
Tiba di jalan yang agak sepi, spion motor Satrio menangkap beberapa motor dan mobil yang berjalan tidak wajar. Kelihatan sekali kalau beberapa kendaraan itu sengaja mengikutinya.
"Sial ... berani sekali mereka ngikutin gue. Siapa sebenarnya mereka? Apa bocah tengik preman kampus itu?" batin Satrio kesal.
Masalahnya, ia sedang terburu-buru. Siang itu Qia ada jadwal mengajar ekstrakurikuler dan Satrio sudah berjanji untuk mengantarkan.
Namun begitu, suami Qia itu masih tetap tenang. Ia pura-pura tidak menyadari kalau sedang dibuntuti.
"Oke ... mari kita lihat, apa maunya cecunguk-cecunguk itu?" batin Satrio lagi.
Ia menambah kecepatan motornya. Orang-orang yang membuntutinya itu juga menambah kecepatan.
Tiba di jalan yang agak sepi, Satrio menghentikan motor kemudian memutar balik motornya ke belakang. Ia memilih tempat itu karena di sebelah kiri jalan itu ada tanah kosong yang cukup lapang.
Mobil yang tadi mengikuti pun ikut berhenti. Empat orang yang ada di dalamnya langsung turun dan mengepung Satrio. Salah satunya adalah Bayu. Begitu juga dengan pengendara motor. Semua ada tiga motor, masing-masing dikendarai oleh dua orang. Semua menempati posisi masing-masing.
"Oh, elo. Gue kira siapa, ternyata hanya seorang banci yang suka merayu istri orang."
Satrio menatap mereka dengan tajam. Bibirnya membentuk seringai tipis.
"Jaga bicara lo! Nyawa Lo sekarang ada di tangan gue, jadi jangan berlagak seperti jagoan. Berdoalah semoga gue berbelas kasih pada lo."
Bayu berteriak lantang. Mukanya merah padam. Ia tidak terima dikatai sebagai banci.
"Ha ha ha ... Lihatlah, banci mana yang berani berkoar-koar. Kemarin saja lo sudah terkencing di celana. Bahkan, bonyok di hidung lo itu belum kering benar." Satrio tertawa mengejek.
"Kurang ajar. Lihat saja, gue tidak akan mengampuni lo." Hati Bayu bertambah panas.
"Ayo, cepat serang dia, tunggu apa lagi!" Bayu berteriak marah. Kali ini ditujukan ke anak buahnya.
Empat orang sekaligus langsung menerjang Satrio. Dari gerakannya, kelihatan sekali kalau mereka adalah orang-orang yang terlatih, jauh berbeda dengan teman-teman Bayu yang ada di kampus beberapa hari yang lalu.
Namun, Satrio adalah yang terbaik di satuannya. Tidak hanya sekadar menghindar, beberapa kali tendangan harimaunya mengenai sasaran. Hanya dalam hitungan menit, empat orang itu langsung jatuh terkapar.
Melihat itu, lima orang yang tersisa langsung menyerang. Satu pukulan hampir saja mengenai Satrio. Untung saja pemuda itu berhasil menangkis dan mengirimkan pukulan balasan.
"Tandukan naga jantan, hiaaa!!"
Bersamaan dengan teriakan itu, orang yang tadi hampir memukul Satrio kini jatuh tersungkur sambil memegangi dada. Ya, jurus tandukan naga jantan ini memang menyasar ulu hati. Meski Satrio tidak mengerahkan seluruh tenaga, tak urung sang lawan keok juga.
Tinggal empat orang. Mereka terlihat semakin bringas dan tidak gentar. Satrio tidak ingin berlama-lama. Masih dengan jurus naga jantan dikombinasikan dengan tendangan harimau, empat orang itu akhirnya terdesak.
Melihat itu, empat orang yang sebelumnya sudah terkapar, kini bangkit dan maju lagi. Mereka menyerang Satrio bersama-sama.
Tentu saja Satrio tidak gentar. Maju semua berarti kerjaannya cepat selesai.
"Hap ... Hiaa!!"
Tamparan naga jantan yang dilakukan dengan kecepatan tinggi mampu membuat beberapa orang langsung oleng. Tak hanya pipi mereka yang bengkak. Bahkan, ada yang giginya langsung rontok.
Karena tidak ingin berlama-lama, Satrio melakukan perlawanan sambil bergerak ke sisi kanan. Di sana ada Bayu yang menonton perkelahian itu dengan hati berdebar-debar. Preman kampus itu betul-betul tak menyangka kalau Satrio bukanlah sembarang preman. Dalam hati pemuda itu mengakui kalau suami Qia itu memang sangat hebat.
