
Baik Pak Wijaya maupun Bayu sebenarnya masih sangat kesal dengan penolakan yang dilakukan oleh Qia. Itu sebabnya, mereka sangat penasaran, seperti apa lelaki yang diterima oleh gadis itu. Akhirnya, Pak Wijaya dan Bayu sama-sama memerintahkan anak buah mereka untuk mencari tahu tentang Satrio. Tentu saja mereka bertambah kesal setelah mengetahui bahwa Satrio hanyalah seorang pemuda biasa. Pekerjaannya juga tidak jelas, bahkan beberapa kali terlihat pemuda itu tidak melakukan apa-apa. Setidaknya, itulah identitas Satrio di mata orang.
Secara legal, Satrio memang tidak tercatat sebagai putra Umi Silmi dan Abi Kun. Sejak bayi, ia diasuh oleh tantenya, Lestari Amalia. Adik dari Umi Silmi itu pernah keguguran setelah terjatuh dari tangga. Padahal, usia kandungannya sudah cukup tua. Itu sebabnya, wanita cantik itu syok, bahkan hampir gila karena kehilangan anaknya.
Satrio yang saat itu masih berusia beberapa bulan akhirnya diasuh oleh Lestari, bahkan didaftarkan secara legal sebagai putranya. Itu sebabnya, Prasetyo sangat menyayanginya. Ia merasa bahwa adiknya itu telah direnggut secara paksa dari kasih sayang orang tuanya, meski secara fakta Tante Lestari dan suaminya, Amir Sudiro sangat menyayangi Satrio. Saking sayangnya, bahkan sampai Satrio sendiri baru menyadari bahwa dirinya adalah adik kandung Prasetyo setelah ia dewasa. Itu pun secara tidak sengaja. Namun, di mata hukum dan masyarakat, dirinya adalah putra dari tantenya.
***
Hari itu Qia memutuskan untuk membeli buku untuk literatur skripsinya di toko buku Ampera. Itu adalah salah satu toko buku terbesar dan terlengkap di kota Metropop. Cuaca setengah siang itu memang cukup terik membuat tubuh mungil itu kegerahan. Bahkan, sebelum duduk cantik di atas angkot tadi, tubuh Qia sudah mulai bermandi peluh. Apalagi, setelah berbaur dengan kerumunan orang di pusat kota seperti ini. Akan tetapi, demi skripsinya, Qia rela melakukan itu semua.
"Semangat ...." pikirnya.
Saat hendak menyeberang jalan, tanpa sengaja mata Qia bersirobok dengan sepasang mata yang menatapnya dengan tajam. Hanya sekilas, karena orang itu buru-buru memalingkan muka. Namun, entah mengapa Qia merasa tidak nyaman. Lelaki itu memandangnya seolah sudah sangat mengenal Qia. Padahal, Qia baru pertama kali melihatnya. Dengan pura-pura tidak memperhatikan, Qia lalu menyeberang jalan.
Setelah tiba di seberang, Qia menuju ke pedagang kaki lima yang berada tak jauh dari tempatnya. Qia sengaja membeli air mineral agar memiliki alasan untuk menoleh ke belakang. Ia ingin tahu apakah orang yang tadi memperhatikan dirinya itu masih ada di belakangnya atau tidak. Firasatnya mengatakan kalau orang itu memiliki niat yang tidak benar.
Benar saja dugaannya. Lelaki bermata tajam itu juga ikut menyeberang, tetapi tidak langsung menghampiri dirinya. Ia malah berjalan ke arah kanan dan menghampiri penjual koran. Mungkin sama seperti Qia, lelaki itu juga butuh sesuatu untuk pengalihan.
Meski begitu, apa yang dilakukan oleh lelaki itu belum menjadi petunjuk bahwa ia tengah memiliki rencana buruk. Karena itu, Qia memutuskan untuk masuk ke toko pakaian, tidak jadi ke toko buku. Ia berjalan di antara pakaian-pakaian itu sambil memperhatikan sekelilingnya.
Ternyata dugaan Qia benar. Orang yang tadi memperhatikannya ternyata masuk ke toko pakaian juga. Meski tidak terlalu mencolok, mata tajam itu terlihat mencari-cari keberadaan seseorang. Sepertinya memang ia sedang mencari Qia. Sementara, tubuh mungil Qia sedang tenggelam di balik aneka pakaian yang bergantungan. Jantungnya mulai berdetak tak beraturan.
