
Ningrum meminta agar Ustad Hanif, suami Ustazah Kamila berkenan untuk menjawab segala unek-unek Andre terkait misi dan visi Qia.
Alhamdulillah, gadis itu merasa lega karena tak lama Ustazah Kamila memberikan jawaban.
"Insyaallah, Pak Andre akan dihubungi secepatnya," kata Ningrum.
"Baiklah .... saya akan sabar menanti. Terima kasih, ya, Ust," ucap Andre.
"Sama-sama, Pak," kata Ningrum pelan. Akhirnya gadis itu bisa bernapas lega.
***
Qia langsung mamasukkan sepeda ke dalam rumah. Setelah mengajar tadi, ia merasa sangat lelah, apalagi mengayuh dalam kondisi yang cukup terik. Rasa-rasanya kedua betis kaki itu seperti mau copot saja. Karena itu, ia memutuskan untuk tidak keluar rumah lagi.
Tadi ia sudah salat Ashar di sekolah. Jadi, sekarang tinggal mandi dan langsung istirahat. Bu Mirna sudah paham dengan kondisi Qia. Karena itu, ia tidak menuntut anak itu untuk beberes rumah. Toh tidak setiap hari Qia mengajar. Lagipula, tiap pagi anak itu juga tidak pernah absen membantu pekerjaan rumah.
"Tadi Umi Silmi telpon,Qi," kata Bu Mirna saat gadis itu berbaring santai di kamar.
Wanita yang masih tetap terlihat cantik itu sengaja menemui anaknya di kamar karena ada hal penting yang perlu dibicarakan.
"Ada apa, Bu? Sepertinya penting sekali?" tanya Qia.
Serta merta, gadis itu lalu duduk dengan telinga ditegakkan. Untungnya, perangkat pendengaran itu tidak panjang. Kalau tidak, pasti mirip dengan telinga kelinci saat ada pemangsa datang menyerang.
Bu Mirna tampak diam sejenak. Berkali-kali wanita itu menarik napas panjang, kemudian dihembuskan secara perlahan. Itu memang sudah menjadi kebiasaannya ketika sedang ragu atau gelisah. Qia sampai hafal. Karena itu, ia juga ikut-ikutan gelisah.
"Apa ini tentang perkembangan kasus Kak Pras, Bu?" tanya Qia lagi. Gadis itu mulai tidak sabaran.
"Nggak, Qi. Ini tidak ada hubungannya dengan Pras. Ini masalah lain."
"Ibu ... kenapa suka sekali berbelit-belit?"
Sekali lagi Bu Mirna menarik napas panjang. Dipandanginya wajah lelah gadis semata wayang itu.
"Ini tentang kamu, Qi. Tentang masa depan yang akan kau jalani nanti," kata Bu Mirna pelan.
Sesaat, Qia melihat kesedihan teramat mendalam di mata tua itu. Namun, beberapa saat kemudian, tampak secercah sinar. Meski tampak samar, sinar itu memancarkan tekad kuat penuh harapan.
"Masa depan? Masa depan apa? Tak satu pun di dunia ini yang bisa meramalkan masa depan," balas Qia.
"Maksud Ibu bukan seperti itu. Kamu tahu yang Ibu maksud."
"Qia gak ngerti, Bu. Ibu dari tadi berbelit-belit," protes Qia.
"Umi Silmi dan Abi Kun merasa prihatin dengan semakin terseretnya kamu dalam kasus Pras. Sungguh mereka merasa bersalah. Terlebih dengan adanya berita miring tentang kamu. Predikat pembawa sial itu sungguh terasa menyakitkan di telinga mereka. Ibu sendiri sampai merasa sesak kalau ada orang berkata seperti itu padamu," jelas Bu Mirna.
Qia terhenyak. Hatinya juga ikut perih melihat bias kesedihan di wajah ibunya tercinta.
"Maafkan Qia, Bu. Qia telah membuat Ibu sedih."
"Tidak, Qi. Ini bukan salah kamu," kata Bu Mirna. "Oh ya, dengan anggapan sebagai pembawa sial itu, Umi Silmi dan Abi Kun khawatir kalau nanti tidak ada pemuda yang berani melamar kamu, Qi."
"Bu... Ibu kan sudah paham, bahwa rezeki, jodoh dan maut itu sudah ada yang mengatur," jawab Qia.
"Iya, kamu benar. Tapi, kita wajib berikhtiar juga, tidak pasrah begitu saja," balas Bu Mirna.