Satrio segera menyapu mereka dengan tendangan harima serta jurus naga jantan.
"Bukk!!"
"Aaahhh!"
"Aww!"
Satrio berdiri tegak menantang. Tangannya bergerak mengibas-ngibas, seperti gerakan orang membersihkan debu di bajunya. Tatapan matanya yang setajam elang itu kini mengarah ke Bayu. Dengan perlahan tapi pasti, kaki jenjangnya melangkah ke tempat Bayu berdiri membuat pemuda itu gemetaran.
"Damn it!!" batin Bayu kesal.
Namun, sebelum Satrio berhasil mencapai tempat Bayu, satu orang yang tadi terkena tandukan naga jantan di ulu hatinya tiba-tiba melepaskan tembakan peringatan ke udara.
Satrio menghentikan langkah dan berbalik menghadap ke orang itu.
"Dasar amatiran!" batin Satrio. Andai orang itu profesional, ia tidak akan melepaskan tembakan peringatan, tetapi langsung menembak ke arahnya.
Satrio menatap tajam orang itu. Bibirnya tampak menyeringai.
Sementara itu, orang yang membawa revolver itu berjalan mendekat dan menodongkan senjata api itu ke arah Satrio sambil tertawa menyeringai.
"Jangan coba-coba melawan, atau kepala lo akan pecah!' Ia merasa di atas angin.
Jarak mereka kini tinggal beberapa langkah. Kalau orang itu menarik pelatuknya, bisa saja kepala Satrio sudah bolong. Hanya saja, ia merasa terintimidasi dengan tatapan tajam Satrio.
"Langsung tembak saja, jangan kasih ampun," teriak Bayu. Kali ini dengan suara lantang.
"Duar!" Sekali lagi orang itu melepaskan tembakan sambil tertawa. Hanya saja, bukan ke arah Satrio, tetapi ke udara. Maksudnya untuk menakut-nakuti Satrio.
"Dasar tolol. Kenapa malah main-main? Cepat tembak kepalanya!" Sekali lagi Bayu berteriak kesal.
Menyaksikan itu, Satrio hanya tersenyum mengejek, lebih tepatnya menyeringai.
Tanpa berkata apa-apa, ia melakukan tendangan memutar. Telapak kakinya tepat mengenai revolver orang itu hingga melayang ke udara.
Satrio melakukan salto dengan maksud menangkap senjata itu. Sayangnya, anak buah Bayu lebih dulu menangkapnya dan kembali menodongkan ke arah Satrio.
"Ha ha ha ... tamatlah riwayat lo sekarang," kata orang itu sambil melepaskan tembakan ke atas.
Sayangnya, setelah salto posisi Satrio kini sangat dekat dengan Bayu. Dengan sigap, Satrio menarik keras-keras tubuh preman kampus itu untuk dijadikan tameng.
"Coba saja tarik pelatuknya kalau berani!" ejek Satrio.
"Lo pikir gue tidak berani. Gue adalah penembak jitu. Meski lo menyendera bos, gue pastikan peluru ini akan menembus kepala lo," jawab orang itu sombong.
"Ha ha ha. Dasar b*d*h. Kalian sudah menyia-nyiakan empat peluru dan sekarang hanya tersisa satu atau dua. Lo pikir itu cukup buat melukai gue."
Satrio tertawa keras. Tentu saja ia tahu kalau kapasitas peluru revolver hanya lima atau enam butir saja.
"Beda dengan yang ini. Kalau ini isinya puluhan," lanjut Satrio sambil mengeluarkan pistol dari balik jaketnya kemudian menempelkan ke pelipis Bayu.
Preman kampus itu menelan ludah saat pelipisnya merasakan benda dingin itu. Ia tidak menyangka suami Qia ternyata bukan orang yang bisa disinggung. Selain jago berkelahi, lelaki itu juga punya senjata.
"Bagaimana? Lo ingin mencoba satu saja?"
"Ti ti dak," jawab Bayu cepat.
"Jangan khawatir, gue ini ahlinya. Gue pastikan satu peluru saja langsung menembus pelipis lo. Lo tidak akan sempat merasa sakit," bisik Satrio dingin.
Sekali lagi, Bayu menelan ludah. Meski saat itu Satrio sedang berada tepat di belakangnya, tetapi ia bisa merasakan kalau suami Qia itu sedang tidak main-main.
Ketakutan akhirnya melingkupinya. Bahkan saking takutnya, sampai-sampai ia pipis di celana. Tentu saja bau pipis orang dewasa tidak sama dengan anak-anak.
"Astaga ... Kamu betul-betul ngompol?"