
Setelah menunaikan kewajiban Isya, Qia bersiap-siap untuk berangkat ke acara tasyakuran Adrian. Ini bukan acara resmi, jadi ia tidak memakai pakaian formal untuk ke pesta. Gamis polos warna hijau tembaga dipadu dengan kerudung serupa tetapi lebih mudah. Gaun itu membuatnya tampak anggun, meski sangat sederhana.
Tidak ada makeup, hanya bedak tipis yang menghiasi kulit wajahnya. Namun begitu, kecantikannya tak bisa disembunyikan. Kulitnya yang putih sangat kontras dengan bibir merah alami bak buah ceri. Alisnya seperti bulan tanggal satu, sedangkan mata kelincinya bersinar seperti bintang kejora.
"Sayang, sudah siap?" tanya Satrio tiba-tiba. Kemunculannya yang tiba-tiba itu tentu saja mengagetkan Qia.
"Kakak, bikin kaget saja," kata Qia sambil memukul ringan lengan suaminya.
"Bukan Kakak yang ngagetin. Kamunya aja yang ngelamun dari tadi. Mikirin apa sih?" tanya Satrio lembut.
Qia tersipu. Jujur ia sangat gugup meskipun sudah tahu kalau acara itu hanya dihadiri beberapa orang saja. Ia bukanlah orang yang mudah untuk beradaptasi dengan orang-orang baru, apalagi kalau mereka adalah teman-teman suaminya.
"Bukan ngelamun sih, Kak. Cuma ... Sedikit gugup aja," ungkap Qia jujur.
"Kenapa harus gugup, hem?"
"Qia kan gak begitu akrab dengan mereka. Qia juga tidak paham dengan dunia kalian. Masak nanti Qia cuma bengong begitu saja," ujar Qia setengah cemberut. Satrio yang melihat itu jadi gemas.
"Ha ha ha ha, Sayang. Tidak usah membayangkan yang aneh-aneh. Mereka berdua adalah Kakak kita, sementara satunya Adek kita. Kita di sana untuk makan malam bukan untuk membahas pekerjaan. Lagian, kamu kan sama Kakak. Jangan bilang kamu merasa tidak dekat sama Kakak, Hem? Padahal tiap hari kita ...."
Satrio sengaja menggantung ucapannya. Sementara wajah wanita cantik di depannya sudah seperti kepiting rebus.
"Dasar. Selalu itu saja yang dipikirkan," ujar Qia sewot. Bibir cerinya bertambah monyong satu centi. Satrio jadi tambah gemes.
"Ha ha ha ha. Habisnya, kamu terlalu berlebih-lebihan. Tidak usah cemas kayak gitu. Sudah Kakak bilang, mereka itu orang yang sangat baik. Kalau toh mereka tidak cukup menyenangkan, toh masih ada Kakak yang tidak akan membiarkan bidadari cantik ini kesepian dan merasa tidak nyaman," kata Satrio berusaha menenangkan.
Qia mencebik sambil sedikit melengos.
"Sayang, jangan begitu. Kamu gak tahu, apa, kalau sikapmu itu bikin Kakak tergoda? Bisa-bisa kita nanti gak jadi berangkat, tapi malah ...."
"Oke, kita berangkat sekarang."
Dia buru-buru memotong perkataan suaminya dengan wajah yang kembali memerah. Ia tahu ke mana arah pembicaraan lelaki tampan itu.
"Dasar mesum!" gerutu Qia pelan, tetapi masih terdengar oleh telinga Satrio.
Pemuda itu terkekeh sekali lagi, tetapi tidak mengucapkan apa-apa. Ia hanya mengekor di belakang Qia.
Sama seperti Qia, malam itu Satrio tidak memakai pakaian formal. Justru ia terlihat sangat santai. Kaos putih polos dipadu dengan celana jeans membuatnya terlihat sangat tampan. Sebuah jaket kulit berwarna hitam menambah kesan macho.
Diam-diam Qia dari tadi mengagumi ketampanannya. Namun, tentu saja ia tidak mau mengatakannya. Bisa-bisa, ramai jagat persilatan. Betul kata suaminya, bisa-bisa mereka tidak jadi berangkat. Membayangkan itu, wajah Qia jadi bersemu merah. Ia beruntung karena Satrio tidak mengetahui tindak-tanduknya.
***
Mobil Satrio berhenti di sebuah rumah yang cukup besar dan mewah. Halamannya sangat luas dan terlihat sangat asri dan nyaman.
"Sayang, kita sudah sampai."
Qia menatap suaminya sekilas, kemudian mengangguk.
"Tidak usah gugup. Tar pegang tangan Kakak aja," bisik Satrio lembut.
Mereka turun kemudian melangkah bersama.
Para penjaga sudah mengenal Satrio karena ia sering sekali pergi ke tempat itu. Jadi, mereka langsung menuju ke pintu masuk tanpa ada gangguan sedikit pun.
"Kak Adri tinggal sendirian di sini?" tanya Qia heran.
