
Qia menundukkan kepala.
"Qi," panggil Satrio lagi.
"Dua atau tiga hari sebelum ditusuk orang, Kak."
Akhirnya ia menjawab dengan sangat lirih.
"Apa ia memberikan sesuatu?" tanya Satrio hati-hati. Tangannya menggenggam jemari Qia lebih erat, seolah takut kalau Qia menarik ucapannya lagi.
Diperlakukan seperti itu, Qia jadi serba salah.
"Apakah ini jurus mautnya untuk memikat wanita?" pikir Qia.
Qia mulai menimbang-nimbang, apa sebaiknya yang harus dikatakan. Ia tidak mau berbohong, tatapi juga tidak ingin suaminya tahu rahasianya.
Sementara itu, Satrio masih menatap dengan mata elangnya membuat gadis itu serasa menggigil.
Mau tidak mau, ia harus memikirkan jawaban yang tepat kalau tidak ingin Satrio curiga.
"Terakhir, Kak Pras datang untuk memberikan gaun pengantin warna putih yang ada di kotak beludru itu, Kak. Kakak sendiri sudah melihatnya kan, waktu itu," jawab Qia pelan.
Mata kelinci itu memberanikan diri bersitatap dengan mata elang milik suaminya.
Sementara itu, Satrio mencoba mencari tahu, adakah jejak kebohongan di manik mata itu.
"Kau yakin, hanya itu yang diberikan Kak Pras, tidak ada lagi yang lain?" selidik Satrio lagi.
Qia mengangguk mantap.
"Iya, Kak. Waktu itu, Kak Pras hanya menyerahkan satu kotak beludru itu, tidak ada lagi yang lain. Karena saat itu Qia sedang mengerjakan sesuatu yang lain, Qia tidak sempat membuka dan melihat secara detil isi kotak ituu. Qia hanya mengintip sekilas untuk mengetahui isinya. Ternyata gaun pengantin yang sangat indah," jelas Qia.
"Setelah itu?" tanya Satrio penasaran.
"Setelah itu, Qia simpan di lemari dan belum sempat membukanya lagi."
Satrio menghela napas. Hampir saja ia berhasil mengungkap misteri itu, tetapi sekarang malah menemui jalan buntu lagi.
Bagaimana tidak? Ia sendiri sudah memeriksa gaun pengantin itu, meski hanya sekilas. Namun, Satrio tidak menemukan kejanggalan di baju itu. Semua tampak normal. Ia juga tidak menemukan kebohongan di mata Qia.
"Maafkan Qia, Kak. Qia tidak bermaksud membohongi Kakak. Qia hanya belum yakin, siapa sesungguhnya Kakak dan ... apa motif Kakak melakukkan semua ini," bisik hati Qia.
Qia tahu, Satrio ingin mengungkap siapa dalang di balik kematian calon suaminya itu. Namun, firasat Qia mengatakan kalau suaminya ini memiliki motif dan tujuan lain.
Ini termasuk sikapnya, lamarannya yang tiba-tiba, teman-temannya yang begitu menurut, kerjaan di kantor yang sering ditinggalkan, juga tentang mobil mewah itu. Itu semua cukup membuat Qia bertanya-tanya, siapa sesungguhnya suaminya?
Untungnya Satrio tidak bertanya-tanya lagi membuat gadis itu merasa lega. Lagipula, gadis itu memang tidak berbohong. Saat itu ia memang hanya mengintip saja, jadi ia tidak tahu apa saja isinya. Itu sebabnya, Satrio tidak menemukan kebohongan di mata Qia.
Keduanya lalu diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
***
"Kalian belum selesai salatnya?"
Bu Mirna muncul di depan Musala. Dua muda-mudi yang sedang kikuk itu langsung menoleh.
"Sudah, Bu," jawab Qia.
"Ayo, makan dulu. Kalian tadi belum makan kan?" ajak Bu Mirna.
Qia menatap suaminya, kemudian menggamit tangan kokoh itu.
"Ayo, Kak, kita makan dulu. Tadi kita belum sempat makan."
Qia menatapnya sekilas. Wajahnya langsung memerah. Spontan, ia berusaha melepaskannya. Namun, Satrio pura-pura tidak cuek. Akhirnya, mereka menuju ruang makan bersama sambil bergandengan.
Kebetulan sekali perutnya juga keroncongan. Tiba-tiba ia teringat kalau tadi siang dia dan suaminya belum sempat makan.
