
Tentu saja Qia tidak bisa memicingkan mata. Namun karena takut Satrio akan menjahilinya, maka ia pura-pura memejamkan mata dan lama-lama akhirnya tertidur juga.
Di sebelahnya, justru Satrio yang tidak bisa memejamkan mata. Lama ia pandangi wajah polos tak berdaya milik Qia, kemudian mengikis jarak antara dirinya dengan gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu.
"Kau cantik sekali, Qi," batin Satrio tanpa berkedip.
Sambil terus menatap, tangan kekarnya menyibakkan rambut hitam Qia yang menutupi mata, kemudian membelai wajah cantik itu dengan penuh perasaan.
Saking menghayatinya sampai-sampai Satrio tidak menyadari kalau bibirnya sudah menempel di bibir Qia. Bagaimana disengat listrik, tubuh Satrio bergetar. Jantungnya berdegup kencang.
Sementara itu, Qia yang sedang berada di alam mimpi merasa bahwa ia sedang bermain boneka Boba bersama putri Ustazah Kamila. Saat gadis kecil itu melempar Boba ke arahnya, Qia sedikit lengah. Tak ayal, boneka berwarna merah fanta itu mengenai mukanya. Bibirnya yang terkena lemparan boneka itu terasa hangat, membuatnya tertawa renyah.
Masih dalam mode mimpi, Qia yang merasa gemas langsung memeluk boneka itu. Begitu lembut dan nyaman membuat gadis itu enggan melepaskan pelukan.
Di dunia nyata, Satrio yang sedang berdebar-debar karena baru saja mengecup bibir Qia jadi terpanah melihat gadis itu meraih tubuhnya dan memeluk dirinya erat-erat. Sebuah senyum terukir di bibir ceri milik Qia membuat hati Satrio semakin tak keruan.
"Astaga ... Kenapa kamu malah peluk Kakak kayak gini, Qi?" keluh Satrio dalam hati. Ia benar-benar tersiksa dan merasa tidak berdaya.
Namun, untuk membangunkan Qia, ia merasa tidak tega. Satrio yakin, seperti halnya dirinya, semalam Qia pasti tidak bisa tidur juga. Untuk beberapa saat, Satrio membiarkan dirinya tersiksa.
"Siksaan yang menyenangkan," pikir Satrio sambil terus menatap istrinya.
"Mungkinkah sudah ada benih-benih cinta?" pikir Satrio. Ia merasa sangat konyol.
Akhirnya, ia membiarkan saja kelinci kecil itu berada dalam dekapannya. Ia sendiri merasa nyaman hingga membuatnya ikut tertidur.
***
Pukul setengah empat sore Qia terbangun. Ia mendadak panik setelah mengetahui dirinya sedang meringkiuk di dalam pelukan Satrio. Ia ingin bergerak untuk membebaskan diri dari kungkungan tangan besar itu, tetapi khawatir membuat suaminya terbangun.
"Sepertinya dia lelah banget," batin Qia.
Akhirnya Qia diam saja sambil terus memandangi wajah tampan suaminya. Aroma maskulin dari tubuh Satrio membuatnya merasa nyaman dan betah untuk berlama-lama di sana. Namun, ia tidak berani bergerak karena takut membangunkannya.
Kemudian, tanpa sengaja matanya melirik jam dinding yang ada di depannya.
"Astaghfirullah al aziim!" Tanpa sadar, Qia memekik tertahan.
Meski tidak terlalu keras, telinga Satrio yang sangat tajam dan terlatih mendengar teriakan itu meski sedang tertidur lelap. Serta-merta, lelaki itu membuka mata dan mendapati istrinya sedang berada di dalam dekapannya. Wajah cantik itu terlihat sangat panik.
Satrio yang sebenarnya juga merasa canggung pura-pura tidak menyadari kalau tangannya yang kokoh itu sedang mengungkung istrinya.
"Kenapa?" tanyanya tanpa rasa bersalah.
Qia yang rada gugup menjadi merah mukanya. Jantungnya berdegup kencang, mata mereka saling menatap. Ini adalah pertama kalinya ia seintim itu dengan suaminya.
"Maaf, Qia jadi membangunkan Kakak. Tadi Qia hanya terkejut karena sekarang hampir pukul empat," jawab Qia agak terbata.
"Astaghfirullah, bukannya kamu ada janji dengan Ustazah Kamila?" kata Satrio tanpa melepaskan pelukannya.
"Iya, Kak. Sepertinya Qia sudah telat, deh. Qia juga belum salat Ashar," jawab Qia dengan nada sesal.
