, gadis itu seolah sengaja meninggalkannya saat ia tidak sedang bersamanya. Menurut para dokter dan suster, Aluna pergi karena kehabisan oksigennya.
Yang membuatnya menyesal sampai sekarang, kenapa ia tidak memeriksa dulu tabung oksigen itu sebelum berangkat ke Musala. Andai ia tidak ceroboh, mungkin Aluna masih bisa diselamatkan. Itu sebabnya, Qia selalu dihantui rasa bersalah. Jika teringat kejadian itu, hatinya serasa diiris sembilu.
Terdengar isakan halus. Qia menangis di pelukan Irena. Tubuh istri Satrio itu mulai berguncang.
"Semua sudah berlalu, Qi. Kamu tidak boleh menyalahkan dirimu terus-terusan. Kondisinya memang sangat kompleks. Mungkin ini yang terbaik untuknya. Ia sudah berjuang sampai akhir. Kita harus menghargainya," ujar Rena sambil melepaskan pelukannya.
Sekarang ia memegang pundak Qia, kemudian menghapus sisa air mata di pipi Qia.
"Biarkan ia tenang di alam sana. Justru ia akan bersedih kalau kamu belum bisa move on darinya. Doakan saja yang terbaik untuknya. Lihatlah, kita sudah merusak acara Kak Adri. Ayuk, kita bersenang-senang. Tersenyumlah," kata Rena lagi.
Istri Satrio itu pun akhirnya berusaha untuk tersenyum, meski begitu kecut hatinya.
"Maaf," ujarnya sambil menundukkan wajah dalam-dalam.
Meski suasana sudah agak cair karena cicitan Rena, tetapi Qia masih merasa canggung. Begitu juga dengan empat pria yang ada di ruangan itu.
"Baiklah, sebaiknya kita mulai makan sekarang. Semua sudah pada lapar, kan?" ajak Adrian.
"Baiklah, ayuk, bayi-bayiku juga sudah mulai teriak-teriak minta makan dari tadi," jawab Rena.
"Bayi-bayi?" Qia mengeryitkan alisnya.
"Iya, Qi, ada dua," jawab Rena dengan mata berbinar. "Kalian juga bisa, kok, program bayi kembar."
Kontan saja perkataan itu membuat wajah Qia memerah. Istri Satrio itu sampai menundukkan kepala.
"Jangan menggodanya, Sayang. Lihat, wajahnya sudah memerah," kata dokter Iman sambil menunjuk ke Qia.
"Memangnya kenapa? Serius loh, Qi. Kalau kalian berdua mau, nanti kuajarkan," Rena lagi.
"Sayang ...." Sekali lagi dokter Iman memotong perkataan Rena sambil menggenggam tangan Rena dan menuntunnya.
Mereka kemudian melangkah menuju ruang makan, kecuali Qia dan Satrio. Sepasang suami istri itu masih berada di ruang tamu.
Qia diam, tidak bersuara, juga tidak berani menatap suaminya. Dia sendiri juga bingung, tak tahu harus berbuat apa. Ia bertanya-tanya, kira-kira apa yang akan dilakukan oleh suaminya setelah kotak pandora Kemilau Senja terbuka.
Sungguh, Qia sudah siap dan pasrah apa pun yang akan terjadi pada dirinya.
Sementara, Satrio yang tadinya berdiri tak jauh dari Qia kemudian mendekat dan memeluk Qia dari belakang.
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja," bisik Satrio sambil mengecup pucuk kepala Qia yang tertutup kerudung.
Spontan, Qia memutar tubuh, menghadap ke suaminya.
"Kak ...." panggil Qia sambil lirih. Ia memberanikan diri menatap wajah tampan ituĀ untuk mencari makna di sana. Suaranya terdengar sangat serak.
Satrio membalas tatapan itu lembut. Ini yang tidak bisa dimengerti oleh Qia. Tadinya ia mengira suaminya dan tiga saudara angkatnya itu akan marah dan bertindak kejam. Namun, ternyata mereka tidak melakukan apa-apa, setidaknya untuk saat ini.
Tangan kokoh itu membelai wajah Qia, membersihkan sisa-sisa air mata yang masih menempel di sana. Lelaki itu masih bisa merasakan, jejak-jejak kesedihan yang ada di sana, membuat hatinya bergetar tak berdaya.
Ia lalu menarik tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya.
"Kamu sudah tahu, ke mana harus pulang. Tempatmu adalah di sini. Kamu boleh datang kapan pun yang kamu mau," bisik Satrio lembut sambil mengerat pelukannya.
Qia memejamkan mata. Suaminya benar. Di situlah tempat yang paling nyaman baginya.
"Maaf."
Hanya satu kata itu yang terucap dari bibir Qia.
"Sssstttt .... Kita akan bicarakan ini saat di rumah," bisik Satrio lagi.
Sementara, Qia hanya menganggukkan kepala.