Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
23. Selamat, ya, Qi!



Hari itu sekolah tempat Taqiya mengajar mengadakan School Got TalentSGT). Salah satu jenis yang dilombakan adalah literasi. Sebagai guru pembimbing, mau tidak mau Qia harus datang karena ia akan menjadi salah satu juri. Sebenarnya tidak ada persoalan, karena ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk bangkit dan bersikap tegar dalam menatap masa depan. Ia tidak ingin menyusahkan orang lain, terutama ayah dan ibunya, meski berbagai persoalan masih membelit.


Qia berjalan santai di samping Ningrum menuju aula. Rupanya, hampir semua guru sudah berkumpul di sana. Begitu juga dengan para siswa. Tidak ada sesuatu yang istimewa, hampir semua orang bersikap sewajarnya. Hanya saja, begitu Qia dan ningrum tiba di dekat tempat duduk para guru, tiba-tiba sebuah suara cempreng menyeletuk.


“Wah, selamat, ya, Qi. Saya turut bersuka cita, nih, atas lamarannya … Jangan lupa undangannya, ya?”


Secara spontan semua mata tertuju pada sumber suara itu, kemudian beralih pada Qia. Ya, Ninis memang sengaja memberi tahu pada semua orang, terutama Andre kalau Qia sudah dilamar dan akan segera menikah.


“Beneran, kamu mau menikah, Qi? Kok gak bilang-bilang?” tanya Ningrum kaget. Secara spontan ia menatap Andre. Saat itu, sang pemilik yayasan juga sedang menatap Qia dan dirinya secara bergantian dengan wajah penuh tanya. Jelas sekali lelaki itu sedang menunggu jawaban dari Qia.


Mendapat serangan mendadak dari Nisnis seperti itu, tentu saja Qia tidak siap. Ia jadi gelagapan untuk beberapa saat. Sungguh, gadis itu juga menyayangkan Sikap Ningrum yang secara spontan bertanya seperti itu di hadapan semua orang. Ia tahu, Ningrum tidak bermaksud menjatuhkannya, beda dengan Ninis. Hanya saja, pertanyaan Ningrum itu semakin membuat Qia serba salah. Untuk menghilangkan rasa gugupnya, Qia hanya tersenyum tipis kemudian menganggukkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Setelah itu, ia lalu duduk di kursi yang sudah disediakan untukya. Meski suasana terasa tidak nyaman, gadis itu mencoba untuk menguatkan hatinya.


Sementara itu, kasak-kusuk di antara para guru mulai terdengar. Bagaimana pun, kasus yang melibatkan Qia dan Prasetyo masih viral. Hampir semua guru mengetahui, meski tidak secara pasti. Mereka hanya tahu kulitnya, terlebih banyak berita simpang siur terkait keberadaan Prasetyo dan Qia. Namun, Qia tidak mempedulikan itu semua.


***


“Apa benar Ustazah Taqiyah akan menikah?” tanya Andre pada Ningrum ketika sahabat Qia itu mengantarkan berkas-berkas ke ruangan Andre.


“Dug.” Ditanya seperti itu, jantung Ningrum lagsung berdebar-debar. Jujur ada perasaan nyeri di sudut hatinya yang paling dalam. Bagaimana tidak, lelaki yang amat dicintainya menanyakan perihal pernikahan pada sahabatnya, meski ia sendiri sedang berusaha sekuat tenaga untuk belajar ikhlas, jika sewaktu-waktu lelaki itu betul-betul berjodoh dengan Qia.


"Maaf, saya tidak tahu, Pak Andre," jawab Qia jujur.


“Sebagai teman dekat, masak Ustazah tidak tahu?” tanya Andre lagi tanpa mengalihakan pandangan dari berkas-berkas yang dia tanda tangani.


Ningrum terdiam beberapa saat. Ditodong seperti itu, ia jadi merasa tidak enak. Sungguh, ia khawatir kalau Pak Andre mengira dirinya menutup-nutupi fakta yang sesungguhnya.


“Maafkan saya, Pak. Biasanya Ustazah Taqiya memang selalu terbuka pada saya. Namun, kali ini beliau sama sekali tidak cerita apa-apa. Mungkin karena waktunya terlalu mendadak. Kita sendiri juga tahu kalau ustazah Taqiya sedang mengalami masa sulit,” jawab Ningrum kalem.


Mendengar itu, Andre meghentikan aktivitasnya sejenak, kemunian menatap Ningrum. Ditatap seperti itu, tentu saja Ningrum menjadi gugup seketika. Namun, Andre menjadi salah sangka. Ia mengira kegugupan Ningrum itu disebakan karena gadis itu telah menyembunyikan fakta yang sesungguhnya tentang Qia.


Karena itu, seketika raut muka Andre agak berubah. Hal itu membuat Ningrum semakin merasa tidak nyaman. Ia bisa merasakan, tatapan Andre itu seolah-olah memancarkan ketidakpercayaan padanya. Kini Ningrum jadi serba salah.