Tatapan lelaki itu kemudian beralih ke jajaran baju yang digantung lebih tinggi. Ya, itu adalah tempat Qia bersembunyi. Dengan berdebar-debar, gadis lalu berjalan merambat ke tempat lain. Namun, ternyata lelaki itu menemukan keberadaannya. Sebenarnya lelaki itu tidak melakukan apa-apa. Ia hanya diam-diam memperhatikan dan mengamati Qia dari kejauhan. Namun, apa pun namanya, tetap saja tindakan itu tidak bisa dibenarkan. Ini adalah bentuk pelanggaran.
Qia merasa tidak ada gunanya bersembunyi. Ia memutuskan untuk keluar dari tempat itu dan bermaksud menuju ke toko buku. Ya, jiwa fiksinya mulai berteriak. Kebanyakan membaca novel mafia membuat pikirannya mengembara. Ia merasa, toko busana adalah tempat yang sangat berbahaya. Andai orang itu berniat untuk menembakkan pistol dengan peredam suara padanya, maka itu akan lebih mudah dilakukan dengan bersembunyi di balik pakaian. Berbeda jika di toko buku. Di samping tempatnya relatif tenang, rak-rak buku itu juga tidak memungkinkan untuk bersembunyi. Itu sebabnya, Qia merasa lebih aman. Meski kalau dinalar, keduanya sama-sama berbahaya.
Seperti yang diduga sebelumnya, lelaki itu terus saja menguntit Qia dari jarak cukup jauh. Sementara, Qia semakin mempercepat langkahnya menuju ke toko buku Ampera. Suasana saat itu masih cukup ramai. Namun, semua orang fokus pada urusan masing-masing, tak peduli pada urusan orang lain.
"Maaf," kata Qia gugup sambil membantu orang itu memungut buku-buku yang berserakan. Tanpa diduga sama sekali, saat ia berdiri mau menyerahkan buku-buku tadi, pria itu lebih mendekat ke arahnya dan dengan cepat menodongkan pisau ke arah Qia.
"Jangan teriak dan jangan banyak gerak. Berjalanlah dengan wajar dan jangan banyak tingkah. Sekarang ikuti aku!" kata orang itu dengan suara dingin menyeramkan.
Qia tidak bisa berbuat apa-apa. Kejadian itu terlalu cepat. Tadinya ia bersikap waspada terhadap orang yang membuntutinya, ternyata malah orang lain menyerangnya. Dengan sangat ketakutan, ia mengikuti pria itu. Ia bisa merasakan ujung lancip pisau milik pria itu yang menyentuh rusuknya. Namun begitu, ia berusaha untuk berjalan secara wajar karena tidak mau ujung pisau itu merobek kulitnya.
Prima dingin berpakaian hitam itu terus berjalan ke arah kanan diikuti Qia. Beberapa meter kemudian, mereka masuk gang yang lumayan sempit. Tempat itu cukup sepi. Namun, sebelum mereka masuk terlalu jauh, tiba-tiba sebuah suara menghentikan mereka.
"Berhenti!"
Pria pemilik pisau dan Qia serentak berhenti dan menoleh ke sumber suara. Qia sangat terkejut. Ternyata itu adalah lelaki bermata tajam yang tadi mengikuti Qia.
"Jangan mendekat, atau pisau ini menggorok lehernya!" ancam prima yang menyandera Qia sambil memindahkan pisau dari pinggang ke leher Qia yang tertutup kerudung besar.
"Ha ha ha ... silakan saja. Aku tidak mengenal gadis itu. Dia mati pun, aku tidak akan rugi," teriak sang penguntit sambil terus berjalan mendekat ke arah mereka. Rupanya mereka bukan berasal dari kubu yang sama
Qia semakin ketakutan. Namun, sampai orang itu mendekat pun, penyandera itu belum juga berbuat apa-apa. Dari sini, Qia menyimpulkan bahwa dua orang ini tidak berniat membunuhnya. Sepertinya mereka membutuhkan Qia dalam kondisi hidup. Untuk sementara ia merasa sedikit lega.
"Serahkan gadis itu padaku, aku akan mengampunimu!" teriak orang itu lagi.
"Jangan mimpi! Berhenti bergerak, atau aku akan benar-benar menggorok lehernya." Lelaki yang menyandera Qia balik menggertak.
Qia semakin ketakutan. Dalam keadaan seperti itu, pikirannya tiba-tiba menjadi buntu.