"Hem," jawab Satrio singkat.
"Rumah sebesar ini, hanya ditempati sendirian?" pikir Qia. Namun, ia memutuskan untuk diam, tanpa bermaksud untuk ikut campur.
Mereka berhenti di depan pintu dan memencet bel. Ternyata yang muncul Hendra. Seperti biasa, ia tampak gagah dengan senyum manis yang selalu menghiasi bibirnya.
"Kak, Kakak ipar," sapa Hendra ramah.
Seperti biasa, Satrio menyambut sapaan itu dengan sikap dan wajah datar. Sebaliknya, Qia membalas sapaan Hendra dengan ramah. Namun, ia masih terlihat canggung dan merasa gugup.
Satrio menggenggam jemari yang seperti es di kutub itu untuk memberikan kekuatan dan ketenangan.
Qia mengangguk sambil tersenyum.
"Terima kasih Kak. Selamat ya, Barakallah," ucap Qia sopan.
"Tidak usah sungkan, yuk, anggap saja rumah sendiri," kata Adrian ramah.
Sekali lagi Qia mengangguk. Sementara itu, Satrio yang melihat interaksi itu jadi manyun.
"Lo gak mempersilakan gue, Kak?" tanya Satrio.
Adrian bergeming, pura-pura tidak mendengar. Ia bersikap seolah-olah cuek sama Satrio. Hendra yang mendengar itu cekikikan sendiri.
"Kok kumat lagi, Bos. Kapan hari sudah gak elo gue, sekarang kenapa kembali lagi? Ada Kakak ipar, loh," celetuk Hendra konyol.
Mendengar itu, kontan saja Satrio mendelikkan mata. Namun, ia tidak berkata apa-apa. Perhatiannya kini beralih ke Adrian yang kini sedang berbincang ramah sama Qia.
Tadinya ia merasa khawatir kalau-kalau istrinya merasa canggung. Namun, dengan keramahan Adrian yang memperlakukan Qia layaknya seorang adik, lama-lama rasa canggung itu tidak terlihat.
"Kak Iman bisa datang, kan?" tanya Satrio.
"Dia agak terlambat. Rena baru selesai melakukan operasi," jawab Adrian.
"Dengan perut sebesar itu? Kenapa dibolehin?" Satrio bertanya dengan rada nyolot.
"Memangnya kenapa?" tanya Adrian santai.
"Kenapa bagaimana? Dia itu hampir melahirkan, kalau ada apa-apa, bagaimana?" tanya Satrio gusar.
"Lo kayak gak tahu Rena saja. Lagipula, lakinya juga gak merasa khawatir. HPL-nya juga masih lama." Adrian masih terlihat santai.
"Tapi ...."
"Mereka berdua itu dokter, pasti lebih tahu mana yang terbaik daripada kita."
"Iya, tahu. Gue cuma gak tega saja. Perutnya sudah sebesar itu. Gue gak bisa membayangkan kalau Qia ...."
"Eh, kenapa Qia dibawa-bawa?" potong Qia cepat. Wajahnya sudah semerah tomat.
Ia merasa sangat malu. Apalagi ada Adrian dan Hendra di tempat itu. Untungnya, sebelum pembicaraan tentang perut besar berlanjut, bel pintu berbunyi.
Dengan sigap, Hendra membuka pintu dan tampaklah dokter Iman dengan seorang wanita cantik berperut buncit.
Mereka saling sapa dan memberi salam. Sementara itu, Qia yang mengenali dokter cantik itu menjadi berdebar-debar.
"Dokter Iren," batinnya.
Wanita cantik yang sedang hamil besar itu menghampiri Adrian.
"Kak, selamat ya," sapanya.
Mereka memang tidak ada yang membawa hadiah karena Adrian memang tidak suka acara seperti itu. Makanya, ia hanya sekadar mengundang adik-adiknya untuk makan malam, bukan mengadakan pesta besar.
Rena lalu menyapa Satrio.
"Hai, Sat, lama tak jumpa. Sorry kami gak bisa datang ke pernikahan kamu," sesal Rena.
Bagaimana bisa datang, orang pernikahan itu sangat mendadak, betul-betul tanpa persiapan. Malamnya mereka berbincang, besok paginya sudah langsung akad nikah.
"Oh ya, mana istri kamu?" tanya Rena lagi.
Qia yang dari tadi masih duduk, kemudian berdiri. Ia lalu memutar tubuhnya menghadap ke Rena. Tadinya posisinya memang membelakangi wanita itu.
Dua wanita cantik itu kini saling berhadapan. Jantung Qia semakin berpacu cepat. Sementara, dokter Irena seketika membelalakkan mata. Secara spontan, ia memekik memanggil wanita mungil yang ada di hadapannya.
"Kemilau Senja!!!" teriak Rena senang sambil memeluk Qia.
Sontak, tiga lelaki yang ada di tempat itu saling berpandangan. Sementara itu, Qia hanya bisa pasrah.