
"Lebay apa? Kamu gak kerasa apa, kalau saat ini sedang menggoda Kakak?"
"????? Bukanya Kakak yang dari tadi godain Qia? Jangan suka memutar balikkan fakta!" gerutu Qia. Kali ini dengan nada galak.
Melihat Qia menatapnya dengan pandangan seolah mau menelannya, Satrio jadi ingin tertawa. Entah mengapa ada ada perasaan suka saat ia sedang menggoda istrinya. Sejak menikah, pikirannya terlalu fokus pada misinya. Baru kali ini ia merasa rileks. Ia jadi pingin terus menggoda Qia. Kalau dipikir-pikir, sikap dan kelakuannya saat ini mirip orang yang sedang pacaran saja.
"Mungkin ini yang dinamakan pacaran setelah menikah," pikir Satrio
***
Untuk beberapa saat, Qia dan Satrio diam. Mobil mereka berhenti di depan sekolah tepat pukul satu siang. Qia merasa lega karena di tempat itu tidak ada siapa-siapa, jadi ia akan terbebas dari gosip.
"Kalau sudah selesai, segera hubungi Kakak."
Qia mengangguk, kemudian mencium punggung tangan suaminya dan mengucap salam.
Satrio membalas salam, tak lupa menggoda kelinci kecil itu.
"Ngajar yang bener, jangan nakal, ya," kata Satrio lagi setengah berteriak.
Qia yang baru menjejakkan kaki di tanah langsung berhenti dan menoleh. Tentu saja ia merasa kesal karena dibilang anak nakal.
"Memangnya aku ini anak kecil, apa?" sungutnya kesal, tapi hanya berhenti di tenggorokan.
"Weeek!" Qia menjulurkan lidah, kemudian sedikit berlari menuju gerbang sekolah.
Satrio tertawa, tak menyangka gadis itu berani mengejeknya. Ia menunggu beberapa saat. Sampai Qia menghilang di balik pintu gerbang, barulah ia kembali menjalankan mobilnya, membelah jalanan.
***
Sementara itu, Qia yang buru-buru ingin menghilang dari tatapan Satrio akhirnya berlari kecil memasuki pintu gerbang.
Tanpa ia sadari, sepasang mata sedang menatapnya sejak mobilnya tadi berhenti dengan tatapan muram.
Andre, sang pemilik yayasan baru akan keluar. Seperti biasa, ia mengendarai Pajero Sport kesayangannya. Awalnya, ia bertanya-tanya dalam hati, mobil siapa itu. Karena khawatir yang datang adalah tamu yang akan mencarinya, maka ia bersiap-siap untuk kembali. Bukannya ge er, faktanya memang setiap hari ada saja tamu yang mencarinya.
Namun, begitu menyadari kalau orang yang keluar dari mobil itu adalah Qia, hatinya jadi berdebar-debar.
"Deg! Kenapa debaran ini tak mau hilang?" kelu Andre dalam hati.
Qia adalah cinta pertamanya. Ia berharap gadis itu menjadi pelabuhan terakhir untuknya. Namun, rupanya cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Dan ...
Alasannya itu sungguh tak masuk akal.
Andre masih teringat percakapan antara Qia dan Ningrum beberapa waktu yang lama. Gadis itu menolaknya karena dirinya terlalu kaya dan tampan.
"Alasan macam apa itu?" pikir Andre.
Bahkan, untuk mengenal Qia lebih jauh, ia rela berkonsultasi pada Ustaz Hanif, seperti yang direkomendasikan Ningrum. Tapi nyatanya ... Gadis itu malah memilih untuk menikah dengan orang lain.
Kalau dilihat dari kendaraannya, jelas pemuda itu bukan orang biasa. Sebagai pewaris tahta bisnis Wijaya Kusuma, tentu Andre mengetahui jenis mobil yang dipakai suaminya Qia. Bahkan, ia yakin kalau hanya beberapa gelintir saja orang Indonesia yang mampu membelinya.
Lantas, apa bedanya pria itu dengan dirinya? Dari sisi wajah, Andre juga mengakui kalau tampang dari suami Qia itu tidak biasa.
Kalau mengingat hal itu, Andre jadi tidak terima. Ia amat sangat tidak rela Qia dimiliki oleh orang selain dirinya.
