Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
37. Penyerangan



Satrio, Umi, dan Abi Kun segera naik mobil yang sudah disiapkan. Anak buah Satrio yang bernama Hendra menjadi supir. Sementara, Raka, si penembak jitu duduk di kursi depan, di sebelah Hendra. Satrio duduk sendiri di belakang, sementara Abi Kun dan Umi Silmi ada di tengah. Satrio tidak mengizinkan mereka duduk di belakang dengan alasan keselamatan.


Sementara itu, Rubicon yang tadi mengantar Satrio berjalan lebih dulu di depan. Disusul dengan mobil Satrio dan dua mobil lain di belakang. Iring-iringan itu berjalan secara pasti, demi suatu tujuan.


***


[Bod*h! Kenapa malah menembaknya?]


[Dia hanya ingin menakutinya, Bos]


[Kalau sudah begini, peluang kita untuk mendapatkannya sangat kecil]


[Maaf, Bos, kami akan berusaha lebih keras lagi]


[Peringatkan dia, jangan sampai bertindak gegabah lagi. Aku tidak peduli dengan dendam pribadi mereka. Kuharap ia lebih mengutamakan misi daripada masalah pribadi]


[Siap, Bos]


[Ingat, apa pun yang terjadi, gagalkan pernikahan itu]


[Siap, laksanakan]


***


Jalanan cukup sepi, hampir tidak ada kendaraan lain yang melintas. Iring-iringan itu bergerak normal.


"Tumben tidak macet. Biasanya kan lalu lintas sangat padat," kata Umi Silmi.


Meski begitu, Abi Kun dan Umi Silmi terlihat agak gelisah. Bagaimanapun, tetap mereka tidak bisa datang tepat waktu.


"Tenanglah, Mi, insyaallah kita tidak akan terlambat." Satrio berusaha menenangkan uminya.


"Lebih cepat dikit, Ndra!" Seru Satrio lagi. Kali ini ditujukan pada Hendra.


"Siap, Bang!" jawab Hendra lantang.


"Panggil Bang sekali lagi, gue lempar lo keluar!" hardik Satrio jengkel. Sejenak, ia lupa kalau ada orang tuanya di mobil itu.


Satrio paling tidak suka kalau ada yang memanggilnya Bang. Iya kalau panggilnya lengkap, tidak masalah. Lah kalau lagi terburu-buru dan mereka memanggilnya dengan panggilan singkat, namanya akan berubah menjadi 'BangSat'.


Mendengar itu, Hendra mendengkus kesal. "Nama panggilan aja dipersoalkan," gerutunya kesal. Namun, kalimat itu hanya tertelan dalam tenggorokan. Mana berani dia mengutarakannya.


"Siap, Bang!"


"Ndra ...."


"Siap, Kak!'


"Mbok ya jangan terlalu galak to, Sat, sama temannya!" Kali ini Umi Silmi yang berbicara.


"Iya, Mi. Tadi itu cuma bercanda, biar tidak tegang," jawab Satrio. Hendra yang mendengar itu mencibir ringan, "Bercanda?"


"Bercandanya ya, jangan keterlaluan, Sat. Lagipula, apa bedanya abang sama kakak? Artinya kan sama saja," kata Umi lagi.


"Iya, Mi."


Mendengar Satrio yang sangat jinak itu, Hendra yang lagi menyetir langsung cekikikan.


Namun, tiba-tiba Hendra mengentikan tawanya, begitu juga dengan yang lain begitu terdengar bunyi klik di alat penghubung mereka.


[Arah pukul empat, penembak jitu, merunduk!]


Itu adalah suara Arga yang ada di Rubicon.


"Abi, Umi, merunduk!" teriak Satrio. Secara refleks, ia meraih tubuh kedua orang tuanya agar bisa merunduk.


Tepat waktu, dua menit kemudian, terdengar sebuah tembakan. Untungnya hanya mengenai kaca tengah. Tentu saja Umi dan Abi sangat terkejut, terlebih peluru itu hanya beberapa centi di dekat mereka.


Arka, si penembak jitu segera beraksi. Satu tembakan langsung mengenai lawan. Namun, masih terdengar beberapa tembakan.


[Mengapa tidak terdeteksi?]


[Mereka berhasil mengacaukan sistem kita, Bos]


"Sialan, si Jack!" umpat Satrio dalam hati.


"Duar ... Duar ...." Terdengar beberapa tembakan lagi.


[Arga dan Hendra, kita terus melaju dan tetaplah waspada. Boy dan Edi, kalian bereskan semua! Akan kucoba menormalkan jaringan di sistem kita] Satrio memutuskan.


