Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
128



Halo Reader, maaf beberapa hari ini Author sering telat upload karena lagi sakit. semoga kali ini tidak mengecewakan. selamat membaca 🤩🤩🤩❤️❤️❤️❤️



Satrio lagi pusing, nih ...


Karena kedua tangannya diborgol, Qia menyeka ujung bibirnya yang terasa perih dengan bagian atas pundaknya. Tenaga lelaki itu sangat besar sehingga pukulannya juga sangat keras.


Qia melirik kerudung yang menempel di bagian pundaknya itu. Kerudung berwarna toska muda itu kini ternoda dengan warna merah.


"Ya Allah, astaghfirullahal, sakit sekali," batin Qia sambil sedikit meringis.


Namun begitu, pandangan matanya tidak berubah. Matanya masih menatap dua lelaki di depannya dengan tatapan sinis. Ini membuat Somat semakin naik pitam.


Akan tetapi, sebelum tangan besar itu mendarat sekali lagi di pipi putih Qia, sebuah tangan besar yang lain menghalanginya.


"Kau? Jangan ikut campur," gertak Somat marah.


"Bodoh! Sudah kubilang, jangan berbuat kasar pada gadis itu, atau Bos akan marah," hardik lelaki yang ternyata bernama Burhan.


"Sudah kubilang, jangan ikut campur. Aku akan bertanggung jawab," balas Somat sengit.


"Tidak akan kubiarkan. Kau pikir, aku tidak akan kena imbas dari ketololanmu itu?"


"Dasar pengecut!"


Somat kembali mengulurkan tangannya untuk memukul Qia. Namun, sekali lagi Burhan menghalangi.


Akhirnya, kedua penjaga itu terlibat perkelahian. Mereka saling pukul dan tendang. Tak lupa, kedua mulut mereka saling mencaci.


Untuk sementara, Qia bisa bernapas lega. Paling tidak, ada penjaga yang berusaha menghalang-halangi Somat untuk menyiksanya. Selain itu, dengan adanya perkelahian mereka, paling tidak selama beberapa waktu Qia bisa terbebas dari intimidasi dua orang itu.


***


Sementara itu, Satrio sudah berada di markasnya sendiri. Pemuda itu betul-betul kelimpungan karena sudah tiga hari belum juga bisa menemukan keberadaan Qia. Jujur ia sangat khawatir. Ia sendiri tidak memperhatikan lukanya yang sebenarnya cukup parah.


"Bagaimana ini Sat? Ibu sangat mengkhawatirkannya," kata Bu Mirna saat mereka membicarakan masalah ini di ruang tengah.


"Ibu yang sabar, ya. Insyaallah sebentar lagi Qia akan ditemukan," jawab Satrio. Ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya agar Bu Mirna merasa tenang.


"Tapi kondisinya lemah sekali, Sat. Kalau terjadi apa-apa dengan bayinya bagaimana?" Kali ini Umi Silmi yang berkata.


Kontan saja kata-kata itu membuat Satrio membelalakkan mata.


"Apa? Bayi? Qia ...."


"Apa belum ada yang memberi tahumu?" tanya Umi merasa tidak nyaman karena keceplosan.


Saat itu, Adrian sudah mewanti-wanti untuk tidak memberitahukan pada Satrio tentang kehamilan Qia agar pemuda itu tidak kalut. Kalau itu terjadi, kemarahan Satrio akan benar-benar memuncak dan ia akan bertindak bodoh, Sementara status kini masih sebagai buronan. Ini akan membahayakan posisi Satrio. Namun, Umi punya pemikiran lain. Justru ia merasa bahwa anaknya itu harus mengetahui yang sesungguhnya.


Benar saja dugaan Adrian. Satrio yang sebelumnya sudah khawatir tentang keberadaan dan kondisi Qia, kini semakin cemas begitu mengetahui kalau istrinya itu sedang hamil muda.


"Tunggu di sini sebentar," ujar Satrio setelah mendengar jawaban Umi. Sungguh ia tidak dapat menyembunyikan raut khawatirnya.


"Kamu mau ke mana, Sat?" tanya Abi cemas.


"Tidak ke mana-mana," jawab Satrio cepat sambil berjalan menuju ruang kerjanya.


Abi dan yang lainnya akhirnya merasa lega begitu melihat Satrio menuju ke ruang kerja, bukan keluar rumah.


Di ruang kerja.