Sementara itu, Qia masih berlari-lari kecil. Karena terburu-buru, ia tidak menyadari kalau di depannya ada mobil Andre. Tadinya ia merasa aman-aman saja karena di depan gerbang tampak sepi.
"Astaghfirullah al aziim!"
Melihat itu, Andre menjadi panik seketika.
"Ustazah tidak apa-apa?" tanyanya setelah buru-buru keluar.
"Maaf, Pak Andre, tadi saya terburu-buru, jadi tidak melihat kalau ada mobil Pak Andre."
Qia berusaha untuk bersikap wajar, meski perasaan tidak nyaman mulai menjalar. Bagaimanapun, ia tahu kalau lelaki di depannya itu menyukainya, bahkan sempat datang ke rumah untuk melamarnya.
"Tidak apa-apa, apakah Ustazah terluka?" tanya Andre. Wajahnya masih menyimpan kecemasan.
"Alhamdulillah, saya baik-baik saja," jawab Qia sedikit gugup.
"Yakin?" tanya Andre. Namun, kali ini niatnya untuk berlama-lama dengan sang pujaan hati.
"Saya tidak terluka sedikit pun, Pak Andre. Oh ya, terima-kasih atas perhatiannya dan maaf, saya permisi dulu," ucap Qia sopan.
Ia lalu menyatukan kedua telapak tangan dan diletakkan di depan dada, kemudian mengangguk dan tersenyum sopan.
Setelah itu, Qia kembali berlari kecil menuju ke kelas. Kalau tadi untuk menghindari godaan suaminya, kali ini untuk menghindari tatapan tidak wajar dari Andre.
"Astaghfirullah ... senyumnya bikin jantungku tidak nyaman," batin Andre. Tanpa sadar, lelaki itu memegangi jantungnya yang sedang berdetak tak beraturan.
Satrio terus menatap tajam gadis itu. Ia baru menjalankan mobilnya setelah Qia hilang di balik kelas.
Tiba-tiba ia teringat dengan Kemilau Senja. Haruskah ia terus merecokinya atas nama Andrea? Awal mula dirinya jatuh cinta pada Qia dulu karena ia terobsesi dengan Kemilau Senja. Namun kini gadis itu telah ada yang punya. Sangat tidak layak bagi dirinya yang selama ini menjaga kehormatan, ternyata mau merusak pagar orang.
Setelah ragu sejenak, lelaki yang terobsesi pada Qia itu akhirnya mengambil ponsel. Setelah mengubah dari slot satu ke slot dua, akhirnya ia berani menyapa Qia dengan dengan nama Andrea.
***
Qia yang sedang menjawab pertanyaan dari seorang siswa, sangat terkejut ketika telponnya berdering. Awalnya ia tidak ingin mengangkat karena sedang sibuk menjelaskan. Namun karena telpon itu terus berbunyi, mau tidak mau akhirnya ia angkat juga karena merasa terganggu.
[Assalamu'alaikum, Kemilau Senja, bagaimana kabarnya?]
"Ternyata Andrea," batin Qia.
Qia jadi bertanya-tanya, apa sebenarnya yang sedang terjadi? Kenapa dia tidak muncul? Dan berbagai bel lainnya.
"Waalaikum salam," jawab Qia singkat.
[Bolehkah saya ngobrol denganmu sebentar saja? Saya sedang merasa tidak nyaman] Andrea sedikit memaksa.
[Maaf, ya, saya sekarang sedang mengajar. Mungkin lain kali saja, ya] jawab Qia.
[Sebentar saja]
[Maaf, Andrea, saya sedang mengajar]
Qia langsung memasukkan ponsel itu ke dalam tas. Ia tidak peduli meski benda ajaib itu terus bersuara
Karena tidak dihiraukan, lama-lama akhirnya suara itu berhenti juga.
Sementara itu, di dalam mobil, Andre tersenyum samar. Entah apa yang ada di benaknya saat itu, yang jelas, ia merasa sangat nyaman saat mengganggu Qia atas nama Andrea.
Namun, begitu teringat Ustaz Hanif, pikirannya kembali kacau. Jelas, ada pertentangan batin yang sangat hebat di dalam dirinya.
Andre sadar sepenuhnya bahwa tindakannya itu sama sekali tidak benar. Namun, apa daya, hatinya sungguh tidak bisa diajak kompromi. Karena itu, berpura menjadi Andre adalah pilihan yang tepat. Setidaknya itu menurut pendapatnya.