Tadi, setelah berkebun sebentar, sebenarnya Qia ingin memasak untuk makan siang. Namun, karena ada informasi kalau kamarnya diacak-acak orang, ia langsung menelpon Satrio kemudian mereka langsung datang. Setelah itu, keduanya tertidur, sampai sekarang.
Tentu saja Qia merasa malu di depan kedua orang tuanya. Untungnya, dua orang yang sudah kenyang makan asam garam itu tidak berkomentar apa-apa. Mereka maklum, dulu juga pernah muda.
**"
"Nanti kalian nginap di sini saja, loh. Kamar kalian tadi sudah dibersihkan. Bekas liur si Ajak juga sudah disucikan," kata Bu Mirna.
Ajak adalah panggilan Bu Mirna untuk anjing pelacak yang dibawa Edi. Di kampung itu, memang orang memanggilnya Ajak.
Qia langsung menoleh ke Satrio untuk meminta pendapatnya. Sebenarnya, ia sendiri banyak kerjaan. Ada beberapa naskah opini yang harus ia edit, juga cerbung yang harus ia tulis secara maraton atas nama Kemilau Senja. Sementara, ia tadi tidak membawa laptop.
Bisa saja ia mengerjakan pakai salah satu aplikasi di ponselnya. Namun, ponsel khusus atas nama Kemilau Senja tadi tertinggal di rumah, di dalam tas laptopnya.
"Di rumah masih ada kerjaan, Bu, mungkin lain kali saja nginep di sini," jawab Satrio.
"Baiklah, tapi kalau orang-orang itu datang lagi bagaimana?" tanya Bu Mirna cemas.
"Insyaallah mereka tidak akan berani datang lagi, Bu. Beberapa teman Satrio akan berjaga secara bergantian. Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir," jelas Satrio berusaha menenangkan mertuanya.
"Benar begitu, Kak?" tanya Qia memastikan. "Apa yang berjaga di rumah dipindah ke sini semua?"
"Tidak. Di rumah kita tetap ada yang berjaga. Tapi di sini juga sudah ditempatkan beberapa orang," jawab Satrio.
"Baiklah kalau begitu. Ibu dan Ayah percaya sama kamu, Sat," jawab Bu Mirna lega. Bagaimanapun, wanita paruh baya itu merasa takut juga.
"Ya sudah, kalian makan dulu, Ibu mau ke belakang dulu."
Bu Mirna beranjak, sementara Qia mulai mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Teman Kakak banyak betul, memangnya mereka tidak kerja?" tanya Qia sok polos. Ia tahu, orang-orang yang dibilang Satrio sebagai teman itu bukanlah orang biasa.
Dulu, saat ia ditodong, orang yang menyelamatkan dirinya dan mengantarkannya pakai Rubicon itu adalah ahli bela diri. Buktinya, sekali tendang, lelaki yang menodongnya langsung dibuat tak berdaya. Selain itu, orang itu juga memiliki senjata.
Yang bikin Qia syok, ternyata orang-orang itu adalah teman suaminya. Ia mengetahui itu saat mereka menghadiri pernikahan mereka dan berjaga-jaga di sana.
Itu adalah salah satu penyebab dirinya belum percaya sepenuhnya pada Satrio. Karena lelaki itu juga terkesan menyembunyikan jati dirinya.
Apa iya, seorang programmer bisa memiliki fasilitas seperti itu?
Mendengar perkataan Qia, Satrio tertawa renyah.
"Tentu saja mereka kerja. Tapi ... memang seperti itulah kerjaan mereka. Mereka digaji salah satunya adalah untuk berjaga-jaga," jawab Satrio.
"Maksudnya ... mereka memang pembunuh bayaran?" tanya Qia tergagap.
"Eiit ... Jangan salah sangka. Apa kamu pernah melihat mereka membunuh orang? Hati-hati, itu bisa jatuh pada fitnah, loh," kata Satrio mengingatkan.
Qia jadi merasa bersalah.
"Maaf, Kak. Qia tidak bermaksud begitu. Habisnya ... Kakak terlalu misterius, sih," kata Qia jujur.
Satrio tertawa.
"Masalahnya itu cuma satu, kamu belum percaya sama Kakak. Makanya pikiranmu jadi traveling ke mana-mana. Atau ... jangan-jangan kamu mengira Kakak adalah bos mafia hingga punya anak buah pembunuh bayaran."
Mendengar itu, wajah Qia semakin memerah. Jujur, memang pikiran itulah yang saat ini berkecamuk di dalam benaknya.