“Apa Ustazah juga tidak tahu, dengan siapa Ustazah Qia akan menikah?” tanya Andre lagi.


“Tidak, Pak. Untuk masalah pernikahan, Ustazah Qia memang belum cerita apa-apa. Tadi setelah acara lomba, saya juga belum sempat bertanya karena Ustazah Taqiya langsung pulang. Menurut Ustazah Ninis, Ustazah Taqiya akan menikah dengan adik dari mantan tunangannya. Tapi, itu masih belum pasti kebenarannya. Pak Andre kan tahu, bagaimana Ustazah Ninis itu.“


Mendengar jawaban Ningrum, Andre Kembali mendongakkan kepala, menatap Ningrum dengan tatapan yang sekali lagi sulit untuk diartikan maknanya. Namun, sang ketua yayasan itu tidak bertanya lagi, sampai-sampai gadis itu semakin merasa tidak enak


“Saya rasa, Pak Andre belum terlambat,” ujar Ningrum ragu-ragu.


“Maksud Ustazah apa?” tanya Andre dengan nada agak tersinggung.


“Maafkan saya, Pak Andre. Saya tidak bermaksud seperti itu,” jawab Ningrum tidak jelas. Sekali lai, ia merutuki kebodohannya.


”Tidak bermaksud apa?” cecar Andre. Ningrum jadi semakin gugup.


“Maaf, kalau saya lancang, Pak Andre. Namun, hampir semua guru di sini mengira kalau Pak Andre menyukai Ustazah Qia,” jawab Ningrum memberanikan diri. Saat mengatakan itu, ia dalam posisi menunduk, sama sekali tidak berani menatap Andre.


“Lantas?”


“Pak Andre sendiri pernah bilang, selama belum ada janur melengkung, Ustazah Taqiyah masih milik umum,” jawab Ningrum ragu-ragu


Mendengar itu, Andre terlihat menarik napas Panjang dan menghempaskannya dengan agak kasar.


“Ya, Ustazah Ningrum benar. Sebelum janur kuning melengkung, Ustazah Qia masih milik umum,” jawab Andre.


Namun, sangat jelas kalau jawaban itu penuh dengan keraguan. Kelihatan sekali kalau lelaki itu sedang mencari pembenaran dan pengakuan atas pendapatnya. Pasalnya, pemimpin Yayasan itu mengetahui mana yang patut dan mana yang tidak.


Memang, ada perbedaan pendapat terkait kebolehan seseorang melamar wanita yang sudah dilamar orang lain, apalagi wanita itu sudah setuju. Terkait dengan hal itu, ada ulama yang membolehkan, ada pula yang melarang. Akan tetapi, jumhur ulama ternyata mengharamkan, dan Andre mengetahui hal itu.


“Ya sudahlah, yang penting ada yang membolehkan,” batin Andre ragu.


Sementara itu, Ningrum jadi agak lega begitu mengetahui kalau Andre tidak marah atas kelancangannya. Untunglah, berkas-berkas yang harus ditandatangani Andre sudah selesai semua. Ia pun bisa keluar dari ruangan itu dengan selamat.


***


Hari-hari berikutnya, Qia menjalani hidupnya dengan normal. Ia sudah tidak peduli lagi dengan omongan orang, meski terkadang sikap dan kata-kata mereka sering menyakitkan. Ia sudah berjanji untuk menyongsong masa depan dengan tegar, dan ia ingin betul-betul merealisasikan, meski terasa berat. Qia tahu, ada orang-orang yang senantiasa menyayangi dan mendukungnya, seperti kedua orang tuanya, Umi Silmi, Abi Kun, Aina, dan masih banyak lagi yang lain, meskii yang menghujatnya juga banyak. Ia yakin, sedikit orang yang berkualitas dan memberi dukungan lebih berarti daripada banyak orang tetapi toxic.


Satu lagi, Qia juga tidak peduli Ketika sikap Andre padanya berbeda. Entah apa artinya, yang jelas gadis itu merasakan kalau tatapan Andre padanya tidak sama seperti dulu sejak ada berita kalau dirinya akan menikah,


“Baguslah, mungkin ini yang terbaik. Dengan begini, Pak Andre tidak akan pernah berharap lagi padaku. Yah … satu bebanku akan hilang, dan aku bersyukur akan hal itu,” bisik Qia dalam hati. Ia pun akhirnya bisa bernapas dengan lega.


Hanya saja, ternyata dugaan Qia itu meleset, bahkan serratus delapanpuluh derajat. Tanpa ia ketahui, ternyata Andre sedang bersiap-siap untuk melamarnya. Ya, kali ini Andre tidak akan mengalah. Ia tidak mau kecolongan lagi seperti sebelumnya. Ia benar-benar ingin menjadikan Qia sebagai miliknya.


-Bersambung