
...Hanya Kuda Troya...
...Oleh: Kemilau Senja...
...Cantik...
...Molek...
...Tak bercela...
...Aku terpana...
...Putihku...
...Merahmu...
...Beradu riuh...
...Aku terpaku...
...Tak terhitung berapa waktuku...
...Kuberikan utuh...
...Nyata, diriku tertipu...
...Telah lama...
...Kujaga samudera...
...Jangankan gelombang...
...Sekadar riak pun enggan...
...Bertanding dan menyerang...
...Namun,...
...Lancang dirimu menerjang...
...Tersadarku dari lamunan panjang...
...Marah di dada merasuk jiwa...
...Karena...
...Ternyata kau hanyalah kuda Troya...
...***...
Qia memposting puisi itu di beranda Kemilau Senja. Jujur ia sedang kesal dan ingin menumpahkan unek-uneknya.
Sejak Satrio menunjukkan padanya bahwa Andre dan Andrea adalah orang yang sama, ia betul-betul kecewa, terutama ketika mengingat kedekatan hubungan dirinya dengan Andrea selama ini.
Andrea sering curhat tentang persoalannya. Meski sudah diberi solusi, tetap saja ia tidak pernah puas dan terus bertanya. Bahkan, terkadang ia suka bertanya yang aneh-aneh. Tak tahunya semua hanya rekayasa belaka.
"Hiii." Qia bergidik.
Tanpa disadari, ternyata selama ini dirinya telah berkhalwat di dunia maya. Padahal, selama ini Qia berusaha untuk menjaga agar dirinya terhindar dari hal itu, sedapat mungkin. Tentu saja ia sangat marah.
Qia sependapat dengan suaminya. Apa pun alasannya, tindakan Andre tersebut amat sangat tidak benar. Hanya lelaki pengecut saja yang sanggup melakukan hal itu.
"Pantas ia sok kenal dan sok akrab," batin Qia.
Gadis bermata kelinci itu sangat menyesal dan merutuki kebodohannya berkali-kali.
"Astaghfirullah."
Hilang sudah kesan baik yang ia tangkap dari diri Andre di dunia nyata. Ternyata semua itu hanya pencitraan belaka. Lelaki itu pura-pura baik hanya untuk memenangkan hatinya. Pantas saja ia merasa tidak nyaman. Ada satu hal yang membuat dirinya secara alami melakukan penolakan. Sebelumnya Qia tidak tahu alasannya, kini keraguan itu terjawab sudah.
Dulu Qia sempat kepikiran untuk mencari tahu siapa sebenarnya Andre, tetapi karena ada kasus serius yang sedang ia hadapi, ia menunda untuk sementara. Namun, justru suaminya yang lebih dulu menemukan, hanya dengan satu kali mendengar nama Andrea.
"Luar biasa," pikir Qia. "Kenapa aku tidak kepikiran sama sekali?" Gadis itu diam-diam mengagumi kepintaran suaminya.
Tentu saja, Qia memang terlalu polos, hampir tidak pernah suuzan pada orang lain.
"Kenapa masih belum tidur?"
Tanpa menunggu jawaban dari sang gadis, pemilik kepala itu masuk. Ia menutup pintu, kemudian menuju kasur Qia. Masih dalam mode tanpa suara, orang itu langsung berbaring di kasur Qia.
"Ka Kakak ma mau a apa?" Suara Qia tergagap. Jantungnya serasa berlompatan. Ia buru-buru menutup ponsel dan memasukkan ke dalam tas yang ada di sebelah kirinya.
Di samping kanan, pemuda tampan itu tersenyum sangat manis dan dengan santainya meraih pinggang Qia dan mendekatkan kelinci kecil itu ke arahnya.
***
Sementara itu, di tempat terpisah Andre sedang membaca puisi yang ada di beranda Kemilau Senja. Lelaki tampan yang terlihat berwibawa itu membacanya berulang-ulang, mencoba menyelami apa maknanya. Tidak mudah memang. Namun sejauh yang ia pahami, ia menangkap bahwa puisi tersebut bercerita tentang kemarahan dan kekecewaan. Kuda Troya menunjukkan adanya siasat licik dan penipuan.
Inikah yang sedang dialami oleh Kemilau Senja? Jantung Andre berdebar-debar. Putra Wijaya Kusuma itu semakin yakin kalau gadis pujaannya sedang tidak bahagia dalam pernikahannya.
Kemarin Qia membuat puisi yang isinya ketidakpercayaan. Ia merindukan kepastian. Dan sekarang? Lewat puisi yang baru diposting beberapa menit yang lalu, gadis cantik itu mengungkapkan kemarahannya karena ditipu dan dibohongi suaminya.
