
Malam itu Qia sendirian di rumah. Sebenarnya gadis itu masih agak takut. Ia baru tiga hari tinggal di rumah Satrio, jadi belum begitu familiar dengan kondisinya. Apalagi, rumah suaminya itu lumayan besar dengan beberapa ruangan. Berada di tempat itu sendirian tentu sangat tidak nyaman rasanya.
"Aaah ...." Qia menghela napas.
Sebenarnya ia tidak takut sama setan atau hantu, meski kedua jenis itu sangatlah berbeda. Apalagi, menurut Qia, hantu itu tidak ada.
Hanya saja, kalau ia teringat dengan kasus yang menimpanya, maka mau tak mau, ia merinding juga. Apalagi, orang yang memburunya tidak hanya satu.
"Bagaimana kalau tiba-tiba ada yang masuk dan menodongkan pistol di keningku?" pikir Qia bergidik. Membayangkan saja rasanya ia tidak berani. Akan tetapi, kalau teringat kata-kata Satrio sebelum berangkat tadi, ia menjadi agak tenang.
"Kakak hanya sebentar. Lagipula, ada banyak teman Kakak yang bertebaran di luar," kata Satrio tadi.
Akhirnya Qia memutuskan untuk menulis.
Baru beberapa paragraf berhasil ia ketik, ponselnya berdering. Ternyata ibunya.
"Qi, bagaimana kabarmu?" tanya Bu Mirna setelah mereka berbalas salam.
"Alhamdulillah, Qia baik-baik saja, Bu. Tapi, Qia kangen sama Ibu," jawab Qia jujur.
"Iya, Ibu juga kangen sebenarnya. Padahal, ini baru tiga hari, loh."
"Iya, Bu. Bagaimanapun, Qia kan belum pernah pergi dari rumah lebih dari sehari. Jadi, wajar kalau kita belum terbiasa. Qia jadi rada kesepian kalau tidak ada Ibu. Apalagi, Kak Satrio sedang pergi," kelu Qia sambil mengerucutkan bibir.
"Loh, Satrio tidak ada di rumah, to?" tanya Bu Mirna.
"Iya, Bu. Kak Satrio sedang ada janji dengan bosnya," jelas Qia.
"Trus, kamu gak apa-apa ditinggal sendirian? Apa di sana aman-aman saja?" cecar Bu Mirna.
"Tenang saja, Bu. Di sini aman, kok. Kata Kak Satrio, ada beberapa temannya yang tersebar di sekitar tempat ini. Jadi, Ibu jangan khawatir. Insyaallah tempat ini aman," jelas Qia.
Bagaimanapun, Qia tidak ingin ibunya khawatir. Lagipula, yang ia katakan itu benar adanya. Tadi Satrio memang mengucapkan seperti itu.
"Ya sudah, Ibu percaya sama menantu Ibu. Ibu yakin, Satrio pasti melakukan yang terbaik."
Mereka pun akhirnya mengobrol ringan.
***
Sementara itu, Satrio sedang berada di markas bersama anggota tim yang lain. Namun karena Bos Besar belum datang, akhirnya ia memutuskan untuk ke ruang kerjanya.
Belum sampai ia masuk ke dalam, sebuah tangan lentik mencekal lengan kokoh Satrio dan menariknya keluar.
"Ikut aku sebentar."
Dari suaranya, tanpa menoleh pun Satrio sudah tahu kalau itu adalah Anita.
Demi menghindari konflik, Satrio memutuskan mengikuti gadis itu.
"Ada apa?" tanya Satrio datar. Suaranya yang berat dan dingin terdengar menakutkan untuk anggota satuan yang lain, tetapi tidak bagi Anita.
"Apa aku harus punya alasan untuk bertemu denganmu?" Anita balik bertanya.
"Kalau tidak ada yang penting, sebaiknya kamu kembali," kata Satrio sambil melepaskan pegangan tangan Anita.
"Tapi, Sat ...."
"Aku minta maaf, tapi aku sudah menikah, kamu tahu itu," potong Satrio cepat.
"Tapi kamu tidak mencintainya, Sat ..." Anita mencoba untuk mengingatkan.
"So what?"
"Sat ...." Anita mencoba untuk membantah.
"Lantas, bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan kita?" Anita merasa putus asa. Sebenarnya ia tahu, seberapa kuat dan teguh lelaki di depannya itu memegang komitmen.