"Ada apa?" tanya Adrian pura-pura tidak mengerti arah pembicaraannya.


"Tidak usah pura-pura polos, lo bukan idiot!" semprot Satrio bertambah kesal.


"Kamu kasar sekali sama kakakmu." Adrian tak kalah kesal.


"Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan."


"Oke oke, tidak ada gunanya kita berdebat. Lebih baik sekarang kita terus mencari, menelusuri tempat-tempat yang sekiranya dijadikan tempat persembunyian, tetapi belum sempat kita pantau," kata Adrian.


Satrio diam. Sebenarnya ia masih sangat kesal. Hanya saja, ia mencoba untuk berpikir jernih. Ia merasa kalau apa yang dikatakan kakaknya itu benar.


Segera, Satrio mengeluarkan ponsel dan ponsel dan memanggil beberapa anak buahnya untuk datang ke ruang kerjanya.


"Datangkan Hendra juga, Kak," kata Satrio pada Adrian. Ia memang belum memutuskan sambungan ke Adrian.


"Oke." Adrian menjawab singkat.


Setelah itu, mereka segera memutuskan sambungan.


Dalam hitungan menit, beberapa anak buah Satrio yang menduduki jabatan penting sudah berkumpul di hadapan Satrio. Suami Qia itu segera memberi instruksi agar mereka segera memerintahkan anak buahnya untuk menyebar dan mencari ke setiap jengkal wilayah yang memungkinkan dijadikan sebagai tempat persembunyian.


"Siap, Bos," jawab mereka serentak.


Setelah itu mereka langsung bubar kemudian segera berkoordinasi dengan anak buah masing-masing. Ini adalah hari ketiga pencarian mereka. Ada beberapa titik yang sudah ditentukan oleh Satrio sebagai sasaran.


Beberapa saat, ruangan itu terasa sunyi. Satrio memijit pelipisnya yang semakin terasa berdenyut.


"Maafkan Kakak, Qi. Kakak terlalu berambisi untuk segera keluar dari masalah ini hingga menjadi gegabah seperti ini," batin Satrio.


Untuk pertama kalinya, ia begitu menyesali keputusannya saat menjalani misi.


"Kau tahu, Sayang, Kakak sungguh bahagia mendengar kabar bahwa kita akan memiliki bayi. Namun, sekarang kalian dalam keadaan bahaya. Sungguh, Kakak tidak akan bisa memaafkan diri sendiri kalau sampai terjadi sesuatu pada kalian," batin Satrio sedih.


Untuk beberapa saat, Satrio tenggelam dalam lamunan panjang, hingga ia tidak tahu kalau Hendra sudah berada dekatnya dan duduk dengan manis.


"Belum selesaikah melamunnya, Bos?" Suara Hendra mengagetkan Satrio.


Satrio tampak gelagapan.


"Kau ini, kenapa tidak mengetuk pintu dulu?" gerutu Satrio kesal sambil menepuk kepala Hendra ringan dengan koran dan ada di depannya.


"Maaf, Bos. Tadi saya sudah mengetuk pintu berkali-kali, tetapi Bos tidak dengar. Ngomong-ngomong, asik bener melamunnya?"


Sekali lagi Satrio menepuk kepala Hendra dengan gulungan koran. Satrio semakin bertambah kesal.


Untungnya, konflik kecil itu segera berakhir. Hendra sendiri tidak mau memperpanjang karena tahu kalau situasi sedang tidak memungkinkan. Ia tahu kalau Bosnya itu sedang tidak ingin diajak bercanda


Akhirnya, mereka pun berdiskusi tentang kasus hilangnya Qia.


"Jelas, yang membawa adalah Qia adalah Wijaya. Namun, kita tidak bisa langsung menuduhnya karena tidak ada bukti sama sekali. Dia itu licin sekali," kata Satrio.


"Saya paham, Bos. Sepertinya memang tidak ada celah sama sekali. Apalagi, ahli IT Mereka juga tak kalah canggih dengan tim kita. Ini sangat sulit untuk dideteksi. Namun, kita masih punya satu cara, agar keberadaan Kakak Ipar segera terlacak," kata Hendra bersemangat.


"Oh ya? Apa itu?" tanya Satrio cepat, penuh semangat.


Kadang-kadang, ide-ide Hendra memang rada absurd, tetapi tidak ada salahnya untuk dicoba. Terkadang, justru yang absurd itu malah yang paling jitu.