"Trus bagaimana? Maaf, tadi Kakak tertidur," sesal Satrio merasa bersalah. Pasalnya, ia tadi sudah berjanji untuk mengantar Qia.
"Tidak apa-apa, Kak. Qia yang salah karena tidak bangun-bangun.
Bisakah Kakak lepaskan ini sebentar?"
Qia memberanikan diri bicara sambil menunjuk tangan besar Satrio yang sedang mengungkungnya.
Dengan berat hati, Satrio melepaskan pelukan itu seolah tidak rela.
Qia segera melesat mengambil tasnya di atas nakas dan mencari ponselnya.
Ternyata ada banyak panggilan dari Ustazah Kamila. Juga ada pesan melalui WhatsApp.
[Assalamu'alaikum, Qi, maaf acara hari kita tunda karena saya harus mengantar adik saya ke dokter. Untuk acara selanjutnya, saya akan menghubungi kamu lai]
[Waalaikum salam. Iya, Us]
Qia menutup posel dengan perasaan legah. Bukan karena senang dengan kondisi saudara Ustazah. Namun, ia merasa lega karena pertemuan dengan Ustazah ditunda sehingga ia tidak perlu membolos.
"Kenapa? Kita gak jadi ke rumah Ustazah?" tanya Satrio melihat perubahan di wajah istrinya.
"Acaranya ditunda, Kak," jawab Satrio.
"Ya sudah, kita salat Ashar dulu. Habis itu Kakak ingin bicara," kata Satrio sambil bangkit.
Qia mengikuti dengan penuh tanda tanya, kira-kira apa yang ingin dibicarakan suaminya? Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak.
***
"Kakak ingin bicara apa?" tanya Qia setelah mereka salat bersama di mushala rumah.
Mereka sedang duduk di atas sajadah. Qia pun masih memakai mukena. Satrio yang tadi mengimami Qia kini sudah menghadap ke belakang. Posisi mereka sedang berhadapan.
"Qi, kamu percaya sama Kakak, kan?" tanya Satrio sambil menatap Qia.
"Deg."
Qia diam. Ia sudah tahu, ke mana arah pembicaraan suaminya. Namun, ia hanya diam sambil menatap wajah tampan di depannya.
Tiba-tiba ia teringat dengan flashdisk yang dia simpan.
Melihat istrinya hanya diam, Satrio meraih tangan Qia dan menggenggamnya erat. Qia jadi merona.
"Aku tidak boleh terlena," batin Qia.
"Please ... Coba kamu ingat sekali lagi, barangkali ada yang terlewat. Ini sangat penting, Qi. Kau lihat sendiri, kan? Mereka sudah berani datang dan mengacak-acak tempat ini. Itu artinya mereka tidak main-main. Kamu tahu kenapa?" tanya Satrio.
Qia menggelengkan kepala.
"Itu karena mereka sangat yakin kalau Kak Pras memiliki sesuatu. Mereka yakin sesuatu itu sekarang ada padamu. Coba kamu ingat sekali lagi, Qi. Mungkin kamu tidak menyadarinya," kata Satrio. Ia mencoba untuk berbicara selembut mungkin agar istrinya tidak merasa terintimidasi.
Sementara, Qia masih tetap diam, seolah sedang berpikir.
"Mereka sudah bertindak sejauh ini. Itu berarti, bukan hanya kamu saja yang sedang dalam bahaya. Tapi ayah dan ibu juga terancam keselamatannya. Apa kau tidak mengkhawatirkannya?" Satrio sedang meyakinkan Qia, betapa bahayanya keadaan mereka sekarang.
"Qi ..."
"Qia khawatir, Kak." Suara Qia terdengar serak.
"Kalau begitu, biarkan Kakak membantumu. Tapi, Kakak tidak akan bisa memecahkan masalah inj kalau kamu tidak nembantu Kakak. Coba kamu ingat sekali lagi, kapan terakhir kali Kak Pras menemuimu," tanya Satrio lembut.
Tangan kirinya masih menggenggam jemari Qia, sementara tangan kanannya membelai pipi gadis itu hingga semakin merona.
Qia menundukkan kepala.
"Qi," panggil Satrio lagi.
"Dua atau tiga hari sebelum ditusuk orang, Kak."
Akhirnya ia menjawab dengan sangat lirih.
"Apa ia memberikan sesuatu?" tanya Satrio hati-hati. Tangannya menggenggam jemari Qia lebih erat, seolah takut kalau Qia menarik ucapannya lagi.
Diperlakukan seperti itu, Qia jadi serba salah.
"Apakah ini jurus mautnya untuk memikat wanita?" Pikir Qia.