Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
116. Mengalah untuk Menang 1



Di bawah todongan beberapa senjata laras panjang, Satrio ditutup matanya dengan seutas kain, kemudian dibawa ke suatu tempat rahasia tak jauh dari simpang tiga. Untungnya anak buah Satrio masih bersikap sopan, meski mereka tetap memperlakukan lelaki itu sebagai tawanan. Hanya saja, tugas mereka hanya membawa Satrio ke tempat itu, setelah itu mereka kembali ke kesatuan.


Selanjutnya, Satrio dikawal oleh pasukan lain dan digiring ke markas rahasia, entah di mana jelasnya. Kedua tangannya pun diborgol.


Suami Qia itu akhirnya sampai di ruangan yang cukup pengap dan lembab, penutup matanya masih belum dibuka sehingga lelaki itu tidak mengenali tempat itu.


"Cepat dikit, jangan lelet kayak perempuan!" bentak seseorang sambil menendang lutut Satrio hingga pemuda itu terjatuh.


"Sial!" umpat Satrio dalam hati.


Ia adalah orang terbaik di kesatuannya. Baginya mudah saja mengalahkan mereka semua, terlebih ia memiliki alat canggih di tangan dan kakinya. Namun, ia tidak mau menuruti amarahnya karena tidak ingin mengacaukan rencana yang sudah ia susun rapi bersama dengan Adrian.


Karena itu, ia sama sekali tidak membalas, meski mendapat perlakuan yang sangat tidak mengenakkan. Dengan cepat, suami Qia itu lalu bangkit dan berjalan sesuai arahan orang-orang bersenjata itu.


"Sudah kubilang, jangan lelet seperti perempuan," hardik orang itu lagi sambil memberikan dua tendangan yang sangat keras sekaligus.


Kali ini mengenai pinggang dan punggungnya membuat adik dari Adrian itu terjerembab beberapa meter.


Adrian yang menyaksikan semua itu di layar komputer yang ada di ruang kerjanya sampai mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Dengan cepat, Satrio bangkit. Karena tubuhnya masih bisa berdiri tegak, lelaki yang tadi menendangnya itu lalu memberikan tendangan memutar ke arah mukanya. Begitu keras tendangan itu sampai bibir dan sudut mata Satrio mengeluarkan berdarah.


Kedua tangannya kemudian dirantai di atas tiang dengan posisi berdiri. Begitu juga dengan kedua kakinya. Secara otomatis ia tidak bisa bergerak dengan leluasa. Untungnya, sebelum diborgol tadi ia sempat mengaktifkan alat pintarnya sehingga keberadaan dirinya bisa dilacak dan dipantau oleh Adrian.


Laki-laki tak dikenal yang tadi menendang Satrio beberapa kali tadi lalu melepaskan penutup mata Satrio dengan kasar. Satrio mengerjab sebentar kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Rupanya di sini markas mereka," batin Satrio sambil memperhatikan tempat itu dengan seksama.


Ada berbagai macam alat penyiksaan di sana. Sepertinya ini adalah markas ilegal. Dulu Satrio dan Adrian sempat mendengar desas-desus tempat ini, dan mencoba untuk melacak pemilik yang sesungguhnya, tetapi selalu gagal. Selain sistem keamanan mereka sangat canggih, rupanya banyak orang penting yang ada di baliknya.


Dengan keberadaan dirinya di tempat itu, maka sekarang ia memiliki kesempatan untuk menyelidiki lebih jauh tentang markas ilegal itu, meski ia tahu, ini tidak akan mudah.


Satrio mengamati lelaki yang baru saja bersikap kurang ajar padanya itu dengan tatapan dingin dan datar, membuat orang itu agak bergetar. Ia tidak menyangka dengan aura Satrio yang begitu menakutkan.


'BRUAK'


Tiba-tiba pintu ruangan dibuka dengan kasar. Beberapa orang pria berpakaian serba hitam masuk sambil membawa senjata laras panjang. Satrio tidak mengenali mereka satu pun. Rupanya orang-orang itu berasal dari kesatuan lain, atau mungkin juga dari pasukan binaan informal seperti yang ia bentuk selama ini.


Namun, tanpa disadari Satrio, di belakang orang-orang berpakaian hitam itu ada sesosok wajah yang ternyata ia kenal.