"Trus, mau mereka apa?" Pertanyaan ini terlontar kerena gadis itu ingin mengingatkan pada sang ibu akan tujuan semula.
"Buuuu...." desak Qia.
"Umi Silmi dan Abi Kun ingin melamarmu lagi," jawab Bu Mirna singkat. Tapi, ia merasa plong. Lega rasanya setelah beberapa jam dihimpit batu besar.
"Melamar lagi?" tanya Qia hampir tak percaya. Bahkan, ia yang duduk agak ke tepi hampir terjatuh saking terkejutnya.
"Iya, Qi, untuk putra bungsunya."
"Putra bungsu? Yang mana? Memangnya Kak Pras punya adek?" cecar Qia.
"Iya,Qi." Lagi-lagi Bu Mirna menjawab dengan pendek.
"Tunggu tunggu ... jangan bilang kalau pemuda begajulan itu adalah adeknya Kak Pras!" kata Qia cemas. Wajah pucat itu kini semakin pucat.
"Begajulan? Yang mana?" tanya Bu Mirna.
"Siapa lagi, Bu? Satrio ...."
"Hus! Kamu itu ... gak baik ngomong seperti itu! Apalagi, dia kan calon suamimu," balas Bu Mirna. Qia memelototkan mata.
"Buuu ... Qia kan belum menerima lamarannya?"
"Jadi ... kamu menolak?" tanya Bu Mirna dengan nada kecewa.
"Bukan begitu, Bu. Hanya saja...."
"Alhamdulillah, Ibu senang Qia tidak menolak." Wanita itu tersenyum sumringah. "Ibu ke dapur dulu, jangan lupa, kolakmu tadi belum dimakan!"
Bu Mirna melangkah ke luar. Kedua kakinya mulai terasa ringan. Ia bukan wanita lugu yang naif. Ia tahu, jawaban Qia tadi bukan keputusan final. Namun, pernyataan bahwa Qia tidak menolak menunjukkan bahwa gadis itu mau mempertimbangkan.
Entah mengapa kali ini wanita itu merasa klik aja sama Satrio. Tidak ada syak atau prasangka apa pun yang ada di hatinya. Biasanya, jika sesuatu yang buruk akan menimpa Qia, wanita itu selalu merasakan sesuatu yang tidak enak tepat di ulu hati. Akan tetapi, kali ini ia tidak merasakan apa-apa.
Bu Mirna paham, firasat seperti ini tidak bisa dijadikan pegangan. Namun, naluri seorang ibu memang jarang meleset, setidaknya itu menurut pendapatnya.
Dengan sikap sang ibu yang seperti itu, Qia jadi mati langkah. Sekarang ia bingung, tak tahu harus bagaimana.
Di satu sisi, gadis itu tidak ingin menyakiti orang tua, juga Umi Silmi dan Abi Kun yang sudah sangat baik pada mereka. Di sisi lain, ia tidak rela kalau harus bersanding dengan si Gondrong yang selalu menatapnya dengan pandangan yang sulit dimengerti artinya, antara mengejek, sinis menggoda, entahlah, Qia tidak tahu.
Sekarang harus bagaimana? Kalau Umi Silmi dan Abi Kun betul-betul datang untuk melamar bagaimana?
***
Selesai makan malam, Pak Zul mengajak Qia dan Bu Mirna bicara. Entah apa yang akan dibicarakan, Qia belum tahu. Ia menduga kalau sang ayah ingin membicarakan lamaran Umi Silmi. Dan ternyata, dugaan gadis itu benar.
"Ayah tidak memaksamu, Qi. Kamu tidak harus menerima lamaran itu," kata Pak Zul saat melihat Qia tidak begitu antusias dengan pembicaraan itu.
Lelaki itu paham, tentunya tidak mudah bagi seseorang untuk berpaling hati, meski sang calon pengganti adalah adik dari mantan tunangannya sendiri. Bagaimanapun, mereka adalah dua orang yang berbeda, baik karakter atau pun rupa.
Qia menundukkan wajah. Sekilas, ia melirik pada ibunya. Wajah yang mulai tirus itu menatapnya dengan penuh harap. Meski tak terucap sepatah kata, Qia mengerti arti tatapan itu. Qia jadi serba salah.
"Tolong, beri Qia waktu, Yah! Bukankah istikharah itu merupakan langkah yang bijaksana?" jawab Qia retoris.
Ya, untuk saat ini, rasanya hanya itu jawaban yang bisa menyelamatkan gadis itu dari dilema.
-Bersambung~