
Andre masih berkutat dengan pikirannya di dalam kamar. Sejak mengetahui kejahatan papanya, untuk pertama kalinya ia merasa sebagai orang yang paling tidak beruntung.
"Jangan menjudge seseorang tanpa menyelidiki dulu kebenarannya," bisik hati Andre mengingatkan.
Sebenarnya ia juga tidak ingin menuduh papanya secara sembarangan. Namun, seandainya apa yang dituduhkan Satrio itu benar, ia bingung juga harus bagaimana. Bagaimanapun, sebelumnya ia sangat menghaormati papanya. Baginya, lelaki itu adalah yang terbaik, tanpa cacat cela. Bahkan, sesungguhnya Andre sangat mengidolakannya.
Masih dalam mode gundah, tiba-tiba ponsel Andre berbunyi.
"Ya, Ma? Ada apa? Mama baik-baik saja, kan?" tanya Andre agak cemas.
"Mama agak pusing, bisakah kamu jemput Mama sekarang?" tanya sang Mama.
"Tentu saja. Sekarang Mama ada di mana?" Andre semakin cemas.
"Di rumah Tante Salsa. Cepat dikit, ya."
"Ya sudah, Mama tunggu sebentar di sana, jangan ke mana-mana."
Andre langsung menutup telpon setelah berbalas salam dengan mamanya, kemudian menyambar kunci Pajero yang ada di atas nakas.
***
Andre mempercepat laju kendaraannya. Rumah Tante Salsa biasanya bisa ditempuh sekitar tiga puluh menit perjalanan dari rumahnya. Namun, kini ia hanya butuh waktu sekitar lima belas menit untuk sampai. Andre cukup beruntung karena jalan tikus yang ia lewati tidak terlalu ramai meskipun saat itu mendekati jam pulang.
Andre memang sangat mencemaskan mamanya. Pasalnya, hari ini wanita cantik itu terlihat sedikit tidak bisa. Apalagi, tadi di telpon sempat mengatakan kalau sedang sakit kepala.
"Lagian, Mama ini aneh juga. Baru saja pulang dari perjalanan ke luar negeri, eh sekarang sudah pergi lagi, gak capek, apa?" batin Andre.
Namun, saat bertemu dengan wanita yang melahirkannya itu, pertanyaan yang sudah tersimpan di benaknya itu tidak jadi keluar dari mulutnya. Melihat sang Mama yang saat itu terlihat agak kacau, Andre jadi tidak tega.
"Ma, Mama baik-baik saja, kan?" tanya Andre setelah dipersilahkan masuk oleh Tante Salsa.
Tiba-tiba perasaan Andre jadi tidak enak. Ia yakin mamanya baru saja menangis karena kedua mata masih terlihat merah dan sedikit bengkak.
"Mama baik-baik saja, yuk kita berangkat sekarang," ajak Mama Andre.
Mendengar itu, Andre mengernyitkan dahi, tanda tidak mengerti.
"Kita gak langsung pulang, nih?" tanya Andre akhirnya.
Wanita itu tanpa ekspresi, tak ada senyum, tak ada amarah, tak ada kebencian, kesedihan, atau kebahagiaan. Semuanya terlihat tawar dan datar. Kalau bukan saking pintarnya wanita itu menyembunyikan gejolak emosinya, mungkin karena ia sudah kehilangan semua rasa.
"Mama mau pergi ke mana lagi? Gak capek, apa? Tadi katanya lagi sakit kepala?" tanya Andre hati-hati.
"Enggak, Sayang. Mama gak pingin ke mana-mana. Mama hanya ingin memastikan sesuatu. Yuk, cepat sedikit, nanti gak keburu."
Andre tidak bertanya lebih lanjut. Setelah berpamitan pada Tante Salsa, mereka pun melangkah.
"Jaga mamamu baik-baik ya, Ndre. Saat ini mamamu sedang tidak baik-baik saja, beri dukungan terus, jangan pernah ditinggal sendirian!" seru Tante Salsa sebelum mereka masuk ke dalam mobil.
Andre tidak menjawab. Ia melirik sekilas ke mamanya.
"Udah, gak usah dihiraukan kata-kata Tante Salsa. Mama baik-baik saja, yuk."
Mama Andre langsung masuk ke mobil diikuti Andre.
"Cepat sedikit, Ndre," titah sang Mama, tampak tidak sabar.
"Sabar, Ma, ini juga sudah cepat. Macet banget, nih," jawab Andre.
Tidak seperti saat berangkat tadi, kali ini jalan raya sangat padat cenderung macet. Memang saat itu jam pulang kantor. Kebetulan, untuk kawasan yang ini, Andre tidak begitu paham jalan tikusnya.
Sementara itu, sang Mama yang biasanya pembawaannya tenang, kini sangat gelisah. Entah mengapa Andre merasa sangat tidak nyaman melihat itu. Ia tahu, mamanya sedang ada masalah. Namun, wanita itu lebih memilih diam, tidak ingin mengungkapkan padanya.
***
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai. Setelah memarkir kendaraan, tangan Andre diseret mamanya menuju ruang tunggu.
"Astaghfirullah, Mama. Pelan dikit, dong!" protes Andre.
Sang Mama tidak menjawab. Ia terus berjalan sambil menggandeng tangan Andre menuju ruang tunggu.
Namun, baru mendekati tempat itu, Mama Andre menghentikan langkah. Matanya tajam ke satu titik agak jauh dari mereka berada. Tangannya yang sedingin salju menggenggam erat tangan Andre membuat anak itu terkejut.
"Ada apa dengan Mama? Tangannya dingin sekali, apa Mama sakit?" pikir Andre.
Ia tidak bertanya lebih lanjut, tetapi mengikuti arah pandang mamanya. Seketika tubuhnya ikut membeku begitu melihat pemandangan di sana.