[Siap!] Seru mereka serentak.


Boy yang berada di mobil belakang segera beraksi. Begitu juga dengan Edi yang berada di mobil satunya. Sementara, Rubicon yang dikendarai oleh Arga terus melaju, membuka jalan untuk mobil Satrio yang dikemudikan Hendra.


"Tetap merunduk, Mi, Bi!" seru Satrio lagi.


Pemuda itu mengotak-atik alat di tangannya yang menyerupai jam. Alat itu adalah senjata rahasia yang dilengkapi teknologi canggih. Satrio memperolehnya dari seorang profesor jenius yang pernah dia selamatkan.


Setelah diotak-atik, tak berapa lama, jaringan kembali normal sehingga mereka bisa memantau semua keadaan. Dengan begitu, Boy dan Edi bisa membereskan semua pengacau.


"Sudah aman, Mi, Bi. Tidak perlu merunduk lagi!" seru Satrio. "Umi dan Abi baik-baik saja, bukan?" tanyanya untuk memastikan keadaan mereka berdua.


Wajah Umi terlihat pucat. Begitu juga dengan Abi. Seumur-umur, baru kali ini mereka berdekatan dengan maut. Suara tembakan itu masih terngiang di telinga. Bahkan, degup jantung mereka masih berpacu cepat.


"Alhamdulillah!" Mereka berseru serempak.


"Mereka itu siapa, Sat? Kenapa tiba-tiba menyerang kita?" tanya Abi Kun.


"Mereka adalah orang-orang yang ingin menggagalkan pernikahan Satrio dengan Qia. Tapi, Umi dan Abi tidak perlu khawatir. Semua pasti akan baik-baik saja," jawab Satrio.


Abi dan Umi tidak bersuara. Akhirnya mereka mengerti betapa seriusnya masalah yang mereka hadapi setelah meninggalnya Prasetyo. Mereka benar-benar sadar sedang berhadapan dengan orang-orang yang sangat berbahaya. Mereka berdua baru saja merasakannya. Tiba-tiba mereka teringat Qia. Bisa dibayangkan, bagaimana takutnya gadis itu saat ditodong kemarin. Apalagi, ia sedang sendirian.


Sebenarnya, Abi dan Umi juga penasaran dengan Satrio, kok bisa memiliki teman-teman hebat yang begitu nurut sama dirinya. Apalagi, mereka adalah orang-orang bersenjata yang sangat berbahaya. Abi dan Umi memang tidak bisa mendengar perbincangan mereka lewat alat penghubung. Namun, apa yang diucapkan Satrio, Arka, dan Hendra yang ada di mobil itu membuat keduanya sedikit mengerti, apa yang mereka kerjakan.


Saat Satrio mengatakan akan mengurus semua prosesi pernikahan mendadak itu, mereka hampir tidak percaya. Namun sekarang, penyerangan tidak terduga ini semakin mengejutkan mereka. Siapa Satrio ini sesungguhnya? Namun, mereka lebih memilih diam. Menanyakan saat Satrio sendirian, menurut mereka adalah pilihan yang bijaksana.


Tiba-tiba ponsel Abi Kun berdering. Lelaki tua itu segera membukanya. Nama Mas Zul tertera di layar ponsel itu. Sekilas, ia melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul sebelas pas. Pantas saja Pak Zul menelpon, mereka sudah terlambat.


"Apa Mas Kun dan yang lainnya baik-baik saja?" tanya Pak Zul cemas, setelah mereka berbalas salam.


"Alhamdulillah, kami baik-baik saja. Mohon maaf kalau agak terlambat karena ada sedikit halangan tadi. Tapi kini sudah baik-baik saja," jelas Abi Kun menyembunyikan kecemasannya.


"Alhamdulillah, sekarang kalian sampai di mana?" tanya Pak Zul lagi.


Abi Kun terlihat memperhatikan sekeliling.


"Kita sampai mana, Sat?" tanyanya pada Satrio.


"Sebentar lagi sampai, Bi. Insyaaallah sepuluh menit lagi," jawab Satrio retoris.


"Sepuluh menit lagi, Mas Zul." Abi Kun meneruskan ucapan Satrio.


"Baiklah. Kalian hati-hati, ya."


"Terima kasih Mas Zul."


Telpon ditutup setelah mereka mengucapkan salam.


***


[Bagaimana kondisi di sana?] Satrio memastikan anak buahnya yang berada di rumah Qia dan sekitarnya.


[Aman, terkendali]


[Tetap waspada, si Jack ada di sekitar kita]


[Siap, Bos]