"Sial*n Satrio! Harusnya waktu itu aku tidak menyerah. Harusnya waktu itu kubiarkan Papa menyuruh anak buahnya untuk mengatasi itu semua," sesal Andre.
Ya, waktu itu Wijaya Kusuma memang ngotot dan tidak terima saat lamaran mereka ditolak. Bahkan, ayah dari Andre itu sempat menghubungi anak buahnya untuk menyelidiki calon suami Qia.
Namun, berkali-kali Andre mewanti-wanti sang Papa agar tidak menggagalkan pernikahan gadis itu. Meski tanpa sepengetahuan Andre, Wijaya Kusuma tetap, merealisasikan niatnya. Hanya saja, rencana itu gagal total karena kekonyolan si Jack.
Satu-satunya yang dipikirkan Andre saat itu adalah kebahagiaan Qia. Kalau gadis itu memang bahagia dengan pernikahannya, ia rela.
Kenyataannya, sekarang ia mendapati kalau cinta dalam diamnya itu sedang menderita dan tidak bahagia dengan pernikahan itu.
Rasa cinta dan keinginan untuk memiliki kembali membuncah di dada. Otomatis, kebenciannya pada Satrio semakin mendalam.
"Gara-gara lelaki yang tak tahu dari mana juntrungannya itu, semua rencanaku berantakan," batin Andre kesal.
Lelaki ganteng pemilik yayasan itu melirik jam di pergelangan tangannya.
"Masih pukul sembilan malam," pikirannya.
Ia segera mengambil ponsel dan segera menghubungi Qia atas nama Andrea.
[Assalamu'alaikum Kemilau Senja. Bagaimana kabarnya, nih? Andrea pingin curhat-curhat. Ada waktu gak?] *** Kirim
Centang satu.
Sambil menunggu, Andre kembali melihat-lihat beranda Kemilau Senja, mencoba untuk berpartisipasi dan memberi like dan komen pada tulisan-tulisan Kemilau Senja, terutama puisi yang baru saja diposting oleh gadis itu. Ternyata banyak juga yang merespon tulisan itu.
Saat itu, Andre masih bisa berinteraksi dengan Qia di dunia maya karena gadis itu lupa untuk memblokir akun medsosnya juga.
Beberapa saat, Andre mencoba untuk kembali melihat pesan di WA. Masih centang satu juga.
Lelaki itu mencoba untuk bersabar.
"Mungkin ia sedang istirahat," pikirannya.
Karena itu, Andre memutuskan untuk melakukan aktivitas lain. Ia tidak mau mengganggu istirahat gadis yang dicintainya. Bagaimanapun, kesehatan dan kenyamanan Qia lebih utama. Itu sebabnya, ia memutuskan untuk memeriksa berkas-berkas dari kantor yang tadi dibawanya.
"Tenanglah, Qi. Bersabarlah, aku akan segera membebaskanmu dari belenggu Satrio," tekad Andre.
Baginya, memutuskan hubungan Qia dengan lelaki berwajah datar itu sangat mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Anak buahnya banyak dan mereka semua sangat berkompeten. Belum lagi anak buah ayahnya yang tak terhitung jumlahnya. Sekali menjentikkan jari, mereka pasti langsung bergerak.
Hanya saja, selama ini Andre hampir tidak pernah menyalahgunakan kekuasaan dan kemudahan yang ia punya. Ia selalu berusaha dengan kemampuan sendiri untuk mencapai apa pun yang ia cita-citakan.
Andre tidak pernah meminta tolong pada kedua orang tuanya. Meski tanpa ia ketahui, papanya selama ini selalu membantunya dari jauh agar jalan yang dilalui Andre tetap mulus-mulus saja.
***
Begitu membuka mata, hal pertama yang dilakukan Andre adalah meraih dan membuka ponselnya. Jujur semalam ia sangat gelisah karena memikirkan keadaan Qia.
Pria muda itu sangat khawatir kalau-kalau sang dara pujaan sedang mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan, atau bahkan membahayakan.
Pemaksaan? Penganiayaan? Atau tindakan KDRT lainnya. Membayangkan saja Andre sudah bergidik.
"Gadis polos dan lembut itu pasti menderita dan tersiksa di hadapan Satrio yang dingin dan jutek itu," pikir Andre.
Karena itu, buru-buru Andre membuka ponselnya dan memeriksa chatingannya.
"Masih centang satu," batin Andre kecewa. " Mungkin Qia lupa menghidupkan ponselnya. Atau bisa saja benda pintar itu rusak? Atau jangan-jangan malah suaminya yang merusaknya?"
Andre mencoba untuk tetap bersabar, meski kalau ingat Satrio, bawaannya kesal. Ia sama sekali tidak menyangka, kalau sebenarnya Qia telah memblokir nomornya.