"Sekali lagi aku minta maaf. Bukankah kau sendiri juga tahu, tidak pernah ada komitmen apa apa pun di antara kita."
"Lantas, apa artinya kebersamaan kita selama ini?" kata Anita lagi.
"Anita ... Dulu dan sekarang sudah berbeda. Kita tetap berteman, tetapi tidak bisa seperti dulu lagi. Pergilah, dan tatap masa depanmu. Jangan menyia-nyiakan hidupmu hanya untuk sesuatu yang jelas tidak akan pernah terjadi."
"Sudah kucoba, tapi tidak bisa, Sat." Suara Anita terdengar lirih.
"Kalau mau, kamu pasti bisa. Lagipula, kamu berhak untuk bahagia," kata Satrio.
"Tapi kebahagiaanku adalah kamu, Sat. Aku akan merasa bahagia kalau selalu bersamamu." Sekali lagi, Anita berusaha untuk meyakinkan Satrio. Tanpa bisa dicegah, air mata itu sudah meleleh di pipi mulusnya.
"Ya, tentu saja. Itu karena sugesti seperti itu yang kau tanamkan dalam benakmu. Ubahlah, maka kau akan merasakan kebahagiaan yang berbeda," kata Satrio sambil melangkah. Ia tidak jadi masuk ke ruang kerjanya karena sepertinya pertemuan akan segera dimulai.
"Tunggu, Sat ...." Anita berusaha untuk mencegah.
Satrio berhenti sejenak, kemudian berkata, "Oh ya, kurasa, si perjaka tua itu cukup layak untuk kau pertimbangkan."
Mendengar itu, tentu saja Anita lalu membelalakkan mata.
"What???? Kenapa harus dia. Aku bahkan sangat membencinya," jawab Anita cepat. Dia memang sangat membenci Bos besarnya karena gara-gara orang jutek itu dirinya jadi berpisah dari Satrio.
"Ehm ... ehm. Apa yang kamu maksud itu aku?" Tiba-tiba suara serak dan berat muncul di tengah-tengah mereka.
Muka Anita mendadak merah. Tentu saja ia merasa malu. Bagaimanapun, ia baru saja mengutarakan kebenciannya tentang lelaki itu.
Sementara itu, Satrio melangkah dengan santai menuju ruang pertemuan. Sebenarnya sejak beberapa waktu yang lalu, ia mengetahui kalau si Bos sudah datang dan diam-diam mendengar pembicaraan antara dirinya dan Anita. Itu sebabnya, dengan sengaja ia berkata seperti itu. Ia juga tahu kalau sejak lama si Bos memang menyukai Anita.
Karena Satrio sudah melangkah, maka tinggallah Bos besar Anita di tempat itu. Mendadak, apa dikatakan Satrio tadi memang belajarnya lebih dari itu.
.
***
"Kasusnya sudah dibekukan," kata Si Bos Besar.
"Aku tahu," jawab Satrio pendek.
"Tapi bukan berarti istrimu sudah aman," kata si Bos lagi, sengaja menekankan pada kata istri.
Mendengar itu, spontan dua pasang mata milik Anita dan Satrio saling memandang, kemudian terlihat Satrio membuang muka.
"Aku tahu," kata Satrio kemudian
Anita yang merasa kecewa dengan sikap Satrio langsung menunduk. Ia betul-betul merasa sangat kesal.
"Kenapa harus aku yang dikorbankan? Ini betul-betul tidak adil," pikir Anita
Sempat terlintas di benaknya untuk berbuat curang. Namun, ia menjadi ragu. Kalau sampai Satrio tahu, pasti dirinya akan dibenci seumur hidup. Dan .... Anita belum siap untuk itu.
Semua yang ada di tempat itu langsung menatap ke arah mereka. Bagaimanapun, mereka mengetahui kedekatan antara Satrio dengan Anita. Kini, kedekatan itu sudah tidak terlihat lagi.
"Jangan pernah berpikir kalau kau akan terbebas dari misi." Si Bos berkata dengan ketus.
"Apa aku terlihat seperti itu?" gerutu Satrio kesal.
"Ha ha ha, siapa tahu ...." Big Bos berkata santai, kemudian melirik ke Anita.
Saat itu, Anita juga sedang meliriknya dengan perasaan tidak suka. Begitu melihat bosnya memandang ke arahnya, gadis itu langsung melengos.
Setelah itu, ia melirik Satrio.